Senin, 04 Oktober 2010

Study Awal Riwayat Syekh Ahmad al-Magribi; Wali Allah Dari Bulungan.


(ilustrasi Syekh Ahmad al-Magribi, w. thn 1833).

Syekh Ahmad al-Magribi begitulah orang-orang memanggil nama beliau, namanya begitu di keramatkan dan dikenal sebagai Wali Allah di Bulungan. Ia adalah ulama yang diperkirakan hidup seangkatan dengan Said Abdurahman Bilfaqih. Menurut Alayarham Sayyid Abdul Kadir Al-Idrus bin sayyid Muhammad Saleh Al-Idrus , nama asli dari Syekh Ahmad al-magribi adalah Syekh Ahmad bin Ali al-Magribi.

Syekh Ahmad Al magribi muncul dalam catatan sejarah Bulungan pada masa pemerintahan Wira Amir atau Amiril Mukminin (diperkirakan datang saat wira Amir berkuasa di Salimbatu), beliau terkenal dalam kecerdasannya mengusir bajak laut yang sedang berusaha mendarat ke perkampungan Bulungan. Beliau juga di kenang seorang hamba Allah yang taat beribadah kepada Allah dan banyak membantu di dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga ia banyak disenangi orang-orang disekitarnya, walaupun begitu tidak banyak catatan tentang riwayat hidup beliau.

Menurut legenda masyarakat nama syekh ahmad al magribi disebabkan saat jenazahnya akan diturunkan ke liang lahat saat itu tepat waktu sholat magrib. Tetapi diluar dugaan matahari tetap bertahan sama persis waktu jam 05.00 sore hari. Begitu selesai dikebumikan keadaan tiba-tiba gelap gulita kembali seperti sedia kala di malam hari. Maka makam itu dianggap keramat dan dinamakan Makam Keramat Ahmad Maghrib.

Dalam hal ini penulis memiliki pendapat bahwa, nama Syekh Ahmad al-Magribi bukan saja di sebabkan karena kejadian tersebut, kejadian tersebut mungkin bisa di kategorikan sebagai karomah dari wali Allah tersebut, namun tidak serta merta ia menjadi landasan nama dari Syekh Ahmad al-Magribi, fakta menyebutkan bahwa ulama-ulama yang hidup sezaman dengan beliau sebut saja Syekh Arsyad Al Banjari (dari kerajaan Banjar), Syekh Yusuf Al-Makassari (dari kesultanan Gowa, Makassar) misalnya, memiliki nama belakang yang mengidentifikasi asal tempat maupun asal suku bangsa dari ulama tersebut, jika di hubungkan dengan nama al-Magribi di belakang nama beliau nampaklah kita mulai mengidentifikasi nama itu memang sudah melekat jauh sebelum beliau dimakamkan dan terjadinya peristiwa karomah dari almarhum tersebut.

Itu artinya kita dapat menarik hipotesa atau pendapat awal bahwa beliau berasal dari negeri matahari tenggelam atau magrib di wilayah utara afrika, atau minimal nama itu mengidentifikasi bahwa beliau merupakan orang magrib atau afrika utara, walaupun sejauh ini kita tidak bisa mengindindentifikasikan apakah beliau orang arab murni atau dari berasal dari suku Barber?. dan tidak menutup kemungkinan pula beliau berasal dari kota kelahiran ibnu batutah yaitu Tangier suatu kawasan yang berdekatan dengan jabal tariq atau gibraltar.

Menurut kesaksian Ibnu batutah, orang-orang magrib sejak 1300-an M sudah banyak yang bermukim di mekah dan madinah untuk belajat ilmu agama, hal ini dibenarkan oleh ahli sejarah indonesia Prof. Dr Azumardi Azra. Pada perkembangan selanjutnya sejak Jedah kembali menjadi pelabuhan penting di kawasan arabia, jalur keluar masuk haji antara asia tenggara dan negeri-negeri muslim lainnya semakin intensif, bahkan jauh sebelumnya, ibnu batutah pun pernah singgah ke samudra pasai pada masa hidup beliau, itu artinya interaksi antara asia tenggara dengan mekah sudah lama terjadi.

