Monday, July 8, 2019

Apakah kamu pernah melihat Meriam Sebenua tidak ditutup dengan kain kuning?

Melihat secara langsung meriam legendaris tersebut tanpa selubung penutupnya  seperti saat ini, ibarat pepatah seperti menunggu “ayam jantan bertelur” karena sejak Museum Kesultanan aktif beroperasi sebagai tempat tujuan wisata dan edukasi, sampai detik ini meriam Sebenua yang merupakan barang pusaka sekaligus unsur dari Simbol Ningrat Bulungan itu selalu dilapisi kain kuning sebagai lambang kebesaran Kesultanan Bulungan dimasa lampau.

Setiap kali berkunjung ke museum itu, meriam dengan diameter garis tengah laras 2,5 Inci selalu tampak gagah dengan kondisinya saat ini, seperti yang penulis sampaikan sebelumnya, walau begitu bukan berarti meriam tersebut tidak pernah mengalami masa yang sulit, pasca kejadian tahun 1964, kondisi meriam tersebut cukup terawat walaupun hanya dapat disimpan seadanya saat itu.

Anda dapat melihat foto diatas pada tulisan ini? Ya, itulah foto ketika meriam pusaka tersebut tidak diselubungi dengan kain kuning tanda kebesaran kesultanan yang lazim kita lihat hari ini, foto tersebut merupakan dokumentasi yang diambil sekitar tahun 1992, dan tersimpan dalam sebuah laporan tentang study tentang kelayakan Masjid Kasimuddin dari Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Timur.

Sekilas rupa dari Meriam Sebenua itu memiliki kemiripan dengan desain ukir pada meriam koleksi Museum Kesultanan Bulungan yang berukuran sedang yang terdapat dibagian tengah, mungkinkah meriam tersebut merupakan bentuk “mini” dari Meriam Sebenua? Rasanya hal tesebut perlu penelitian lebih lanjut, setidaknya gambar tersebut mengobati rasa penasaran khalayak ramai tentang bagaimana bentuk Meriam pusaka Kesultanan Bulungan itu ketika dalam kondisi apa adanya, sekaligus sebagai penanda bagi kita untuk menjaga dan melestarikan asset sejarah dan purbakala dari Kesultanan Bulungan baik dimasa kini dan  yang akan datang.[]

Saturday, July 6, 2019

Apa arti angka ‘50’ dalam salah satu tugu peninggalan milik Kesultanan Bulungan?


Untuk memahami mengapa terdapat angka ‘50’ yang terpahat pada salah satu tugu Kesultanan Bulungan tentu tidak lepas dari konteks sejarah yang melingkupinya. 

Penulis mencoba untuk menafsirkan hal tersebut dengan mencoba melihat kaitan-kaitan sejarah Kesultanan Bulungan khususnya dalam periode paska pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih di Istana kesultanan pada Agustus tahun 1949.

Jika angka ‘50’ pada monument tersebut merujuk pada tahun 1950, maka jika membuka lagi sejarah Kesultanan Bulungan dan hubungkaitnya dengan peristiwa sezaman, kita akan menemukan sejumlah fakta menarik, yang bisa saja mewakili arti dari symbol tersebut. 

    1). Tahun 1950, adalah terhitung satu tahun sejak Kesultanan Bulungan secara utuh bergabung dengan NKRI setelah proses pengibaran Bendera Merah Putih pemberian seorang Perwira Jepang bernama Kumatsu yang memiliki simpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia, ia pula yang mengabarkan kepada Sultan Djalaluddin dan Datuk Bendahara Paduka Radja, bahwa di tahun 1945 negara baru bernama Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya. Menurut catatan dari keterangan foto yang berasal dari tulisan M. Said Karim*  terdapat keterangan pada bagian depan tugu tersebut dipahat teks Pancasila dan dibagian belakangnya disertakan pahatan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, artinya ada kemungkinan besar tugu tersebut merupakan sebuah peringatan sekaligus tanda bahwa Bulungan adalah bagian tidak terpisahkan dari Negara Republik Indonesia.

2). Tahun 1950, berdasarkan keputusan Presiden Republik Indonesia Serikat, dalam hal ini Presiden Sukarno No.127 tahun 1950 pada tarikh 24 Maret 1950, wilayah Kalimantan Timur resmi bergabung menjadi bagian NKRI sekaligus menandai bubarnya Swapraja Federasi Kalimantan Timur yang terdiri dari Kesultanan Kutai, Berau, daerah Pasir dan Kesultanan Bulungan.

   3). Tahun 1950, adalah tahun pertama pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Sukarno* mengutus utusan istimewa diwilayah Kesultanan Bulungan, yakni kunjungan Wakil Presiden Mohammad Hatta yang membawa misi mengunjungi Tarakan dan Nunukan pada tahun tersebut, dan diwaktu bersamaan juga mengutus Datuk Madjo Urang ke Istana Kesultanan Bulungan sebagai wakil resmi Negara untuk bertemu dengan Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin dan para mentrinya.

    4). Tahun 1950, berdasarkan SK Gubernur Kalimantan No.186/ORB/92/14 bertanggal 14 Agustus 1950, dan dengan disahkannya Undang-undang Darurat Nomor 3/1953 oleh pemerintah Republik Indonesia, wilayah Kesultanan Bulungan secara resmi menjadi Daerah Istimewa Bulungan dengan Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin sebagai Kepala Daerah Istimewa hingga tahun 1958.**

Demikian hal hasil penelusuran penulis yang meyakini bahwa, symbol angka ‘50’ tersebut, memiliki arti yang istimewa bagi Kesultanan Bulungan secara khusus, maupun bagi Negara kesatuan Republik Indonesia secara umumnya. Semoga tulisan kecil ini dapat bermanfaat.[]

Note

*) Monumen tersebut menurut pak M. Said Karim merupakan "Tugu Peringatan Penyerahan Kedaulatan Tahun 1959", M. Said Karim, Hal. 93

**) Tahun 1950, Presiden Sukarno juga mengunjungi Kota Samarinda pada bulan Februari ditahun tersebut, salah satu agendanya adalah peletakan batu pertama Taman Pahlawan yang diprakarsai oleh Front Nasional kala itu dan pada bulan September ditahun yang sama itu, Bung Karno kembali mengunjungi kota Samarinda dengan status sebagai Presiden Republik Indonesia, bukan lagi sebagai Presiden Indonesia Serikat, Bung Hatta juga berstatus sama, beliau resmi kembali sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia dengan melepas statusnya yang sebelumnya menjabat sebagai Perdana Mentri RIS.

***) Status Bulungan sebagai Daerah Istimewa, barulah dicabut setelah Kepala Daerah Istimewa Pertama dan satu-satunya di Bulungan, Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin mangkat ditahun 1959. Hal ini diperkuat pasca keluarnya dekrit presiden bertanggal 5 juli 1959, Bulungan bersalin status menjadi Kabupaten Bulungan sesuai Undang-undang No.27/1959 dengan Bupati pertamanya yang masih kerabat Kesultanan, yakni Bupati Andi Tjatjo gelar Datuk Wihardja.[]

Sumber Pustaka

Ali Amin Bilfaqih, H. Said. 2006. “Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa”. Tarakan : CV. Eka Jaya Mandiri.

Moeis Hassan, H. A. 1994. “H.A. Moeis Hassan Ikut Mengukir Sejarah”. Jakarta : Yayasan Bina Ruhui Rahayu Jakarta.

M. Said Karim. 2011. "Mutiara Abadi (Rekonstruksi Historis Pejuang-pejuang Kemerdekaan Bulungan)".  Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan.

Sumber Foto : Koleksi Pribadi.

Saturday, June 29, 2019

Apabila Seandainya meriam pusaka Kesultanan Bulungan digunakan sebagai pertahanan kota, apa saja yang perlu saya lakukan sebagai operator meriam tersebut?


Ada banyak, tapi yang paling penting adalah ketersedian mesiu dan peluru. Jika seandainya meriam-meriam pusaka itu digunakan sebagai pertahanan kota dan tak ada pilihan lain, maka pasukan pertahanan hanya bisa menggunakan meriam ukuran sedang yang dinamakan meriam Melati, Rindu dan Dendam* (meriam Sebenua adalah pusaka utama kerajaan, iya berfungsi sebagai regalia kesultanan dan digunakan hanya dalam upacara khusus kerajaan).

Jika ditanya jenis puluru apa yang menjadi pilihan utama, saya mungkin akan memilih peluru jenis Canister*, peluru ini jenisnya sebesar biji kelereng, biasanya disimpan dalam wadah tabung atau dibungkus kain. Kenapa harus Canister, selain karena dimaksud sebagai anti personel, peluru yang apabila ditembakkan dari moncong meriam ini akan berhamburan menuju posisi musuh layaknya menembakkan senapan shotgun atau penabur diera modern. Pertimbangan lain mengapa harus menggunakan peluru jenis ini adalah, pada kenyatannya walaupun dicetak bersamaan dan berasal dari bengkel yang sama, namun diameter masing-masing meriam bersaudara ini tidaklah sama, kami sebagai operator meriam ini tentu akan kesulitan dalam menggunakan bola meriam yang bentuknya hampir sama namun memiliki diameter laras yang berbeda, tentunya antara peluru satu dan  peluru lainnya belum tentu pas.[]

Note:

*Kesultanan Bulungan memiliki beberapa buah meriam, diantara meriam-meriam yang menjadi pusaka istana itu adalah tiga buah meriam yang saat ini diletakan dihalaman Museum Kesultanan Bulungan. Tidak ada catatan memang yang menyebutkan penggunaan meriam ini dalam konflik, namun keberadaannya disinyalir kuat digunakan untuk melindungi area Kraton Kesultanan apabila memang diperlukan.

Pada tanggal 07 Juni 2019, saya telah melakukan sejumlah pengukuran pada ketiga buah meriam itu untuk mendapatkan data mengenai diameter garis tengahnya. Saya dibantu sejumlah aplikasi ukur untuk menemukan konversi ukuran dari Inci ke mm. Hasilnya meriam tersebut yang memiliki ukuran bervariasi dari yang terkecil hingga yang besar memiliki diameter:

1. Ukuran 8,99 cm sama dengan 3,54 Inci atau setara 89,9 mm (meriam ini terletak di bagian kanan, apabila pengunjung menatap meriam dari depan Museum Kesultanan)
2. Ukuran 10,08 cm sama dengan 3,97 Inci atau setara dengan 100,8 mm (meriam ini letaknya di sayap kiri didepan halaman Museum Kesultanan Bulungan, meriam ini memiliki wujud dan ukiran yang sama dengan meriam dibagian kanan)
3. Ukuran 10,78 cm setara dengan 4,24 Inci atau 107,8 mm untuk garis tengahnya, meriam ini ada dibagian tengah halaman Museum kesultanan Bulungan, dan memiliki ukiran yang berbeda dengan kedua meriam yang ada disayap kiri dan kanannya).

**Canister shoot adalah jenis peluru yang umum dikembangkan di era Napoleon dan Civil War di Amerika, jenis peluru ini mempunya dampak yang sangat menghancurkan baik moril maupun fisik dari korban yang sebagian besar adalah tentara yang bertempur saat itu.[]

Sumber Foto : https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Museum_Kesultanan_Bulungan.JPG

Monday, June 24, 2019

Catatan Awal Sejarah Kedatangan Islam di Bulungan [BAB VIII]


KESIMPULAN.

