Tuesday, October 27, 2020

Menengok Buku Kalimantan Utara di Mata Saya Karya Mas Handoko Widagdo

 

Beberapa minggu yang lalu, tak terasa sudah lewat, saya pernah memesan sebuah buku baru yang masih “hangat” karya penulis senior yang sudah banyak menghasilkan Karya, beliau adalah Mas Handoko Widagdo. Saya kenal beliau dari Komunitas Grup WA yang banyak membahas tentang sejarah Kalimantan Utara, kami memang tak pernah bertatap  muka secara langsung, namun saya pernah membaca karya beliau berupa bedah buku mengenai Sejarah Kesultanan Bulungan karya Pak Sayyid Ali Amin Bilfaqih disalah satu media online.

Berbicara mengenai buku terbaru beliau ini, tentu saja tulisan ini tak dapat dikatakan sebagai “Resensi Buku”, masih jauh dari hal itu, lebih tepatnya hanya tanggapan saya mengenai tulisan beliau yang menurut saya layak untuk dibaca oleh banyak orang pemerhati literasi khususnya di Kaltara tercinta ini. Pun demikian yang saya tanggapi juga tidak banyak, hanya beberapa poin dari buku beliau ini, karena faktor kedekatan emosional saya secara pribadi pada topik yang beliau bahas tersebut.

Sebagai pembuka bagi poin pertama dalam bahasan di buku beliau, Saya suka cara beliau mendiskripsikan Tanjung Selor, kota kecil kelahiran saya dan banyak orang dikomunitas sejarah lokal Kaltara, Beliau menulis,

“Kota Tanjung Selor adalah kota yang memberi fasilitas kepada warganya untuk menikmati hidup. Kota ini sangat berseberangan dengan kota Oran yang digambarkan oleh Albert Camus di Novelnya “Sampar”. Camus sangat membenci kota yang penduduknya hanya sibuk untuk bekerja. Kota yang tidak memberikan kesempatan penduduknya untuk menikmati keindahan hidup. Bahkan untuk bercintapun harus dilakukan secara tergesa-gesa. Camus memang mengidamkan kota yang memberi ruang kepada penduduknya untuk menikmati hidupnya.

Denyut kota Tanjung Selor tidak terlalu buru-buru dengan penduduk didominasi pegawai pemerintah dan pedagang kecil, aktifitas bisnis tidaklah terlalu kentara. Kalaupun ada bisnis, itu hanya perdagangan barang yang memang hanya diperlukan untuk hidup sehari-hari. Hampir tidak ada bisnis barang modal seperti mesin-mesin. Tidak juga bisnis manusfaktur yang memerlukan jam kerja lama dan melelahkan. Tetapi sepertinya warna kota ini akan segera berubah dengan adanya beberapa proyek yang akan mendorong perkembangan ekonomi berskala besar”

Tanjung Selor itu adalah Kota yang selalu membawa rindu bagi mereka yang pernah berinteraksi dengannya, gambaran denyut kota yang santuy khas dengan tradisi kota pelabuhan kecil memang merupakan bagian dari perjalanan sejarah kota ini. Apabila kita boleh menengok kebelakang, Tanjung Selor yang memang dibangun sebagai Bandar dagang diera Kesultanan Bulungan melahirkan tradisi pelayaran antar pulau sekaligus pintu masuk penghubung barang dan orang kewilayah Hulu di abad ke-19 M. Namun yang tidak banyak disadari bagi kita adalah Kota ini memang dibangun diatas landasan masyarakat yang heterogen, inilah yang membuat Tanjung Selor memiliki nuansa yang berbeda dengan Kota kembarannya Tanjung Palas yang merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Bulungan yang menampilkan budaya superior Istana dan adat istiadat Bulungan.

Bandar kota Tanjung Selor dibangun dihadapan Ibu Kota Kerajaan sebagai pusat pundi-pundi kekayaan Kesultanan Bulungan, mengumpulkan para pedagang pada satu tempat dan mengontrol mereka bukanlah pekerjaan yang mudah. Tanjung Selor pernah menjadi “permata” bagi Kesultanan Bulungan sebelum kemudian Tarakan menyainginya. Kita juga seolah lupa bahwa Kota pelabuhan kecil seperti Tanjung Selor pernah menjadi tempat bertolak bagi para pedagang dan pelaut ke Singapura, bahkan dikisahkan pula Jemaah haji dari kota ini bertolak dari pelabuhan Tanjung Selor, cerita lama ini bahkan hampir tak pernah lagi diketahui oleh generasi mudanya.

Kisah mengenai cerita para saudagar dikota tersebut masih bisa dilihat bila kita berkunjung ke Kampung Arab, distrik pertama yang banyak dihuni oleh para keturunan Arab Yaman yang datang ke Nusantara sebagai pedagang, masih ada beberapa bangunan lama yang merupakan bagian bekas gudang-gudang ataupun rumah-rumah besar yang mewakili era kemakmuran pada masanya, Pun juga dengan cerita perjuangan para pedagang Banjar dan Bugis,  Melayu serta penduduk asli Bulungan dan Tidung yang mewarnai sejarah panjang kota tersebut selain sebagai pedangang dan peladang mereka juga memilki peran yang tak kalah pentingnya dengan para pedagang Arab dalam upaya islamisasi dan pendidikan di Tanjung Selor, jangan pula dilupa tradisi kaum Tionghoa sudah lama mendarah daging di Tanjung Selor yang terkenal dengan Toko Kelontong dan Warung Kopinya. Begitupula dengan saudara-saudari Kristiani mereka yang juga ikut mewarnai sejarah perkembangan Kota Tanjung Selor, semua kaum memiliki perannya masing-masing. Kota ini hidup dari landasan saling percaya dan saling menjaga antar satu dan lainnya.

