Wednesday, July 7, 2010

Arti Kota Tanjung Palas Dalam Sejarah Kesultanan Bulungan.


(Tanjung Palas tempo doeloe)

Kota Tanjung Palas memiliki warna tersendiri dari perjalanan sejarah kesultanan Bulungan, secara administratif kota yang dulunya merupakan pusat pemerintahan dan sekarang ini menjadi ibu kota kecamatan tanjung palas ini menurut penuturan sejarah dibangun pada masa Aji Ali gelar Sultan Alimuddin atau Alimuddin the Concuare yang berkuasa pada tahun 1777-1817, beliau memindahkan ibu kota lamanya yaitu Salim Batu ke Tanjung Palas, ada dua versi yang menjelaskan sebab kepindahan Ibu Kota dari Salim Batu Ketanjung Palas ini, versi yang pertama menyebutkan bahwa Ibu kota dipindahkan karena saat itu Salim Batu dijadikan sebagai lumbung pangan bagi kerajaan, versi kedua menyebutkan bahwa tanjung palas menjadi ibukota pada tahun 1122 H atau 1710 M. peristiwa ini dipicu oleh keberhasilan pasukan Sultan Alimuddin mengusir bajak laut disekitar teluk Tawau, pada masa Sultan Alimuddin ia mengarahkan angkatan perangnya untuk mengusir gerombolan bajak laut disekitar perairan Tawaw dibawah komando putranya Raja Muda Ni’ dan menyatakan menaklukan wilayah Tawaw pada pada tahun 1122 H tersebut.

Menurut legenda, nama Tanjung Palas berasal dari kata Tanjung Kilas, hal ini disebabkan karena dahulu ditanjung tersebut pernah terdapat pernah tumbuh sepohon kayu kilas, sama halnya seperti “kembarannya” yaitu tanjung selor, nama tempat itu dahulu disebut Tanjung Kelor, karena di ujung tanjung tersebut pernah terdapat sebuah pohon kayu yang bernama kelor, dengan berjalannya waktu maka nama kedua tempat itu sekarang mengalami perubahan seperti yang dikenal sekarang yaitu tanjung palas dan tanjung selor.

Seberapa pentingkan kedudukan tanjung palas dalam lintasan sejarah bulungan? Menurut Robert Heine Geldern memberikan penilaian pentingnya ibukota kerajaan pada masa itu ia mengatakan bahwa“Ibu kota bukan saja merupakan pusat politis dan kebudayaan suatu bangsa; ia juga merupakan pusat magis dari kerajaan”.

Pada saat pertama dibangun, tanjung palas memiliki fungsi sebagai wilyah pusat kegiatan politik diseluruh wilyah kerajaan, untuk menyatukan wilayah bulungan yang luas setelah Sultan Alimuddin berhasil melakukan perluasan wilayah, ia menjadikan tanjung palas sebagai pusat pemerintahan, disinilah Sultan Alimuddin (1777-1817) membangun Kraton pertamanya, berturut-turut kemudian di ikuti oleh Datu Alam dan bergelar Sultan Khalifatul Alam Muhammad Adil (1873-1875) yang membangun kraton yang ke II tidak jauh dari Kraton pertama dan yang terakhir Karaton ke III dibangun oleh Datu Tiras dan bergelar Sultan Djalaluddin (1939-1951) Sedangkan untuk rumah para bangsawan dan rakyat umumnya biasanya terletaka tidak jauh dari kompleks istana raja, saat ini sisa-sisa arkeologis Kraton-Kraton tersebut bisa disaksikan dengan adanya sisa-sisa monumen didepan bekas-bekas Kraton tersebut, dibangunnya Kompleks kraton di Tanjung Palas memberikan pemahaman bahwa tanjung palas pada masa itu menjadi pusat pemerintahan sekaligus aktifitas politik yang terpenting.

Menurut penulis letak Tanjung Palas yang dipilih oleh pendirinya sebagai ibukota bukan tanpa sebab, jika diperhatikan lebih lanjut tanjung palas ternyata diapit oleh perkampungan suku-suku yang tidak begitu jauh dari pusat kota, bisa jadi Sultan Alimuddin sengaja melakukan pemindahan ibukota agar dekat dengan basis-basis suku-suku yang ada di wilyah hulu tanjung palas yang secara tradisional merupakan pendukung sekaligus kekuatan utama dalam angkatan perang yang pernah dimilikinya saat melakukan perluasan wilayah, dengan kata lain dengan keberadaan tanjung palas yang berada tidak jauh dari pemukiman suku-suku yang tunduk pada pengaruhnya, sultan Alimuddin menjadikan tanjung Palas sebagai benteng pertahanan yang alami dalam menghadapi musuh tradisionalnya yaitu Bajak laut. Kedua Tanjung Palas terletak ditepi sungai besar (Sungai Kayan), ini memungkinkan Sultan mengontrol jalannya pemerintahan karena di wilayah ini sungai kayan merupakan jalan keluar masuk yang menghubungkan wilayah hulu dan hilir dalam wilayah kesultanan Bulungan. karena letaknya yang strategis ini, tidak terlalu ke arah muara, maupun terlalu menjorok ke arah hulu sungai, menjadikan tanjung palas strategis untuk dibangun menjadi pelabuhan dagang kesultanan bulungan. Tanjung palas juga dianggap sebagai tempat yang memiliki tuah atau tempat yang sakral bagi orang-orang bulungan disinilah nilai magis dari kota tersebut.