Para ahli telah membagi Teori kedatangan Islam, yang dapat digambarkan melalui tiga tahap, yang Pertama “kedatangan” agama Islam di suatu daerah ialah kedatangan orang muslim pertama di daerah tersebut. Tahap Kedua, agama Islam mulai dianut dan dipeluk oleh orang-orang disuatu daerah. Tahap Ketiga, melembaganya Agama Islam didaerah tersebut terutama sekali dalam kaitannya dengan struktur kekuasaan yaitu ditandainya berdirinya Kesultanan Islam. Teori tersebut sejauh ini dapat dikatakan cukup mampu untuk menggambarkan proses kedatangan dan perkembangan agama Islam selanjutnya di Bulungan.
Islam dan Bulungan seperti dua sisi mata koin yang tidak bisa dipisahkan. Kontak pertama Islam di Bulungan yaitu peristiwa kedatangan bangsawan Brunei Datuk Mancang dan pengikutnya pada paruh kedua abad ke-16 yang kemudian mengikat dirinya melalui jalan perkawinan dengan Asung Luwan, pemimpin suku Dayak setempat yaitu Dayak Uma Apan telah menjadi pijakan yang cukup kuat dalam penyebaran Islam sendiri, khususnya pada masyarakat Dayak Uma Apan yang kemudian dalam sejarah tradisional Bulungan pernikahan ini diakui sebagai awal terbentuknya suku Bulungan.
Perkembangan agama Islam di Bulungan khususnya kontak pertama, sangat dipengaruhi oleh perlindungan Datuk Mancang dan keluarganya sehingga Islam dapat bertahan dan mengakar dalam kehidupan masyarakat Bulungan, kebijakan ini sama dijalankan oleh penerusnya yaitu Singa laut (1595-1618 M) dan keturunan-keturunannya yaitu Wira Kelana (1618-1640 M), Wira Keranda (1640-1695 M), Wira Digedung (1695-1731 M) yang sangat menonjol yaitu wira Amir yang kemudian dikenal sebagai Sultan Amiril Mukminin (1731-1777).
Masyarakat Bulungan sendiri terbentuk bersamaan dalam proses kedatangan Islam dalam kontak pertama yang terjadi pada sepanjang abad akhir abad 16 hingga 17 Masehi. Saluran Islamisasi paling menonjol pada masa-masa tersebut adalah lewat media perkawinan (meriage) dan dakwah. Walau demikian memang patut diakui  pada masa-masa tersebut, Islam dan kebudayaan Bulungan sedikit banyak saling mewarnai satu dengan lainnya.
Proses sejarah yang panjang ini semakin disempurnakan setelah Kesultanan Bulungan telah berdiri pada paruh pertama abad ke-18 yang tercatat dalam sejarah sebagai kontak kedua Islam di Bulungan yang ditandai kedatangan Said Abdurahman Bilfaqih dari Demak dan melapangkan jalan bagi Wira Amir (Amiril Mukminin) mendirikan Kesultanan Bulungan menjadi momentum besar yang semakin mengukuhkan Islam pada tiap-tiap diri orang Bulungan baik pada kehidupan beragama, politik, sosial, ekonomi maupun budaya. Walaupun demikian Islam Bulungan memiliki warna tersendiri yang khas, hal ini disebabkan proses yang panjang dalam sejarah penerimaan Islam yang kemudian tidak hanya menjadi agama namun juga meresap pula dalam budaya dan identitas resmi bagi orang Bulungan. inilah yang kemudian menciptakan semacam istilah “naik turun tarikan nafas orang Bulungan adalah Islam”.
Islam membawa pencerahan bagi orang Bulungan, tidak hanya dalam hal spiritual namun juga peradaban, khususnya pengenalan mereka terhadap tulisan Arab maupun Jawi atau Arab Melayu, bidang seni dan arsitektur Bulungan yang banyak dipengaruhi oleh penghayatan mereka terhadap nilai-nilai Islam.
Penelitian inipun secara tidak langsung memperlihatkan pola yang sedikit berbeda dari yang selama ini diyakini secara umum oleh para Arkeolog bahwa Islam di Kalimantan Timur secara dominant banyak dibawa oleh para pendakwah dari Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan yang memang dapat dilacak dari sejarah Kesultanan Pasir, Kutai dan Sembaliung maupun Gunung Tabur -tanpa bermaksud memperkecil peran para pendakwah dari kedua wilayah itu- peran para sufi pengelana berkebangsaan Arab di Bulungan khususnya pada awal-awal berdirinya Kesultanan dapat dikatakan memiliki porsi cukup yang besar. Mereka menempati posisi penting sebagai penasehat Sultan khususnya di bidang keagamaan dan menjadi panutan bagi masyarakat.
Nama-nama ulama seperti Said Abdurahman Bilfaqih, Syekh Ahmad Al-Magribi, Said Abdullah bin Idrus bin Umar Bilfaqih, Said Ali bin Idrus Al Idrus menunjukan kecendrungan terhadap hal yang demikian, ulama-ulama tersebut hampir dapat dikatakan kesemuanya berkebangsaan arab khususnya orang-orang Hadrami dari golongan Habaib.
Terdapat pula para pendakwah dari kalangan etnis Banjar, Bugis dan Melayu yang juga turut mewarnai penyebaran agama Islam di Bulungan, khususnya setelah Kesultanan Bulungan sendiri telah mapan berdiri sebagai Kesultanan Maritim sejak paruh kedua abad ke-19. Nama ulama seperti Syahabuddin Ambo Tuo dari Wajo dan Qadi Bahauddin dari kota Padang, Minagkabau adalah sebagian kecil yang dapat dilacak oleh penulis dari sekian banyak nama para pendakwah yang memiliki kontribusi besar terhadap penyebaran Islam di Bulungan yang tidak tercatat sejarah.
Islamisasi tidak hanya tugas para ulama, para Sultan sejak awal telah “memasang badan” mereka sebagai benteng Islam di Bulungan. mereka memiliki kontribusi besar dalam upaya membina dan mengembangkan Islam yang selalu sejalan dengan padangan ulama. Mereka tidak hanya memberikan jaminan perlindungan maupun fasilitas yang layak terhadap bagi para pendakwah Islam di Bulungan, namun juga mengundang para ulama untuk menetap dan mengajarkan Islam pada masyarakat Bulungan.
Nama-nama besar seperti Sultan Amiril Mukminin (1731-1777), Sultan Alimuddin (1777-1817), Sultan Khalifatul Alam Muhammad Adil (1873-1875), Sultan Kaharuddin II (1875-1889),  Sultan Kasim Al-Din atau Sultan Kasimuddin (1901-1925) serta Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin atau Sultan Djaluddin II (1931-1959) adalah para Sultan yang dikenang karena karena reputasi dan perannya sangat besar dalam perkembangan agama Islam di Bulungan.[]

DAFTAR PUSTAKA.

A. Sumber Arsip.
Copy naskah ketikan Datuk Perdana, “Risalah Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H”, t.th.
Copy Salinan Surat Wakaf Said Ahmad bin Mohsen Al-kaff tentang Wakaf Mesjid Tandjung Selor / Al-Kaff (Al-Hidayah Tanjung Selor) 1 Rabiul Akhir 1304 H (27 Desember 1886). Disalin dari surat aslinya yang bertuliskan huruf arab melayu dan berbahasa melayu kedalam tulisan latin bahasa indonesia oleh Ustadz Mahfud Ghodal pada 15 Agustus 1951. Dokumen koleksi pribadi Said Mohammad Al-Jufri.
Copy Salinan Surat izin mendirikan mesdjid di-Tandjung selor dari Sultan Muhammad Kaharuddin, Bulan Muharam tahun 1302 H (Oktober 1884). Disalin dari surat aslinya yang bertuliskan huruf arab melayu dan berbahasa melayu kedalam tulisan latin bahasa indonesia oleh Ustadz Mahfud Ghodal pada 15 Agustus 1951. Dokumen koleksi pribadi Said Mohammad Al-Jufri.
Copy Surat Panitia Penjelenggaraan Pembangunan Masdjid Djami Tandjung Selor bertanggal 16 Djuli 1951 oleh Kepala Daerah Istimewa Bulungan M. Mohd. Djalaluddin. Dengan Cap Stempel Kepala Daerah Istimewa Bulungan. Dokumen koleksi pribadi Said Mohammad Al-Jufri.

B. Makalah, Skripsi dan Laporan Penelitian.
Atmojo, Bambang Sakti Wiku, 2000. LPA Penelitian Arsitektur Makam Raja-Raja Di Wilayah Kalimantan Timur,  Kabupaten Berau dan Bulungan. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.
Berita Penelitian Arkeologi No. 17, 118 Halaman. Banjarbaru November 2006.
Berita Penelitian Arkeologi Etno Arkeologi Religi Dayak Di Kalimantan, No. 16 Edisi Khusus 116 Halaman. Banjarbaru November 2006.
 Hasan, H.E. Mohd- dkk, “Sejarah masuknya agama Islam di Kabupaten Bulungan” oleh Panitia Abad XV H. Kabupaten Bulungan, Tanjung Selor. 26 November 1981 M / 29 Muharram 1402.
Arianto, Sugeng. Agustus 2003. “Kerajaan Bulungan 1555-1959”. Malang : Skripsi Sarjana Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra UGM.
Rencana Pembagunan Lima Tahun Ketiga Kabupaten Bulungan daerah tingkat II Bulungan 1979 / 1980 – 1983 / 1984. Pemerintah Daerah Tingkat II Bulungan.
Kabupaten Bulungan Dalam Angka 1996. bekerjasama BAPPEDA Tingkat II Kabupaten Bulungan Dengan BPS Kantor Statistik Kabupaten Bulungan. Tanjung Selor Agustus 1997.
Monografi Daerah Tingkat II Bulungan diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Media Kebudayaan DITJEN, Kebudayaan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan R.I., Jakarta, 1976.
           
C. Buku. 
Prof. DR. Ahmad M. Sewang, M. A. 2005. “Islamisasi Kerajaan Gowa (Abad XVI sampai Abad XVII). Cet-2. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1990. “Sejarah Nasional Indonesia II”. Cetakan ke-6. Jakarta : Balai Pustaka.
----. 1990.“Sejarah Nasional Indonesia III”. Cetakan ke-6. Jakarta : Balai Pustaka
----. 1990.“Sejarah Nasional Indonesia VI”. Cetakan ke-6. Jakarta : Balai Pustaka.
Wadjidi, 2007.”Nasionalisme Indonesia Di Kalimantan Selatan 1901-1942”. Cetakan Pertama. Banjarmasin : Pustaka Benua.
Abdullah, Dr Taufik. 1985.“Sejarah Lokal di Indonesia Kumpulan Tulisan”. Jakarta : Gajah Mada University Press.
Long, S. Lii’. dan Pastor A. J. Ding Ngo. 1984. “Syair Lawe’ dan Suku Kayan “. Jakarta : Gajah Mada University Press.
Sjamsuddin, Helius. 2007. “Metodelogi Sejarah”. Yogyakarta : Ombak.
Ideham, M. Suryansyah- Dkk. 2007. “Sejarah Banjar”. Cet-3. Banjarmasin: Badan Penelitian Dan Pengembangan Propinsi Kalimantan Selatan.
Zulkarnaen, Datuk Iskandar . 2008. “Hikayat Datoe Lancang dan Putri Kayan”. Cet-1. Samarinda : Pustaka Spirit.
Ali Amin Bilfaqih, H. Said. 2006. “Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa”. Tarakan : CV. Eka Jaya Mandiri
Anwar, M. A, Prof . Dr. Syamsul. 2007. Hukum Perjanjian Syari’ah (Study Tentang Teori Akad dalam Fikih Muamalah). Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Zulkarnen, Datuk Iskandar-, dkk. 1995. “Pesona Dan Tantangan Bulungan”. Jakarta : LKBN Antara.
Badjerei, H. Hussein. Oktober 1996 “Al-Irsyad Mengisi sejarah bangsa”, Jakarta, Presto Prima Utama,
Bernad Sellato, “Forest, Resources end People in Bulungan (Element For a History Of  Settlement, Trade, and Social Dynamics in Borneo, 1800-2000)”,  Jakarta : SMK Grafika Desa Putra, Indonesia.
Prof. Dr. Mujamil Qomar, t, th “Pesantren dari Transformasi Metedologi menuju Demokratisasi Institusi”, Jakarta : Penerbit Erlangga.
Adrian B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, Jakarta, Komunitas Bambu, Agustus 2009.
Prof. Dr. Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara Wacana dan Kekuasaan, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya. Cet-1. September 1999.
Prof. Dr. Azyumardi Azra, Islam Nusantara Jaringan Global dan Lokal, Bandung, Mizan. Cet-1. Oktober 2002.
Prof. Dr. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, Bandung, Mizan. Cet-1. Oktober 2004.
Dr. H. J. De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram Ekspansi Sultan Agung, Jakarta, Pustaka Grafitipers. Cet-1. 1986.
Dra Nila Suseno, Tjilik Riwut berkisah Aksi Kalimantan dalam Tugas Operasional Militer Pertama Pasukan Payung Angkatan Udara Republik Indonesia (Palangka Raya: Pusaka Lima, Oktober 2003).
Al-Haddad, Al-Habib Alwi bin Thahir, Sejarah Masuknya Islam Di Timur Jauh; Diberi Catatan Dan Tahkik Oleh Sayyid Muhammad Dhia’ Shabab. Jakarta. PT. Lentera Basritama november 2001 / Ramadhan 1422 H.
Mr. Hamid Algadri, Islam Dan Keturunan Arab Dalam Pemberontakan Melawan Belanda (Bandung, Mizan, Cet-3, Dzulqa’dah 1416 / Aril 1996).
Santoso, Iwan. 2004. Tarakan “Pearl Harbor” Indonesia (1942-1945). PT Gramedia Pustaka Jakarta.
 Natalie Mobini Keshes, Hadrami Awakening Kebangkitan Hadhrami di Indonesia, Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2007.
                       