Tanjung Selor yang pada awalnya sebagai kota perdagangan kecil sedikit demi sedikit berubah menjadi kota berkembang ketika pusat pemerintahan dipindahkan dari Tanjung Palas Ke Tanjung Selor, dan terus berkembang dengan berbagai dinamikanya, mulai dari pemukiman kecil yang berpusat di sekitar bentaran sungai Kayan, yang dahulunya cukup banyak jamban disana, pelan namun pasti makin melebar kearah darat dan tertata cukup rapi seperti yang kita kenal hari ini. Walau demikian layak pula kita akui masalah drainase atau banjir memang menjadi momok bagi kota tersebut.

Tanjung Selor pernah pula menjadi saksi bisu yang sendu terhadap kota kembarannya diseberang sungai itu, Tanjung Palas. Pada juli 1964, bekas Pusat pemerintahan Kesultanan Bulungan dihantam badai menakutkan berupa tuduhan yang tidak main-main, tuduhan Suversif terhadap NKRI diwilayah perbatasan, ironisnya tuduhan tersebut tidak pernah terbuktikan hingga hari ini. Tanjung Selor menjadi saksi bisu bagaimana kota indah dengan lebih dari satu istana itu, dibakar api menjadi abu, baranya masih terasa menyala dihati sebagian orang yang menuntut rasa keadilan atas peristiwa itu.

Ada satu hal yang menarik pula mengenai tradisi pemindahan simbol pusat pemerintahan yang dahulu nampaknya merupakan tradisi lama Kesultanan Bulungan ditiru pula dikota ini. Sedikit menoleh kebelakang, para Sultan Bulungan pernah membangun beberapa istana yang menyimbolkan pusat pemerintahan pada masanya, Sultan Alimuddin memulai pembangunan “Rumah Raja” di Tanjung Palas yang pusat pemerintahan kedua di Ibu Kota Kesultanan Bulungan yang sebelumnya berada di Salimbatu, kemudian dikuti oleh  Sultan Datuk Alam Muhammad Adil yang membangun istana baru dan mendiaminya walau tidak lama sebelum beliau wafat, lalu oleh penguasa Bulungan diera seterusnya membangun lagi istana untuk didiami oleh Sultan sekaligus kantor pemerintahan dan tempat penyambutan tamu penting di era Sultan Sulaiman bin Sultan Kasimuddin, ada juga yang mengatakan istana dibangun di era Sultan Djalaluddin. Terakhir, diera Daerah istimewa Bulungan, istana Kesultanan sekali lagi menjadi kantor pusat pemerintahan. Tradisi ini nampaknya dibawa ke Kota Tanjung Selor ketika resmi menjadi Ibukota Kabupaten Tingkat II Bulungan tahun 60-an.

Kantor bupati  Bulungan pertama yang arsitekturnya hampir mirip dengan ‘miniatur’ istana dibangun disekitar Lapangan Ahmad Yani atau di Kantor Bank BRI Cabang Tanjung Selor saat ini, kemudian seiring pemindahan dan perluasan pemukiman dibangun lagi komplek Kantor Bupati baru di Jalan Kolonel Soetadji lengkap dengan alun-alun berupa Lapangan Agatis dan Lapangan terbang perintis serta disatukan wilayahnya dengan kantor DPR yang sebelumnya berlokasi didekat Lapangan Ahmad Yani. Dalam perkembangan selanjutnya dibangun lagi sebuah kantor Bupati yang lebih megah dijalan Jelarai Raya dimana hampir semua instansi penting dibuat satu atap, ini menandakan tradisi lama tersebut memang terjadi dikota Tanjung Selor, selanjutnya seperti kita juga tahu bekas lokasi Kantor Bupati Bulungan yang kedua, hari ini menjadi lokasi kantor pusat pemerintahan bagi Provinsi Kalimantan Utara. Dan lagi-lagi pusat pemerintahan Provisi Kaltara  akan ditarik disebuah wilayah baru disekitar Kilo 2 yang akan dikenal sebagai Kota Mandiri Baru Tanjung Selor kelak.

Selain Pegawai Pemerintahan dan pedagang kecil seperti yang disebutkan oleh Mas Handoko, sebenarnya ada beberapa jenis profesi lain juga tak kalah pentingnya, salah satunya adalah para Kontraktor dan Konsultan, diera jayanya para Kontraktor dan Konsultan adalah salah satu penggerak ekonomi di Kabupaten Bulungan mereka banyak berjasa dalam usaha pembangunan infrastruktur bangunan dan jalan serta drainase di kota Tanjung Selor, dahulu banyak Tender-tender proyek pemerintahan yang digarap oleh Kontraktor dan Konsultan lokal sehingga jumlah mereka banyak sekali, mereka termasuk yang menghidupkan kota Tanjung Selor pada masa jayanya, sayang sekali sekarang “suara” mereka jarang terdengar lagi sejak Kota Tanjung Selor menjadi Ibu kota Provinsi baru Kaltara ini. Perkembangan dunia sektor swasta seperti pembangunan perumahan makin menggeliat di Tanjung Selor, tentu saja sangat menggembirkan, namun tentunya harus pula dapat memperhatikan faktor ekologi, jangan sampai peristiwa berkeliarannya ular Kobra disalah satu perumahan di pulau Jawa kasusnya terjadi pula di Tanjung Selor akibat rusaknya habitat mereka, sebab Panji si Manusia Ular mungkin tidak akan sampai kesini.

Tanjung Selor sendiri termasuk kota yang cukup aman, jarang sekali tindak kriminal terjadi di kota tersebut, walaupun tidak ada jaminan dimasa depan kondisi yang sama bisa terulang, misalnya pemilik kendaraan bermotor kerap memarkir motor atau mobilnya tanpa khawatir ada oknum penjahat yang mencurinya, kondisi sekarang boleh dikata orang sudah mulai berhati-hati. Narkotika juga menjadi masalah yang perlu diperhatikan secara serius.

