Thursday, February 26, 2015

Rekor baru, sejarah banjir di Tanjung Selor.

(Ketinting "parkir" didepan ruas jalan di Pasar Induk Tanjung Selor)
Selasa Malam, tanggal 10 Februari 2015, adalah malam yang tak terlupakan dalam sejarah  hidup saya, pun begitu pula dengan ratusan ribu penduduk Tanjung Selor kala itu, apa sebab?, Tak lain karena banjir kiriman yang datang menenggelamkan kota mungil kami, sebuah peristiwa bersejarah karena sejak seumur Kabupaten Bulungan ini berdiri, - kota kami, Tanjung Selor yang menjadi Ibu Kota provinsi kaltara,- baru kali inilah banjir besar itu mengunjungi kehidupan masyarakat kami yang puluhan tahun tak terusik oleh bahaya banjir sepert itu.
 
Kecil jadi teman besar jadi lawan.

Pepatah diatas biasanya ditunjukan untuk bahaya api, namun kamipun akhirnya  menyadari hal yang sama juga berlaku bagi air yang tenang tapi menghanyutkan ini. Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarkat kami yang tinggal di Tanjung Selor, selama beberapa dekade ini banjir tak pernah dianggap musuh, malah menjadi teman yang mengasyikkan. Aneh? Memang begitulah adanya kawan, banjir menjadi kesenangan tersendiri dan secara tak tertulis menjadi bagian dari tradisi yang dirayakan oleh masyakat kami. Ketika awal banjir datang, anak-anak, tua, muda riang sambil menunggu pasang banjir buat main air, ya main air kegiatan menyenangkan untuk kota kecil kami yang sepi hiburan itu, bertahun-tahun lamanya hal itu menjadi bagian hiburan musiman bagi masyarakat kami.

Tak ada yang menyadari bahaya banjir yang mengintai mulai datang pada pagi 10 Februari 2015 itu, anak-anak yang tak turun sekolah sedang asyik menyiapkan pelampung-pelampung dari ban didepan rumah, perasaan penulis menjadi kurang nyaman ketika melewati salah satu jalan di Tanjung Selor, tepatnya di jalan Durian ketika air mulai menggenangi  kawasan lampu merah dekat SMUN 1 Tanjung Selor, ketika kembali ke kantor yang terletak di jalan Jelarai, -kebetulan penulis bekerja di Ponpes Alkhairaat sebagai Staff TU sekaligus Guru bantu disana,- ada kabar tak sedap bahwa dikawasan Long Peso, salah satu daerah yang letaknya  di Hulu kota Tanjung Selor, banjir sudah naik mendekati atap rumah warga, perasaan saya semakin tak nyaman karena siapapun yang ditinggal di Tanjung Selor tahu betul bahwa kawasan hulu letaknya secara geografis lebih tinggi dari dataran dimana kota kami itu dibangun, artinya hanya menunggu waktu saja ketika banjir surut, maka aliran air akan menggenangi kawasan dataran rendah dibawahnya.

Ketika pulang, suasana kota di Tanjung Selor terlihat ceria, orang-orang membicarakan banjir yang datang serta rencana mandi-mandi dengan sanak keluarga. Memang berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah banjir tak pernah tinggi dan lama ketka berkunjung ke Tanjung Selor, namun seperti prediksi banyak orang nampaknya salah kali ini. 

Kawasan tempat tinggal saya di desa Sabanar baru, kawasan ini merupakan perumahan atau kampung yang letaknya dipinggiran kota dan tak jauh dari Tanjung Selor, ketika selasa malam kami sekeluarga “turun” ke Tanjung Selor, kondisi memang sudah mati lampu karena sejak siang sudah dimatikan oleh PLN, penulis tertegun melihat pemandangan tak biasa dari dalam mobil, masyarakat Tanjung ditimpa gejala panik masal karena banjir mulai menggenangi rumah dan ruas jalan ketika kami melalui kasawan sepanjang jalan dari daerah “Tugu Telor Pecah” sampai didaerah kawasan depan “Hotel Kaltara”, masyarakat bergegas berjalan menjauhi banjir, suasana malam memang mencekap karena lampu-lampu jalan saja yang menerangi kondisi kami saat itu. Ketika kembali memutar menuju kawasan “Tanjung harapan”, atau daerah yang saat ini disebut “ Gunung” oleh masyarakat setempat kami sempat melihat petugas sibuk menyiapkan persiapan tempat pos penampungan di Gedung Wanita, sebuah tempat yang letaknya cukup tinggi dan jauh dari titik air yang mulai menggenangi Tanjung selor. Separah itukah hingga masyarakat harus mengungsi? Begitulah dari pikiran yang berkecambuk dalam diri saya kala itu. Syukurlah ketika kami pulang rumah kami ternyata tidak terkena limpahan air seperti di kawasan kota. 

