Thursday, November 14, 2019

Seperti apa sejarah Vierkante-paal di Tanjung Selor?


Vierkante Paal ya?, kalau kawan menanyakan itu kepada masyarakat Tanjung Selor, saya yakin tidak banyak  yang tahu, tapi bila kawan menanyakan tentang sejarah Tanah Seribu, saya yakin sebagian dari mereka, khususnya orang-orang tua dulu pasti ada yang tahu.

Yup, Vierkante-paal tak lain adalah sebutan untuk wilayah Tanah Seribu, suatu kawasan yang terletak di Tanjung Selor kota saat ini. Seperti apa gambaran mengenai batas-batas lokasi ditanah seribu, sayangnya saya kurang tahu pasti, namun gambaran mengenainya dituturkan oleh salah satu penduduk setempat bernama Jamal*
“Sebagai salah satu kampung tertua di Tanjung Selor sebutlah Tanah Seribu yang batasnya dimulai dari bangunan ‘Gedung Semambu’ (sekarang Kantor Perusda). Disebut demikian karena bangunan itu menjadi satu-satunya gudang tempat penyimpanan atau pengumpulan bambu jenis semambu sebelum dikirim ke Tarakan atau ke Jawa. Dari batas inilah kampung Tanah Seribu mulai dan berakhir di ‘ujung aspal’ persis di jalan Nangka sekarang. Sedangan ke timur berbatasan dengan jalan Skip II (Wisma Idaman) jalan Makam Pahlawan (Crown Square) belok ke jalan Haji Maskur selanjutnya berakhir di jalan pasar Ikan lama yang terletak didepan Toko Batu.
Tetua-tetua kampung Tanah Seribu yang dulu dikenal sebagian besar sudah meninggal dunia  antara lain; Mohammad Galeba, Haji Enci’ Muhammad Hassan, Saleh, Haji Muhammad Arif, M. Ukuy dan masih banyak lagi. Sedangkan bangunan paling monumental di kampung tersebut adalah Langgar Al Inayah yang sudah direnovasi lebih dari tiga kali dan juga Gedung Semambu dan Gesung Asap.
Semua bangunan monumental tersebut sudah tidak dijumpai lagi keasliannya, kecuali Langgar Al Inayah yang sudah beberapa kali direnovasi dan Gudang Semambu yang sudah direnovasi menjadi Asrama Pelajar dan terakhir kini menjadi Kantor Perusahaan Daerah Berdikari dan satu lagi tempat bersejarah, dulu di Tanah Seribu, terdapat Taman Makam Pahlawan yang oleh pemerintah dipidah ke samping Bandara Tanjung Harapan menjadi Taman Makam Pahlawan Telabang Bangsa sampai sekarang. Sedangkan bekas Taman Makam Pahlawan yang dulu, sekarang telah menjadi pusat perdagangan kaki lima (sekarang bangunan Lapakan, berderet dengan penginapan Bulungan Indah)”
Lalu bagaimana sejarahnya wilayah ini sempat menjadi milik Belanda? Pada tahun 1897 di era Sultan Azimuddin, Belanda meminta wilayah 1000 meter persegi di Tanjung Selor, tercantum dalam lembaran Negara No.83 tahun 1897. Sama seperti diwilayah lainnya, Vierkante-paal umumnya juga menjadi wilayah kota berkembang dikemudian hari seperti diwilayah Samarinda dan Banjarmasin.
Keterangan mengenai luas wilayah “tanah seribu’, lebih rinci dijelaskan dalam tulisan H. Dachlansyahrani,
“Didalam Staatsblad No. 83 yang berisikan Besluit Gouvernor General No. 32 Tanggal 1 Maret 1879, yang menyatakan wilayah Vierkante-paal di Tanjung Selor dengan luas 291, - Ha (disebelah Utara dan Selatan masing-masing sepanjang 1.489,6 m, disebelah Timur sepanjang 1.690 m dan disebelah Barat sepanjang 2.200 m”.
Taktik Belanda meminta wilayah seluas 1000 meter persegi dulunya juga digunakan oleh Serikat Dagang Hindia Belanda, ketika mereka berhasil mempengaruhi penguasa setempat, bedanya dahulu digunakan untuk perbentengan, diera pemerintah Belanda menjadi semacam kawasan perkantoran dan pemukiman.
Kawasan tanah seribu kemudian dikembalikan lagi kepada Kesultanan Bulungan oleh pemerintah Kolonial Belanda pada 1 Januari 1946, sekitar 41 bulan sebelum peristiwa 19 Agustus 1949, status Vierkante-paal kembali menjadi Landschap Bulongan. Jika dihitung mulai 1 Maret 1897 hingga 1 Januari 1942, wilayah Tanah Seribu diduduki oleh Belanda kurang lebih 45 tahun lamanya. Demikian informasi ini saya sampaikan, semoga bermanfaat.
Note
* Sumber, Blog Zarkasyi Van Bulungan: “Nostalgia Tanjung Selor Tempo Doeloe”, Gempar (Gema Parlemen) Edisi Perdana April 2008, Buletin DPRD Kabupaten Bulungan, Nostalgia, Hal. 32 – 33.
** M. Said Karim, “Mutiara Abadi Restruksi Perjuangan Kmerdekaan Bulungan” 2011. Pemerintah Kabupaten Bulungan. Hal. 28
*** H. Dachlansjahrani, “Beberapa Usaha menemukan Hari jadi kota Tanjung Selor”, 1991. Hal. 18 dan 25