Kembali kepembahasan mengenai pandangan Mas Handoko tentang Kalimantan Utara, terkhusus lagi mengenai Tanjung Selor, poin kedua yang menarik bagi saya adalah ketika beliau membahas mengenai “Budaya Warung Kopi” di Tanjung Selor, saya pernah menulis tentang hal tersebut, lebih istimewa lagi warung kopi yang punya Brand “Warung Kopi Ria”, yang sekarang dipegang oleh generasi ke-3 keluarga Hakka Tionghoa, saya memanggailnya Om Aliong. Tentang Tulisan mengenai Budaya Warung Kopi di Tanjung Selor tersebut pada 28 Desember 2011, menjadi salah satu tulisan terawal yang membahas mengenai fenomena tersebut.

Dari Mas Handoko saya mulai memahami istilah Publik Sphere Habermas, sebuah teori yang digagas oleh Jurgen Habermas tahun 1962, yang berintikan pandangan bahwa Publik Sphere merupakan ruang terjadinya berbagai diskusi dan debat publik mengenai suatu permasalahan publik, dimana setiap individu sebagai bagian dari publik mempunyai porsi yang sama dalam menyampaikan pendapat dan akan dijamin kebebasannya dari pihak lain sehingga tidak akan muncul opini namun akan memunculkan kebijakan publik yang adil.

[Sila baca Kiki FN : https://medium.com/@fitriakiki011/teori-public-sphere-habermas-dalam-komunikasi-internasional-4433d3e1199c]

Dalam tulisan saya mengenai hal tersebut pada artikel mengenai “Warung Kopi Ria” ada istilah Kopi merupakan “Social Drink”, jadi warung kopi bisa jadi adalah tempat bertemunya gagasan-gagasan yang dapat dibicarakan bersama tanpa ada yang merasa terlalu tersinggung karenanya.

Sama seperti yang disampaikan Mas Handoko, latar belakang para peminum kopi memang dari berbagai kalangan ras dan agama, tempat yang terbuka bagi berbagai pemikiran yang layak dibincangkan sekaligus tempat rehat yang tak menguras kantong terlalu dalam. Bicara soal warung kopi Ria pas sekali membicarakannya ketika Pilkada, hajatan demokrasi yang bakal dilaksanakan pada Desember 2020 almanak Masehi ini. Mas Han bercerita tentang para Politisi yang sering berkunjung dan berdebat tentang calon unggulan kepala daerah yang mereka usung.

Menariknya ada celoteh beliau mengenai hal tersebut,

 “…Atau, kedai Aliong sudah menjadi sebuah tempat yang harus dikunjungi sebagai syarat untuk menjadi seorang pemimpin.

… Dalam hal ini tentu kedai Aliong jauh lebih rasional daripada tempat-tempat wingit di Jawa. Sebab jika di Jawa para calon pemimpin berkomunikasi dan meminta restu dari alam lain, di kedai Aliong mereka minta restu kepada orang-orang beneran. Mereka meminta restu kepada warga yang memilihnya. [hal. 64]

Tentang hal itu saya tak banyak bicara, biarlah sejarah yang menjawabnya. Tapi yang jelas Kedai Om Aliong memang menjadi langganan tempat berkumpul untuk tim sukses pemenangan calon kepala daerah baik Bupati, Wali Kota atau mungkin Gubernur.

Dan pada poin terakhir, yang ingin saya kupas tentunya adalah soal Museum. Mas Handoko bercerita tentang kesannya sebagai orang luar kaltara terhadap Museum Kesultanan Bulungan, bagi saya itu kesan yang jujur. Beliau menyatakan kecewa mengenai kondisi Museum Kesultanan Bulungan, cukup lumayan ada tiga halaman yaitu halaman 50-52. Beberapa hal yang cukup disorot adalah penataan barang-barang peninggalan kesultanan Bulungan yang menurutnya kesannya kurang sesuai, begitula ada kritik mengenai bercampurnya barang-barang soupenir seperti batu akik yang dijual yang berdempetan dengan barang-barang peninggalan sejarah, serta yang paling pamungkas adalah deretan botol-botol shampoo hotel yang diletakan pada sebuah lemari.

Sebagai warga lokal, saya paham sebenarnya apa yang dirasakan oleh para pengunjung tersebut, Museum Kesultanan Bulungan, adalah sebuah replika dari bentuk Istana Bulungan, namun cukup minimalis sehingga agak menyusahkan dalam segi mengatur barang-barang tersebut, selain itu tidak adanya sirkulasi terhadap barang-barang peninggalan sejarah tersebut menjadikan ruangan museum terlalu “ramai”. Museum ini sendiri tidak dibawah Pemerintah Kabupaten Bulungan secara langsung melainkan nampaknya dikelola oleh pihak Yayasan Kesultanan, tentu saja ada kurang lebihnya. Saya berharap kedepan selain perluasan, pihak Museum juga dapat mengelompokan barang-barang peninggalan tersebut lebih teratur dan tidak mencampurkannya dengan barang sofenir. Selain koleksi bisa ditambah dengan foto atau gambar baru tentang Istana Kesultanan Bulungan sehingga pengunjung dapat benar-benar mengetahui bentuk dari istana Kesultanan Bulungan walaupun dalam bentuk hanya 2 dimensi. Terakhir tentu saya berharap ada bantuan lebih dari pihak pemerintah untuk memperhatikan Museum Kesultanan Bulungan dan meningkatkan kesejahteraan dan pelatihan bagi para penjaga Museum Kesultanan Bulungan. Museum Kesultanan Bulungan adalah asset penting yang harus dirawat, agar anak cucu senantiasa dapat mengetahui sejarah dan budaya Bulungan. [By. Muhammad Zarkasyi]

Sunday, October 11, 2020

Apakah ada tulisan mengenai sejarah dan Budaya Bulungan yang ditulis menggunakan bahasa asli Suku Bulungan?