Dalam kondisi yang hanya ditemani lampu tembok didalam rumah, pikiran saya jadi kacau , kami jadi takut seketika banjir mendatangi pemukiman kami, karena letak tempat tinggal kami memang juga tak jauh dari sungai, harap maklum saja, kota Tanjung Selor ini memang dibangun diatas “pulau” yang dikelilingi oleh berbagai cabang sungai selain sungai Kayan yang menjadi induk dari sungai disitu. Kabar dari kerabat dan sahabat mengenai perkembangan banjir dikota Tanjung selor sangat mengejutkan, sekitar jam 2 hingga jam 3 malam, banjir bukan surut debit air malah meningkat, sehingga banyak warga yang beramai-ramai meninggalkan rumah untuk mengungsi, bagi yang punya rumah tinggi atau berlantai lebih dari satu, bertahan didalam rumah sambil menunggu banjir surut. Tanggal 11 Februari 2015, pada siang harinya banjir sempat menggenangi jalan, halaman dan garasi rumah kami di Sabanar baru, keluarga saya sudah siaga I, jika memang tak memungkinkan bertahan, bisa saja kami sekeluarga evakusi ke rumah kerabat dan keluarga di daerah Gunung (Tanjung Harapan) yang cukup tinggi, tapi syukur Alhamdulillah, sore sekitar jam 5, banjir mulai menjauh dari lingkungan perumahan kami.

Pemerintah Provinsi Kaltara dan Pemkab Bulungan berkerja keras membantu menangani banjir terparah dalam sejarah ini. Selain menempatkan pengungsi pada posko permanen bantuan berupa obat-obatan dan juga hal mendukung lainnya mengalir ke posko pengungsi banjir, TNI dan Polri juga sangat akur melakukan penjagaan dan membangun dapur umum bagi pengungsi, angkat jempol juga bagi BPBD Kab. Bulungan, Tagana, PMI dan Pol PP serta pihak-pihak lain yang sigap disaat-saat genting itu. Hanya Allah SWT, yang dapat membalas kebaikan kalian semua. 

Tentu saja terlepas dari itu semua, saran saya bagi tim Tagana agar kedepan lebih baik lagi dalam hal pelayanan terhadap korban bencana, apa yang sudah dilakukan sudah cukup baik hanya perlu ditingkatkan saja dari segi pelatihan dan peralatan kedepannya, demikian sedikit saran saya. Untuk TNI AD baik dari Brigif Bulungan Sakti maupun dari Kompi-B Raja Alam, saya angkat jempol karena mampu melakukan OMSP (Operasi Militer Selain Perang) dengan baik, seperti yang dapat saya lihat betapa sigapnya mereka membangun dapur darurat ketika banjir terjadi saat itu. Dan untuk pemerintah dan pihak terkait, ada baiknya memperbanyak lampu jalan tenaga surya, sebab apa yang saya saksikan dan juga orang-orang alami saat kejadian itu, malam ketika listrik padam, penerangan sangat minim, sehingga menghambat evakuasi korban.

Ada berapa banyak jumlah pengungsi banjir di Tanjung Selor? Menurut data yang dihimpun oleh Radar Tarakan Jum’at 13 Februari 2015, kisaran jumlah dan tempat posko banjir adalah sebagai berikut; Gedung Wanita 667 jiwa, Kecamatan Tanjung Selor 187 jiwa, Pasar Induk 153 Jiwa, Telor Pecah 1 terdapat 28 jiwa, Telor pecah 2 terdapat 10 jiwa, Perpustakaan daerah kabupaten Bulungan 170 jiwa, Mesjid Habib Ahmad Al-Kaff dikampung Arab menampung 120 orang, Puskesmas Tanjung Selor 20 orang, Gedung PMK Baru dan Mesjid dekat PMK terdapat 158 orang jadi totalnya 1.513 orang pengungsi.

Aktifitas di Tanjung Selor nyaris lumpuh.