Saturday, October 19, 2019

Apakah di Tanjung Selor masih ada situs peninggalan era Bupati Bulungan yang pertama?

Dalam salah satu episode sejarah Bulungan, era dimasa kesultanan Bulungan mulai beralih secara penuh dibawah kontrol Pemerintaha Republik Indonesia ketika Status daerah istimewa Kesultanan Bulungan diubah menjadi daerah tingkat II Kabupaten Bulungan, ditandai dengan peristiwa pemindahan pusat pemerintahan dari Tanjung palas ke wilayah seberang yakni Tanjung Selor oleh pak Andi Tjatjo yang dikenal dikemudian hari sebagai Bupati Bulungan yang pertama.

Cerita menarik mengenai peristiwa tersebut di gambarkan oleh M. Said Karim,

“Perkembangan selanjutnya sesuai dengan Undang-undang No.27, tahun 1959, Daerah Istimewa Bulungan menjadi pemerintahan Kabupaten. Bupatinya yang pertama terpilih dari Andi Tjatjo gelar Datuk Wihardja. Beliau dilantik pada 12 Oktober 1960 di Tanjung Selor oleh Gubernur Kalimantan Timur Aji Pangeran Temenggung Pranoto. Perlu saya sisipkan cerita pada waktu itu belum ada hotel tempat tamu menginap. Rombongan Samarinda tidur di kapal. Peristiwa tadi dijadikan tanggal peringatan hari ulang tahun Bulungan dengan istilah Birau Bulungan”.*

Kembali ke pertanyaan awal, apakah kita dimasa sekarang masih bisa melihat Situs-situs peninggalan era Bupati lama di Tanjung Selor? Sayangnya untuk sekian kalinya, periode pemerintahan  kabupaten Bulungan khususnya era 60 an hingga 70an, dapat dikatakan hampir hilang sepenuhnya**. Pada tahun 70an seperti yang diketahui, kantor Bupati pertama Kabupaten Bulungan mengalami peristiwa kebakaran sehingga banyak data dan foto penting yang mewakili era itu hilang dimakan api. Itu belum termasuk tidak terdokumentasi dan tidak terdatanya situs-situs kantor pemerintahan dan Dewan Perwakilan Rakyat serta rumah jabatan bupati yang kita ketahui, sebelum kota Tanjung Selor diperluas dan kantor pemerintahan dipindah di Jl. Kol. Soetadji.

Salah satu peninggalan yang dapat dikatakan cukup utuh mewakili era tersebut adalah bangunan rumah jabatan Bupati Bulungan yang pertama, dikemudian hari berubah fungsi menjadi Penginapan seperti kondisinya saat ini, justru karena hal itulah bangunan tersebut masih dapat berdiri kokoh untuk menandai era sejarah awal pemerintahan Kabupaten Bulungan. Bangunan dikenal sebagai Hotel Assoy yang posisinya berhadapan dengan pelabuhan Tanjung Selor, dulu sekali di pertigaan jalan didekat bangunan tersebut terdapat sebuah monumen patung berbentuk singa yang kemudian dibongkar dan diganti lampu jalan***.

