Saturday, January 9, 2016

Menafsirkan Ulang Mitos Asal-Usul Nama Bulungan


Menafsirkan Ulang Mitos Asal-Usul Nama Bulungan
Istana lama Kesultanan Bulungan

Dalam perjalan sejarah tentang suku Bulungan, tidak banyak dari kita yang mengetahui dan melakukan kajian yang mendalam tentang suku bulungan  baik dari segi pada asal usul, pola panyebaran, hingga bagaimana mereka menjadi orang “melayu”, hanya yang sampai pada kita adalah keberadaan tentang mitos asal usul mereka dari sebuah bambu dan sebuah telor yang kemudian melahirkan suku menjadi suku bulungan seperti yang kita kenal hingga saat ini. Sangat di sayangkan bahwa Suku Bulungan yang membentuk Kesultanan Bulungan yang wilayahnya meluas dari utara berau hingga selatan sabah dan serawak ini tidak banyak di ketahui. 
Lebih disayangkan lagi dalam hal ini banyak sejarawan Bulungan “menerima dengan utuh” mitos atau legenda yang menjadi pegangan asal-usul suku Bulungan ini dengan cara pandang yang Tekstual, bukan Kontekstual untuk mencari makna yang tersirat dan informasi yang terkandung dalam Legenda atau Mitos (Sejarah Suci)  tersebut. Memang dalam lintasan sejarah tidak sedikit para peneliti barat maupun lokal yang mengulas tantang suku Bulungan ini sebut saja J. Thomas Linblad dengan bukunya Between Dayak and Dutch: The Economic History of Southeast Kalimantan Selatan 1880-1942 yang membahas sejarah yang menyangkut Kesultanan Bulungan hanya disinggung selintas yakni hanya dalam konteks sejarah perekonomian. Selain itu ada pula paneliti barat lain yaitu Cowie (1893) yang membahas tentang bahasa bulungan  kemudian dijadikan dasar ulasan oleh peneliti lainnya yaitu Cense dan Uhlenbeck namun informasi itu tidak jelas dan bukanlah informasi tentang bahasa Bulungan secara keseluruhan. Sedangkan peneliti asal indonesia sebut saja M. Aspandi Adul dkk, yang menulis buku Morfologi Dan Sintaksis Bahasa Bulungan, Penelitian bahasa Bulungan itu cukup mendalam, dan merupakan hasil penelitian lanjutan yang pernah dilakukan M. Aspandi Adul dkk (1981-1982) tentang Struktur Bahasa Bulungan1. Penelitian lainnya pernah juga dilakukan oleh balai Arkeologi Banjarmasin pernah melakukan Penelitian Arkeologi Islam di Bulungan. Sasaran kajian adalah berbagai peninggalan Kesultanan Bulungan, seperti makam, masjid, dan bekas keraton Bulungan. Hasil kajian itu memperlihatkan bahwa di Bulungan  terdapat empat kompleks makam masing-masing di Tanjung Palas (belakang Masjid Kasimuddin), Bukit Seriang I, Gunung Apit (Salim Batu), dan Bukit Seriang II. Dari keempat tempat  tersebut hanya di dua tempat yang inskripsinya dapat dikatakan lengkap sehingga mudah dikenali tokohnya yaitu di Tanjung Palas dan Bukit Seriang II.[1]
Namun seperti yang disadari penelitian-penelitian ini tidak secara langsung  membahas tentang asal usul suku bulungan melalui kajian etnografi dan etnoarkeologi. Dalam tulisan kali ini penulis tidak membahas lebih jauh tentang asal usul bulungan dalam sudut pandang kedua kajian tersebut (Etnografi dan Etno Arkeologi) melainkan sudut pandang mitos melalui sudut pandang penulis sendiri. Hal yang membuat penulis tertarik membahas mitos ini karena menurut penulis pribadi, legenda atau mitos (dalam pandangan penulis) tersebut memiliki makna simbolis tertentu itu artinya mitos ini harus dipandang sudut yang lain. Diperlukan kajian yang lebih dalam untuk mencari “jejak-jejak sejarah” asal usul suku bulungan ini.  Namun sebelum kita mencoba menggali lebih jauh tentang mitos asal usul suku bulungan yang konon di hubungkan dengan kisah “bambu dan telur” ini