Maka tidak heran kemungkinan besar syekh al magribi masuk ke indonesia setelah melakukan pelayaran melalui mekah ke wilayah nusantara, namun sayangnya kita tidak banyak tahu rute mana yang di lalui oleh beliau, sebuah fakta menyebutkan bahwa Islam mulai berkembang di pantai utara kalimantan (Berunai) kurang lebih 1450 M dan kepulauan Sulu 1460M, kemungkinan paling dekat dengan jalur tersebut adalah dari Mekah melintasi Cambai (gujarat) lalu singgah ke wilayah kerajaan Aceh atau Melaka terus melakukan perjalanan ke Brunai Darusslam dan singgah di pantai timur kalimantan bagian utara (Bulungan) atau bisa juga dari Brunai singgah ke kesultanan Sulu dan akhirnya singgah ke wilayah Bulungan merupakan rute yang dilalui oleh Syekh Ahmad al magribi pada masa itu, ini hanyalah sebuah hipotesa yang di sodorkan oleh penulis mengingat kedua wilayah islam ini juga tidak sedikit arus rombongan haji antara mekah dengan Brunei dan Sulu sudah terjadi sekian lama sehingga tidak menutup kemungkinan rute tersebut pernah di lewati oleh Syekh Ahmad al magribi dalam mendakwahkan islam di Bulungan.

Ulama besar ini disemayamkan di wilayah bekas ibu kota kesultanan Bulungan di kawasan Gunung Keramat desa Salimbatu, Kecamatan tanjung Palas. di perkirakan beliau meninggal pda tahun 1833 M. tempat peristirahatan beliau ini terletak di wilayah dataran tinggi. jirat makamnya berbentuk persegi berundak tiga tingkat setinggi 42 cm, panjang bagian bawah 184 cm, bagian tengahnya 163 cm dan bagian atas 142 cm. Lebar jirat pada dasar 94 cm bagian tengah 72 cm dan bagian atas 52 cm.

pada jirat tersebut terdapat 2 buah nisan, keduanya mempunyai motif dan bentuk yang berbeda. nisan kepala berbentuk gada engan bahan batu putih, sedangkan nisan pada bagian kaki dari bahan batu masif yang halus dalam bentuk aslinya. tinggi nisan pada bagian kepala 13 cm dan pada nisan kaki 9 cm.

Selain makam Syekh Ahmad al-Magribi terdapat pula makam ulama lainnya, yaitu makam sayyid Abdullah Bilfaqih yang dimakamkan pada tahun 1882 dan seorang lagi ulama bulungan Sayyid Ali bin Idrus Al-Idrus yang disemayamkan pada tahun 1900 M.

Sumber:

Iskandar Zulkarnaen, Datuk. 2008. “Hikayat Datoe Lancang dan Putri Kayan”. Cet-1. Samarinda : Pustaka Spirit.

Laporan Penelitian Arsitektur makam Raja-raja di wilayah Kalimantan Timur II kabupaten Berau dan Bulungan, Balai Arkeologi Banjarmasin bagian proyek penelitian arkeologi Kalimantan Selatan, tahun 2000.

2 komentar:

  1. Assalamualaikum,

    Minta maklumat tentang Sheikh Abdur-Rachman al Maghribi dari Sulu yang dikatakan berpindah ke Bulungan.

    Jazakallh

    BalasHapus
  2. walaikum salam, saudara Arkawan, mohon maaf sejauh ini saya belum menemukan data mengenai Sheikh Abdur-Rachman al Magribi. di Bulungan ulama yang dikenal memang ada yang bernama "Abdurahman", namun nama beliau adalah Said Abdurahman Bilfaqih, bukan Sheikh Abdur-Rachman al Magribi, apakah ada pertalian hubungan antara Syekh Ahmad bin Ali al-Magribi dengan Sheikh Abdur-Rachman al Magribi? saya belum dapat memastikan hal tersebut. salam hangat dari saya ^_^

    BalasHapus

bulungan