Tidak Banyak, tapi setidaknya pernah sebuah buku yang ditulis oleh Alm. Said Karim, kurang lebih bercerita mengenai Hikayat Suku Bulungan terutama mengenai legenda Bambu dan Telur yang menjadi asal muasal Suku Bulungan. Usaha untuk menerjemahkan naskah hikayat Bulungan kedalam bahasa aslinya tentu bukan pekerjaan yang mudah, namun beliau dengan tekun dapat melaksanakannya, sehingga tulisan tersebut masih dapat dibaca hingga hari ini.
















[By. Muhammad Zarkasyi].

Friday, September 4, 2020

Adakah yang ingin kamu ceritakan mengenai KTP era Daerah Tingkat II Bulungan?


Ini adalah KTP milik Almarhum Kai saya, tentu saja KTP jenis ini sudah tidak berlaku lagi zaman ini, selain punya batas waktu berlaku, juga tidak dibuat dengan teknologi canggih seperti saat ini.

Yang ingin saya ceritakan adalah model KTP yang pernah digunakan pada eranya, yang menjadi bagian dari sejarah kecil Kabupaten Bulungan ketika masih menjadi daerah Tingkat II Bulungan. Apabila cukup jeli, kita akan menemukan fakta bahwa lambang Kabupaten Bulungan ternyata telah mengalami perubahan, pada KTP tersebut jelas sekali tidak sama dengan lambang Kabupaten Bulungan hari ini, hal banyak tidak kita sadari, perhatikan jumlah garis yang melambangkan sungai, tenyata ada 4 buah, kemudian perisainya, tidak simetris seperti lambang yang digunakan hari ini, begitupula burung Enggang beserta isi dalamnya, hanya lambang padi dan kapas serta bintang saja yang sama, dan dalam lambang Bulungan yang lama ini tidak ada kata "Tenguyun" disana.

lalu ada lambang Daerah Tingkat II Bulungan, istilah Dati II Bulungan merujuk pada sebuah periode sejarah setelah mangkatnya Alm. Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin pada tahun 1959, dimana status Bulungan tidak lagi menjadi Daerah Istimewa Bulungan tapi berubah menjadi Kabupaten Tingkat 2 Bulungan, periode penyebutan Dati II Bulungan terjadi pada tahun 1959 hingga tahun 2000, selanjutnya disebut Kabupaten Bulungan saja. Dan lagi-lagi yang menarik bagi saya adalah copy tanda tangan dari Bupati Kolonel R. Soetadji, nama beliau masih menggunakan ejaan lama, nama ini cukup populer karena digunakan sebagai nama penanda jalan. tidak banyak memang Bupati-bupati Bulungan terdahulu yang namanya diabadikan, Pak Soetadji  adalah salah satunya. By. Muh. Zarkasyi

Tuesday, September 1, 2020

Seperti apa model Kartu Tanda Penduduk zaman dulu?






Sumber Istimewa, Kartu Tanda Penduduk masih berbentuk buku saku dengan lambang Kabupaten Bulungan pada cover depannya. 

Sunday, August 23, 2020

Apakah Gelar “Jalaluddin” pertama kali muncul dalam sejarah Kesultanan Bulungan dimulai pada tahun 1931?

Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin berserta para Menterinya

Nama Djalaluddin sendiri sebenarnya sangat popular, namun yang tidak banyak disadari adalah gelar Jalaluddin atau dalam tulisan umum yaitu ‘Djalaluddin” dalam sejarah Kesultanan Bulungan, sebenarnya tidak hanya digunakan oleh satu orang saja.

Nama Jalaluddin sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya Kemuliaan Agama, dalam lintasan sejarah dunia sendiri beberapa Sultan atau tokoh penting pernah menggunakan nama tersebut, diantara Sultan Jalaluddin Muhammad Akbar dari Kesultanan Mughal atau Jalaluddin Rumi, seorang Sufi dari Persia.

Ada dua orang Sultan yang menggunakan gelar tersebut, Jadi dapat dikatakan gelar “Djalaluddin” dalam sejarah Kesultanan Bulungan itu tidak dimulai pada tahun 1931.

Sultan pertama yang menggunakan nama tersebut adalah Si Kidding, nama yang khas Bulungan. Beliau adalah putra dari Sultan Bulungan yang ketiga, Sultan Kaharuddin I. Tidak banyak catatan sejarah yang dapat diperoleh pada masa masa beliau ini, namun yang pasti pada awalnya memerintah dan menggunakan Gelar Sultan Djalaluddin I pada tahun 1861, Kesultanan Bulungan tengah melakukan konsolidasi kekuatan dan upaya pembangunan pusat pemerintahan di Tanjung Palas serta melakukan usaha pembangunan bandar dagang diseberang pusat pemerintahan saat itu.

Kawasan perdagangan di Tanjung Selor yang mulai dibuka pada masa Ayahanda beliau Sultan Kaharuddin I, upaya pembangunan ini berjalan cukup sukses, ini dibuktikan dengan banyaknya berdatangan para pedagang yang membangun pemukiman baru di Tanjung Selor. Salah satu tantangan besar yang juga terjadi pada era Sultan Djalaluddin ke-I ini adalah menjalankan kontrak perjanjian antara Kesultanan Bulungan dan pemerintah Kolonial Belanda yang ditandatangani sejak tahun 1805.