Sebagai pusat politik, Tanjung palas juga memiliki peran terhadap lahirnya kretifitas seni dan budaya beberapa jenis kesenian yang pertama adalah seni tari, yang berfungsi sebagai persembahan terhadap tamu kehormatan yang berkunjung ke istana, begitupula kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan aktivitas kerajaan seperti naik tahtanya sultan dan lain sebagainya, biasanya didalam lingkup istana seni tari tidak sembarangan dapat dipamerkan, mengingat sifatnya yang formal dan sakral. seni tari juga berkembang dilingkungan rakyat kebanyakan, misalnya adalah Jepen Bulungan yang merupakan perpaduan budaya bulungan dan arab, selain itu berapa suku bangsa lain diluar suku Bulungan seperti suku Tidung, Arab, Dayak Banjar Bugis dan Cina lain sebagainya juga membawa seni tari yang menjadi ciri khas dari mereka yang semakin memperkaya khazanah seni dan budaya pada masa itu, selain seni tari adapula seni pertunjukan rakyat yang dikenal dengan nama Mamanda bulungan, selain seni tari dan pertunjukan rakyat juga berkembang seni ukir khas bulungan yang bermotifkan tumbuhan, juga tidak ketinggalan kaligrafi arab. seni ukir bulungan bukan hanya khas tapi juga memiliki cita rasa yang tinggi sebagai bentuk apresiasi masyarakat bulungan atau khususnya suku bulungan terhadap seni, contoh warisan seni ukir bulungan bisa dilihat dari ornamen yang banyak tedapat disudut masjid bersejarah Sultan Kasimuddin, seni ukir pada masa itu banyak digunakan untuk menghiasi istana, mesjid, rumah, nisan kubur maupun monumen penting pada masa itu. seni arsitektur juga berkembang, pada masa kesultanan bulungan, seni arsitektur berkembang pesat contoh kongkritnya adalah istana, mesjid juga tidak ketiggalan pada makam keluarga bangsawan tinggi bulungan pada saat itu. mahakarya yang masih tersisa saat ini hanyalah mesjid kasimuddin dan sebuah rumah yang tidak jauh dari museum kesultanan Bulungan mewakili bentuk arsitektur rumah orang bulungan pada masa silam. Selain keempat cabang seni diatas, juga berkembang seni mengolah masakan (Kuliner), seni mengolah masakan berkembang terutama dilingkungan istana, mengingat sultan sering menjamu para tamu kehormatan dan keluarganya, maka berkembanglah seni mengolah masakan pada masa itu, walaupun demikian seni mengolah masakan dikalangan rakyat juga berkembang cukup pesat.

pada momen-momen tertentu misalnya pada saat dilaksanakannya pesta rakyat atau Birau, seni khas bulungan akan sangat terlihat terutama seni tari seperti Jepen, seni ukir dan seni mengolaha masakan, sedangkan Mamanda Bulungan, beberapa tahun ini mulai ada usaha dari para seniman bulungan untuk diangkat kembali setelah sekian lama tenggelam. Birau sendiri menurut catatan sejarah berkembang pada masa pemerintahan Sultan Kaharuddin II (1875-1879), pada momen-momen inilah dipertunjukan perpaduan kesenian kraton dan kesenian rakyat hingga saat ini. jadi dapat disimpulkan bahwa ditanjung palas pada masa itu dan hingga sampai sekarang juga merupakan pusat kebudayaan bagi masyarakat bulungan, keterkaitan antara seni dan istana pada masa itu sangat kental mewarnai perjalanan kebudayaan diwilayah kesultanan Bulungan. maka tidaklah salah bahwa tanjung palas bukan hanya sebagai pusat politik namun ia juga menjadi pusat kerkembangan perdagangan dan kebudayaan yang menjadi Ikon bagi masyarakat bulungan khususnya suku bulungan itu sendiri.

Sumber Foto: www.kitlv.nl
Load disqus comments

3 comments