D. Majalah, Jurnal dan Artikel.
Majalah Kisah Islami Alkisah, No.4 / Tahun VI / 11-24 Februari 2008.
Jurnal Kebudayaan Kandil Edisi 3, Tahun I, Desember 2003.
Jurnal Kebudayaan Kandil Edisi 8, Tahun III, Februari- April 2005.
Jurnal Penelitian dan Kajian Keagamaan, Dialog, “Khazanah Pemikiran Ulama Melayu”, No. 64. Tahun XXX, November 2007.
Soegijanto Padmo, Desentralisasi Pemerintahan Daerah Di Indonesia”, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Senin, 2 Juni 2008. diakses 02/06/2008.

E. Tulisan yang belum diterbitkan
Sekilas sejarah tradisi tulis menulis di kalangan orang Bulungan (sebuah tinjauan historis), Oleh: Muhammad Zarkasyi.

F. Tulisan Institusi Lainnya.
            Http: // www.Bulungan.go.id
            Http: // Mas-Sugeng.blogspot.com 
            Http: // www.Asreemoro.com

G. Software.
Hijri Gregorian Konventer. By Adel A. Al-Rumaih, 1996-1997.

Catatan Awal Sejarah Kedatangan Islam di Bulungan [BAB VII]


BUKTI DAN PENINGGALAN ISLAM DI BULUNGAN.

Penulis akan menguraikan satu persatu, bukti dan peninggalan Islam di Bulungan yang masih bisa dilihat dan nikmati sebagai ikhtibar (pelajaran) yang dapat diambil hikmahnya.
Bukti-bukti fisik yang mendukung datang dan berkembangnya Islam di Bulungan diantaranya adalah Makam dan Mesjid. Makam terbagi dua yaitu Makam ulama dan Makam Bangsawan Bulungan. Sedangkan mesjid juga terbagi dua yaitu Mesjid Jami’ Ahmad Alkaf yang kemudian dikenal dengan nama mesjid Jami’ Al Hidyah di Tanjung Selor dan Mesjid Jami Sultan Kasimuddin, khusus mesjid Sultan Kasimuddin juga terdapat benda-benda bersejarah tentang kedatangan dan berkembangnya Islam di Bulungan yaitu berupa Beduk dan Mimbar Mesjid, sebuah meriam Kesultanan yang menjadi “Sembol Ningrat Bulungan” yang dinamakan Meriam Sebenua, serta sisa-sisa reruntuhan bekas istana Kesultanan Bulungan yang terbakar pada tahun 1964 yang berada dalam area Museum Kesultanan Bulungan.

Kompleks Makam Kesultanan Bulungan.
Dalam Laporan Arkeologi yang disusun oleh  Tim Arkeologi yang diketuai oleh Bambang Sakti Wiku Atmojo, diketahui terdapat beberapa kompleks makam, baik makam Kerabat Kesultanan Bulungan maupun Makam-makam Ulama Kesultanan Bulungan. Kompleks-kompleks makam tersebut adalah Komplek Makam Tanjung Palas, Bukit Seriang I, Bukit Seriang II dan Gunung Apit, Salimbatu.
Umumnya ragam hias yang terdapat pada empat kompleks pemakaman Kesultanan Bulungan itu ada empat bentuk, yaitu motif geometris, motif flora-stiliran fauna, motif Kaligrafi huruf Arab serta huruf latin. Secara umum makam-makam bersejarah Kesultanan Bulungan dibagi dua, yaitu:
1). Makam Kerabat Kesultanan Bulungan.
Makam kerabat Kesultanan Bulungan, umumnya paling banyak terdapat di kompleks Makam di Tanjung Palas, Ibu kota Kesultanan Bulungan. Sultan yang dimakamkan di Tanjung Palas adalah Sultan Akhmad Sulaiman (1930-1931), Datuk Belembung gelar Sultan Kasim al-din atau Kasimuddin (1901-1925), dan Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin (1931-1959), di Bukit Seriang II raja yang dimakamkan adalah Si Gaeng gelar Sultan Azzimuddin (1889-1899) dan Ali Kahar gelar Sultan Kaharuddin II, sedangkan yang makam di Gunung Apit diduga adalah makam Sultan Alimuddin (1777-1817). 1
2). Makam Ulama
Makam Ulama Kesultanan Bulungan yang sejauh ini diketahui dan tercatat adalah di Salimbatu adalah Syekh Ahmad  bin Ali Al-Magribi atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Ahmad Al-Magribi meninggal pada sekitar tahun 1833 M, kemudian Said Abdullah bin Idrus bin Umar Bilfaqih yang merupakan generasi ketiga dari Tuan Kali Abdurahman meninggal pada tahun 1882 M, Said Ali bin Idrus Al Idrus meninggal sekitar tahun 1900 M. Sedangan makam Said Abdurachman Bilfaqih disebutkan berada di di Bukit Seriang I.2

Mesjid Bersejarah.
1). Mesjid Jami’ Kasimuddin.
Mesjid Jami’ Kasimuddin merupakan sebuah masjid bersejarah yang dibangun oleh Sultan kasimuddin(1901-1925), seorang Sultan yang sangat dicintai oleh rakyatnya dan dikenal sangat dekat dengan para ulama, beliau amat gigih melawan pengaruh Belanda di Bulungan. Hal itu tergambar dari ucapannya yang sangat terkenal saat ia menghentikan kebiasaan protokoler yang mengharuskan Sultan menjemput di dermaga ketika pejabat Belanda hendak berkunjung ke istana raja:  
“kalau kami sendiri harus menjemput tuan Belanda dari kapal untuk menghadap raja, maka raja mana lagi yang harus dikunjungi, karena saya adalah raja !,“   
Menurut H. E. Mohd Hasan dkk, Mesjid Kasimuddin di Bangun sekitar tahun 1900-an, letaknya sekitar 150 meter dari bekas mesjid lama yang dibangun oleh Sultan Datu Alam Muhammad Adil yang berada di dekat tepi sungai Kayan. Pembangunan mesjid ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat biasa, pegawai-pegawai Mesjid dan staf kesultanan serta langsung dibawah pengawasan Sultan Kasimuddin sendiri.
Mesjid ini memiliki luas 21 X 21 meter dengan model bangunan lama mempunyai tiang penyangga langsung ditengah berjumlah 16 buah yang panjangnya kurang lebih 20 meter dengan besar 25 X 25 cm. Mesjid Kasimuddin memiliki 12 buah daun pintu yaitu: 3 buah daun pintu di depan, 3 buah daun pintu di kiri dan 3 buah di kanan masjid, dan 2 dua buah daun pintu lagi di belakang dekat mimbar menghadap ke kompleks kuburan Sultan Bulungan dan keluarga. Pada awalnya lantainya hanya dilapisi oleh tikar, kemudian dengan biaya Sultan Kasimuddin sendiri lantai tersebut dipercantik dengan tehel (marmer) sampai sekarang. Juga tak kalah menariknya seni kaligrafi Islam, Khat yang sangat indah bisa dijumpai disetiap sisi dalam mesjid bersejarah ini.
Didalam Mesjid Kasimuddin sendiri, setidaknya masih terdapat dua peninggalan bersejarah lain yaitu sebuah beduk dan sebuah mimbar yang berukir. Beduk tersebut sekarang ini tersimpan di teras Mesjid Sultan Kasimuddin, usianya diperkirakan lebih dari 250 tahun namun sampai hari ini kayunya masih bagus. Dahulunya beduk ini pertama digunakan pada masjid pertama Kesultanan Bulungan dikawasan Baratan.3 
Mimbar yang saat ini terdapat didalam Mesjid Sultan Kasimuddin, merupakan mimbar yang cukup tua umurnya, keistimewaan dari mimbar ini adalah ia sepenuhnya merupakan representasi dari seni ukir Bulungan yang begitu indah. Pola hias berupa dedaunan sangat menonjol dihampir semua bagian mimbar terutama pada tangga mimbar, kepala mimbar, bagian dalam mimbar yang semuanya diukir dengan sangat teliti serta dilapisi cat berwarna keemasan, mimbar Mesjid Sultan Kasimuddin merupakan salah masterpiech yang sampai saat ini masih dapat dinikmati keindahan dan keberadaannya. Menurut penuturan sumber lokal, mimbar tersebut dibuat dan dihadiahkan oleh seorang kerabat Kesultanan yang sangat ahli dalam seni ukir Bulungan sekitar tahun 1920-an.
2). Mesjid Jami’ Sayyid Ahmad Al-Kaff 
Mesjid ini tercatat sebagai mesjid tua di Bulungan, jika Mesjid kasimuddin dibangun di Tanjung Palas ibu kota Kesultanan Bulungan, maka mesjid Jami’ Sayyid Ahmad Al-Kaff dibangun di Tanjung Selor, pusat perdagangan dan ibu kota Kabupaten Bulungan saat ini.
Mesjid Ahmad Al-kaff, begitulah dulu orang menyebutnya. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan kaharuddin tahun 1886 M /  1304 H. Mesjid ini dihibah oleh Sayyid Ahmad Al-kaff, “karena Allah ta’ala dan karena Rasulullah” begitulah ucapan beliau, Setidaknya itulah yang diketahui pada surat wakaf yang ditulis oleh Sayyid Ahmad bin Muchsin Al-Kaff sebelum berpulangnya kerahmatullah.
 Surat keterangan berupa pendirian mesjid yang ada pada kita saat ini hanya duplikatnya saja, sedangkan tulisan yang asli dalam aksara arab melayu sudah tidak ditemukan lagi.
Dalam surat wakaf tersebut itu tertulis sebagai berikut:
Di-Bulongan pada 1 hari bulan Rabiul akhir, tahun 1304. bahwa saja Sd. Achamad bin Mohsen Alkaff telah mengaku serta saja lafadzkan dengan saja punja lidah jang saja mewakafkan satu mesdjid serta tanahnja dan apa2 jang ada diatas itu tanah telah mengaku saja Sd. Achmad bin Mohsin Alkaff  jang saja sempurna akal dan baik badan dan tiada terpaksa satu mesdjid djami’ jang telah mashur di-Tandjung Selor jang saja dirikan diatas tanah jang dibeli pada Hadji Abdulkarim bin Hasanuddin orang Bandjar jang tersebut dalam ini surat jang saja telah wakafkan jaitu dari tepi djalan sebelah darat terus membawa kedarat Pandjangnja 1000  kaki dan lebarnja dilaut 66 kaki dan lebarnja didarat 72 kaki dan disebelah ilir itu tanah wakaf, tanah Sjech Ali Bakeran dan disebelah ulunja tanah Abu Jamin dan apa2 jang terkandung diatas itu tanah dari rumah dan pohon2 dan mesdjid dan apa jang terlekat dari tiang2 dan pintu2 dan djendela2 dan perkakas2 seperti tikar dan lampu2 dan tempat2 air jaitu semuanja apa jang tersebut telah saja wakafkan karena Allah Taala dan Rasulullah dan karena sekalian islam wakaf jang kekal sampai hari kiamat tiada boleh di djual dan digadaikan dan tiada boleh mendjadi pusaka sekali2 dan jang kuasa diatas itu saja sendiri tempo saja ada didalam hajat dunia nanti dibelakang saja siapa sadja jang dipilih orang banjak jang patut memelihara itu mesdjid dari  pada orang islam.
Maka waktu saja mengeluarkan perkataan wakaf dari saja punja lisan saja dalam sehat badan sempurna akal dan tiada terpaksa sekali2 dengan suka hati saja sendiri dimuka saksi2 jang tersebut dibawah ini
WAKAFA BILLAHI WALLIJAN WAKAFA BILLAHI  SJAHIDAN.    

