Wednesday, April 27, 2011

Hikayat Sumpah dalam Tradisi Kenyah di Bulungan.


(Ilustrasi Lelaki Kenyah)

Berbicara mengenai tradisi unik dalam masyrakat asli atau tempatan di Bulungan, ada yang kurang rasanya jika kita tidak membahas salah satu dari sekian banyak tradisi unik masyarakat Kenyah.

Ya orang Kenyah merupakan salah satu penduduk asli Kabupaten Bulungan yang mayoritas banyak berdiam di wilayah Kayan Hulu, ada banyak puak-puak Kenyah yang telah lama berdiam dan mengembangkan budaya mereka disana.

Dalam catatan statistik yang dibuat oleh kantor urusan agama Kabupaten Bulungan pada tahun 1951, diketahui bahwa di daerah Kajan Hulu atau Kayan Hulu, melingkupi Apo Kayan dan Pujungan terdapat beberapa puak-puak atau sub suku Kenyah yang berdiam dikawasan tersebut antara lain: Leppo’ Teppu, Bakung, Leppo Tau, Badeng, Ma’ Jalan, Leppo’ Tukung, Ma’ Lasan, Ma’ Lung, Leppo’ Ma’ut, Leppo’ Ke, Ma’ Alim, Nyibun, dan Ma’ Kulit.

Datuk Perdana yang telah meninggalkan catatan Etnografi yang penting sekaligus karya Orisinil yang merupakan buah tangan anak pribumi mengenai masyarakat dayak di bulungan, khususnya yang menyoroti tentang tradisi Sumpah dalam masyarakat Kenyah yang demikian Sakral dan magis tersebut.

Dari Taring Macan Dahan hingga Bato Sungai Kayan.

Dalam catatan Etnografi Datuk Perdana, beliau menulis bahwa penduduk suku Dayak khususnya disepanjang sungai Kayan hingga ke Long Nawang dan seterusnya, demikian juga dikawasan Sungai Bahau , Pudjungan dan seterusnya dalam bersumpah kerap kali menggunakan taring harimau atau Macan Dahan Kalimantan serta kulit kijang sebagai media sumpah.

Sumpah bagi masyarakat Dayak, tidak dapat sembarangan di ucapkannya, ada dua cara yang umumnya digunakan, namun yang paling ditakuti mereka dimasa lampau adalah sumpah dengan taring macan.


(Tarian Hudoq pada masyarakat Kenyah)

Biasanya dalam suatu perselisihan yang tidak dapat lagi diselesaikan untuk dalam jangka waktu yang lama, pihak yang berselisih akan disumpah oleh yang dituakan di kampong tersebut.

Caranya sepotong taring macan dan kulit kijang, kudua benda tersebut di rendam di dalam air lalu diangkat dan ditunjukan pada matahari, sambil menyeru atau memanggil Bale’ atau roh, seperti roh Matahari kemudian pada pohon dan bumi sambil mengucapkan perkataan pada roh tersebut agar menyuruh Harimau atau Macan Dahan untuk memakan hati, meminum darah hingga ke tulang sum-sum si bersalah, kedua pihak kemudian diminumkan benda tersebut.

Sumpah seperti ini sangat dihargai dan ditakuti oleh orang Dayak pada umumnya dimasa itu, biasanya sumpah ini hanya dilakukan juga bila dalam suatu perselisihan belum ada pihak yang mengakui kesalahannya.

Salah satu sumpah yang berat adalah jika ia berhubungan dengan pantangan memasuki areal atau kawasan tertentu. Dendanya terkadang bisa binatang seperti babi peliharaan.


(Macan Dahan Kalimantan, dahulu taringnya digunakan untuk sumpah yang sakral)

Sumpah lain yang juga dihargai adalah sumpah secara lisan, biasanya orang yang mengatakan sumpah tersebut menyandarkan sumpahnya pada sesuatu yang dihargainya, misalnya ada perkataan “Demi Allah” atau Dengan Nama Tuhan”, pada sama lampau dikawasan tersebut mereka menyandarkan sumpah lisan mereka pada “Batu Sungai Kayan” atau “Batu Kenda Kayan”, yang secara harpiah berarti Batu dibawah Kayan.

Menurut penuturan Datu Perdana dalam tulisannya, saat ia menjabat sebagai Onderdistric pada tahun 1930 hingga 1937 dikawasan tersebut, beliau mengatakan bahwa Orang Kenyah sangat tidak suka bila mereka disebut berkata bohong, atau – Baka’- dalam istilah mereka.

Karena itu untuk memelihara janji, mereka bersumpah dengan cata tersebut, hal yang ditakutkan oleh orang Kenyah pada masa itu adalah berkata dusta lebih-lebih dikatakan mereka pendusta. Itulah sebabnya sebisa mungkin mereka menepati janjinya, kecuali ada halangan seperti kematian anggota keluarga, atau membaca tanda-tanda alam seperti lewat lintasan burung yang mereka pahami pertanda buruk sehingga mereka menghindari tempat yang dituju tersebut.

Demikianlah sekapur sirih dari hikayat Sumpah pada masyarakat suku Dayak khususnya orang Kenyah yang sacral dan magis tersebut.

Sumber: Copy naskah ketikan Datuk Mohammad Saleh gelar Datuk Perdana, “Risalah Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H”, t.th. hal. 14.
Load disqus comments

0 comments