Thursday, October 6, 2011

Hikayat Naga Dalam Cerita Lisan Orang Tidung dan Bulungan.


(Sepasang Naga yang dimanifestasikan dalam bentuk ukiran tradisional Tidung)

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah situs mengenai Naga di Kalimantan, tentu saja Naga yang dimaksud bukan seperti dalam penggambaran budaya timur khususnya dalam budaya Tionghoa, Naga dikalimantan lebih digambarkan sebagai ular raksasa terkadang dengan hiasan dikepala tanpa kaki dan tentu saja tanpa misai.

Kisah mengenai Naga di Kalimantan rupanya juga sempat membuat kepicut sutradara Hollywood dengan menampilkan ular besar Kalimantan dalam filmnya “Anacondas the Hunt For the Blood Orchid”, setidaknya seperti itulah spirit yang diangkat dalam film tersebut. Kita pun pernah dikejutkan dengan beredarnya foto-foto mengenai ular besar di kalimantan, walaupun beberapa darinya dianggap Hoax alias tak nyata.

Namun demikian, kisah ular-ular besar itu bukan tak pernah ada, sebuah fosil yang ditemukan di kawasan hutan hujan Kolumbia -yang penggambaran wilayahnya kurang lebih sama dengan hutan hujan kalimantan- memunculkan dugaan kuat bahwa hewan yang menjadi legenda itu memang pernah ada.

Titanoboa Cerrejonensis, begitulah para ilmuan menyebutnya, tak main-main Panjangnya mencapai 12,8 hingga hampir 14 meter, dan berbobot 1,25 ton. Ukuran tubuh titanoboa yang luar biasa memberi petunjuk tentang habitatnya. Dengan tubuh sebesar itu menunjukkan bahwa titanoboa hidup di suhu lingkungan yang hangat. Tampaknya temperatur di garis khatulistiwa meningkat bersamaan dengan suhu global.

Menurut para ahli baik dari American Museum of Natural History di New York dan University of Toronto Missisauga, monster melata itu di masa lalu mungkin saja melahap dan mengunyah buaya di hutan hujan tropis yang menjadi tempat tinggal mereka sekitar 58 juta hingga 60 juta tahun lalu.


(Titanoboa, ular raksasa yang menjadi legenda)

Lalu bagaimana cerita mengenai kisah ular-ular raksasa itu dalam hikayat lisan yang ada dimasyarakat Kalimantan, khususnya dalam masyarakat Tidung dan Bulungan? Saya mencoba untuk menelusuri cerita-cerita lisan yang berkisah mengenai hewan legendaris bahkan dianggap mahluk mitologi itu.

Hikayat Naga Dalam Lindungan Kabut.


Naga hidup dalam alam pikiran dan kisah-kisah lama yang tak lengkang dipukul waktu, namun kisah itu layaknya kabut tebal yang terkadang memang tak mampu dijangkau oleh logika kita.

Sejak kecil saya sudah sering mendengar kisah-kisah penampakan mahluk legendaris itu, cerita-cerita mengenai keberadaan mereka tak jarang membuat bulu kuduk berdiri. Semakin jauh mereka dari manusia semakin kental keberadaan mereka baik dalam alam pikiran maupun masuk dalam relung-relung budaya.

Naga dalam cerita lisan pada masyarakat Tidung dan Bulungan bervariasi bentuknya, sebagian masyarakat ada yang percaya mereka merupakan mahluk supranatural yang mampu berkomunikasi dengan manusia-manusia yang memiliki kemampuan khusus tertentu. Bahkan ada pula sebagian yang percaya mereka dapat berubah bentuk menyerupai manusia di alam mereka, tentu jika tingkatan ilmunya sudah pada tahap sempurna.

Naga-Naga ini digambarkan hidup tak jauh dari sungai, konon ada yang bercerita bahwa pernah ada seekor Naga menjadi penunggu didasar sungai Buaya, maklum waktu itu kawasan sungai Buaya tak seramai sekarang, mereka yang matanya “Tembus”, -istilah masyarakat tempatan pada orang yang mampu berkomunikasi dan melihat wujud mahluk halus-, mengatakan bahwa mata sang Naga, lebarnya kurang lebih sebesar piring makan, saking besarnya si penunggu sungai tersebut. Cerita lain menyebutkan bila terjadi hujan di kawasan hulu, namun kawasan Tanjung selor dan sekitarnya baru banjir sekitar tiga hari kemudian, itu pertanda bahwa Naga-Naga yang tak kasat mata itu menahan arus air selama tiga hari tiga malam.