Sd. Achmad bin Mohsin Alkaff .

Saksi2.
No. 1. Sd. ‘Umar bin Al ‘Idrus.
                 2. Sd. Abdullah bin Alwier Alkaff.
                3. S. Salim bin Said Bamahsun.

                                Bovenstande handtoekeningen zijn gesteld
                                Zegeninvoordigneid van mij.
                                                                                Contreleur. Te Bulongan
                                                                                                d.t.t
                                                                                tidak terbatja.4
Mesjid ini telah mengalami tiga kali renovasi yang pertama pada tahun 1951, kemudian pada tahun 1979 dan terakhir pada tahun 2008, jika berkunjung ke mesjid ini, kita akan menemukan foto-foto yang mengambarkan perubahan bentuk mesjid dari tahun ketahun, serta sebuah piagam yang informasikan perubahan nama mesjid Said Ahmad Al-kaff menjadi Mesjid Al-Hidayah yang diresmikan oleh H. Soetadji Bupati Bulungan pada tanggal 21 november 1979, namun dikemudian hari nama mesjid ini dikembalikan lagi menjadi mesjid Said Ahmad Al-Kaff.  

Peninggalan-Peninggalan Lainnya.
1). Meriam Sebenua.
Meriam ini merupakan meriam pusaka Kesultanan Bulungan, menurut legenda yang tersebar di masyarakat, Meriam Sebenua adalah sebuah meriam yang dibuat dari kumpulan logam yang di kumpulkan atau di sumbangkan oleh seluruh masyarakat Kesultanan Bulungan atau Sebenua Kesultanan Bulungan, maka itulah disebut Sebenua. Disatukan potongan logam menjadi sebuah Meriam mengisyaratkan tentang bersatunya rakyat Kesultanan Bulungan. Meriam ini dicetak di Brunai dan di bawa kembali ke Bulungan, hal ini di sebab pada waktu itu rakyat Kesultanan Bulungan belum mampu mencetak sendiri meriam tersebut.
Tidak diketahui pasti kapan meriam ini di cetak, namun penulis menduga meriam ini dibawa ke Bulungan pada saat pemerintahan Sultan Alimuddin (1777-1817), dugaan ini disebabkan pada masa tersebut kapal-kapal Bulungan telah mengarungi Laut Sulawesi khususnya disepanjang jalur pantai dari kawasan Tanah Tidung hingga Tawao untuk melakukan serangan balasan terhadap kedatangan bajak laut yang kerapkali melakukan penyerangan ke wilayah Kesultanan Bulungan, ini bersamaan dengan politik penyatuan wilayah oleh Sultan Alimuddin, maka dapat dimengerti keberadaan meriam-meriam ini dibutuhkan sebagai pertahanan kota dimasa itu. Selain Meriam Sebenua Kesultanan Bulungan juga memiliki beberapa buah meriam pusaka lain yang berukuran sedang yang masing diberi nama Melati, Rindu dan Dendam serta dua buah meriam besar polos tipe Eropa.
Informasi yang sangat berharga dapat diperoleh dari tulisan Christian Pelras dalam karyanya “Manusia Bugis”, dalam bukunya ia menyebutkan “… senjata api sudah mulai digunakan pada masa itu adalah senapan (ballili), dan sejenis meriam kecil yang dinamakan lela. Senjata sejenis itu, yang lebih ringan dari meriam biasa, dibawa untuk melengkapi perahu perang, sebagian besar dari senjata tersebut dibuat kuningan yang berasal dari Brunai...”. Masa ini terjadi sekitar abad 18 dan 19 M.5 hal yang menarik lagi adalah jika benar meriam ini dibuat dari kumpulan logam-logam yang disumbangkan oleh rakyat Kesultanan Bulungan, ini artinya masyarakat pada masa itu sudah mampu mengolah logam dengan baik sebagai senjata walaupun belum semahir untuk mencetak meriam, atau mungkin logam-logam ini didapat berasal dari interaksi melaui jalur dagang dengan dunia luar, hal ini tidak sulit bagi Kesultanan Bulungan yang masuk dalam jalur dagang di pantai timur Kalimantan ini. Dimasa lampau Meriam si benua sendiri lebih banyak dibunyikan dalam kegiatan kenegaraan seperti penobatan Sultan maupun pembukaan acara pesta rakyat atau Birau. Bahkan di katakan pula dahulu meriam ini di bunyikan sebagai tanda berbuka di waktu puasa Ramadhan. Sebagai rasa penghormatan pada meriam ini karena nilai historis dan budaya yang dimilikinya, masyarakat Bulungan membungkus meriam dengan kain berwarna kuning. Warna kuning sendiri merupakan warna kebesaran bangsawan Bulungan dan juga bangsawan di dunia melayu pada umumnya.6
2). Museum Kesultanan Bulungan.
Museum Kesultanan Bulungan merupakan salah aset wisata sejarah penting milik masyarakat Kabupaten Bulungan, dibangun tahun 1999 dibekas reruntuhan istana Kesultanan Bulungan yang terbakar pada tahun 1964 dan hanya hanya sebagian kecil yang terselamatkan. Inilah peristiwa yang paling memilukan dalam sejarah perjalanan sejarah Kesultanan Bulungan.
Museum ini memang tidak sebesar Istana yang di bangun pada masa pemerintahan datu alam atau Sultan Khalifatul Alam Muhammad Adil (1873-1875) begitu pula yang dibangun oleh Sultan Djalaluddin (1931-1958), Sultan Bulungan yang ke sepuluh, namun ia merupakan saksi bisu perjalanan sejarah Kesultanan Bulungan dari masa-kemasa.
Pada dasarnya Artefak yang ada di Museum Kesultanan Bulungan yang sempat di selamatkan terbagi dua Jenis yang pertama tipe Asia, tipe ini terbagi dalam 3 jenis sesuai wilayah asalnya yaitu Bulungan-melayu diantaranya seperti hiasan-hiasan dinding berbentuk laba-laba, kalajengking, tapak kaki manusia dan kura-kura, pehiasan pelengkap bagi penari kerajaan atau sebuah Rentaka (sebutan untuk meriam) kecil yang biasa digunakan menghias meja. Ada juga tempat ayunan bayi yang diukir dan sebuah meja yang berhias Mutiara. Kemudian ada Topi dan Baju kebesaran sang sultan yang masih tersimpan begitu rapinya, serta nampan, tempat sirih dan lain sebagainya kebanyakan berbentuk benda-benda dari kuningan dan perak. Kedua adalah gaya Tiongkok, benda-benda tersebut kebanyakan berupa porselin atau keramik, seperti teko, gelas dan piring serta guci-guci mahal nan bersejarah. Dan terakhir adalah gaya Siam, benda-benda yang bergaya Siam atau Thailand hanya ada sebuah yaitu bak mandi berukuran besar yang berbentuk seperti tembikar dengan hiasan khas Thailand yaitu gajah.
Yang kedua tipe Eropa, artefak gaya Eropa inilah yang cukup banyak di temukan didalam Museum misalnya saja ada potongan Keramik yang bergambar Ratu Wihelmina, seperanggkat alat pecah belah berupa piring-piring, gelas, sendok dan garpu bergaya Eropa. Ada juga seperti alat cukur rambut, sikat gigi dari perak, tempat cermin berlapiskan perak dan masih banyak lagi.
Selain barang-barang yang tersimpan rapi didalam Lemari selebihnya ruangan diisi dengan foto-foto Kesultanan Bulungan diantaranya Foto dua Istana yang dibakar, Foto Sultan Kaharuddin, Sultan Kasimuddin (1901-1925), Sultan Djalaluddin (1931-1958), dari berbagai pose, Juga gambar-gambar para menteri terdekat beliau seperti Datuk Muhammad, Datuk Bendahara Paduka Raja, Datuk Perdana dan Datuk Laksamana Paduka Raja. Ada pula foto-foto penting seputar peristiwa pengibaran sangsaka merah putih dihalaman Kesultanan Bulungan pada 17 Agustus 1949, kedatangan Madju Urang seorang utusan resmi pemerintah Republik Indonesia dari Samarinda, serta foto-foto lainnya yang menggambarkan peran rakyat Kesultanan Bulungan dalam mendukung Republik Indonesia.
3). Al-Qur-an tulis tangan dan manuskrip lainnya.
Dimasa Sultan Kasimuddin, salah seorang ulama penting asal Wajo bernama Haji Syahabuddin Ambo Tuo diundang oleh Sultan untuk mengajar Islam pada masyarakat Kesultanan Bulungan, ulama tersebut kemudian menulis Al-Quran tulis tangan yang merupakan manuskrip Al-Qur’an tertua yang dimiliki oleh Kesultanan Bulungan.
Manuskrip ini sayangnya tidak berada di Bulungan, menurut informasi dari pak Ubid Hadruni, S. H, saat ini masnuskrip tersebut disimpan di mesjid DEPAG di kota Samarinda, dan konon merupakan salah satu manuskrip yang selamat pada waktu istana Kesultanan terbakar pada pada tahun 1964.
Salah satu manuskrip yang cukup tua yang pernah penulis lihat adalah koleksi milik Said Mohammad Al-Jufri, beliau pernah memperlihatkan pada penulis, nampaknya manuskrip tersebut berbentuk semacam risalah amaliyah yang disebut “kumpulan sekalian doa-doa” atas nama  Said Abdullah Idrus, Said Muhsin Idrus dan Said Abdurrahman yang ditulis dengan tulisan tangan yang indah dengan komposisi huruf Arab dan Jawi. Sayangnya sampul depan dari manuskrip itu sudah kurang begitu baik lagi karena dimakan usia, jenis kertasnya yang digunakan termasuk yang sudah tidak ditemukan dan diproduksi lagi. Sangat mungkin banyak sekali manuskrip keagamaan yang berada di Bulungan namun tersebar karena milik perseorangan, sayangnya sejauh ini belum ada usaha dari para pemerhati naskah khususnya para Filolog yang mencoba untuk menyusun nomenklatur keagamaan yang ada di Bulungan.[]


1. Laporan Penelitian Arkeologi, Penelitian Arsitektur Makam Raja-Raja Di Wilayah Kalimantan Timur II Kabupaten Berau dan Bulungan. Tanggal 02 s/d 15 Agustus 2000. hlm. 16-27
2.  Ibid. hlm. 28-30
3.  Penulis telah melakukan pengukuran terhadap beduk tersebut pada tanggal 13 Januari 2009 jam 04.20 Wita, hasilnya diketahui beduk tersebut memiliki panjang 274 cm, dengan diameter garis tengah 47 cm, dan memiliki ketebalan kayu sekitar 1 inci atau 2, 4 cm.
Menurut legenda, beduk yang bersejarah ini pada awalnya sempat tertinggal di lokasi awal mesjid pertama di Baratan, kemudian diketahui terbahwa arus air sungai dari hulu, kawasan Baratan sampai ke depan lokasi mesjid Tanjung Palas, oleh para tetua kampong potongan kayu yang sudah jadi ini pun digunakan sebagai tabuh mesjid Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas. Riwayat lain adapula yang menceritakan sebelum beduk ini ditempatkan di Mesjid Kasimuddin saat ini, di hilir Kampung Penisir, letaknya di daerah hulu kampung Baratan, setiap tanggal 15 malam awal bulan Hijriah bertepatan pada malam jumat, biasanya akan terdengar suara pukulan beduk yang berulang-ulang dengan nada yang sangat panjang. Lihat H. E. Mohd.  Hassan, dkk. “Sejarah Masuknya Agama Islam di Kabupaten Bulungan”, (Tanjung Selor: Panitia Abad XV H Kabupaten Bulungan, 26 November 1981). hlm. 6
4. Copy Salinan Surat Wakaf Said Ahmad bin Mohsen Al-kaff tentang Wakaf Mesjid Tandjung Selor / Al-Kaff (Al-Hidayah Tanjung Selor) 1 Rabiul Akhir 1304 H (27 Desember 1886). Disalin dari surat aslinya yang bertuliskan huruf arab melayu dan berbahasa melayu kedalam tulisan latin bahasa indonesia oleh M. Ghodal pada 15 Agustus 1951. Dokumen koleksi pribadi Said Mohammad Al-Jufri.  
5.  Christian Pelras, “ Manusia Bugis”. (Jakarta: Nalar bekerja sama dengan forum Jakarta-Paris, EFEO, 2005. cet 1, Januari 2006). hlm. 301
6. Pada sore hari tanggal 26 agustus 2007. pukul 05.10 PM. Di halaman Museum Keraton Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas, penulis telah melakukan pengukuran terhadap meriam Sebenua. Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mengetahuai ukuran diameter garis tengah dari laras meriam Sebenua.
Kaliber secara umum menyatakan ukuran peluru yang dipakai pada senjata api maupun meriam. Kaliber dilihat dari diameter atau garis tengah peluru, atau dari diameter isi lorong laras. Dewasa ini kaliber dapat dinyatakan dalam inci maupun dalam milimeter. Dalam inci, kaliber disebut dalam desimal dan bisa ditambahkan satuan kaliber "cal". Jadi untuk peluru dengan diameter 0,45 inci biasa disebut .45 cal ("kaliber empat-lima"). Dalam milimeter kaliber tidak diberi satuan cal, untuk peluru 5,56 milimeter disebut 5.56 mm. Dalam pengukuran ini, satuan hitung yang digunakan adalah Inci, data yang terkumpul adalah sebagai berikut: 
Diameter atau garis tengah Meriam Sebenua adalah : 2,5 Inci setara dengan 63,5 mm atau sama dengan 6,35 cm.