Saya beruntung dapat menggali informasi mengenai bangunan tersebut dari penduduk setempat yang yang menjadi saksi hidup keberadaan rumah jabatan Bupati Bulungan pertama itu. Pak Raden  -umur 77 tahun,- biasa beliau dipanggil dengan nama tersebut, sehari-hari bekerja sebagai  pengemudi perahu tambang Tanjung Palas-Tanjung Selor, beliau mengisahkan;

“Rumah itu dulu milik Pak Andi Caco waktu itu menjabat sebagai Bupati Daerah Tingkat II Bulungan, disebelahnya Rumah saudara beliau Andi Saleh yang waktu itu jadi wedana Tanjung Selor, kantor Bupati ada di di kantor BRI sekarang ini sedangkan kantor Wedana ada di lapangan Volly itu, setelah Andi Caco tidak lagi menjabat, rumah itu dijual kepada pengusaha Cina (Tionghoa) namanya Naming, setelah itu di urus lagi sama saudaranya namanya Muming jadilah hotel Assoy sekarang ini, lalu rumah Andi Saleh juga dijual, sekarang jadi warung kopi”****

Sayangnya narasumber tidak mengetahui bahwa apakah rumah tersebut sudah ada sebelumnya atau dibangun ketika Pak Andi Tjajo awal bertugas sebagai Kepala Daerah Tingkat II Bulungan. Namun apabila menurut informasi mengenai pemindahan pusat pemerintahan dan lokasi rumah itu saat ini, kuat dugaan bahwa rumah tersebut sudah ada jauh sebelum Andi Tjatjo bertugas sebagai kepala daerah tingkat II Bulungan.

Mengapa ada asumsi seperti itu? Yang pertama ketika Dr. Soemarno Satroatmodjo dijemput di pelabuhan Tanjung Selor, ada pejabat wakil pemerintah Belanda yang datang secara langsung menghadiri kedatangan beliau saat itu, yaitu Asisten Residen Brekland dan istri. Seperti yang diketahui Dr. Soemarno dan istri tidak menetap di rumah tersebut melainkan dirumah yang berada tak jauh dari lokasi rumah sakit, tepatnya didepan kantor pos lama Tanjung Selor, artinya Asisten Residen Breekland dan keluargalah yang kemungkinan besar menempati rumah tersebut mengingat lokasinya yang sangat dekat dengan pelabuhan.

Kedua, ketika Pak Andi Tjatjo diangkat sebagai Bupati tingkat II Bulungan, periode perpindahan dari Tanjung Palas ke Tanjung Selor terlalu dekat, sebagaimana kita tahu, ketika Sultan Mualana Muhammad Djallaluddin wafat 1958 dan pemerintah Republik Indonesia menetapkan perubahan status Bulungan yang Sk-nya baru keluar tahun 1959, pusat pemerintahan masih di Tanjung Palas dan berlangsung di Istana tingkat dua tersebut, sehingga apabila memindahkan pusat pemerintahan dan ditugaskan sejak 12 oktober 1960, maka perangkat pendukung pemerintahan sudah harus siap, dalam waktu yang sempit itu tidak mungkin dapat membangun gedung pemerintahan dan rumah dinas pada masa itu yang sudah siap pakai, kecuali perangkat pendukung pemerintahan berupa bangunan dan rumah tersebut sudah berdiri sebelumnya, artinya di zaman Kolonial Belanda, bangunan tersebut sudah ada. Tentang posisi rumah tersebut yang lokasinya bersebelahan dengan Rumah Sakit pertama Tanjung Selor, menguatkan pandangan tersebut. Sebab baik sekolah SMP negeri Tanjung Selor yang pertama (Dahulu bangunan itu digunakan sebagai Sekolah Rendah Kelas II tahun 1908) dan rumah sakit tersebut dibangun di era belanda, begitupula dengan lokasi bangunan yang tak jauh darinya merupakan bangunan-bangunan lama yang masih bersambung dengan wilayah kampung Arab lama. Demikianlah catatan penulis mengenai Situs bangunan bersejarah era Bupati tingkat II Bulungan yang pertama, semoga bermanfaat. []

Note

*Pak Andi Tjatjo menjabat sebagai Bupati Bulungan pada periode 1960-1963, dikemudian hari posisi beliau digantikan oleh Pak Damus Frans yang pada masa Daerah Istimewa Bulungan sempat menjabat sebagai Anggota Dewan rakyat Perwakilan Sementara dari Persatuan Pegawai Pemerintah Cabang Malinau. M. Said Karim. 2011. Hal. 51

**Kisah mengenai hal tersebut, pernah diangkat dan dibahas dalam artikel  berjudul “Saksi bisu dibalik hari jadi Bulungan” Sumber Liputan6.com pada 15 Oktober 2018, pukul 12:31 WIB, hanya saja dalam artikel tersebut membahas mengenai rumah lama yang dahulu sempat dihuni oleh Dr. Soemarno Sastroatmodjo dan Pak Damus Frans.