Seperti yang telah diketahui di atas, konon, ada seorang laki-laki bernama Kuwanyi, beliau adalah seorang pemimpin suku bangsa Dayak Hupan (Dayak Kayan) karena tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang, cabang Sungai Pujungan. Karena kehidupan penduduk sehari-hari kurang baik, maka mereka pindah ke hilir sebuah sungai besar yang bernama Sungai Kayan. Suatu hari Kuwanyi pergi berburu ke hutan, tetapi tidak seekorpun binatang yang diperolehnya, kecuali seruas bambu besar yang disebut bambu betung dan sebutir telur yang terletak di atas tunggul kayu Jemlay. Bambu dan telur itu dibawanya pulang ke rumah. Dari bambu itu keluar seorang anak laki-laki dan ketika telur itu dipecah ke luar pula seorang anak perempuan. Kedua anak ini dianggap sebagai kurnia para Dewa. Kuanyi dan istrinya memelihara anak itu baik-baik sampai dewasa. Ketika keduanya dewasa, maka masing-masing diberi nama Jauwiru untuk yang laki-laki dan yang perempuan bernama Lemlai Suri. Keduanya dikawinkan oleh Kuwanyi. Kisah Jauwiru dan Lemlasi Suri yang mengingatkan kita tentang cikal bakal suku bulungan dan dalam perjalanan sejarah berdirinya kesultanan Bulungan. Bulungan, berasal dari perkataan “Bulu Tengon” (Bahasa Bulungan), yang artinya bambu betulan. Karena adanya perubahan dialek bahasa Melayu maka berubah menjadi “Bulungan”. Dari sebuah bambu itulah terlahir seorang calon pemimpin yang diberi nama Jauwiru. Dan dalam perjalanan sejarah keturunan, lahirlah kesultanan Bulungan. Disebutkan pula ada sebuah benda yang secara turun temurun menjadi benda pusaka yang berbentuk mandau di kenal dengan “Batu Besi Kelu”.
Dari cerita yang menarik ini yang di kelompokkan dalam Legenda bersifat lisan dan merupakan cerita rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang benar-benar terjadi. Karena sifatnya yang tidak tertulis dan sering kali mengalami distorsi maka sering kali pula dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Yang demkian itulah disebut dengan folk history (sejarah kolektif)[2]. Dalam hal ini penulis melihat dalam sudut pandang “kaca mata” yang sedikit berbeda, penulis lebih melihat cerita ini sebagai sebuah mitos. Mitos yang termasuk dalam kelompok hikayat, dongeng mapun legenda, meskipun pada tahap tertentu juga menjadi salah satu sumber sejarah yang didekati secara kritis, ia tetap bukanlah sebagai sejarah yang dikenal sebagai ilmu yang memiliki prosedur dan alat-alat intelaktual yang membedakannya dengan  mitos, hikayat, Dongeng mapun legenda. Sebelum mengenal lebih jauh pembahasan ini, ada baiknya kita mengenal dulu apa yang di maksud dengan dengan Legenda, dan apa pula yang dimaksud dengan Mitos. Legenda merupakan sebuah cerita yang dipahami masyarakat adalah sebuah cerita yang benar-benar pernah terjadi.
Sedangkan mitos menurut C.A van Peursen [3] adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu pada sekelompok orang. Cerita itu dapat di tuturkan tapi juga dapat diungkapkan melalui tari-tarian dan pementasan seni. Didalam masyarakat dimana mitos itu hidup, setidaknya ada tiga fungsi yang bisa diperankannya. Pertama, menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib. Kedua mitos memberikan jaminan bagi kehidupan masa kini. Ketiga, sebagai perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam. dalam mengkaji mitos tentang asal-usul suku bulungan ini tentu saja memerlukan penafsiran terhadap kejadian-kejadian yang dikisahkan dalam cerita tersebut yang didukung oleh didukung oleh data-data Historis dan Etnografi. Kajian terhadap mitos ini penting untuk mencari makna yang terkandung di dalamnya. Karena itu dalam memaknai mitos asal-usul suku bulungan yang konon nenek moyangnya berasal dari bambu dan telur ini, perlu di baca lebih luas dan mendalam dan tentu saja harus ilmiah.
