Saturday, August 24, 2013

Mengenang 64 Tahun Pengibaran Sangsaka Merah Putih di Bulungan.

Beberapa saat yang lalu kita baru saja selesai melaksanakan upacara kemerdekaan 17 Agustus 2013, bila dihitung-hitung sungguh tak terasa sudah 64 tahun berlalu sejak pengibaran bendera merah putih pertama di bumi Bulungan yang begitu khitmat terlaksana dibawah tekanan NICA dan semangat masyarakat Kesultanan Bulungan yang begitu menyala-nyala mendukung Republik Indonesia.
 
Ingatan saya kembali terbayang pada sebuah tiang bendera tinggi yang saat ini masih berdiri kokoh didepan reruntuhan Istana Bulungan yang saat ini sudah berdiri sebuah Museum Kesultanan Bulungan, sepi sendirian, di keroposi oleh waktu dan terabaikan manusia disekitarnya.

Padahal dahulu ada kisah heroik mengenai keberadaan tiang bendera tersebut, jauh sebelumnya, tiang ini pernah digunakan dalam upacara penyematan gelar Kolonel Tituler di depan istana bertingkat AM. Soelaiman, tentu saja Triwarna Belanda berkibar disana tahun 1947, tak lama berselang Triwarna digusur oleh Dwi warna Sangsaka merah putih pada Agustus 1949. 

Ada cerita unik tentang keberadaan Sang saka Merah Putih Di Bulungan, menurut catatan resmi sejarah Bulungan, bendera ini justru diberikan oleh seorang Komandan Militer jepang bernama Kumatsu yang sempat menduduki Tanjung Selor sebelum akhirnya harus melarikan diri dari kejaran tentara sekutu, khususnya para Digger atau tentara Australia yang memasuki tanjung Selor setelah operasi pembebasan Tarakan yang bersandikan operasi Obe One

Ada misteri yang belum terungkap khususnya tentang sosok Kumatsu, seperti misalnya apakah Komandan Kumatsu sudah mengetahui tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia, jika benar darimana ia mengetahuinya? dari mana Kumatsu mendapatkan bendera merah putih itu? Apakah ia sendiri yang memerintahkan untuk menjahit bendera tersebut? Atau bendera tersebut hasil sitaan yang dilakukan oleh militer Jepang terhadap para pejuang yang berusaha memasuki wilayah Bulungan? Apakah Kumatsu seorang Jepang yang memiliki kecintaan terhadap Indonesia khususnya Bulungan sehingga ia menyerahkan secara resmi sang saka merah putih kepada Kesultanan Bulungan? Atau adakah motif lain seperti apakah ia memberikan bendera merah putih karena tidak rela Bulungan kembali jatuh ke tangan Belanda (NICA) sehingga keberadaan bendera tersebut sebuah pembenaran sejarah jika terjadi pemberontakan Bulungan terhadap belanda?. Hal tersebut akan sekian banyak pertanyaan yang belum dapat terjawab dengan pasti mengenai misteri bendera merah putih di Bulungan ini, ditambah lagi, sampai hari ini, pun tak diketahui lagi kemana rimbanya bendera merah putih yang pertama kali di kibarkan di Tanjung palas itu. 


Namun dari kepingan sejarah tentang bendera tersebut, Kumatsu memberikannya kepada Kesultanan Bulungan yang diwakili oleh Bendara Paduka Raja, Menteri Kesultanan Bulungan orang yeng menerima bendera tersebut, selanjutnya pada malam 16 Agustus, Bendera tersebut telah dipersiapkan untuk dilakukan pengibaran bendera merah putih yang langsung disaksikan segenap rakyat Kesultanan Bulungan, walaupun sebelumnya ada himbauan dari NICA agar bendera itu tak lama dikibarkan dan KNIL akan tetap berada disekitar istana. Keinginan Belanda ternyata di tolak tegas oleh Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin dan Datuk Bendahara Paduka raja beserta menteri, staf kerajaan dan rakyat Bulungan. Uniknya NICA dan KNIL tak berani melawan Sultan karena pangkatnya sebagai Kolonel Tituler membuatnya berpangkat lebih tinggi dari pejabat Belanda manapun yang ada di Bulungan, keesokan harinya disaksikan oleh sengenap rakyat Kesultanan Bulungan, 17 Agustus 1949 menjadi hari yang bersejarah, sang saka merah putih resmi berkibar di Bulungan dan kesultanan Bulungan menjadi bagian tak terpisahkan dari NKRI. 

Tak sampai setahun kemudian, diiringi kegembiraan rakyat Kesultanan Bulungan dan tangisan keluarga pejabat Belanda, NICA akhirnya angkat kaki dari Bulungan, konon menurut kisah yang diceritakan pada saya, ketika Bulungan secara resmi menggabungkan diri ke NKRI, Ratu Wihelmina dikabarkan sempat menjatuhkan air matanya, benar atau tidaknya cerita tersebut, ia tetap saja menjadi bagian cerita yang menarik tentang keberanian dan kemampuan diplomatis dan romantisme sejarah yang terjadi di masa itu.

Saya pikir tinggal kita, generasi muda yang meneladani para pendahulu kita, membangun Bulungan yang lebih baik dimasa mendatang. Memandangi tiang bendera yang kokoh kesepian di makan waktu itu, membuat saya berfikir, sepahit apapun yang pernah terjadi pada kita, selalu ada harapan untuk bangkit, untuk itulah kita belajar untuk memahami, mencontoh dan melakukan apa yang perjuangkan oleh para pendahulu kita. Walaupun sejarah Bulungan tak pernah menjadi bagian yang serius dari sejarah besar negeri ini, walau kita pernah dikhianati oleh oknum angkatan bersenjata negeri ini pada tragedi 1964, bagi saya selalu ada jalan untuk membangun Bulungan yang besar dimasa mendatang. Seperti seseorang yang pernah mengatakan sesuatu pada saya sore itu, “ biarpun kita ini pernah di jahati  orang-orang itu, kita tetap mencintai negeri ini seperti apa adanya …”. (zee)  

Sumber Refrensi: 

Said Ali Amin Bilfaqih, “ Kesultanan Bulungan Dari Masa – Masa”, CV. Eka Jaya Mandiri, 2006.

M. Said Karim, “Mutiara Abadi (Restruksi Kemerdekaan Bulungan)”, Pemerintah kabupaten Bulungan Tanjung Selor, 2011.
Load disqus comments

0 comments