***Sultan Kasimuddin dalam kunjungannya di Belanda tahun 1923, pernah menghadiahkan monumen Singa kepada Ratu Wihekmina yang terbuat dari logam, didesain oleh Frans Werner dan dibuat oleh pabrikan Art Bronze And Metal Foundry “De Kroon” (Haarlemsche Edelsmederij). Ada kemungkinan yang dibuat di Tanjung Selor tersebut adalah tiruannya.

****Wawancara dengan Pak Raden, 77 th, tanggal 18 Oktober 2019, Sore.

Thursday, October 10, 2019

Menurutmu seperti apa peran Salimbatu, sebagai wilayah yang pernah menjadi ibu kota Kesultanan Bulungan?



Saya sejujurnya penasaran mengenai hal tersebut, seperti yang kita tahu dalam sejarah banyak sekali kerajaan dan Kesultanan yang pernah memindahkan ibu kota kerajaan dari satu wilayah ke wilayah lainnya karena berbagai alasan, entah karena faktor ekonomi maupun karena faktor pertahanan dan keamanan, bisa pula karena faktor lainnya. Dan baru-baru ini pertama kali dalam sejarah, Republik Indonesia juga memindahkan Ibukota dari Jakarta ke Penajam Paser utara.

Demikian pula dalam sejarah Kesultanan Bulungan, sebelum Tanjung palas menjadi Ibu kota, tempat kedudukan Sultan bertahta, Bulungan sejak era Kesatria Wira, sudah pernah memindahkan pusat pemerintahannya.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana sebenarnya kedudukan strategis wilayah Salimbatu ini dalam sejarah dimasa-masa awal Kesultanan Bulungan, apakah wilayah ini memang secara kebetulan saja dipilih atau mungkin ada alasan lain yang tak banyak banyak disinggung dalam sejarah Bulungan itu sendiri, dan misteri apa yang masih belum dapat dijelaskan mengenai Salimbatu sampai hari ini.

Tentu saja dalam hal ini saya mencoba menggali sejarah Salimbatu itu sendiri, namun dengan batasan waktu hingga ketika pusat pemerintahan dipindahkan ke Tanjung Palas.

Dari banyak literatur Bulungan yang penulis baca, dipindahkannya pusat pemerintahan dari Salimbatu ke Tanjung Palas Ulu, hanya disinggung selintas saja, baik dari karya tulis yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Bulungan, maupun yang ditulis oleh kerabat dan keluarga Kesultanan Bulungan seperti karya Datuk Perdana*, H.S Ali Amin Bilfaqih (2006)** dan lain sebagainya.  

Salimbatu digambarkan sebagai pusat lumbung pangan Kesultanan, wilayah ini disiapkan sebagai kawasan penyangga sebelum masuk ke wilayah Ibu kota, hanya itu saja gambaran besar peran strategisnya.

Jika kita mencoba merunut peristiwa sebelum pemindahan pusat pemerintahan dari Salimbatu ke Tanjung Palas, ada baiknya kita mencoba melihat peristiwa sebelumnya yang nampaknya bisa jadi memberikan penafsiran lain yang jarang dibahas mengenai kedudukan Salimbatu dalam sejarah Bulungan itu sendiri.

Dalam Tarikh resmi, yang diakui oleh mayoritas penulis sejarah Bulungan, bahwa pendiri Kesultanan ini dimulai dimasa pemerintahan Sultan Amiril Mukminin, putra dari Wira Digedung tahun 1731 Masehi. Beliau kemudian memerintah untuk memindahkan pusat pemerintahan dari Baratan ke Salimbatu, untuk apa baginda melakukan hal tersebut?

Dalam tulisannya, H. Dachlansyahrani (1991)*** maupun M. Said Karim (2011)**** memberikan ulasan singkat namun cukup padat mengenai peristiwa tersebut;

“Sultan ini berpikiran jauh kedepan di dalam mengembangkan pengaruhnya. Dengan memperhatikan letak pusat kerajaan di Baratan yang agak kepedalaman, kemudian ditakutkan lagi pengaruh Raja Tidung diwilayah pantai, walaupun Raja Tidung ini adalah ipar dari Sultan, karena saudaranya Sinaran Bulan (Putri Raja Wira Digedung) kawin dengan Raja Tidung, maka memperhatikan pula hubungan lebih mudah dengan perwakilan Kerajaan Berau di Tanah Kuning, maka Sultan Amiril Mukminin memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke daerah Muara- di Salimbatu,- pada tahun 1769.