(Titanoboa salah satu ular terbesar yang pernah hidup di bumi)

Namun ada pula kisah lain yang menceritakan dan percaya bahwa Ular Naga itu memang pernah ada, mereka bukan sekedar mahluk supranatural, tapi berawal dari seekor ular, -khususnya sejenis ular Tedung, Sawa, Phiton atau Boa-, yang konon bertapa untuk mendapatkan mestika yang tumbuh disekitar kepala mereka, hewan-hewan ini bertapa atau tidur untuk membesarkan badannya, melahap apa yang ada disekitar mereka atau yang lewat dihadapan mereka. Dikisahkan pula tak jarang mereka melilitkan tubuhnya pada sebatang pohon yang besar dan rimbun di dalam hutan untuk bertapa. Untuk menjadi seekor Naga tidak hanya harus membesarkan badan, namun juga harus mampu bertahan hidup menghadapai ujian akhir, yaitu menangkap batu petir, yaitu sebuah batu yang dipercaya muncul saat petir menyambar pepohonan besar didalam hutan, jika tubuhnya kuat, ia akan hidup namun sebaliknya, hikayat Naga itu hanya sampai disitu.

Dalam budaya Tidung khususnya, Naga digambarkan cukup kental merembes dalam budaya mereka, gambaran itu dimanifestasi dalam bentuk seni ukir. Menariknya setidaknya Naga digambarkan dalam dua bentuk, bentuk pertama dua ekor Naga yang kepalanya berpaling, dalam bentuk ini gambaran mengenai Naga tersebut lebih berbentuk simbolik dengan sisik-sisiknya, sedangkan bentuk kedua yaitu dua buah Naga yang saling berhadapan memperlihatkan wujud Naga berupa ular besar yang saling bersentuhan.

Dimasa lampau, pelaut-pelaut Tidung, konon mengukir Naga pada lambung-lambung kapal mereka, terkadang diukir penuh dari kepala hingga ekor, sebagai bentuk kebersamaan mereka dengan mahluk legendaris itu tapi juga dimaksud untuk menolak maksud-maksud jahat dari mahluk lainnya dilautan.

Naga Dalam kisah Lama Para Penebang Kayu.


Setidaknya kisah-kisah penampakan mahluk legendaris terdengar di medio tahun 1970 hingga 1980-an, cerita mengenai keberadaan nyata mereka didengungkan oleh sebagian kecil para penebang kayu. Maklum saja itu masa-masa awal penebangan kayu dan pembukaan hutan oleh perusahaan. Kisah mengenai ular-ular besar dihutan-hutan Bulungan memang kerap saya dengar semasa kecil dulu, khususnya dari kakek saya, almarhum Djamaloeddin Bin Haroen.

Kakek dimasa itu sempat bekerja menjadi sopir damtruk yang mengangkut pekerja atau tim survai lapangan di perusahaan kayu, -sebelum pindah dari BPM (Batafche Petroleum Mastchapic) di Tarakan-, khususnya yang beroperasi disekitar hutan diantara kawasan Bulungan dan Tanah Tidung, kakek bercerita bahwa hutan-hutan itu memiliki nuansa mistik yang kental, bukan hanya penuh dengan mahluk-mahluk aneh tapi juga kisah-kisah seram termasuk mengenai keberadaan ular-ular yang memiliki ukuran yang besar.


(Foto seekor Naga atau Nabau dalam sebutan masyarakat Sungai Kajang di daerah Serawak, legenda mengenai keberadaan mahluk seperti ini juga ada dalam cerita-cerita lisan masyarakat khususnya dikalangan orang Tidung dan Bulungan).

Kisah-kisah mengenai ular-ular besar itu umumnya dianggap tabu untuk dikisahkan secara terbuka, khususnya para penebang kayu seangkatan kakek yang pernah mengalami kejadian bertemu dengan mahluk tersebut. Para penebang memiliki perasaan yang sungkan untuk mengisahkan keberadaan Naga-Naga tersebut karena mereka percaya mahluk itu dapat merasakannya, ular-ular besar itu dipercaya membalasnya dengan menyergap para penebang dengan bersembunyi dibalik kerimbunan hutan maupun pinggir kawasan sungai dalam.

Banyak dari mereka tidak ingin berurusan dengan mahluk tersebut, kakek bahkan tidak menyebut nama “ular” namun menggunakan perumpamaan seperti istilah “benda itu” atau “barang itu” bahkan kadang menyebutnya dengan istilah “akar atau pendeng”, sebagai bentuk penghormatan sekaligus rasa sungkan terhadap keberadaan mahluk tersebut.

