Saturday, October 22, 2011

Pak Wadjidi, Pembelajar Sejarah Lokal Kalsel Yang Saya Kagumi.

(Pak Wadjidi, sosok rendah hati yang saya kagumi)

Minat mengenal sejarah, bagi saya tidak lahir dengan sendirinya, saya seorang otodidak, belajar sendiri karena saya memang penyuka sejarah, khususnya sejarah lokal Bulungan. Namun dibalik itu semua ada sosok-sosok besar yang membuka minat besar saya pada sejarah, sebab sejarah itu memang menyenangkan.

Salah seorang yang saya kagumi sekaligus menjadi guru bagi saya dalam “menyenangi” sejarah lokal adalah Pak Wadjidi. Beliau seorang peneliti sejarah lokal Kalsel yang “menyuntikkan” pengaruhnya dalam diri saya betapa pentingnya kita mengkaji sejarah lokal kita.

Saya kagum dengan keterbukaan beliau sekaligus mengagumi usaha yang telah lama dirintis beliau mengenai sejarah lokal Kalsel, pertemuan dengan beliau sendiri bisa dikatakan sangat kebetulan sekali, saya membaca sebuah karya beliau secara tak sengaja diwaktu senggang saat istirahat dari perkuliahan, buku-buku sejarah terletak disudut belakang, saya termasuk yang paling suka mengunjungi rak yang agak berdebu itu, disanalah perkenalan pertama saya dengan beliau dan karyanya.

Wadjidi, Pengagum Sejarah Yang Bukan Sekedar Pengangum.


Sosok Wadjidi, seorang peneliti sekaligus penulis sejarah lokal yang paling produktif di kalsel, namanya tak akan harum seperti saat ini bila beliau tidak memulai menulis dengan berlandaskan rasa keprihatinan yang tinggi terhadap minimnya pustaka sejarah lokal yang dibaca oleh anak-anak daerah. Sejarah daerah seolah menjadi momok pemerintah pusat saat itu, jadilah sejarah sebagai pelajaran yang bernuansa indoktrinisasi.

Lelaki kelahiran Pagat, Kabupaten Hulu Sungai Tengah ini, nampaknya merasakan betul bagaimana sekolah hanya menjadi semacam menara gading yang tak tahu menahu mengenai sejarah daerah sendiri, seolah sejarah Banjar hanya berawal dan berakhir dari perang Banjar saja, atau hanya mengenal pangeran Antasari sebagai tokoh sejarah, -itupun kadang ada yang justru mengetahui dari lembaran uang dua ribuan,- miris memang anak-anak lebih mengenal tokoh-tokoh sejarah lain ketimbang M. Noor maupun Hasan Basri, kondisi inilah yang nampaknya berpengaruh dalam diri Wadjidi muda hingga akhirnya beliau menempuh pendidikan sejarah FKIP UNLAM Banjarmasin 1989 dan lulus tahun 1992 ini.

Sejak lulus dari perkuliahan beliau kemudian diterima sebagai staf Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel tahun 1993. Ketekunan beliau dalam mengkaji sejarah berbuah hasil yang manis, sejak tahun 2001 dia menjadi peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Daerah Provinsi Kalsel. Saat ini pak Wadjidi menjabat sebagai Peneliti Muda Bidang Ilmu Sejarah dan Arkeologi pada Balitbangda Provinsi Kalsel.

Subjek kajian yang menitik beratkan pada sejarah lokal ada sebab-musababnya, seperti perang kemerdekaan, mulai masa penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, dan masa kemerdekaan. Dia memilih sejarah lokal karena sebagian para pelaku atau keluarganya masih hidup. Sebagian dokumentasi juga masih disimpan oleh keluarga mereka.

Sejauh ini sudah cukup banyak buku yang beliau telurkan, tulisan-tulisan yang renyah untuk dibaca itu tak lahir dengan sendirinya pula, sejak mengenyam bangku kuliah tahun 1989 bakat menulisnya sudah nampak, Kemampuannya menulis semakin terasah setelah mengikuti berbagai lomba penulisan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Tahun 1991-2009, ada tujuh lomba penulisan yang ia menangi, mulai juara I hingga III.

Pak Wadiji Dan Karyanya.

Sebagai salah seorang penulis lokal yang produktif dalam berkarya, tentu kurang rasanya bila tidak membicarakan hasil karya beliau maupun karya yang yang melibatkan beliau dalam penulisan sebut saja diantaranya:

Proklamasi Kesetiaan Kepada Republik, Pustaka Banua, Banjarmasin (2007).

Nasionalisme Indonesia di Kalimantan Selatan 1901-1942, Pustaka Banua, Banjarmasin (2007).

Artum Artha, Sastrawan, Wartawan, dan Budayawan Kalimantan Selatan, Debut Press, Yogyakarta (2008).

Glosarium Sejarah Lokal Kalimantan Selatan Periode 1900-1950, Debut Press, Yogyakarta (2008).

Mozaik Sejarah dan Kebudayaan Kalimantan Selatan, Sebuah Catatan Ringan, Debut Press, Yogyakarta (2008).


Demikian beberapa karya yang sejauh ini sudah diterbitkan, -alhamdulillah hampir semua karya beliau tersimpan baik dalam perpustakaan keluarga yang kami punya-, disela kesibukan, beliau juga mengasuh Website “Bubuhan Banjar”, yang merupakan salah satu media memperkenalkan sejarah dan budaya Banjar secara online.

Satu hal yang saya kagumi dari keperibadian beliau adalah sikapnya rendah hati dan santun yang tak pernah berubah, walaupun sudah banyak menelurkan karya kesejarahan, beliau masih menganggap ia bukan sebagai sejarawan atau budayawan, ”Saya bukanlah ahli. Saya lebih tepat sebagai seorang pembelajar sejarah dan budaya lokal. Sebagian hasil pembelajaran itu saya tuangkan lewat buku,” demikian ungkapnya. (ditambah dari berbagai sumber). 

Sumber Rujukan:

http://cabiklunik.blogspot.com/2010/05/sosok-wajidi-pembelajar-sejarah-lokal.html

http://nasional.kompas.com/read/2010/05/18/03104467/

http://bubuhanbanjar.wordpress.com/2009/05/12/sejarah-lokal-dan-nasionalisme/
Load disqus comments

0 comments