Daerah sekitar Salimbatu lebih banyak dataran rendah yang cocok untuk pertanian dan usaha-usaha perikanan dan perdagangan. Sehingga dalam waktu yang tidak lama, Salimbatu sudah berkembang pesat sekali, malah diramaikan lagi oleh Orang-orang Tidung yang ikut bermukim dan berusaha disini”.

Jika kita membaca pandangan H. Dahlansyahrani mengenai peristiwa pemindahan ibu kota dari Baratan ke Salimbatu, ada beberapa factor mengapa kawasan daratan rendah di muara ini menjadi penting bagi pemerintahan awal kesultanan Bulungan,

Yang pertama adalah Faktor Politik, Sultan Amiril Mukminin memiliki pandangan dan ambisi politik yang kuat, baginya kawasan Baratan di pedalaman tidak cukup besar untuk mewujudkan cita-citanya menjadikan Kesultanan Bulungan disegani dikawasan, ia menginginkan tempat lain sebagai pijakan politik strategis, maka Salimbatu dipilih untuk memanggul beban dari visi tersebut. Karena kedudukan pemerintahan di Salimbatau, maka Kesultanan Bulungan memiliki akses penuh membangun kekuatan politik dengan relasi tetangganya seperti Tidung dan khususnya lagi dengan wakil Berau di Tanah kuning.

Kedua, akses ekonomi penguasaan terhadap muara memungkinkan ketersedian sumber pangan bagi kesultanan, baik dari segi perikanan maupun pertanian, daerah subur dialiran sungai besar tersebut, dapat mencukupi ketersedian makanan bagi masyarakat Kesultanan yang tumbuh diawal Abad ke-18 tersebut.

Penafsiran H. Dahlansyahrani tentang kedudukan strategis Salimbatu dimasa awal Kesultanan sepertinya selaras dengan pandangan M. Said Karim, ia menulis;

“Pada tahun 1769 beliau memindahkan pusat pemerintahan kerajaan ke Salimbatu, agar mudah berhubungan dengan Kerajaan Tidung dan Kerajaan Berau. Selain itu daerah sekitarnya terhampar luas dataran rendah yang sangat luas baik untuk pertanian, usaha-usaha perdagangan dan perikananpun sangat baik di daerah ini, karena tidak jauh dari laut. Tak lama kemudian daerah ini cepat dikenal yang menyebabkan banyaklah orang-orang Tidung bermukim disini, negeri-negeri luarpun banyaklah berdagang disini. Saat inilah kerajaan Bulungan terkenal dan termasyur dimana-mana.

… “untuk mempererat hubungan dengan kerajaan Berau dikawinkanlah putra beliau yang bernama Aji Ali dengan putri Berau (Sambaliung) itu dinamai pengian Intan. Aji Ali sudah pula dikawinkannya, istri pertamanya bernama Aji Isa (dari kerajaan Tidung) dan telah mempunyai dua orang anak, yang laki-laki bernama Maulana dan perempuan bernama Aji Galu.

Dari Istri kedua, yakni Pengian Intan lahir seorang laki-laki Muhammad yang dipanggil Simad”.

…”masa-masa itu kerajaan-kerajaan yang ada didaerah ini masing-masing berdaulat, hubungan keakraban dilaksanakan dengan perkawinan antara putra-putri keturunan dari kedua kerajaan seperti dengan Berau (Sembaliung) dan dengan keturunan Tanah Tidung. Oleh karena persahabatan itu menimbulkan keadaan yang aman damai dan sejahtera”.

Terlepas dari kontroversi sejarah mengenai pandangan tentang keberadaan kerajaan-kerajaan lokal tersebut, baik H. Dahlansyahrani maupun M. Said Karim memberikan gambaran menarik tentang narasi mengenai kedudukan Salimbatu dalam sejarah awal kesultanan Bulungan itu sendiri. Kedudukan Salimbatu yang dimasa awalnya diproyeksikan sebagai Ibu Kota kerajaan seperti membentuk pola pembangunan dimasa yang akan datang mengenai tata kota Kesultanan. Umumnya dalam pola kesultanan tradisional tersebut dimana lokasi kerajaan mengikuti pola garis sungai, bisa jadi dahulu Salimbatu sebagaimana lazimnya pusat pemerintahan pernah dibangun rumah kediaman Raja, Mesjid, kawasan pekuburan, perumahan rakyat, pelabuhan dan kawasan perbentengan.