Walaupun naik tahta dan memerintah Kesultanan Bulungan, namun pada prakteknya pemerintahan era Si Kidding tidak lepas dari pengaruh ayahnya Sultan Kaharuddin I, pada masa beliau memerintah Bulungan terlibat persaingan sengit dengan Kesultanan Gunung Tabur khususnya mengenai tapal batas dan ambisi ekspansi diantara kedua Kesultanan yang sudah dimulai pada masa Sultan Kaharuddin I tersebut. Tahtanya menjadi rebutan antara kerabatnya, itu dibuktikan pada tahun 1866, Sultan Kaharuddin I kembali mengambil tahta karena Si Kidding sering sakit-sakitan dan alayarham meninggal diusia muda pada tahun tersebut. Makam baginda sendiri belum ditemukan hingga sekarang.

Sultan Kedua yang menggunakan gelar Djalaluddin tentunya adalah Datuk Tiras, hanya saja beliau menambahkan nama Maulana Muhammad di depan nama Djalaluddin tersebut, oleh orang banyak lebih dikenal sebagai Sultan Djalaluddin saja yang mulai berkuasa pada tahun 1931. 

Berbeda dengan Sultan Kasimuddin, saudara baginda yang memang disiapkan oleh ayahanda beliau, Sultan Azimuddin sebagai Raja Muda, Datuk Tiras tidak melalui periode tersebut. Datuk Tiras dalam sebuah kisah diceritakan sebelum menjabat sebagai Sultan, beliau adalah mandor kebun karet Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas. Ketika mulai menjabat sebagai Sultan, Maulana Muhammad Djalaluddin menjalankan sejumlah terobosan di istana, misalnya beliau mulai membagi jabatan mentri kesultanan menjadi tiga, yaitu Datuk Bendara Paduka Radja sebagai Menteri Pertama, Datuk Perdana sebagai Menteri Kedua dan Datuk Laksamana Setia Diraja sebagai Menteri ke Tiga, jabatan tersebut bahkan di era Sultan Kasimuddin dan Sultan Ahmad Sulaiman belum pernah ada.

Dimasa Sultan Maulana Djalaluddin penataan ibu kota Kesultanan Bulungan menjadi perhatian penting, khususnya pada tata perumahan rakyat, beliau juga mulai menerangi ibu kota dengan memboyong mesin pembangkit listrik sehingga jalan-jalan dan perumahan rakyat di ibukota mulai terang benderang, terlebih lagi ketika malam. Ketika Jepang menduduki Kesultanan Bulungan, Sultan Djalaluddin meninggalkan istana pergi bersama rakyatnya untuk membuka sejumlah area persawahan untuk memenuhi kebutuhan beras yang cukup langka kala itu. 

Diera Sultan Djalaluddin ke-II ini, sejumlah peraturan diberlakukan, misalnya larangan mengendarai sepeda ketika melintasi komplek istana, penggunaan songkok sebagai identitas muslim juga digalakan dimasa beliau, institusi keagamaan yang sudah diperkuat sejak era Sultan Kasimuddin semakin dibenahi seperti pengangkatan sejumlah Qadi, Imam Mesjid dan Muazin atau Bilal yang berada langsung dibawah Sultan dan Mesjid Kasimuddin sendiri menjadi pusat keagamaan penting di era tersebut. Madrasah Al-Khairaat juga berdiri pada masa beliau ini, satu di sekitar komplek Mesjid Kasimuddin dan satu lagi di kampung Arab Tanjung Selor. Pada persoalan hukum adat, misalnya ada hukum "buang" bagi masyarakat yang kedapatan melakukan zina.

Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin sendiri termasuk penggagas dan pendukung gerakan kemerdekaan Indonesia, ini terbukti pada 17 Agustus 1949, bendera Merah Putih dikibarkan di istana Kesultanan Bulungan, menariknya, Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin sendiri adalah penerima bintang kehormatan dari pemerintah kolonial Belanda dengan pangkat Letnan Kolonel. Setelah Kesultanan Bulungan bergabung menjadi bagian NKRI, posisi beliau menjadi Kepala Daerah Istimewa Bulungan hingga akhir hayatnya. 

Makam Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin dapat ditemui dikomplek makam yang berada di area Mesjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas. Sampai hari ini belum ada lagi Sultan Bulungan yang dilantik pasca Maulana Sultan Djalaluddin mangkat. By. Muh. Zarkasyi.

Friday, July 31, 2020

Bagaimana pandanganmu tentang sejarah Kesultanan Bulungan yang tertulis dalam buku Babon Kerajaan-Kerajaan Nusantara?

Buku Babon Sejarah Kerajaan Nusantara, Kesultanan Bulungan dibahas pada halaman 282 hingga 286

Saya sudah pernah membaca buku itu, ada bab mengenai sejarah Kesultanan Bulungan yang ditulis oleh Faisal Ardi Gustama, diterbitkan oleh Briliant Books pada tahun 2017, boleh dikata termasuk belum lama dirilis. Buku tersebut dapat pembaca sekalian temui di Perpustakaan Daerah Kabupaten Bulungan, dilantai dua gedung tersebut pada bagian sejarah.

Tentunya sebagai pembaca, kita layak untuk mengapresiasi karya tersebut mengingat beberapa sejarah kerajaan atau kesultanan dalam buku tersebut ada beberapa yang tidak dikenal dalam buku-buku sejarah yang dipelajari di sekolah, termasuk mengenai Kesultanan Bulungan.