pertama, dalam sudut pandang penulis mitos ini tidak hanya menceritakan tentang asal-usul nama suku Bulungan, namun juga memiliki nilai informasi lainnya, yaitu tentang adanya Hak Legalitas kekuasaan berdasarkan darah turunan darah Jauwiru dan Lemlai Suri dalam lingkup suku Bulungan (Uma Apan) pada masa itu. Artinya pada pemimpin suku bulungan pada masa tersebut merupakan golongan bangsawan (Paren : Kenyah atau Hipi : Kayan) yang merupakan keturunan langsung dari kedua pemimpin tersebut. Jauwiru dan Lemlai Suri dianggap sebagai sosok yang didewakan oleh masyarakatnya, hal ini sesuai dalam alam pikiran  kepercayaan masyarakat pada masa itu bahwa keduanya diyakini sebagai titisan orang-orang suci dan agung karena keduanya diyakini lahir dari bambu dan telor yang merupakan simbol dari kehidupan. Sama halnya dengan mitos Putri Petung pada masyarakat Kesultanan Pasir atau mitos pernikahan Putri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata pada masyarakat Negara Dipa yang kemudian menjadi Kesultanan Banjarmasin, haruslah dipahami ketiganya dengan pemahaman agama (religi) dan ideologi, ketiganya memiliki pola yang sama yaitu mitos mewakili kepentingan penguasa dengan media simbol-simbol kehidupan pada masyarakat tersebut, dalam masyarakat bulungan simbol-simbol ini hadir dalam bentuk bambu dan telur. Selain itu indikasi bahwa mitos ini berhubungan dengan legalitas kekuasaan adalah adanya gelar kebangsawanan yang digunakan oleh keturunan Jauwiru dan Lemlai Suri yaitu Paren Anyi dan seterusnya.
Namun yang menarik disini adalah dalam struktur sosial masyarakat Kayan menurut S. Lii’ long dan Pastor A. J. Ding ngo dalam karya mereka “Syair Lawe”[4] menyebutkan dalam dalam bagian pendahuluan karangan tersebut memberi keterangan bahwa dalam struktur masyarakat suku kayan dikenal memiliki tiga kelas sosial yaitu Hipi atau raja yaitu bangsawan tinggi yang memimpin rakyat yang dibantu dua atau tiga orang dalam mengatur pemerintahan. Dalam hal keagamaan di urus oleh Dayung (imam) yang hampir selalu wanita. Dayung aya’ (imam besar) ialah istri Hipi (raja) dan seorang atau lebih dari wanita yang berasal dari rakyat biasa. Golongan kedua dikenal dengan istilah Payin atau rakyat biasa dan golongan terakhir di sebut Dipan atau pelayan. Dipan merupakan golongan yang kalah dalam perang kemudian menjadi golongan masyarakat kelas ketiga yang melayani raja. Dalam perkembangan selanjutnya tidak dikenal lagi istilah Dipan karena sudah berbaur dengan golongan Panyin. Lalu yang perlu di cermati adalah gelar PAREN justru muncul dalam struktur sosial masyarakat suku kenyah sewaktu masih tinggal dirumah-rumah panjang dahulu, mereka mempuyai tiga golongan kelas masyarakat yaitu Paren (bangsawan tinggi), Penggawa (bangsawan rendah) dan Panyen (orang kebanyakan atau masyarakat biasa). Kemudian dikenal pula golongan budak atau Kula yang menjadi pelayan. Golongan ini setidaknya dikenal terdiri dari dua golongan, yaitu: 1). Salut, anak laki-laki yang dirampas dari musuh (suku lain) sewaktu peperangan dan dijadikan tawanan perang. Kemudian Salut di rubah statusnya menjadi Kula oleh Paren yang menawannya. 2). Kula, yaitu anak laki-laki keluarga Panyen yang tidak mampu (suku sendiri), diambil oleh kaum paren untuk dibesarkan dan dipelihara sebagai pelayannya[5]. Sama seperti Dipan dalam kelas bawah masyarakat suku Kenyah, Kula pun akhirnya tidak ditemukan lagi karena adanya pembauran dengan golongan Panyen.
Penulis belum bisa melihat dan menghubungkan lebih jauh lagi tentang hubungkait antara Kayan dan Kenyah ini, sebab hal ini perlu kajian lanjut melaui ilmu bantu ilmu Etnografi dan Etno Arkeologi, namun menurut Datuk Iskandar Zulkarnaen, suku kayan Uma Afan yang merupakan cikal bakal dari suku Bulungan ini, termasuk dalam kelompok masyarakat Kayan, Uma Afan yang juga disebut dengan nama Uma Gai merupakan campuran dari dua anak suku Dayak antara Kenyah dan Kayan.