Pada tahun 1777, Sultan Amiril Mukminin mangkat di Salimbatu, kedudukan sebagai sultan digantikan oleh putranya, sayang sekali penulis belum mengetahui pasti siapa ibu dari Sultan Alimuddin tersebut. Sultan yang naik tahta pada tahun tersebut dikemudian hari memindahkan lagi pusat pemerintahan dari Salimbatu ke wilayah Hulu kembali, nampaknya peristiwa ini menjadi titik balik bagi kedudukan Salimbatu dalam sejarah Kesultanan Bulungan.

H. Dahlansyahrani menceritakan peristiwa bersejarah ini dalam tulisannya;

“Kemajuan yang diperoleh kerajaan dengan pusatnya di Salimbatu, mengundang terus para pendatang baru, sehingga areal berusaha terasa bertambah sempit. Selain itu dikhawatirkan serangan dari Solok*****, maupun dari usaha penjajah Belanda yang sudah memperhatikan kerajaan ini. Dengan pertimbangan itulah Sultan Alimuddin memindahkan pusat kerajaan kepedalaman kembali. Daerah yang dipilih adalah sebelah hulu kota Tanjung Palas sekarang, kejadian ini dicatat pada tahun 1790.

Untuk menjalankan pemerintah di Salimbatu, ditunjuk Maulana bersama saudaranya, sedangkan Simad karena masih kecil ikut pindah ke Tanjung Palas. Dikota baru inilah Sultan membangun pusat pemerintahannya, tahap demi setahap hingga mencapai posisi layaknya pusat pemerintahan pada masa itu, seperti Kraton, masjid, lapangan dan rumah para bangsawan dan perumahan rakyat”.

Jika dihitung, diantara tahun 1769 sebagai awal pemindahan Ibu kota dari Baratan ke Salimbatu, dan dipindahkan lagi pusat pemerintahan kewilayah Hulu kembali pada tahun 1790, maka dapat diperkirakan tak kurang hampir 21 tahun Salimbatu sempat berkedudukan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Bulungan dimasa awal.

Sampai saat ini penulis sendiri masih bertanya-tanya tentang kedudukan Salimbatu sebagai lumbung pangan kerajaan, yaitu bagaimana kapasitas produksi beras yang dihasilkan tiap tahunnya? Bagaimana distribusi bahan pangan itu sampai ke Ibu kota, dan siapa pejabat yang menerimanya? Itu belum termasuk sampai kapan status sebagai lumbung pangan kerajaan itu disandang oleh Salimbatu?. Banyak masih mengenai sejarah khususnya mengenai Salimbatu yang penulis tak banyak ketahui, dan menjadi misteri yang rasanya layak untuk ditelusuri.

Sebelum menutup tulisan kecil ini, penulis menghaturkan mohon maaf bila ada kata atau kalimat dalam tulisan ini yang kurang berkenan dihati pembaca, terimaksih.

Note:

Copy naskah ketikan Datuk Perdana, “Risalah Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H”, t.th.

** Ali Amin Bilfaqih, H. Said. 2006. “Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa”. Tarakan : CV. Eka Jaya Mandiri.

*** Dachlansjahrani, H. 1991. “Beberapa Usaha Menemukan Hari Jadi Kota Tanjung Selor”. t.th. Hal. 8-10

**** Said Karim, M. 2011. “Mutiara Abadi (Restruksi Historis pejuang – pejuang Kemerdekaan Bulungan”. Tanjung Selor. Pemkab. Bulungan. Hal. 19-21

***** Solok dalam tulisan tersebut mengacu kepada sebutan umum untuk Bajak Laut Sulu.

Friday, September 27, 2019

Apa saja fakta menarik tentang Dr. Soemarno Sastroatmodjo selama bertugas di Tanjung Selor.

