Wednesday, March 30, 2011

Rekam Jejak Budaya India di Bulungan.

Setiap bangsa membawa kebiasaan dan adat istiadatnya, begitulah yang juga terjadi pada komunitas India di Bulungan. jejak-jejak budaya itu pada dasarnya merupakan bagian dari rangkaian migrasi yang dilakukan perantau india di Indonesia. Alwi Shahab dalam tulisannya: “Kampung Koja dan Komunitas India”, menyebutkan setidaknya orang-orang india di Indonesia dibedakan berdasarkan asal tempatnya. Orang-orang Tamil berasal dari wilayah selatan india sedangkan orang-orang Sind (Sindhi) dan Punjab (Punjabi) dikategorikan berasal dari kawasan India utara.

Di Bulungan mayoritas keluarga india di bulungan adalah orang muslim. Beberapa tinggalan budaya yang dahulu sempat telihat dan menjadi ciri penting orang-orang india di bulungan adalah:

1.Busana India.
(Wanita keturunan India di Bulungan dengan Pakaian Sari)
Busana orang-orang india yang sangat terkenal dahulu di Bulungan adalah Kain Sari yang khususnya digunakan oleh para wanita dikalangan mereka.

Kata Sari berasal dari (Saree: साड़ी) yaitu pakaian yang terdiri dari helaian kain yang tidak dijahit, dengan variasi yang beragam panjangnya 4 hingga 9 meter yang dipakaikan dibadan dengan bermacam-macam gaya. Jenis yang paling umum adalah sari yang dililitkan di pinggang, dengan ujungnya yang disangkutkan dari bahu ke punggung belakang. Sari biasanya dipakai menutupi petticoat atau baju bagian dalam dengan blus choli atau ravika. Tak banyak catatan yang menyatakan sari di gunakan di Bulungan dimasa itu, namun sebuah foto disamping dapat memberikan gambaran bahwa memang ada sebagian dari keluarga india di Bulungan yang menggunakan baju tersebut walau mungkin dalam acara-acara tertentu. Selain di Tanjung Selor, komunitas india juga terdapat di Tarakan, di Kampung Bugis khususnya orang Bombay (Mumbay) dan Madras, nampaknya Sari juga dimasa dulu banyak juga terlihat di kota tersebut.

(Tata cara menggunakan Sari)

2.Bahasa Urdu
Menurut keterangan yang penulis dapatkan dari salah satu keturunan keluarga india di Bulungan, Ibu Hj. Aminah, mengatakan moyang mereka dahulu biasa menggunakan bahasa Urdu dalam lingkungan keluarga.

Dalam sejarahnya Bahasa Urdu atau Urdu Zabaan merupakan salah satu bahasa termuda dari cabang Indo-Arya. Kata 'Urdu' berasal dari bahasa Turki 'Ordu' yang berarti kamp atau tenda. Bahasa ini pada mulanya diperkirakan berakar dari bahasa Khari Boli yang dituturkan oleh penduduk kota Delhi.


(Dahulu bahasa Urdu sempat menjadi bahasa komunikasi dikalangan keluarga India di bulungan)

Asal usul bahasa ini juga banyak versi, salah satunya adalah bahwa pada masa antara tahun 413-583 Hijriyah merupakan masa-masa dimana para Muslim berbahasa Persia dan Turki mulai bermigrasi ke daratan Hindustan, khususnya Punjab. Para pendatang ini terdiri atas tentara, dan para ulama. Para ulama mulai menyebarkan ajaran Islam ke kawasan ini pada masa yang bersamaan. Perkawinan campuran antara pendatang asal Persia dan penduduk lokalpun terjadi, dan akhirnya membuahkan percampuran antara bahasa Persia dan bahasa Punjabi yang menjadi cikal bakal lahirnya Bahasa Urdu. Ada versi lain yang mengungkapkan bahwa pada masa perpindahan kekuasaan Qutubuddin Aibak dari Lahore ke Delhi di tahun 1193 juga menimbulkan interaksi antara penguasa dan warga setempat sehingga muncullah bahasa yang disebut sebagai Urdu.