Dalam kehidupan sebagian kecil orang di Bulungan memang ada yang tabu menyebut nama hewan-hewan tertentu dengan nama aslinya, mereka senang menyebutnya dengan perumpamaan seperti istilah “akar atau pendeng” untuk ular, “putri” untuk sebutan tikus dan “nenek atau datuk” untuk menyebut buaya.

Umumnya ada kepercayaan lama dikalangan orang-orang Bulungan tentang tanda-tanda alam, bila bertemu dengan seekor ular saat melakukan perjalanan, disarankan untuk mengubah haluan karena dianggap membawa hal yang kurang baik, para penebang kayu dimasa itu memiliki kepercayaan biasanya orang-orang yang kepuhunanlah yang bisa bertemu dengan mahluk tersebut, tentu saja bertemuan seperti itu bukan pertanda yang bagus.

Beberapa kisah penampakan mengenai keberadaan ular Naga tersebut menjadi kisah tersendiri dikalangan mereka yang sebenarnya enggan untuk dikisahkan, misalnya tentang sebatang pohon tumbang yang berukuran sangat besar secara tak sengaja diduduki oleh salah seorang penebang, bentuknya seperti batang kayu yang sudah lapuk dan ditumbuhi lumut, iseng-iseng salah seorang dari mereka menancapkan parang, mereka terkejut bukan buatan karena dari batang kayu tua berlumut itu, tersembur darah segar, tak banyak pikir para penebang lari pontang-panting dibuatnya.

Kakek pernah bercerita saat ia dan para penebang kayu melintas jalan hutan atau jalan loging, butuh waktu cukup lama untuk memberi jalan seekor ular besar yang sedang melintas, keadaannya jadi serba salah, walaupun truk yang mereka gunakan cukup besar, namun tidak akan cukup kuat untuk mengusik seekor ular dengan tubuh dua atau tiga kali dari ukuran normalnya, kalau sudah begini lebih baik biarkan saja benda itu lewat. Menurut kakek nasib mereka cukup mujur kala itu sebab mereka tidak berpapasan langsung dengan kepala ular besar tersebut.


(Bentuk Ukiran lain tentang naga yang secara simbolik digambarkan pada sisik-sisiknya)

Kisah lain yang juga menarik adalah, pada suatu hari tim survai lapangan sedang melakukan pemetaan dan pengukuran kawasan hutan yang akan di tebang, mereka menemukan sebatang pokok kayu aneh yang berdiri, disekitar pokok tersebut ada kayu-kayu yang bertumbangan, bau yang kurang nyaman terasa dibawa angin, kebetulan tak jauh di depan terdapat semacam gundukan yang menyerupai sebuah bukit kecil, beberapa orang sempat naik keatas gundukan bukit yang nampaknya ditumbuhi lumut itu, namun setelah diamati dengan baik, rupanya seekor ular Sawa berbadan besar sedang bertapa, mau tak mau survai lapangan hari itu langsung dihentikan, dari kejauhan terlihat batang pohon tersebut bergoyang seperti dihisap angin, nampaknya ia hidup dengan cara menghisap apa dan siapa saja yang lewat dihadapannya. Konon begitu pohon tunggal itu mampu tercabut dari tempatnya, itu artinya sang Naga telah siap untuk turun ke Sungai.

Banyak kisah-kisah tak lazim mengenai Sang Naga yang hanya diketahui sebagian orang, Selain itu penampakan yang tak banyak tersebut makin menambah mitos dan legenda yang menyelubunginya.

Terpulang lagi bagaimana cara kita menanggapi cerita-cerita lisan yang beredar dimasyarakat kita mengenai hikayat Sang Naga. Apapun itu tulisan ini hanya dimaksud untuk menambah penghargaan kita terhadap alam disekitar, bahwa dihutan yang lebat itu, tersimpan banyak rahasia-rahasia alam yang patut kita jaga dan kita hargai, sekaligus memotret pandangan masyarakat setempat mengenai hikayat Sang Naga yang bersembunyi diantara kabut tebal mitos dan legenda. (dihimpun dari berbagai sumber).

Daftar Pustaka:

27574-fosil_ular_terbesar_di_dunia.htm.

http://andiherman.wordpress.com/2009/02/21/ular-naga-raksasa-kalimantan-sepanjang-33-meter/

http://internasional.kompas.com/read/2009/02/21/05450289/Heboh.Ular.Raksasa.Kalimantan.Sepanjang.33.Meter
Load disqus comments

3 comments