Friday, July 12, 2013

Kerajaan Bulungan Putihkan Peristiwa Subversif Bultiken



ISTANA KERAJAAN BULUNGAN/IST
  

RMOL. Sejarah kelam pernah menerpa Kerajaan Bulungan. Sekalipun menjadi pendukung republik, dimana Sultan Maulanda Djalaluddin memimpin pengibaran bendera Merah Putih di Istana Bulungan di Tanjung Palas, pada 27 Desember 1949. 

Namun, dalam arus gelombang politik, tercatat 54 bangsawan Kerajaan Bulungan terbunuh dengan cap sebagai pemberontak lewat gerakan subversif Bultiken.
   
"Peristiwa subversif Bultiken tidak ada, peristiwa itu lebih bernuansakan situasi politik ketika Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia,'' kata Pemangku Sultan Bulungan Datu Abdul Hamid dalam Seminar Mengungkap dan Mengangkat Kerajaan Bulungan yang diselenggarakan Gerakan Kebangkitan Nusantara (GKN) di GOR Bulungan, Jakarta, Rabu (4/4).
     
Hamid menerangkan, sejak awal kerajaan Bulungan merupakan pendukung dari Republik Indonesia. Dukungan itu dilakukan dengan berbagai cara mulai dari pendanaan dari kekayaan alam dan dukungan perjuangan. ''Bahkan, GOR ini (GOR Bulungan, Kebayoran Baru, red) dulu punya paman saya, tapi sekarang saya nggak mengklaim lagi. Makanya seminar ini diadakan di sini,'' terangnya.
   
Hanya saja, lanjut dia, karena terjadi tudingan Kerajaan Bulungan memberontak dan berpihak pada Malaysia, dilakukan  penyerangan terhadap Kerajaan Bulungan. Sultan Adzimoeddin ditangkap dan diteruskan dengan peristiwa 21 Juli 1964 melalui pembakaran keraton istana bertingkat dua, hingga yang tersisa adalah areal kuburan keraton dan Masjid.
     
Sementara itu, sejarawan Asvi Marwan Adam mengungkapkan, banyak pertanyaan perlu dijawab meluruskan sejarah Kerajaan Bulungan. "Dan jika ingin melakukan pelurusan sejarah, perlu membuktikan apakah memang  gerakan -gerakan subversif Bultiken  sebelum Istana diserang itu benar-benar ada atau tidak, karena waktu itu terjadi dalam situasi konfrontasi dengan Malaysia,'' terangnya.
   
Dia juga mengingatkan pelurusan sejarah merupakan klarifikasi, bukan mencari kambing hitam. Pelurusan sejarah juga butuhkan fakta akurat dan sumber sahih yang ditulis sejarawan profesional. ''Yang lebih penting lagi itu tetap dilakukan dalam ruang lingkup NKRI,'' imbuhnya.
     
Salah satu pembicara dan kerabat Kerajaan Bulungan sendiri menerangkan, dalam kurun konfrontasi tercatat ada dua organisasi masyarakat wilayah Kalimantan dikenal kuat, yaitu, Persada (Persatuan Rakyat Daerah) dan Persaden. ''Karena situasi politik dan persaingan kemudian disebut-sebutlah gerakan subversif Bultiken,'' katanya.
     
Sedangkan Ketua Umum Gerakan Kebangkitan Nusantara (GKN) Ray Sahetapy selaku moderator menegaskan, upaya pelurusan sejarah Kerajaan Bulungan diperlukan untuk mengembalikan lagi harga diri  komunitas kerajaan Bulungan yang sekarang berjumlah 400 ribu jiwa. ''Ini upaya kultural di akar rumput, sehingga masyarakat terbebas dari beban sejarah dan kemudian bisa berkreativitas dan berkarya produktif bagi negara,'' terangnya.
     
Acara yang menyedot perhatian akademisi, pemerhati budaya dan masyarakat Bulungan itu dihadiri pula Stafsus Presiden bidang Otonomi dan Pembangunan Daerah Velix Wanggai, Bupati Bulungan Budiman Arifin serta anggota DPRD  dari Kabupaten, Bulungan, Nunukan, Tidung, Tarakan, Malinau. [arp]

Sumber:Rabu, 04 April 2012.
http://www.rmol.co/read/2012/04/04/59745/Kerajaan-Bulungan-Putihkan-Peristiwa-Subversif-Bultiken- 
Load disqus comments

0 comments