Lepas dari itu semua, hal yang terpenting yang perlu dipaparkan oleh penulis adalah struktur masyarakat yang berkelas ini menguatkan hipotesa atau pandangan awal bahwa dalam Gelar Paren yang turun temurun diwariskan melalui garis darah oleh Jauwiru dan Lemlaisuri merupakan legalitas atau pengesahan kekuasaan dalam kaitan mengenai mitos asal usul orang Bulungan melalui bambu dan telur ini.
Kedua, tentu saja dalam legalitas kekuasaan biasanya semakin diperkuat dengan adanya Regalia atau benda pusaka yang diyakini memiliki tuah bagi pemiliknya, Regalia atau benda pusaka ini diantaranya adalah sebilah mandau yang kemudian dikenal dalam sejarah dengan sebutan “Batu Besi Kelu”.  
Faktanya, hampir dapat dikatakan bahwa siapapun yang menjadi pemimpin Suku Bulungan, baik saat mereka masih dikenal dengan nama Uma Afan sebelum berasimilasi (percampuran darah melaui perkawinan) dengan pendatang dari Brunai (Datuk Mancang dan pengikutnya), termasuk dengan orang Sulu maupun Berau pada saat mereka membentuk Kesultanan Bulungan, kepemimpinan selalu dipegang oleh orang-orang yang memiliki keterkaitan keturunan dengan Jau Iru dan Lemlai Suri, dan pada generasi berikutnya terkait dengan perkawinan antara Datuk Mancang dan Asung Luwan, cikal bakal dari nenek moyang pendiri Kesultanan Bulungan, Wira Amir atau Sultan Amiril Mukminin.
Bukti lainnya adalah digunakannya lambang telur, tunggul kayu Jemlai, dayung, bambu betung dan Meriam Sebenua sebagai “Sembol Lembaga Kebangsaan Ningrat Bulungan” mengingatkan pada kita betapa kuatnya pengaruh cerita legenda atau Mitos asal usul nama suku Bulungan dalam pembentukan jati diri Kesultanan Bulungan di masa itu.
Sebagai penutup, penulis mencoba memaparkan dengan rendah hati bahwa bahwa tulisan ini tidak dimaksud untuk melawan arus dari apa yang selama ini menjadi legenda dalam masyarakat Bulungan yang di yakini kebenarannya, namun lebih berupa menggambaran dari sudut pandang lain yang dilihat penulis tentang mitos atau dalam sudut pandang masyarakat Bulungan yaitu legenda asal usul suku bulungan atau kerajaan bulungan itu sendiri, sekali lagi menegaskan dengan rendah hati bahwa tulisan ini tidak bertujuan melawan arus tentang asal usul suku bulungan yang diyakini selama ini namun hanya sebagai khazanah ilmu pengetahuan yang tentu saja masih bisa ”digali” melalui sudut pandang lainnya.


1.  M. Asfandi Adul dkk, Morfologi dan Sintaksis Bahasa Bulungan, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, Jakarta, 1990, hlm 3
2     Bambang Sakti Wiku Admojo, Penulisan Pernyataan kematian Pada Makam Raja-raja di Kalimantan Timur, dalam Naditira Widya Edisi Khusus Nomor 10 April 2003, Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin, hlm. 26.
3. Sugeng Arianto S.Pd dalam “ Sejarah Kesultanan Bulungan”.  
4.  C.A. van Peursen, Strategi Kebudayaan,  (Jakarta; Gramedia, 1989), hlm. 37 dalam Hairus Salim HS, “Masyarakat Dayak Meratus, Agama Resmi, dan Emansipasi” KANDIL, Edisi , tahun II, November 2004 – Januari 2005, hal 26
5. S. Lii dan Pastor  A. J. Ding ngo “Syair Lawe”, penerbit Gajah Mada University Press Jogjakarta tahun 1984. hal XXVI-XXVIII
6.  Bambang Sugiyanto, “Religi dan Ritual Dayak Kenyah di Kutai Barat, Kalimantan Timur” Berita Penelitian Arkeologi No 16 Edisi Khusus Etno Arkeologi dan Religi Dayak di Kalimantan. Banjarbaru November 2006 hlm 30.
Load disqus comments

0 comments