Saturday, November 9, 2013

Melihat Tradisi Penyambutan Haji Warga Kampung Arab.

Radar Tarakan :  Jumat, 8 November 2013

 Warga Kampung Arab, Tanjung Selor, punya tradisi sendiri menyambut kedatangan jamaah haji yang sudah dilaksanakan beberapa tahun terakhir. Nah, tahun ini ada tiga warga Kampung Arab yang menunaikan ibadah haji. Namun, hanya dua jamaah yang disambut dengan tradisi yang sudah akrab bagi warga Kampung Arab ini yaitu, H. Tarmizi dan Hj. Mujenah sedangkan satunya terlewatkan.Seperti apakah tradisi itu, berikut liputannya.
  
Usai disambut Bupati H. Budiman Arifin di halaman Masjid Agung Istiqomah, dua anggota jamaah haji asal Kampung Arab disambut lagi oleh kerabatnya dengan menggunakan tradisi khas warga Kampung Arab, yakni dengan menggunakan perahu replika yang terbuat dari triplek dan gerobak untuk memudahkan penjemput mengarak jamaah haji itu. Setelah kedua haji itu duduk di atas perahu hias yang sudah disiapkan, barulah diarak menuju rumah mereka yang berjarak sekira 500 meter dari lokasi penjemputan, yakni depan pelabuhan Kayan I.

Dengan diringi suara rebana dan salawat nabi, dua anggota jamaah -satu laki-laki dan satu perempuan- itu pun diarak. Meski matahari sangat terik karena diarak sekira pukul 14.00 Wita, tak mematahkan semangat warga Kampung Arab, baik anak-anak maupun orang dewasa untuk melaksanakan tradisi ini.

Lantunan salawat dan pukulan rebana pun terus dikumandangkan hingga sampai di kediaman haji baru yang juga sudah ditunggu keluarga besar itu. Namun, sesekali di tengah perjalanan menuju rumah, beberapa warga menyalami mereka yang sudah duduk di atas perahu, bak raja yang sedang di arak.

Tradisi warga Kampung Arab ini pun tidak sampai di sini, setibanya di rumah, haji yang sudah ditunggu-tunggu inipun masih disambut dengan taburan beras kuning yang sudah dicampur dengan uang logam, dan diperebutkan warga sebagai tanda kegembiraan dengan kembalinya anggota jamaah haji ke rumah.

Zein Al Jufrie, pemerhati seni mengatakan, penyambutan seperti ini akan lebih ramai lagi jika ada empat anggota jamaah haji yang pulang. Dan bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk menyaksikan tradisi yang baru beberapa tahun terakhir dihidupkan lagi ini. Diterangkannya, tradisi ini tidak hanya untuk warga keturunan Arab, tapi juga warga lainnya yang menetap di Kampung Arab. “Ini adalah salah satu bentuk obyek wisata tanpa ada rekayasa. Dilaksanakan, karena sudah merupakan tradisi warga Kampung Arab,” ujar Zein.

Hal yang sama juga disampaikan salah satu tokoh masyarakat Kampung Arab H. Alwi Al Jufrie. Menurutnya, tradisi semacam ini harus dipertahankan. Apalagi tradisi menyemarakan penyambutan jamaah haji ini adalah sunah nabi. Sehingga tak ada salahnya tradisi penyambutan jamaah haji ini bisa lebih disemarakan lagi. “Mungkin di tempat lain juga ada tradisi penyambutan kedatangan haji. Tapi berbeda-beda, dan itu tidak ada masalah, hanya tradisi saja. Yang penting kita menyemarakan penyambutan kedatangan jamaah haji ini, karena juga merupakan salah satu syiar Islam, agar yang belum haji dengan melihat tradisi penjemputan haji ini jadi kepingin,” jelas Alwi Kepada media ini kemarin. “Ya, yang melaksanakan perintah Allah harus diekspose, sebagai syiar Islam agar yang lainnya juga ikut,” lanjutnya.

Bahkan, kata pria yang juga Kepala Inspektorat Bulungan ini, sekira awal 2000-an lalu penjemputan semacam ini sudah mulai dilaksanakan. Namun masih menggunakan perahu yang dihias menjadi pesawat terbang, mengingat pada saat itu tidak ada jalur udara maupun darat, sehingga penjemputan hanya dilakukan di sungai yaitu, sekitar Tanjung Buyu. “Kalau dulu turunnya dari Tarakan, setelah sampai di Tanjung Buyu, kami jemput dengan mengunakan perahu yang sudah dihias menjadi pesawat, hingga ke Kampung Arab,” sebutnya. “Kalau tempo dulu hanya ada arak-arakan saja, tidak mengunakan gerobak. Mulai tahun 2000-an kami sudah mulai menggunakan alat untuk mengarak jamaah haji yang datang,” terangnya. (ash)

Sumber : 
http://www.radartarakan.co.id/index.php/kategori/detail/Bulungan/47073
Load disqus comments

0 comments