Catatan Awal Sejarah Kedatangan Islam di Bulungan [BAB VI]


ISLAMISASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL POLITIK KESULTANAN BULUNGAN. 

1). Jabatan-jabatan dan lembaga politik Kesultanan Bulungan.
Berbicara tentang pengaruh Islam terutama dalam kehidupan sosial politik di era Kesultanan Bulungan tempo doelo bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, disamping lembanganya sudah tidak ada lagi, informasi yang melingkupinya juga ternyata sangat minim.
Kesulitan utama merekonstruksi atau menceritakan kembali tentang lembaga-lembaga maupun jabatan politik yang merupakan “alat pelaksana kekuasaan” Kesultanan Bulungan terutama dititik beratkan pada keterbatasan bahan pustaka yang ada. Dua karya sejarah tentang Kesultanan Bulungan yang menjadi data utama yang digunakan sebagai rujukan penulisan sejarah Kesultanan Bulungan dan digunakan pula oleh penulis untuk merekonstruksi gambaran tentang “alat pelaksana kekuasaan” Kesultanan Bulungan yakni, Copy naskah ketikan Datuk Perdana, “Risalah Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H”, dan “Sejarah masuknya agama Islam di Kabupaten Bulungan” oleh Panitia Abad XV H. Kabupaten Bulungan, Tanjung Selor. 26 November 1981 M / 29 Muharram 1402 karya H.E. Mohd. Hasan dkk, sayangnya tidak memberikan gambaran utuh tentang jabatan atau lembaga-lembaga tersebut, walaupun demikian penulis terbantu dengan sebuah karya orisinil berupa Skripsi yang disusun oleh pak Sugeng Arianto yang berjudul “Kerajaan Bulungan 1555-1953”, memberikan informasi yang kaya tentang kedatangan Belanda serta pengaruhnya di Kesultanan Bulungan sejak Kesultanan ini menandatangani Kontrak Politik 12 November 1850 dengan pihak Kolonial Belanda, walaupun demikian tidak banyak juga informasi yang berhubungan dengan “struktur birokrasi” Kesultanan Bulungan, inilah yang kemudian menimbulkan sederet pertanyaan tentang “alat pelaksana kekuasaan” Kesultanan Bulungan tersebut, yaitu bagaimana tugas pokok dan fungsinya? Apakah gelar yang dimiliki oleh orang-orang terhormat tersebut hanya sebatas gelar kehormatan atau memang fungsional? Dan bagaimana jabatan-jabatan keagamaan di era Kesultanan Bulungan?
Sebagai langkah awal untuk memulai kajian terhadap keberadaan lembaga-lembaga politik diera Kesultanan Bulungan, yang menjalankan perannya “alat pelaksana kekuasaan” Kesultanan Bulungan, penulis mencoba melakukan melakukan analisa terhadap perjalanan sejarah Kesultanan Bulungan, secara sederhana, jika dikelompokan ada pase bentuk jabatan maupun lembaga dalam Kesultanan Bulungan yang pertama jabatan atau lembaga Kesultanan Bulungan sebelum berlakunya Kontrak Politik 12 November 1850 dan yang kedua pasca berlakunya Kontrak Politik 12 November 1850 yang kemudian mengubah Kesultanan Bulungan menjadi Swapraja atau Zelfbesturlanscap. Sebagai sebuah kajian awal, setidaknya jabatan-jabatan maupun lembaga yang telah berhasil diketahui oleh penulis adalah sebagai berikut:
Sultan Bulungan.
Jabatan utama dalam Kesultanan Bulungan adalah kepala negaranya yang begelar Sultan, idealnya seorang Sultan bukan hanya sebagai pemimpin politik namun juga pemimpin agama, dalam hal ini adalah agama Islam sesuai gelar pertama yang dimiliki Wira Amir Sultan pertama Kesultanan Bulungan yaitu Amiril Mukminin yaitu pemimpinnya orang-orang mukmin. itulah sebabnya Sultan bukan hanya sebagai jabatan seorang penguasa semata, tapi lebih dari itu Sultan adalah Imam bagi rakyatnya, karena Sultan menjadi figure pemersatu dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat dalam Kesultanan Bulungan Itulah sebabnya Sultan sebagai kepala Negara dan imam bagi rakyatnya, ia dituntut untuk mampu membawa diri sebagai individu yang memiliki kelebihan dari orang-orang yang dipimpinnya.
Dimasa sebelum Kesultanan Bulungan menjadi Swapraja atau Zelfbesturlanscap, Sultan Bulungan memiliki kekuasaan besar terhadap rakyatnya, terutama di bidang pemerintahan dan hukum. Ini tidak lepas dari perannya sebagai pemimpin yang menjaga dan melindungi serta mensejahtrakan rakyatnya, ia juga berlaku sebagai pelaksana bagi para pelaku pelanggaran hukum, khususnya hukum Islam. Hukuman yang diterima para pelaku dimasa lampau harus ditetapkan oleh persetujuan Sultan yang sebelumnya telah berdialog dengan ulama, hal ini tidaklah mengherankan disebabkan dimasa-masa awal berdirinya Kesultanan Bulungan, para pemimpin selalu berpasangan para ulama baik dalam menjalankan pemerintahan maupun penegakan hukum.
Kekuasaan Sultan sangat dominant, Sultan sebagai penguasa tunggal dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh kerabat Kesultanan dan kepala kaum (suku) yang berada dibawah perlindungannya. Masa-masa kekuasaan Sultan yang sangat dominant tersebut ini terjadi antara masa pemerintahan Sultan Amrilil Mukminin hingga awal masa kekuasaan Sultan Kaharuddin II, barulah kemudian kekuasaan mulai kurang terasa dominant setelah era tersebut, hal ini disebabkan adanya politik campur tangan Belanda dalam kehidupan politik Kesultanan Bulungan yang kemudian membuat kekuasaan Sultan sebagai kepala negara tidak lagi mutlak.  Dalam sejarah klasik Bulungan, diketahui ada sepuluh Sultan yang memerintah dari awal Kesultanan Bulungan didirikan pada tahun 1731 M atau 1144 H sampai tahun 1959 atau 1378 H.
Mangkubumi
Mangkubumi yang juga disebut Wazir, atau dalam istilah birokrasi pemerintah Hindia Belanda disebut dengan Rijksbestuurder atau Regen van Boeloengan, merupakan jabatan politik yang sangat strategis, karena jabatan ini berada satu tingkat di bawah jabatan Sultan, itu artinya Mangkubumi merupakan orang yang dihormati setelah Sultan dalam struktur birokrasi pemerintahan Kesultanan Bulungan tempoe doeloe.
Peran Mangkubumi dalam sebuah lembaga Kesultanan memang sangat strategis, sebagai bahan perbandingan, jabatan Mangkubumi dalam struktur pemerintahan Kesultanan Banjar merupakan salah satu unsur dari Dewan Mahkota, sama seperti di Kesultanan Bulungan, Mangkubumi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Dewan Kesultanan. Tugas utama dari Mangkubumi adalah melakukan fungsi kontrol pada setiap kebijakan atau keputusan yang diambil oleh Sultan.1 Apakah peran Mangkubumi dalam Kesultanan Banjar sama dengan Kesultanan Bulungan? sepanjang yang penulis ketahui, peran itu sebenarnya tidak jauh beda.
Jika kita menelusuri sejarah Bulungan, dapat kita ketahui peran Mangkubumi ternyata memang cukup mempengaruhi keputusan-keputusan politik terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan Azimuddin hingga awal masa Sultan Djalaluddin. Mangkubumi menjadi wakil sekaligus penasehat Sultan yang paling berpengaruh.
Pemangku Kesultanan Bulungan.
Sebagai sebuah Kesultanan muslim, Kesultanan Bulungan menganut “sistem perwalian” sebagai upaya meredam gejolak potensi konflik, jabatan ini dikenal juga dengan nama Pemangku.
 Pemangku dalam Kesultanan Bulungan mengemban tugas untuk mengganti kedudukan Sultan sementara dan mempersiapkan suksesi pemilihan Sultan yang dipilih secara definitif oleh Kerabat Kesultanan Bulungan yang tergabung dalam Dewan Kesultanan. Karena itu jabatan pemangku merupakan posisi yang penting upaya stabilisasi kehidupan politik dalam Kesultanan Bulungan dimasa lampau, bisa dikatakan suara Pemangku memiliki implikasi yang besar terhadap terpilihnya seorang Sultan, karena Pemangku sendiri pada nampaknya merupakan perpanjangan tangan dari Dewan Kesultanan.
Dewan Kesultanan.
Dewan Kesultanan adalah sebuah lembaga dalam kehidupan politik Kesultanan Bulungan, Dewan Kesultanan ini sama seperti Dewan Mahkota dalam Kesultanan Banjar atau Rumah Bicara pada Kesultanan Sulu dan Bima, yaitu sebuah Dewan atau persekutuan yang terdiri oleh para kerabat Kesultanan Bulungan yang memiliki suara dalam upaya suksesi pemilihan seorang Sultan, contoh yang dalam dilihat dalam peran Dewan Kesultanan dalam sejarah Kesultanan Bulungan adalah peristiwa pengangkatan Sultan Kaharuddin II, yang menggantikan kakeknya Sultan Datuk Alam Muhammad Adil yang meninggal dalam belum sempat menunjuk penggantinya, peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1875 M atau sekitar tahun 1292 H.
Disini dapat diambil Kesimpulan awal bahwa Peran Dewan Kesultanan sangat menonjol terutama sebagai lembaga yang bertugas menjaga stabilitas kehidupan politik Kesultanan Bulungan selain sebagai penasehat Sultan dalam menjalankan roda pemerintahan. Penulis memperkirakan Dewan Kesultanan memiliki umur yang sangat tua dalam sejarah Kesultanan Bulungan, sama tuanya dengan Lembaga Adat Bulungan. Sayangnya penulis belum dapat memastikan sejak kapan Dewan Kesultanan tersebut berada dalam struktur utama pemerintahan Kesultanan Bulungan.
Lembaga Adat.
Lembaga adat Bulungan merupakan sebuah lembaga yang memiliki fungsi untuk mengatur tata kehidupan bagi orang-orang Bulungan, terutama kebudayaan dan adat istiadat mereka.
Lembaga adat memiliki peran yang tidak kecil dalam usaha mencegah dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada masyarakat Bulungan, lembaga ini pula yang dapat menerapkan sangsi pelanggarakan bagi orang-orang telah melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai adat yang dianut oleh masyarakat suku Bulungan. apakah lembaga ini masuk dalam institusi pemerintahan dimasa itu atau tidak, penulis belum dapat menjelaskan lebih jauh.
Syahbandar.
Syhbandar merupakan jabatan yang bertugas untuk memungut pajak di pelabuhan milik Kesultanan Bulungan, memang tidak ada catatan pasti yang meyebutkan tentang jabatan tersebut, namun sebagai Kesultanan yang memiliki aktivitas perdagangan, maka dapat dipastikan jabatan tersebut tidak mungkin tidak terdapat dalam birokrasi Kesultanan Bulungan, mengingat pajak sendiri merupakan bagian dari sumber penghasilan dari kas istana pada masa itu.
Keberadaan syahbandar nampaknya memudar setelah Belanda berhasil mengusai pelabuhan Kesultanan Bulungan di Tanjung Selor, apalagi setelah pemerintah Kolonial Belanda menetapkan ketentuan pajak melalui sebuah badan yang disebut dengan Commisie Aanslag, dan sistem pemungutan pajak dikenal dengan nama Collectellon. Di Bulungan, besaran pajak yang dikenakan pada tiap-tiap orang adalah Rp 15 hingga Rp. 25, ditambah 0,75 kemit (picis) untuk tiap-tiap kepala kampung.
Menteri Kesultanan Bulungan.
Menteri Kesultanan Bulungan adalah salah satu unsur penting dari Dewan Kesultanan, tugas para menteri adalah sebagai pembantu Sultan dalam tugas operasional sehari-sehari.
Uraian mengenai menteri-menteri Kesultanan Bulungan dapat dilihat dari daftar nama gelar bangsawan yang keluarkan oleh Sultan Djalaluddin, daftar ini dapat terlihat dalam Museum Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas. 
Namun patut disayangkan, karena minimnya bahan literature pandukung, penulis belum bisa melacak lebih jauh apakah gelar tersebut memang gelar kehormatan saja atau memang fungsional dan menerangkan lebih rinci tugas dan fungsi dari pada jabatan tersebut. Selain Sekretaris Sultan, yang bertugas membantu Sultan dalam hal urusan administrasi dan surat menyurat, pos-pos kementrian lainnya yang ada pada masa itu adalah Datoe Bendahara Padoeka Radja sebagai Menteri I, Datoe Perdana sebagai Menteri ke II dan Datoe Laksamana Padoeka Radja sebagai Menteri ke III.
Kepala Distrik
Kepala Distrik atau Districthoofd merupakan jabatan yang diberikan oleh Sultan kepada orang-orang yang telah ditunjuk untuk melakukan pengawasan serta melakukan pungutan pajak dalam suatu distrik. Jabatan Kepala distrik pertama kali diperkirakan muncul di era Sultan Kasimuddin. Hal ini tercatat cukup jelas tentang wilayah distrik (semacam kecamatan) yang dimiliki oleh Kesultanan Bulungan. Jabatan ini mulai muncul dalam struktur Kesultanan Bulungan setelah meredanya Gerakan sosial di wilayah Kesultanan Bulungan setelah diredam oleh KNIL dibawah komando Kapten J. Cox tahun 1909, karenanya kuat dugaan jabatan ini tidak murni atas atas keinginan Sultan, namun merupakan desakan yang oleh pihak Kolonial Belanda agar memudahkan mereka mengawasi dan memungut pajak diwilayah Kesultanan Bulungan, dugaan ini semakin kuat karena jabatan Kepala Distrik atau Districthoofd mulai berlaku pada tahun 1910.
Kedudukan-kedudukan Districthoofd tersebuat adalah sebagai beriku: (1). Districthoofd Tanjung Palas dingkatlah Haji Datu Mahkota. (2). Districthoofd Sesayap adalah Datuk Bestari. Dan, (3). Districthoofd Sembakung di jabat oleh Andin Kamsah. Kesemuanya diangkat berdasarkan surat keputusan Srie Sultan Bulungan dan kekuasaan Districthoofd Tanjung Palas hanya membawahi wilayah Tanjung Palas saja, untuk Tanjung Selor dan tanah-tanah yang termasuk empat persegi (Virtekand Vaal) beserta penduduknya berada dibawah kekuasaan Gouvernemen Hindia Belanda.2
Kepala Kampung dan Kaptein.
Kepala kampung merupakan jabatan yang paling dekat dengan rakyat, dan merupakan jabatan tingkat bawah dalam struktur pemerintahan Kesultanan Bulungan mereka memiliki kedudukan yang penting sebagai perantara antara Sultan dan rakyatnya. kebanyakan kepala kampong ditunjuk langsung oleh masyarakatnya dan merupakan tokoh-tokoh kharismatik dan penting di kampung tersebut.