Memang begitulah adanya. Pasokan air dan listrik seketika terhenti, pengungsi dan masyarkat umumnya kesulitan mendapat pasokan air bersih, itu pula yang kami rasakan, kondisi ini memang menjadi buah simalakama, mesin-mesin air terpaksa diangkat baik dari Instalasi Pengelolaan Air yang berada di Sungai Buaya maupun Sungai Jelarai menjadi tidak berfungsi akibatnya pendistribusian air ke wilayah tanjung harapan, Selor kota, Sabanar baru dan lama, Jelarai, Tanjung palas dan Salimbatu menjadi terganggu, selain karena air cukup tinggi, pasokan listrik juga terhambat manakala banyak gardu listrik yang terendam sehingga PLN memutuskan untuk menghentikan penyediaan layanan listrik atas dasar keselamatan. Apalagi sekitar awal banjir mulai naik itu, sengatan aliran listrik dari gardu listrik yang terendam sempat mengenai salah seorang warga, beliau kemudian dimakamkan dihari itu juga.  Masyarakat mulai menyerbu kios penyedia air galon untuk mendapatkan air bersih untuk memasak, minum dan mandi. 

Musibah kali ini juga membuat aktifitas belajar mengajar terhenti tercatat sekitar 74 Sekolah terendam. Menurut data dari Disdik Bulungan via Radar Tarakan tercatat di kecamatan Tanjung Palas terdapat 4 buah TK, 6 buah SD dan 4 buah SMP yang terendam, di tempat lain seperti Tanjung Selor : 7 TK, 10 SD, 5 SMP, 3 SMA dan 2 SMK yang terendam. Di daerah Tanjung palas terdapat 5 buah SD dan 4 buah SMP yang terendam. Kemudian dikawasan hulu yakni di Kecamatan Peso dan Peso Hilir terdapat 1 buah TK, 11 buah SD, 8 buah SMP dan 1 buah SMA yang terpaksa menghentikan kegitan belajar mengajar. Mirisnya lagi buku pelajaran dan raport siswa banyak yang hancur karena tak sempat diselamatkan, begitula beberapa ijazah alumni juga ikut rusak, itu belum termasuk ATK dan alat kelengkapan sekolah lainnya yang juga terendam banjir.

Jalanan jadi lalu lintas Perahu ketinting.

Transportasi saat banjir sebenarnya ada dua yaitu menggunakan mobil yang cukup tinggi dan ketinting sungai, saat puncak banjir banyak perahu ketinting atau tambang digunakan oleh masyarakat untuk memindahkan orang dan barang, saya pribadi sempat mengabadikan dalam beberapa foto dimana perahu ketinting itu sempat “menambang” atau singgah didepan kawasan di Jl. Salak depan pasar Induk tanjung Selor, perahu-perahu itu sendiri sudah masuk di jalan-jalan Tanjung selor pada Selasa malam 10 Februari 2015 lalu. Harga sewa ketinting jadi meroket menjadi Rp.20.000,- perorang dari harga standarnya jika mereka menambang dari tambangan atau pelabuhan kecil yang menghubungkan Tanjung Selor dan sekitarnya via sungai kayan, naiknya harga tersebut dapat dimaklumi karena kelangkaan bensin yang juga mendera Tanjung Selor saat puncak banjir itu. 

Ketika banjir mulai surut.

Banjir mulai turun pada hari jum’at 13 Februari, namun jalan-jalan protokol masih belum bisa dilalui, barulah keesokan harinya pada 14 Februari jalan-jalan di Tanjung Selor dapat dilalui secara total. Kepolisian Resort Bulungan juga tak tinggal diam, sebuah mobil Watercanon ditugaskan menyemprot air untuk membersihkan lumpur-lumpur banjir bekas luapan sungai kayan di sepanjang jalan Kolonel Soetadji hingga kawasan Skip Tanjung Selor. Disela-sela warga kota Tanjung Selor membersihkan rumah dan harta benda yang baru saja surut dari genangan banjir, ada kabar berita yang mengejutkan sekaligus mengharukan. Masyarakat menemukan jenasah korban banjir dibawah jempat di salah satu rumah penduduk. Korban lain juga ditemukan di Kecamatan Peso yang meninggal akibat kedinginan. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa, menerima amal ibadahnya dan menguatkan hati keluarga dan kerabat korban. Amin

Epilog.

Banjir kali ini benar-benar mengubah paradigma masyarakat kota Tanjung selor tentang bajir. Dimasa mendatang pemerintah dan pihak-pihak terkait tentu harus melakukan kajian dan pencegahan agar banjir besar seperti ini bisa sigap diatasi secepatnya, pun masyarakat juga harus menyedari, bahwa Allah SWT melalui alam menguji kepekaan kita terhadap kelestarian lingkungan alam sekitar. Semoga banjir kali ini dapat menjadi pelajaran penting dan berharga agar dapat dilakukan pencegahan dimasa mendatang. Amin. (Pen).

Sumber Foto: Koleksi Pribadi.
Load disqus comments

0 comments