Wednesday, July 24, 2013

Tradisi Be'awadh / Iwadh Warga Kampung Arab - Bulungan

Penulis:  Fawziya Ibrahim.

Hari raya atau lebaran merupakan hari yang suci yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia maupun di Indonesia. Seperti halnya hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Berbagai macam cara orang menyambut datangnya hari raya, baik itu dengan mengadakan pawai takbiran dimalam harinya, sampai menyalakan kembang api yang meriah. Sama halnya dengan warga kampung arab di Bulungan - kalimantan timur. Setiap tahun diadakan pawai takbiran dan pesta kembang api di tepian sungai kayan. Warga yang menyaksikan cukup terhibur dengan kemeriahan pawai yang bertabur lampu-lampu hias dan alunan takbir yang menggema. Apalagi menyaksikan kembang api yang tak henti-hantinya menghiasi langit malam di kampung arab, semuanya menambah syahdu suasana menyambut idul fitri tiba. Sama halnya dengan idul fitri, di hari raya idul adha juga diadakan pesta serupa pada malam takbiran.

Kegiatan warga kampung arab di hari raya idul fitri maupun idul adha sama tak ubahnya kegiatan warga di daerah-daerah lain. Warga berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan shalat ied. Masjid Ahmad Al-Kaff adalah masjid tempat berkumpulnya mayoritas warga keturunan arab bermadzhab Syafii. Setelah melaksanakan shalat ied berjama'ah di masjid, warga saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Di hari pertama lebaran ini warga masing-masing berkumpul dan bersilaturahmi dengan keluarga. Sampai tibalah keesokan harinya pada hari kedua lebaran ada satu hal menarik yang biasa dilakukan warga keturunan arab di bulungan, be'awadh atau iwadh.

Kata Iwadh berasal dari Bahasa Arab, yaitu ada-yaudu-audan yang berarti kembali. Maksudnya adalah kembali suci. selain bermaksud memfitrahkan diri dengan cara saling bermaafan, Iwwadh juga menjadi media kembali bagi jamaah yang selama ini tidak pernah bertemu. Iwadh tak digelar serampangan. Tradisi ini hanya dilakukan warga keturunan Arab di Bulungan. Pesertanya pun cuma laki-laki. Jangankan mengikuti, melongok pun para wanita tak diperkenankan. Iwwadh digelar saban tahun. Setiap hari kedua Lebaran. Inti tradisi ini adalah menebalkan tali silaturahim antarsesama keturunan Arab di Bulungan. Tradisi Iwadh selalu meriah, seperti juga kali ini. Selain bersalam-salaman dan bermaafan, acara juga dibumbui rebutan hadiah dari sang tuan rumah. Menurut mereka, tradisi ini sudah dilakukan turun temurun sejak Belanda masih menguasai Nusantara. iwadh dirayakan dengan tradisi mengunjungi warga muslim keturunan Arab sambil membaca puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW serta memanjatkan doa bagi pemilik rumah.

Iwwadh satu-satunya peninggalan ulama besar Habib Idrus bin Salim Al Djufrie. Ia dikenal dengan sebutan guru tua dan diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Be'awadh atau iwadh ini biasanya diikuti ratusan warga keturunan arab yang nantinya satu per satu rumah mereka akan dikunjungi, hingga waktu be'awadh atau iwadh ini memakan waktu seharian dari pagi sampai dengan sore hari, dari kampung arab sampai dengan kunjungan ke pesantren al-khairaat yang ada di jelarai.

Selain di Bulungan, tradisi ini sudah berakar di sejumlah wilayah  lain seperti di Palu - sulewesi tengah (tempat asal muasal tradisi ini dilakukan oleh Habib Idrus bin Salim Al Djufrie), dan hingga kini masih terus dipertahankan. Bahkan, tradisi Iwadh ini juga telah diikuti oleh umat muslim non-Arab di Bulungan. hmmh.. begitu indahnya Islam. :)

Catatan : saya sangat surprise dengan tulisan yang diunggah oleh saudari Fauziya Ibrahim dalam blognya tersebut, bagaimanapun tulisan mengenai sejarah, tradisi dan budaya keturunan Arab di Bulungan memang tak banyak, khususnya yang berasal dari kalangan mereka, salam takzim saya pada penulis yang mampu menyuguhkan serpihan budaya Arab-Bulungan dalam bentuk tulisan yang bagus ini. 

Sumber : http://fawziya-ibrahim.blogspot.com/2011/09/tradisi-beawadh-iwadh-warga-kampung.html
Load disqus comments

0 comments