Tugas-tugas pokok para kepala kampung pada masa itu berkisar sebagai koordinator pemungutan uang pajak dan penggerak masyarakat pada kegiatan-kegiatan sosial keagamaan dan budaya serta menjaga stabilitas keamanan. di Tanjung Palas saja diketahui ada sekita tiga kampung lama yang menjadi inti wilayah ibu kota Kesultanan Bulungan yaitu Tanjung Palas Hulu, Tanjung Palas Tengah dan Tanjung Palas Hilir. Di tanjung Selor terdiri beberapa kampong seperti Kampung Dagang, Kampung Pasar dan Tanah Seribu, ini belum termasuk kampong-kampung di Seluruh wilayah Kesultanan Bulungan.  
Dimasa lampau, pemerintah Hindia Belanda menerapkan “Kebijaksanaan Pemukiman” yang dikenal dengan nama “Wijken Stelsel”, yaitu sebuah kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah Kolonial Belanda yang dimulai sejak abad ke-XVIII, sebagai upaya menjauhi orang-orang pribumi dari pengaruh perantauan Arab, India dan Cina, yaitu dengan cara menempatkan orang Arab dan Cina dalam perkampungan tersendiri, pada intinya hal ini dimaksud untuk mencegah proses pembauran dengan kelompok pribumi (walaupun sejarah sendiri mencatat kebijakan tersebut gagal diterapkan di Bulungan), hal ini ditopang pula dengan Undang-Undang kependudukan yang tertuang pada Indische Staatsreling, yaitu pembagian masyarakat berdasarkan ras masing-masing yaitu: 1). Europeaanen; 2). Vreemde Oosterlingen (Golongan Timur Asing, termasuk Arab, India dan Cina), 3). Inlanders (pribumi).3 Karena itu dimasa tersebut sempat pula perlaku jabatan “Kapten”.
Jabatan ini hanya berlaku bagi Vreemde Oosterlingen atau golongan Timur Asing yang bertanggung jawab untuk segala hal yang menyangkut ketertiban mereka dan bertanggung jawab pula kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kapten ini pula menjadi penghubung antara pemerintah dengan penduduk Arab atau Cina itu dan menjadi wakil mereka dalam hal-hal yang menjadi kepantingan mereka dalam hubungannya dengan pemerintah Kolonial Belanda. Dalam sejarah Bulungan menariknya jabatan ini ternyata tidak hanya diperuntukan bagi Vreemde Oosterlingen atau golongan Timur yaitu orang  Arab dan Cina saja, tapi juga untuk golongan pribumi atau Inlanders yaitu orang Banjar dan Bugis. Kapten yang diketahui pernah menjabat yaitu Nyo King Song yaitu Kapten Cina, M. Ghodal sebagai Kapten Arab dan Zam-zam sebagai Kapten Banjar, ketiganya berkedudukan di Tanjung Selor, sedangkan Daeng Materuk sebagai Kapten Bugis berkedudukan di Tarakan.4     
2). Islamisasi dalam kehidupan Politik Kesultanan Bulungan.    
Sebagai sebuah Kesultanan muslim, nilai-nilai Islam berkembang dalam lingkungan istana dengan wujud lembaga-lembaga keagamaan, ini artinya selain jabatan non agama, terdapat pula jabatan-jabatan keagamaan dalam Kesultanan Bulungan.
Peran Ulama begitu besar dalam perjalanan sejarah Kesultanan Bulungan dalam mendampingi sultan dalam menjalankan pemerintahan, yang menarik adalah jabatan keagamaan pada Kesultanan Bulungan ternyata memilki kemiripan khususnya dengan Kesultanan Sulu, pada Kesultanan Sulu jabatan keagamaan yaitu Tuan Kali (Qadi tertinggi), Imam, Bilal dan Khatib,5 hal ini nampaknya tidak lepas dari hubungan sejarah antara Bulungan dan Sulu yang sudah lama terbentuk. Diduga kuat Islamisasi dalam bidang politik lama sudah terjadi namun momentum besar terjadi pada dua orang Sultan, yaitu Sultan Datu Alam Muhammad Adil (1873-1875) yang selama berkuasa walaupun tidak panjang menggunakan pendekatan agama Islam karena ia seorang ulama yang menolak keberadaan Kolonial Belanda di Bulungan, dapat dipahami kebijakan itu dikuti atau dilegitimasi dengan keberadaan jabatan keagamaan di Istana. Dimasa dimasa Sultan Kasimuddin (1901-1925) peran pejabat kegamaan mengalami eskalasi atau peningkatan yang signifikan, hal ini disebabkan jabatan keagamaan langsung berada dibawah perhatian penuh Sultan Kasimuddin.
Kesadaran tentang pengamalan nilai-nilai Islam dan digalakannya dakwah Islamiah dan pendidikan Islam dan upaya membangun kesadaran ukhuwah (persaudaraan) Islamiah sangat terasa pada masa-masa tersebut. Dapat dikatakan dizaman beliau tersebut peran pejabat-pejabat keagamaan sangat menonjol, penulis menduga hal tersebut dilakukan sebagai upaya Sultan Kasimuddin maupun Sultan-sultan sebelumnya membentangi rakyatnya dari pengaruh-pengaruh budaya Belanda. Upaya Sultan mendapat sambutan yang begitu hangat dari rakyatnya, disinilah kita dapat melihat bahwa walaupun Sultan tidak lagi memiliki kekuasaan yang besar, namun beliau masih tetap menjadi panutan dan dicintai oleh rakyatnya.
Hal ini sebenarnya dapat dipahami, Sultan Kasimuddin merupakan figur kharismatik karena memiliki kedekatan dengan sejumlah ulama besar sebut saja Said Alwi bin Abd. Rachman Idrus dari Hadramaut, Said. Muchsin Al-Attas dari Bogor dan Said. Bin Said Yamani dari Bogor. Jabatan keagamaan yang berhasil penulis ketahui sebagai kajian awal dalam sejarah Kesultanan Bulungan  adalah sebagai berikut.
Qadi Kesultanan.
Qadi merupakan jabatan keagamaan yang mengurus hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan hukum Islam, terutama dalam hal hukum Munakahat (Pernikahan, Talak dan Rujuk) maupun hukum yang berhubungan dengan masalah pembagian harta warisan (Mawaris). Penulis belum mengetahui pasti sejak kapan keberadaan jabatan tesebut mulai berlaku, namun diperkirakan jabatan ini sudah lama ada dalam struktur pemerintahan Kesultanan Bulungan, ini dapat dilacak dari gelar Said Abdurahman Bilfaqih yang disebut dengan Tuan Kali Abdurahman, beliau dikenal sebagai penasehat keagamaan Kesultanan Blungan dimasa Wira Amir atau Sultan Amiril Mukminin.    
Kedudukan Qadi semakin diperkuat setelah Pemerintah Kolonial Belanda sendiri  mau tidak mau menetapkan mempertahankan peran Qadi dan dilembagakan akibat tekanan yang hebat kaum muslim, khususnya terjadi diwilayah Jawa dan Madura dan bekas wilayah Kesultanan Banjar. Pada tahun 1938, yaitu pada saat berlakunya Staatsblad 1937 No. 638 dan No. 639 peradilan mufti digantikan oleh Peradilan Kadi (Kerapatan Kadi, Kadigrecht), di Banjarmasin dibentuk Kerapatan Kadi Besar (Upperkadigrecht), untuk peradilan tingkat banding.6 Karena itu peran Qadi dalam Kesultanan Bulungan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan Qadi-Qadi yang ada diwilayah lainnya. Namun yang yang menjadi perbedaan adalah, di Bulungan Qadi langsung diangkat oleh Sultan tanpa ada perantara campur tangan Belanda.
Dalam menjalankan tugasnya Qadi biasanya merujuk pada kitab-kitab tertentu yang diakui sebagai standar peradilan agama pada masa itu yang digunakan untuk menyelesaikan permasalahan nikah dan pembagian harta waris. Hukum yang diterapkan adalah hukum fikih; buku-buku rujukan mereka antra lain kitab fikih karangan Al-Bajuri dan Al-Rafi’I. Sedikit catatan dalam Adatrecht Bundels XXVIII, (1927: 416), tentang pengadilan agama di Banjarmasin menyebutkan ada empat buah kitab pegangan yaitu Kitab Fath al Mu’in karangan Zainal al Din al Malaibari, Kitab Khasyiya al Bajuri ‘ala bin Qasim, Kitab Tufta karangan Ibn Hajar, dan kitab Al Nihaya karangan Al Ramli.
Wewenang Qadi sendiri diketahui sama wewenang Mufti sebelum jabatan ini ditiadakan, sesuai dengan Staatsblad 1937 no.638 dan no.638, ialah sebagai berikut: (1) memberikan nasehat pada Landraad atau kepada orang-orang lain yang memerlukannya, berkenaan dengan masalah yang menyangkut agama (Islam), (2). Menjadi ketua pengadilan agama, (3). Pejabat perkawinan (huwelijksbeambte) yang tertinggi disamping berfungsi sebagai wali hakim, (4). Mengangkat dan memberhentikan pejabat-pejabat mesjid dalam wilayahnya, (5). Melakukan pengawasan dan bimbingan atas pelaksanaan ibadah sosial, (6). Pengawasan (algemene beheerd) terhadap harta-harta wakaf dalam wilayahnya, dan (7). Mengadakan pengawasan terhadap guru-guru agama dan kitab-kitab yang digunakannya (Eisenberger, 1937: 628).7 Di bawah ini tugas pejabat agama yang lebih rendah. Sedikit catatan, selain menangani permasalahan perkawinan, Qadi juga berhak menangani permasalahan penetapan pembagian waris. 
Sejauh ini yang penulis ketahui jabatan Qadi di Kesultanan Bulungan pernah dipegang oleh Said Abdurahman Bilfaqih yang bergelar Tuan Kali Abdurahman, Haji Syahabuddin Ambo Tuo dari Wajo, Qadi Haji Baha’uddin dari Padang, Minangkabau dan yang terakhir dijabat oleh Qadi Haji Abdullah.8 
Imam Mesjid.
Imam merupakan jabatan keagamaan yang sangat terpandang, sebagai pemimpin dalam shalat, Imam mesjid, terutama Imam Besar Mesjid Kesultanan Bulungan pada masa lampau ia tidak hanya bertanggung jawab dalam hal administrasi mesjid, namun juga dalam hal pendidikan dan kehidupan sosial keagamaan di masyarakat, seperti pembagian zakat Mal dan zakat Fitrah. Imam Mesjid besar di Kesultanan Bulungan juga bertugas sebagai pejabat perkawinan atau Penghulu. Jabatan tersebut langsung didelegasikan oleh Qadi Kesultanan Bulungan.
Pengangkatan pegawai mesjid sekaligus Imam Mesjid besar Kesultanan Bulungan ini, selain dinilai dari kepasihan bacaan Al-Qur’an, juga dilihat dari segi asal-usul keluarganya. Hal ini disebabkan Imam Mesjid besar Kesultanan Bulungan ini dianggap sebagai cerminan bagi masyarakat yang diayominya, itulah sebabnya apabila pegawai pegawai Mesjid tersebut meninggal biasanya akan langsung dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya.9
Mungkin pula jabatan ini merupakan jabatan yang secara otonom berada diluar pengaruh Sultan secara langsung, ini tidak terlepas dari jauh sebelumnya jabatan ini telah dipegang secara turun temurun oleh orang-orang telah dipilih oleh Sultan pada masa lampu, sayangnya penulis sejauh ini belum dapat mengidentifikasi pohon silsilah para Imam Mesjid besar Kesultanan Bulungan ini, menurut keterangan narasumber yaitu bapak Ubid Hadruni, S. H, salah seorang pegawai DEPAG Kabupaten Bulungan, beliau menceritakan bahwa dimasa lalu Imam Mesjid besar Kesultanan Bulungan bahkan memiliki semacam Surat Keputusan yang langsung ditandatangani oleh Sultan.10
Khatib.
Khatib merupakan jabatan keagamaan yang bertugas melakukan khutbah pada kegiatan keagamaan seperti shalat Jum’at, Idul Fitri, dan Idul Adha serta acara seremonial lain yang berhubungan dengan keagamaan. Para khatib dimasa lalu merupakan orang-orang yang dalam ilmu agamanya karena petuah mereka amat didengar oleh masyarakat Kesultanan Bulungan bahkan oleh Sultan sendiri, maka tidak heran jabatan ini hanya diberikan kepada orang-orang yang paham terhadap ilmu-ilmu agama Islam dimasa itu.
Secara administrasi Khatib berada dilingkungan Pegawai Mesjid Kesultanan Bulungan, ia juga bertugas sebagai penghulu dalam sebuah majelis perkawinan, apabila Imam berhalangan hadir dalam majelis tersebut.
Sampai disini dahulu yang dapat penulis uraikan mengenai struktur birokrsi Kesultanan Bulungan, dengan rendah hati penulis uraikan analisis ini tentunya memilki kekurangan-kekurangan yang tidak lain disebabkan minimnya kepustakaan yang kita miliki yang membahas lebih jauh tentang struktur birokrasi dizaman Kesultanan Bulungan Tempoe Doelo ini. Informasi ini setidaknya menjadi kajian awal yang insya Allah akan diselami lebih dalam lagi oleh penulis dalam kajian selanjutnya diluar buku ini.
3). Islamisasi dalam kehidupan Sosial Kesultanan Bulungan.
Islam tidak hanya mewarnai dalam kehidupan berpolitik pada Kesulatanan Bulungan, tapi juga turut mewarnai dalam kehidupan sosial, ini terlihat dalam upacara  siklus hidup dalam diri tiap orang Bulungan, Islam menyatu dan mewarnai tradisi dalam masyarakat Bulungan terlihat dari upacara Perkawinan, Kelahiran, Kematian dan upacara-upacara lainnya. Selain itu mereka juga menciptakan strata sosial tersendiri, yang sebenarnya merupakan warisan dari moyang mereka. Dimasa lampau tidak semua wanita bangsawan dapat menikah dengan lelaki kaum kebanyakan, namun saat ini nampaknya sistem sosial tertutup seperti itu sudah mulai tidak lagi terlihat.
Upacara siklus hidup orang Bulungan.
Islamisasi di bidang sosial budaya pada masyarakat Bulungan terlihat sangat kental dalam kegiatan siklus hidup, yaitu kegiatan yang dilaksanakan sebagai penanda perpindahan pase kehidupan seseorang, dari pase yang satu ke pase lainnya, upacara siklus hidup yang sudah teradatkan dan sering dilakukan, yaitu masa kelahiran, khitan bagi yang pria, perkawinan dan kematian. Dalam kegiatan atau upacara ini, nilai-nilai Islam ditanamkan, mengakar kuat dan membaur dengan adat istiadat yang baik dimasyarakat.
1). Upacara Kelahiran.
Kelahiran, dalam masyarakat Bulungan, khususnya orang Bulungan, merupakan pase pertama yang paling penting dalam kehidupan manusia. Oleh sebab itu pemberian nama atau tasmiyah, merupakan rangkaian upacara mengawali kehidupan si bayi. Biasanya sebelum memberikan nama, si bayi terlebih dahulu dihadirkan pada orang-orang tetua masyarakat seperti Habib, Penghulu atau orang Alim untuk memberikan pertimbangan nama yang baik untuk si bayi, sebab nama yang baik merupakan doa dan harapan orang tua agar kelak si bayi dapat menjadi pribadi yang baik dan dapat diharapkan bagi keluarga, agama dan masyarakatnya.