Nama lain bahasa Urdu : Dakhini (Dakani, Deccan, Desia, Mirgan), Pinjari, Rekhta (Rekhti). Di India selatan namanya berganti menjadi Dakhini, sedangkan di barat daya India menjadi Gurjari. Di wilayah Delhi namanya berubah dari Hindi menjadi Hindavi dan Hindustani. Dalam perkembangannya, bahasa Urdu juga terbagi atas beberapa dialek, dialek yang dikenal antara lain Dakhini atau Dekkan yang dipakai di kawasan India Selatan, dan perbedaan dengan Urdu Baku adalah lebih sedikitnya kata-kata Arab-Persia didalamnya. Sedangkan Rekhna adalah varian yang dipakai dalam kesusasteraan Urdu.

Bahasa urdu dewasa ini menjadi bahasa resmi di Pakistan, Sedangkan di India, bahasa Urdu juga menjadi salah satu bahasa resmi dengan konsentrasi penutur terbanyak di negara bagian Jammu-Kashmir, Uttar Pradesh dan kota Hyderabad, Andhra Pradesh.


(Dalam salah satu deretan foto diatas, ada seorang keturunan India di Bulungan bernama Muhammad Ali atau Hemad, menurut keterangan ibu Hj. Aminah beliau salah satu yang cukup menguasai bahasa Urdu)

Bahasa ini sebenarnya memiliki kesamaan dengan bahasa Hindi yang digunakan resmi di India, itulah sebabnya dalam percakapan sehari-hari dapat saling memahami karena banyaknya keserupaan dalam kosakatanya, sama seperti antara bahasa Indonesia dan Malaysia. namun keduanya punya sedikit perbedaan yang cukup mendasar, Kosakata bahasa Urdu banyak menyerap kata-kata dari Bahasa Arab dan Bahasa Persia, sedangkan Hindi lebih condong pada penghidupan kembali kata-kata Sansekerta. Dalam Sistem penulisan, Bahasa Hindi menggunakan aksara Devanagari sedangkan Bahasa Urdu memakai sistem penulisan Arab-Persia dengan penambahan pada huruf-huruf tertentu serta ditulis melalui sistem Nastaliq.

Bahasa urdu di Bulungan dibawa oleh beberapa perantau india, ada yang berasal dari kota Bombay misalnya oleh Haji Muhammad Ali Husen, di kota Bombay bahasa Urdu merupakan salah satu bahasa yang digunakan selain bahasa Marathi, Hindi, Gujarati, Telugu, Kannada dan Shindi.

Bahasa Urdu dewasa ini memang sudah sangat sulit diketahui lagi di Bulungan, bahkan dikalangan keturunan india sendiri, karena generasi muda india di bulungan sudah tidak lagi mengenal bahasa ini dalam komunikasi dalam keluarga. namun tak ada salahnya penulis akan memberikan beberapa contoh kalimat umum bahasa urdu yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Beberapa diantaranya adalah:

Salaam!/ Adaab! = Halo!
Aap kaise hain?/ Aap kaa hal kiyaa hai? = Apa kabar?
Main theek hun = Baik-baik
Shukriya = Terima kasih
Aap kaa kiyaa naam hai? = Siapa namamu?
Meraa naam….hai = Nama saya…
Khuda Hafiz!/ Allah Hafiz! = Sampai Jumpa!

Selain tinggalan budaya seperti pakaian dan bahasa, kita juga mengenal budaya India lainnya seperti masakan Kare, music, film dan tentu saja goyang india. Sampai disini dahulu perkenalan kita tentang budaya india di Bulungan, semoga kita dapat lebih arif dan toleran terhadap sebuah perbedaan.

Shukriya wa khuda hafiz!.

Sumber:
Wawancara dengan H. Hanif dan Hj. Aminah 20 Maret 2011

Alwi shahab, “Kampung koja dan komunitas India”, REPUBLIKA – Minggu, 08 September 2002.

Wikipedia Indonesia; Sari
Wikipedia Indonesia; Salwar_kameez
Wikipedia Indonesia; Kurta
Wikipedia Indonesia; Lungi
Wikipedia Malaysia; Mumbai

Foto: dokumentasi keluarga Hj. Aminah.
Load disqus comments

0 comments