Dalam konteks sejarah Kesultanan Bulungan, ada beberapa hal yang bagi saya layak diapresiasi, setidaknya beberapa poin yang sudah ditulis oleh Saudara Faisal Ardi Gustama tersebut, diantaranya:

[Poin 01] dalam tulisan mengenai sejarah Kesultanan Bulungan tersebut, disebutkan bahwa “Kerajaan Bulungan adalah kerajaan yang pernah menguasai sebagian besar wilayah Kalimantan Utara, meliputi wilayah yang kini termasuk dalam area administratif Kabupaten Bulungan, Kabupaten Tanah Tidung, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kota Tarakan, hingga Sabah (Malaysia bagian timur, perbatasan dengan Indonesia)”. Tulisan tersebut mengapa saya anggap penting karena diluar sana, atau diluar Kalimantan utara dan Timur khususnya hal tersebut tidak banyak diketahui oleh banyak orang, sedikit menambahkan dalam tulisan tersebut, bahwa wilayah administrasi baik Kabupaten atau Kota yang disebutkan pada tulisan tersebut, pasca Kesultanan Bulungan menjadi bagian NKRI setelah tahun 1949, sempat menjadi Daerah Istimewa Bulungan kemudian berubah status sekitar tahun 1959 menjadi Dati II Bulungan, dikemudian hari dikenal sebagai Kabupaten Bulungan adalah wilayah Induk dari lima Kabupaten kota yang menjadi bagian dari Provinsi Kalimantan Utara saat ini.

[Poin 02] penulis pada akhir tulisan tentang Kesultanan Bulungan, memaparkan singkat namun padat mengenai peristiwa Tragedi Juli 1964. Walaupun sudah banyak yang mengulas tersebut baik dimedia sosial maupun cetak bahkan beberapa ulasan video di Youtube, tulisan tersebut berarti setidaknya bagi kami pengamat sejarah lokal Kesultanan Bulungan secara khususnya, tulisan tersebut cukup jelas menyebutkan mengenai adanya perintah oleh oknum yang saat itu menjabat sebagai Pangdam IX Mulawarman, untuk melakukan tindakan tak terpuji diwilayah Dati II Bulungan pada masa itu. Penulis juga memaparkan jumlah korban yang jatuh serta tindakan-tindakan brutal berupa penangkapan dan penjarahan yang terjadi pada Kesultanan Bulungan diSenjakalanya pada tahun 1964 tersebut, semoga tulisan dan paparan itu menambah pengetahuan dan perbendaharaan mengenai sejarah Republik Indonesia yang tidak banyak didapatkan dibangku sekolah, bahwa ada kenyataan pahit di saat kampanye Dwikora dikobarkan, ada sebuah peristiwa yang coba ditutup-tutupi cukup lama yaitu peristiwa Bultiken atau Tragedi Bulungan di tahun 1964.

Tentunya selain bentuk apresiasi, tidak ada salahnya saya memberikan semacam kritik atau koreksi semampu saya mengenai tulisan tersebut. Ada beberapa poin yang saya garis bawahi,

[Pertama], dalam tulisanya disebutkan bahwa, “Tidak diketahui pasti apakah Datuk Mancang sudah memeluk agama Islam atau belum. Namun yang jelas, beberapa penguasa Kerajaan Bulungan setelah Datuk Mancang memakai nama yang cendrung bernuansa Hindu (dengan istilah Sanskerta). Baru pada pertengahan abad ke-18, pemimpin Bulungan memakai gelar Sultan yang menandakan bahwa Bulungan telah berubah menjadi kerajaan bercorak Islam (Hal. 282)

Datuk Mancang datang ke wilayah,- yang kemudian hari dikenal sebagai Kesultanan Bulungan pada abad ke-18,- berasal dari Brunei Darussalam.  Dalam catatan sejarah Bulungan sendiri Datuk Mancang digambarkan bukanlah seorang tokoh biasa, melainkan bangsawan yang pindah dari Brunei dan mencari lokasi mukim baru, ia juga tidak datang sendirian, melainkan membawa sekitar 100 orang prajurid dan dua orang pengawal penting, yakni seorang panglima dan penasihat agama atau ulama. Bila kita mencoba membandingkan masa kedatangan Datuk Mancang yang disepakati mulai memimpin pada tahun 1555 hingga 1594, maka kita akan menemukan fakta menarik bahwa diera tersebut pada tahun 1555, bersamaan dengan berkuasanya Sultan Brunei ke-7 yakni Sultan Saiful Rijal (naik tahta tahun 1533 dan wafat tahun 1581), bila dihitung pada tahun datangnya Datuk Mancang untuk bermukim, maka bertepatan dengan 22 tahun setelah baginda naik tahta, jadi dapat disimpulkan bahwa Datuk Mancang adalah seorang Muslim. Memang benar bahwa beliau menggunakan gelar Kesatria Wira dan kemudian gelar Wira itu diikuti oleh para penerusnya, namun tidak berarti mereka bukan Islam. Wira atau kurang lebih Pahlawan adalah gelar yang umumnya digunakan pula oleh Kesultanan-Kesultanan Melayu untuk seseorang yang berkecimpung di bidang militer baik itu panglima maupun Laksamananya. Contoh Hang Tuah dianggap Wira dalam Kesultanan Melaka, apakah gelar itu otomatis membuat Ia dikatakan bukan muslim? Hal yang sama berlaku pada kasus Datuk Mancang ini.