Dr. Soemarno Sastroatmodjo, yang saya ketahui tentang beliau tidaklah banyak kecuali fakta bahwa Ia adalah Kakek dari Kaka dan Bimbim Slank sekaligus pernah menjabat sebagai Gubernur Pertama Daerah Khusus Jakarta Raya dan menjadi Menteri Dalam Negeri dikemudian hari di era Presiden Soekarno

Bagaimana ketika ia betugas di Tanjung Selor? sayangnya minimnya dokementasi mengenai sejarah perjalanan hidupnya ketika setahun ia bertugas di kota pelabuhan kecil tersebut,  membuat tak banyak fakta menarik yang bisa disuguhkan apa lagi beliau sendiri tak lama bertugas, kerena dipindahkan di Kuala Kapuas tahun 1939. Saat ini nama beliau resmi digunakan untuk Rumah Sakit tipe B di Tanjung Selor untuk mengenang jasa-jasanya. 

Lalu fakta apa saja yang menarik tentang sang Dokter selama bertugas di Tanjung Selor;

1. Kedatangan Dr. Soemarno Sastroatmodjo disambut oleh pejabat Belanda di Bulungan, diwakili oleh Asisten Residen Breekland berserta istri, di Pelabuhan Boom Tanjung Selor setelah melakukan perjalanan dari kota Tarakan. Tanjung Selor merupakan kota pertama dimana sang Dokter bertugas sejak Ia menerima Ijasah pada tanggal 2 April 1938.

2. Dr. Mas Sapuan Sastrosatomo adalah Dokter Rumah sakit di Tanjung Selor* yang posisinya digantikan oleh Dr. Soemarno Sastroatmodjo, kelak beliau kemudian menjadi Direktur Rumah Sakit Umum Tasikmalaya tahun 1948-1949.

3. Dr. Soemarno hanya bertugas selama 1 tahun di Bulungan, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad Djaluddin, sekitar 7 tahun setelah beliau naik tahta.

4. Ibu Armistiani, Istri Dr. Soemarno melahirkan anak keduanya di Tanjung Selor, dimana proses persalinannya langsung ditangani sendiri oleh beliau, putri kedua pasangan ini dinamakan Sri Soesilorini. Selain itu selama menemani suami bertugas di Kota pelabuhan kecil tersebut, Ibu Armistiani juga membuat perhimpunan bernama Rukun Istri.

5. Rumah dinas dokter yang sempat dihuni oleh beliau sekeluarga selama di Tanjung Selor, masih berdiri sampai hari ini namun dalam kondisi kurang terawat.

Demikianlah beberapa fakta menarik tentang beliau selama bertugas di Tanjung Selor, semoga bermanfaat.

Note

*Rumah sakit ini dahulu di bangun pemerintah Belanda dimasa Sultan Kasimuddin, letaknya berada persis di depan SMP 01 Tanjung Selor lama atau gedung Perpustakaan Daerah saat ini, sebelum dibongkar sempat menjadi rumah bangsal dan cukup lama ditempati masyarakat, lokasi tersebut sudah disulap menjadi Kantor Kelurahan Tanjung Selor Hulu dan Kantor Kanwil DJPb Prov. Kaltara & KPPN Tanjung Selor di jalan Soetoyo.

Sumber Foto: Istimewa

Friday, August 30, 2019

Siapakah Sultan Bulungan yang memerintah diawal pergantian Abad?


Sultan Maulana Muhammad Kasimuddin, gelar yang beliau pegang itu kurang lebih berarti “Pelayan Agama”. Naik tahta diawal tahun 1901 menjadikan beliau sebagai Sultan Bulungan yang mengawali pergantian dari Abad ke 19 menuju abad 20.  Mulai memerintah dimasa Gubernur Jendral Willem Roosebom dan berakhir dimasa Gubernur Jendral Dirk Fock. Diawal pemerintahannya hampir separuh wilayah Kesultanan Bulungan sempat bergolak namun dapat diselesaikan pada tahun-tahun berikutnya.

Dimasa yang sama, Bulungan memasuki pase baru sebagai kekuatan Ekonomi yang yang layak diperhitungkan di Hindia Belanda, dengan ditemukannya cadangan minyak kualitas sangat baik di Tarakan maka Bulungan menjadi salah satu Kesultanan yang kaya dengan pendapatan terbesar dari hasil bagi minyak bumi tersebut, begitupula dibidang perkebunan, komuditi karet mulai ditanam secara serius begitu pula dibidang perikanan.

Sultan juga mulai melakukan reformasi dibidang pendidikan, ia membangun sekolah-sekolah baru, begitupula dibidang kesehatan, rumah sakit baru mulai di bangun di Tanjung selor, daratan luas yang terdapat didepan Tanjung Palas, tempat kediaman Sultan bertahta.