Dalam upacara memberikan nama ini, dilangsungkan upacara naik ayun, yaitu menaruh anak dalam ayunan kain. Dalam upacara tersebut para tetua masyarakat seperti Habib, penghulu atau Ustadz, biasanya diminta pula berkatnya menggunting rambut si bayi beberapa helai sambil di tepung tawari.11   
2). Khitan atau Besunat.
Upacara ini merupakan pase penting khususnya bagi anak laki-laki, ia menjadi begitu penting dan menjadi salah satu rangkaian upacar siklus hidup, sebab khitan atau sunatan bagi anak laki-laki menjadi penanda bahwa mereka berhak diakui sebagai bagian penting dari keluarga dan mereka sanggup untuk menanggung kewajiban yang yang ditimpakan padanya, khususnya kewajiban-kewajiban dasar yang berhubungan dengan agama Islam. Selain itu alasan kesehatan juga menjadi faktor lain mengapa khitan ini menjadi begitu penting untuk dilaksanakan. Bagi anak perempuan khitan juga dilakukan pada waktu mereka berumur kurang lebih 1 tahun.
Khitan atau besunat biasanya dilakukan pada usia 7 hingga 9 tahun, biasanya upacara sakral ini dilakukan oleh seorang ahli medis tradisional yang oleh bahasa penduduk setempat dikenal dengan istilah tukang sunat atau penyunatan.
Dahulu ada kebiasaan bahwa anak laki-laki yang akan disunat harus berendam seharian, agar memudahkan proses penyunatan tersebut, menurut orang-orang tua, dimasa lampau khitan menggunakan alat tradisonal yaitu bilahan bambu yang tajam, namun sekarang, khitan biasanya langsung ditangani oleh tim medis yaitu dokter dan asistennya, namun tenaga tradisional seperti ahli sunat atau tukang sunat masih juga sering digunakan, dan bagi yang ahli, biasanya tehnik medis yang digunakan juga tidak beda jauh dengan tenaga medis modern. 
Upacara khitan atau sunatan biasanya dilakukan pada pagi hari, dan upacara selamatannya dilakukan setelah selesai penyunatan. Hidangan yang sering disuguhkan biasanya berupa nasi ketan dengan berbagai jenis kue tradisional.
3). Perkawinan.
Diantara upacara siklus hidup, upacara perkawinanlah yang paling menjadi ciri khas yang menjadi masterpiece atau maha karya yang membedakan orang Bulungan dan suku bangsa lainnya di kabupaten Bulungan ini.
Pernikahan dalam tradisi Bulungan memang sangat unik, tata cara pernikahan ini melewati setidaknya melewati beberapa tahap.
Proses  awal adalah lamaran dan jujuran, dalam bahasa Bulungan disebut dengan Beseruan Mengka Ngantot Sangot, proses awal dari perkawinan adat Bulungan diawali dengan cara melamar dari pihak keluarga laki-laki serta mengatar jujuran disebut dengan Antot Sangot. Dalam acara ini, pihak keluarga laki-laki melakukan pembicaraan dengan pihak keluarga perempuan untuk melakukan peminangan atau dalam bahasa Bulungannya Lungkap Beba atau Beseruan.
Bila pinangan di terima, dan masing-masing pihak keluarga sepakat maka dari pihak keluarga laki-laki menyerahkan sebuah benda berupa meriam kecil yang dinamakan Rentaka. Dimasa lampau jika pihak lelaki adalah anak Sultan, maka jujurannya atau Sangotnya ditambah sebesar 2000 ringgit. Jika sekarang tentunya menggunakan uang Rupiah yang besarnya sesuai kesepakatan keduabelah pihak.
Mengantar jujuran atau Ngantot Sangot dalam adat Bulungan ada tata caranya tersendiri. Setelah peminangan selesai tibalah acara mengantar jujuran tersebut pihak keluarga perempuan menyiapkan potongan balok ulin yang akan dipergunakan untuk melakukan pengujian bahwa jujuran berupa uang ringgit yang diserahkan benar-benar asli. Bila seandainya uang ringgit tersebut palsu, maka kepada pihak lelaki diharuskan menggantinya dengan yang asli.
Selanjutnya setelah tiga hari dilaksanakannya antar jujuran tersebut, calon pengantin pria dibawa kerumah calon pengantin wanita guna mengadakan silaturahmi. Acara ini dimaksudkan untuk saling kenal mengenal antar calon pengantin, dimasa perkenalan ini pengantin pria hanya boleh melihat dengan mencuri-curi pandang saja, tidak bisa bertatap muka secara langsung.
Dimasa lampau perempuan Bulungan yang akan dipinang tidak diperbolehkan keluar rumah, dalam istilah adat Bulungan disebut dengan kenurung atau berdiam diri didalam rumah.
Masa perkenalan calon pengantin pria dan perempuan ini berlangsung antar 7 hingga 9 hari atau bisa lebih. Dalam masa perkenalan ini, masing-masing calon penganting memberi tanda mata berupa cincin sebagai tanda bukti telah melakukan pertemuan.
Setelah acara perkenalan calon pengantin, maka tahap selanjutnya adalah persiapan akad nikah, dimana calon pengantin pria dibawa kerumah pengantin wanita guna dilaksanakan akad nikah tanda resmi sebagai pengantin. Setelah akad nikah selesai, pengantin pria boleh tidur bersama, makan bersama, namun perempuannya masih tetap berkurung dalam sarung tanpa boleh diliat oleh pengantin pria. Pada saat menjelang tidur, pengantin ditemani oleh kedua keluarganya. Setelah acara kawin suruk selama tiga hari tiga malam dilaksanakan, maka pengantin pria kembali dibawa pulang untuk persiapan hari persandingannya.
Sebelum hari persandingan dilaksanakan, maka pada malam harinya dirumah pengantin pria dilaksanakan acara Bepupur atau pupuran yang diisi dengan hiburan musik gambus dan tari jepen. sedang dirumah pengantin wanita diadakan acara Bepacaran atau memakai inai dijari tangan dan kaki yang hanya dapat disaksikan oleh pihak pengantin wanita saja.
Dalam acara bepupur ini, dilakukan acara tukar menukar pupur dan pacar (Inai) antara pengantin pria dan pengantin wanita. Pada acara ini pihak keluarga pengantin pria mengantarkan pupur dan pacar kerumah pengantin wanita, dan pihak keluarga pengantin wanita menukarkan dengan pupur dan pacarnya. Pupur dan pacar tersebut dibawa dengan menggunakan talam yang dilapisi dengan kain kuning serta diterangi dengan lilin. Setelah acara tukar menukar pupur dan pacar, maka acara pupuran dilaksanakan dimana pengantin pria dipupuri secara bergantian oleh tujuh orang laki-laki dan tujuh orang perempuan yang dituakan.
Selesai acara bepupuran, selanjutnya pengantin pria diangkat kekamar secara beramai-ramai dengan menggunakan tikar pandan, kemudian para tamu dan undangan juga ikut bepupur satu sama lainnya.
Konon menurut cerita, bahwa para undangan  dalam acara pupur-pupuran ini sengaja mencara anak gadis dan bujang dengan harapan sigadis atau bujang tersebut dapat lekas menyusul untuk melaksanakan pernikahannya.
Hari berikutnya setelah acara berpupur, maka acara selanjutnya adalah persiapan hari persandingan, dimana pada hari tersebut pengantin pria dibawa keluarganya ke tempat pengantin wanita. Disertai dengan membawa perlengkapan makanan yang dinamakan Seduleng serta perlengkapan pakaian perempuan yang disebut dengan Pesalin.
Pada acara peresmian perkawinan yakni tibanya hari persandingan, pengantin pria diantar oleh keluarga dan kerabatnya disertai pendamping yang berpakaian lengkap dengan membawa Seduleng dan Pesalin.
Tiba dirumah pengantin wanita Seduleng dan Pesalin yang dibawa oleh rombongan pengantin pria tersebut diserahkan kepada keluarga pengantin wanita yang sudah siap menerima dipintu masuk.
Acara selanjutnya sebelum masuk ke pelaminan terlebih dahulu pengantin pria diharuskan menginjak batu gosok serta menggigit pisau dan meminum air yang sudah disiapkan oleh pihak pengantin wanita. Hal ini dimaknai bahwa, pengantin pria setelah memasuki bahtera rumah tangga memiliki hati yang teguh dan tidak mudah goyah terhadap berbagai macam cobaan dan godaan.
Berikutnya sebelum duduk dikursi pelaminan masih ada satu tahap yang harus dilalui oleh pengantin pria yakni membuka tabir atau tirai kain penutup serta Dedap atau kain penutup wajah pengantin wanita. Untuk dapat membuka  tabir atau tirai serta Dedap ini, maka pihak pengantin pria harus menyerahkan sejumlah uang yang diberikan pada Sina Pengantin atau Perias Pengantin, setelah itu barulah membuka  tabir atau tirai serta Dedap bisa dibuka. Dan tahap selanjutnya adalah acara persandingan.
Setelah selesai acara persandingan, maka tiga hari berikutnya atau dalam istilah bahasa Bulungan, Genop Telu Malom, pihak pengantin pria menyerahkan salah seorang dipon atau hamba sahaya, dapat pula diartikan sebagai pembantu kepada pihak pengantin wanita dalam bahasa Bulungan disebut Buka Seluar. Bila tidak ada bisa diganti dengan uang sebesar 250 ringgit.
kemudian setelah acara penyerahan dipon atau hamba sahaya tadi barulah kedua pengantin naik keatas pelaminan, sambil dinyanyikan lagu-lagu Sulai Mambeng, Dindeng Sayeng, dan Sayeng Tuan yang dibawakan oleh para orang tua.  tembang ini dinyanyian hingga sampai menjelang subuh.
Tahap Selanjutnya dari prosesi perkawinan adat Bulungan ini adalah membangunkan pengantin, dalam bahasa Bulungannya adalah Metun Pengantin dengan cara membunyikan alat musik tradisional berupa gendang rebana. Setelah pengantin dibangunkan, maka tahap berikutnya adalah mandi pengantin. Dalam bahasa Bulungan mandi disebut Mendus.
  Pada acara mandi pengantin ini pasangan pengantin didudukan diatas persada atau tangga tujuh tingkat. Sebelum acara mandi-mandian dilaksanakan masing-masing pengantin diangkut, pengantin wanita digendong, dalam bahasa Bulungan disebut Tenanggung. Sedangkan pengantin pria diangkut dengan kursi. Sebelum duduk ditempat pemandian yang sudah disiapkan berupa baki atau talam yang dilapisi kain, pengantin wanitanya dibawa berkeliling mengitari tangga hingga pada tingkat yang paling atas. Barulah acara mandi pengantin dilaksanakan.
Air yang digunakan untuk mandi pengantin berasal dari kawasan Limbu atau Long Baju dengan menggunakan biduk bebandung, serta mereka yang mengambilnya diharuskan menggunakan pakaian pengantin. Air diambil sehari sebelum acara mandi pengantin dilaksanakan yang banyaknya dua kibut atau guci dan diletakan pada tingkat paling atas persada dilengkapi dengan bunga-bungaan.
Rangkaian akhir dari prosesi perkawinan adat Kesultanan Bulungan ini adalah bertamu kerumah mertua, dalam bahasa Bulungan dinamakan Nyengkiban. Acara ini dilaksanakan pada sore hari setelah acara mandi-mandian atau Mendus. Dalam acara nyengkiban ini kedua pengantin disertai keluarga pengantin wanita, dengan menggunakan kereta kencana diarak menuju rumah keluarga pengantin pria.
Sesampainya dirumah keluarga pengantin pria, dilaksanakan acara sembah sujud oleh kedua pengantin, setelah selesai acara sembah sujud tersebut, maka berakhirlah seluruh rangkaian acara prosesi perkawinan adat Bulungan yang sacral dan sarat nilai-nilai budaya tersebut. Selanjutnya seluruh keluarga saling bersilaturahmi.
Sebagai tambahan, pada masa lampau, jika Sultan Bulungan atau keluarga dekat yang melaksanakan hajat perkawinan, biasanya terlebih dahulu dilaksanakan acara pesta rakyat sebagai tanda syukur yang oleh masyarakat Bulungan disebut dengan Birau, acara ini dibuka dengan tembakan salvo dari Meriam Sebenua dengan tujuan seluruh isi kampong mengetahui bahwa ada pesta yang dilaksanakan oleh kerabat Sultan.12
Jika kita mengkaji prosesi perkawinan adat Kesultanan Bulungan ini, tercermin nilai-nilai yang sarat makna, seperti nilai kejujuran, kesabaran, keberanian, kepatuhan terhadap nilai-nilai tradisi yang tidak lain bersandar dari perkawinan nilai-nilai adat dan agama yang diresapi oleh masyarakat Bulungan, inilah yang kemudian melahirkan tradisi adat perkawinan Kesultanan Bulungan yang sakral ini.
4). Kematian.
Upacara kematian merupakan siklus hidup akhir dari perjalanan panjang pengembaraan manusia dimuka bumi ini. Islam yang dianut oleh sebagian besar orang Bulungan begitu mewarnai dalam ritual upara kematian ini, sebab dalam agama Islam telah ada tata aturan tersendiri dalam hal upacara kematian.
Beberapa penelitian arkeologi pada makam-makam bersejarah serta sumber lisan seperti peristiwa meninggalnya ulama Syekh Ahmad bin Ali Al-Maghribi, memberikan informasi penting bahwa setelah kedatangan Islam, orang-orang Bulungan telah lama mengenal tata cara penyelenggaan Jenazah secara Islam dan tidak lagi menggunakan adat istiadat lama. 
Biasaya apabila dalam suatu kampung ada yang meninggal dunia. Maka seluruh warga kampung membantu apa yang dapat dibantu untuk keluarga yang ditimpa musibah. Mereka yang datang melayat, ada juga yang memberi sumbangan sebagai tanda berduka, baik berupa uang, bahan makanan maupun tenaga.
Jika ada seseorang yang meninggal pada waktu sore atau malam hari, pemakamannya dilakukan pada esok harinya. Atau karena menunggu ahli waris atau kerabat yang kebetulan berada di luar daerah terpaksa harus menunggunya. Namun waktu menunggu biasanya paling lama setengah hari atau sekitar empat belas jam, karena menurut agama ajaran agama Islam makin cepat jenasah dikuburkan semakin baik.
Apabila jenazah baru dapat dikuburkan setelah kedatangan ahli warisnya, maka pada malam harinya dilakukan upacara menjagai jenazah. dalam acara itu dilaksanakan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an atau surat Yassin secara bergantian yang pahalanya tersebut diberikan pada orang yang telah meninggal tersebut.[]