[Kedua], dalam tulisan tersebut disebutkan pula bahwa, “Bulungan berubah menjadi kerajaan bercorak islam pada masa pemerintahan Wira Amir. Keturunan dari Singa Laut ini sebenarnya menjadi pemimpin Bulungan sejak tahun 1731, namun ia baru memeluk agama Islam pada tahun 1777 dan berganti nama menjadi Aji Muhammad. Sejak saat itu lahirlah Kesultanan Bulungan dan Wira Amir atau Aji Muhammad menyandang gelar sebagai Sultan Amiril Mukminin bertahta sampai tahun 1817 atau ketika umurnya sudah mencapai 86 tahun (Hal. 283)

Saya kira ada beberapa hal yang layak dikoreksi dalam catatan yang telah diketengahkan oleh penulis Faisal A.G. tersebut

Kesultanan Bulungan memang diproklamirkan atau didirikan oleh Wira Amir yang kemudian dikenal sebagai Amiril Mukminin. Wira Amir adalah nama sebenarnya dari tokoh bersejarah tersebut, ada versi lain yang menyebutnya dengan nama Miril dan beliau sudah muslim sebelum Kesultanan Bulungan berdiri, sebab masyarakat Muslim sudah ada sebelumnya. Nama “Amir” sudah menegaskan hal tersebut. Jadi masyarakat muslim sudah terbentuk di Bulungan pada periode yang disebut Periode Wira itu, yang berlangsung antara tahun 1555 hingga 1731 sudah ada pemeluk Islam diwilayah Bulungan.

Gelar Amiril Mukminin sendiri diberikan oleh Sayyid Abdurrahman Bilfaqih, ulama yang kemudian hari datang ke Bulungan untuk berdakwah pada masyarakat yang dipimpin oleh Wira Amir sekaligus meneguhkan posisinya sebagai Sultan Bulungan yang pertama, dikarenakan pemerintahan pada masa itu hanya berupa pemerintahan kepala kampung saja. Perlu dingatpula tak jauh dari wilayah Bulungan sudah ada ada Kerajaan Kuno Berau berdiri disekitar Sungai Segah, sehingga dapat dipahami pemimpin sebelum Wira Amir belum cukup kuat untuk bersaing secara militer dan politik dengan kerajaan Kuno itu. Kerajaan Tua inipun di awal abad ke-18 mengalami perpecahan menjadi dua Kesultanan Baru yang bernama Gunung Tabur dan Sambaliung.

Ada sedikit kekeliruan pula pada tulisan tersebut, Wira Amir dan Aji Muhammad digambarkan sebagai orang yang sama. Nama Aji Muhammad dalam sejarah Kesultanan Bulungan tidak merujuk pada Wira Amir melainkan pada nama penerusnya yakni Sultan Muhammad Kaharuddin yang naik tahta pertama kali pada tahun 1817 sebagai Sultan Bulungan yang ke-3 beliau dikenal pula dengan nama Simad, sebelumnya pada tahun 1777 putra Sultan Amiril Mukminin, yakni Aji Ali atau yang yang lebih dikenal dengan nama Sultan Alimuddin bertahta menjadi Sultan Bulungan yang ke-2. Jadi memang ada sedikit kesalahpahaman mengenai tokoh Wira Amir yang ditulis oleh beliau tersebut. Sebelum Aji Muhammad naik tahta, ayahandanya Aji Ali atau Sultan Alimuddinlah yang meneruskan kepemimpinan pasca Sultan Amiril Mukminin.

[Ketiga], ini ulasan agak panjang, “Kesultanan Bulungan tidak terlalu kuat sehingga akhirnya ditaklukan oleh Kesultanan Berau yang berpusat di Kalimantan Timur. Setelah itu wilayahnya Bulungan diambil alih oleh Kesultanan Sulu di Filipina. Situasi ini berlangsung sampai kedatangan Belanda Ke Kalimantan bagian utara.

Kehadiran Belanda di Kalimantan yang berlanjut dengan penaklukan kerajaan-kerajaan lokal yang ada dipulau tersebut ternyata sampai juga ke wilayah Bulungan. Pada tahun 1850 Belanda menjalin perjanjian dengan Kesultanan Bulungan yang saat itu sebenarnya menjadi wilayah penaklukan Kesultanan Sulu.

Perjanjian atau kontrak politik antara Belanda dengan Kesultanan Bulungan tersebut ditandatangani oleh Sultan Muhammad Alimuddin Amirul Mukminin Kaharuddin (1817-1861) yang merupakan penerus Sultan Amirul Mukminin. Disisi lain Kesultanan Sulu tidak mampu berbuat apa-apa karena sedang terlibat pertikaian dengan orang-orang Spanyol yang datang ke Filipina.

Belanda ternyata berhasil menancapkan pengaruhnya di Bulungan pada tahun 1853. Situasi ini lama-kelamaan mengusik Spanyol yang merasa bahwa Bulungan masih menjadi milik Kesultanan Sulu, sementara Sulu sudah tunduk kepada Spanyol. Kemudian diadakan kesepakatan antara Belanda dengan Spanyol 1878.

Maka disepakatilah bahwa Spanyol harus melepaskan klaimnya atas Borneo (Kalimantan) termasuk wilayah Kesultanan Bulungan dan penguasaanya atas wilayah Filipina serta kepulauan Sulu tidak akan diusik oleh Belanda. Dengan demikian Kesultanan Bulungan kini diduduki oleh Belanda dan dimasukan kewilayah pemerintah Kolonial Belanda yang berlangsung hingga kedatangan Jepang pada tahun 1942.

Ada beberapa poin menarik bagi saya yang dapat kita ulas dalam tulisan Faisal A.G mengenai Bulungan pada tulisan tersebut

[A] sejarah hubungan Kesultanan Sulu dan wilayah Bulungan sudah terjalin cukup lama, dalam beberapa perkembangan ia menjadi hubungan “Sekutu” sekaligus “Seteru”. Seperti yang saya sebutkan tadi dalam sejarah Bulungan, khususnya Pra Kesultanan atau di era Wira pernah terjadi pernikahan antara putri Datuk Mancang dengan seorang bangsawan Sulu bernama Singa Laut. Keturunan Singa Laut inilah yang kemudian melanjutkan kepemimpinan hingga Kesultanan Bulungan dibentuk pada tahun 1731 oleh Wira Amir atau Amiril Mukminin bertujuan untuk menghindari atau menahan serangan orang-orang Sulu terjadi pada masa-masa itu. Pernikahan politik ini membentuk aliansi kekuatan antara orang-orang Bulungan dan orang-orang Sulu. Namun perkembangannya pula khususnya selepas Kesultanan Bulungan didirikan, banyak aktifitas Sulu yang terjadi dikawasan sekitar Kesultanan Bulungan yang cendrung merugikan, ini tak lain karena sebagian besar pundi-pundi keuangan Kesultanan Sulu didapati dari penjualan Budak. Orang-orang Sulu berburu dan berjualan budak hingga kawasan pantai utara dan timur Kalimantan khususnya diera perniagaan abad 18 hingga 19 Masehi. 

