Wednesday, January 27, 2016

[Flash Back] Beberapa jam sebelum demo rusuh Pilkada Kaltara 2015



Suasana beberapa jam sebelum Chaos terjadi
Pada tanggal 19 Desember 2015 almanak masehi, sudah beredar isu ada semacam demo pilkada di Tanjung Selor, saat itu memang tidak terpikirkan akan terjadi hal besar yang menandai sejarah baru Provinsi Kaltara yang masih belia ini. Saat itu siang sekitar pukul 12.28 saya sudah berada di tak jauh dari lokasi kantor gubernur yang menjadi pusat berkumpulnya para pendemo, posisi saya pada awalnya berada di seputaran kantor KPU Kab Bulungan.

Boleh dibilang ada pemandangan yang tak biasa saya temui hari itu, mulai dari pagar kawat yang mengular mengelilingi komplek gubernuran, belum lagi banyaknya aparat gabungan dan massa yang tumpah ruah dekat lapangan agatis dan plataran kantor gubernur. Menariknya saya juga melihat ada seseorang yang mengambil gambar disalah satu balkon kantor gubernur, kameranya mengarah dikerumunan massa yang tak acuh dengan seruan pihak berwenang yang menginginkan sebelum jam 06.00 petang, gubernuran sudah harus bersih dari aktifitas manusia. 

Jujur saya tidak paham mengapa para pembuat keputusan memilih kantor Gubernur Kaltara sebagai ruang pertemuan untuk membicarakan hasil akhir pilkada pertama provinsi kaltara ini, maklum saja bagi saya komplek gubernuran terlalu “terbuka”, ditilik dari sudut manapun massa dapat berdatangan dari segala penjuru, dari kawasan Jl. Durian, Jl. Kol. Soetadji, kemudian dari arah Jl. Meranti, belum lagi yang “turun“ dari arah gunung (tanjung harapan), saya membatin dalam hati, apabila terjadi Chaos aparat bisa saja tersudut diruang terlalu terbuka itu. Memang perasaan saya sudah tidak nyaman sekali, ada kekhawatiran dalam diri saya bila aparat kemanan tak mampu mengendalikan situasi dan tak mampu menahan emosi, mungkin peluru dan pentungan yang bakal bicara. 

Disudut jalan mengarah tak jauh dari plataran gubernuran, saya menyaksikan banyak sekali para demonstran yang membawa benda tajam yang disarungkan dipinggang, bulu burung enggang dan elang yang menjulang diatas kepala dan pekikan suara kecewa membahana diseputar areal demonstasi. Ada rasa khawatir dibenak saya kala itu, miris karena para pendemo ada yang membawa balita dan anak-anak yang sejatinya belum cukup umur mendengar makian dan umpatan dari para orang dewasa yang tengah emosi saat itu. Isu tembak ditempat bagi para perusuh memang sudah saya dengar, itulah yang menambah kekhawatiran dibenak saya, aparat yang rata-rata didatangkan dari luar daerah jelas tak punya pilihan bila tersudut, dalam benak saya bila satu tembakan saja yang terlepas mengenai salah satu pihak, hanya Allah Swt saja yang tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari.

Sekitar pukul 01.05 saya sudah meninggalkan area demonstrasi, terlihat sekali bahwa para demonstran tetap ngotot bertahan hingga putusan keluar jam 09.00 malam. Sore hari sekitar jam 04.00 lebih, ketika saya berkunjung di salah satu rumah keluarga di daerah gunung (Tanjung harapan), terlihat asap hitam mengepul dari arah bawah (area kantor gubernur), saya terperangah Chaos kah? benar saja ketika ipar saya datang mereka menceritakan bahwa para pendemo mulai merusak fasilitas disekitar kantor gubernur, yang nampak saat itu, kata mereka ada mobil yang terbakar. Ipar saya jadi panik karena khawatir ada aksi perusakan menjalar di tempat lain, sayapun terkejut, bagaimana bisa ring 1 ditembus? Apakah massa yang bertambah banyak atau polisi dipukul mundur. Jawaban atas pertanyaan yang berputar dikepala saya baru bisa terpecahkan ketika saya menengok upload-an para youtuber dan kantor berita di internet. Miris juga rasa melihat kemarahan terpancar diwajah para demonstran yang tertangkap kamera, saya juga menyaksikan bagaimana perjuangan aparat mengendalikan massa dan para pemandam kebakaran berusaha menjinakkan api yang mulai merusuhi kantor gubernur. Walaupun ada pihak yang menganggap pengamanan telah bocor, tapi saya pribadi boleh mengacungkan 2 jempol untuk AKBP Ahmad Sulaiman yang mampu bergerak cepat menangani situasi, plus beliau mampu menjaga moril dan kedisiplinan aparat keamanan untuk tidak menembak peluru tajam kearah kerumunan para demonstran untuk alasan yang sederhana tapi luhur, yaitu kemanusiaan. (pen)
Load disqus comments

2 comments