1. Jurnal Kebudayaan kandil, Edisi 18, tahun VII, Januari-Februari 2010, hlm. 7
2 . Dt. Mohd. Saleh gelar Dt. Perdana bin Alm Dt. Mansyur.“Risalah  Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H.” t.th. hlm. 6  
3 . H. Hussein Badjerei, “Al-Irsyad Mengisi sejarah bangsa”, (Jakarta: Presto Prima Utama, oktober 1996). hlm. 13
4 . Wawancara dengan Datuk Krama, salah seorang tokoh masyarakat di Tanjung Palas Kabupaten Bulungan, pada tanggal 13 Oktober 2008  
5.  Adrian B. Lapian, “Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX”, (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009). hlm. 176
6.  Prof. Alfani Daud,“Islam dan Masyarakat Banjar; Deskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar”, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997). hlm. 59
7.  Ibid. hlm. 58
8. Nama Qadi Bahauddin yang menurut Informasi berasal dari Padang  Minangkabau, penulis ketahui dari wawancara dengan Datuk Krama, tanggal 13 Oktober 2008.
9. H.E. Mohd. Hasan dkk,“Sejarah Masuknya Agama Islam di Kabupaten Bulungan”, (Tanjung Selor: Panitia Abad XV H Kabupaten Bulungan. t.th) hlm. 11
10. Wawancara dengan Ubid Hadruni, S. H, salah seorang pegawai DEPAG Kabupaten Bulungan, pada tanggal 15 Oktober 2008.
11. Monografi Daerah Tingkat II Bulungan, tahun1976. hlm. 18
12. Datuk Iskandar Zulkarnaen “Hikayat Datoe Lancang dan Putri Kayan”, (Samarinda: Pustaka Spirit, September 2008). hlm. 67-69.