Pecahnya konflik Bulungan-Sulu menyebabkan munculnya ekspedisi milter yang dilakukan oleh Kesultanan Bulungan untuk mendesak orang-orang Sulu dan kerabat dekat mereka orang Iranun untuk menjauhi wilayah Kesultanan Bulungan, diantaranya ekspedisi yang pernah dilakukan dimasa Sultan Alimuddin yang komando pelaksananya diambil langsung oleh putra beliau Laksamana Ni’I menyerang posisi orang Sulu atau Solok dalam bahasa Bulungan, yang berpangkalan di Tawau, kota itu akhirnya jatuh ketangan Bulungan. Lebih tua lagi cerita konflik Bulungan-Sulu terjadi diera Sultan Amiril Mukminin, dikisahkan bahwa perahu-perahu Solok yang kemungkinan besarnya adalah ekpedisi perburuan budak, dihancurkan oleh Bulungan ketika mereka mencoba memasuki Salimbatu, akibat peristiwa itupula yang menjadi satu dari sekian alasan Sultan Alimuddin memindahkan ibu kota dari Salimbatu ke wilayah dalam (Tanjung Palas) untuk faktor pertahanan dan keamanan.

Dalam catatan sejarah Bulungan tidak pernah pula ditemui bahwa Bulungan ditaklukan oleh Sulu, dari Ibu Kota Pemerintahan masih di Salimbatu hingga dipindahkan ke Tanjung Palas, dan dilaksanakannya perjanjian awal dengan Belanda di tahun 1850, Pasukan Kesultanan Sulu sama sekali tidak pernah menaklukan Ibu Kota Kesultanan Bulungan. Hal inipun berlaku pula pada salah satu Kesultanan pecahan kerajaan Berau Kuno yang mencoba menaklukan Bulungan, namun niat itu tidak pernah kesampaian.

[B] Kesultanan Sulu bukanlah kekuatan tunggal di wilayah selatan Filipina dimasa itu, ada kerajaan lain semisal Kesultanan Maguindanou dan konfederasi Kesultanan di Lanou yang terdiri dari 4 kerajaan merdeka yakni Unayan, Masiu, Bayabou dan Baloi, serta kekuatan orang Iranun dan Balanguingui yang menjadi saingan sekaligus sekutu Sulu. Kesultanan Sulu berkedudukan di Pulau Jolo, sampai kedatangan Amerika, tidak pernah benar-benar dapat ditaklukan oleh Spanyol. Buktinya budaya dan bahasa Sulu tidak pernah “terspanyolkan” seperti tetangga mereka di utara. Bahkan ketika Jolo dihancurkan oleh Spanyol ditahun 1876, Orang-orang Sulu memindahkan pusat ibu kota ke Maimbung dan memulai bisnis baru yaitu perniagaan permata.

Kesultanan Sulu memang pernah mencapai kejayaan mereka khususnya ketika Brunei menyerahkan sebagian wilayah Sabah kepada Kesultanan Sulu, setelah itu wilayah itu diambil alih oleh Inggris dan dikemudian hari terjadi perbicaraan tapal batas antara Belanda Inggris, yang membagi wilayah perbatasan antara Sabah dan wilayah Kesultanan Bulungan yang baru selesai pada masa Sultan Azimuddin. Mengenai perjanjian Spanyol-Belanda atas Bulungan adalah hal baru bagi saya mengetahuinya, sayangnya penulis Faisal A.G tidak mencantumkan seperti apa perjanjian antara Belanda-Spanyol tersebut yang terjadi pada tahun 1879 tersebut.

[C] Perjanjian Bulungan-Belanda yang jadi ditahun 1850, berlaku ketika Bulungan dibawah pemerintahan Aji Muhammad atau Sultan Kaharuddin Pertama, sedang penulis Faisal A.G mengatakan bahwa perjanjian tersebut dilakukan oleh Sultan Muhammad Alimuddin Amirul Mukminin Kaharuddin, mungkin penulis merujuk kepada Sultan Kaharuddin Pertama, namun dalam literature Kesultanan Bulungan nama Sultan Muhammad Alimuddin Amirul Mukminin Kaharuddin tidak ada, sehingga ada sedikit kerancuan dalam hal tersebut.

[D] dalam daftar nama Sultan Bulungan yang dinukilkan oleh penulis Faisal A.G, ada beberapa kesalahan yang cukup fatal. Misalnya Wira Amir (1731-1777) dan Aji Muhammad digambarkan sebagai orang yang sama, padahal kedua sosok ini berbeda. Selain itu dalam daftar nama tersebut tidak pula dicantukan nama Sultan Ahmad Sulaiman.

Dalam keterbatasan saya, semoga tulisan saya ini bisa menjadi bahan perbaikan serta dapat didiskusikan. Dan apa bila ada hal yang perlu dikoreksi ulang, kritik para pembaca yang budiman sangat diharapkan. By M. Zarkasyi.

Note

#. Sejarah Perbudakan di Dunia Muslim (https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_slavery_in_the_Muslim_world&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search)

#.Kesultanan Sulu (https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/Sultanate_of_Sulu&hl=id&sl=en&tl=id&client=srp&prev=search)