Sultan Kasimuddin merupakan sultan pertama pula yang mengunjungi negeri Belanda, beliau tampak ganteng ketika mengunjungi negeri Ratu Wihelmina tersebut menggunakan topi dan jas hitam. Kemampuan dalam membangun relasinya juga sangat baik, dia tampak mudah menerima pola perubahan yang terjadi diabad tersebut, salah satunya adalah menyiapkan putranya yang kelak menjadi Sultan untuk menimba ilmu di luar Bulungan. 

Sultan Kasimuddin juga menunjukan kelasnya sebagai pemimpin Kesultanan Bulungan ketika menolak kebiasaan untuk menjemput pejabat Belanda yang berkunjung ke Bulungan, baginya Sultan hanya akan menyambut pejabat pemerintah Hindia belanda tersebut di Istana miliknya, bukan didermaga kayu didekat sungai tersebut. Baginya pemerintah Belanda harus mampu menghormati dirinya sebagai Sultan Bulungan sekaligus mewakili Rakyat kesultanan Bulungan yang memiliki hak yang sama sebagai warga Negara dalam lingkup Hindia Belanda tersebut. 

Sultan Kasimuddin mangkat di Tanjung Palas sekitar tahun 1925, warisannya yang masih berdiri kokoh hari ini berbentuk masjid agung Sultan Kasimuddin yang didirikan di paruh pertama abad 20 sampai hari ini menjadi saksi kejayaan Kesultanan Bulungan dimasa lampau[].

Sumber Foto : FB Kesultanan Bulungan

Saturday, August 17, 2019

Seperti apa rupa SIM atau Surat Izin Mengemudi era 70 hingga 80-an?

SIM pada masa itu berbentuk simple, seperti ini contoh sim B1 untuk kendaraan pada periode tersebut.

Sumber: Istimewa

Monday, July 8, 2019

Apakah kamu pernah melihat Meriam Sebenua tidak ditutup dengan kain kuning?

Melihat secara langsung meriam legendaris tersebut tanpa selubung penutupnya  seperti saat ini, ibarat pepatah seperti menunggu “ayam jantan bertelur” karena sejak Museum Kesultanan aktif beroperasi sebagai tempat tujuan wisata dan edukasi, sampai detik ini meriam Sebenua yang merupakan barang pusaka sekaligus unsur dari Simbol Ningrat Bulungan itu hampir selalu dilapisi kain kuning sebagai lambang kebesaran Kesultanan Bulungan dimasa lampau.

Setiap kali berkunjung ke museum itu, meriam dengan diameter garis tengah laras 2,5 Inci selalu tampak gagah dengan kondisinya saat ini, seperti yang penulis sampaikan sebelumnya, walau begitu bukan berarti meriam tersebut tidak pernah mengalami masa yang sulit, pasca kejadian tahun 1964, kondisi meriam tersebut cukup terawat walaupun hanya dapat disimpan seadanya saat itu.

Anda dapat melihat foto diatas pada tulisan ini? Ya, itulah foto ketika meriam pusaka tersebut tidak diselubungi dengan kain kuning tanda kebesaran kesultanan yang lazim kita lihat hari ini, foto tersebut merupakan dokumentasi yang diambil sekitar tahun 1996, sejauh yang saya tahu itu dokumentasi yang cukup jelas menggambarkan Meriam Kesultanan Bulungan tanpa kain penutupnya, saat itu sedang dilakukan perayaan hari jadi Kabupaten Bulungan atau yang sering disebut dengan Birau atau "Pesta Rakyat", sebuah tradisi yang memiliki sejarah panjang sejak era Kesultanan Bulungan.

Sekilas rupa dari Meriam Sebenua itu memiliki kemiripan dengan desain ukir pada meriam koleksi Museum Kesultanan Bulungan yang berukuran sedang yang terdapat dibagian tengah, mungkinkah meriam tersebut merupakan bentuk “mini” dari Meriam Sebenua? Rasanya hal tesebut perlu penelitian lebih lanjut, setidaknya gambar tersebut mengobati rasa penasaran khalayak ramai tentang bagaimana bentuk Meriam pusaka Kesultanan Bulungan itu ketika dalam kondisi apa adanya, sekaligus sebagai penanda bagi kita untuk menjaga dan melestarikan asset sejarah dan purbakala dari Kesultanan Bulungan baik dimasa kini dan  yang akan datang.[]