Tuesday, June 16, 2020

Bagaimana Sejarah Kesultanan Bulungan yang ditulis dalam Buku Babon Sejarah Kerajaan-kerajaan Nusantara?


Sumber: Buku Babon Sejarah Kerajaan-kerajaan Nusantara Kesultanan Bulungan, Hal. 282-286

Thursday, May 28, 2020

Pulau Kalimantan dalam peta seratus tahun yang lalu, apa yang ingin kamu kisahkan tentangnya?


Peta Kalimantan yang dibuat sekitar tahun 1902. Sumber Pinteres.
Gambar diatas merupakan sebuah Peta Pulau Kalimantan semasa dibawah pemerintahan Hindia Belanda dan dibagian lainnya dibawah pengaruh pemerintahan Kolonial Inggris. Lalu apa yang menarik dari peta diatas? Peta tersebut menceritakan kondisi politik dan geografi Kalimantan hampir seratus tahun yang lalu.

Poin Pertama kita tengok dulu Peta wilayah Brunei yang berwarna hijau dibagian atas, sudah kawan perhatikan? Ya, wilayah tersebut yang tergambar pada peta itu ternyata tidaklah sama dengan kondisi geografi dimasa ini. Wilayah Brunei benar-benar menyusut drastis akibat kolonisasi Inggris diutara Kalimantan tersebut.

Orang-orang Inggris mulai menjepit Brunei dari dua arah yang pertama seorang Contry Traider bernama James Brook yang berhasil mendapat pengaruh di Serawak, ia bahkan sempat menggertak Sultan brunei dengan membawa sebuah kapal miliknya yang dilengkapi belasan meriam tepat didepan tempat duduk Sultan sebagai alat negosiasinya, yang kedua dijepit dari arah Sabah oleh perusahaan Inggris British North Borneo Company (BNB) dan mendirikan koloni di daerah itu, Brunei dikemudian hari bahkan harus berhadapan dengan Negara baru yang bernama Malaysia dan sempat terlibat konflik perbatasan antara kedua Negara diwilayah Limbang, Brunei sekali lagi mengalah dan tengoklah peta Brunei hari ini, dimana wilayahnya mengecil dan ada celah diantara wilayahnya yang dikuasai oleh Malaysia.

Kedua, Peta Berau tidak berubah sama sekali dalam seratus tahun, mengapa ada yang janggal? Itu tak lain karena ditanah Berau terdiri dari dua buah Kesultanan yang berdiri sendiri dan jejak sejarahnya masih dapat ditemuai hari ini. Yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung, menariknya dalam peta tersebut kedua identitas Kesultanan itu tampak hampir tak terlihat. Seolah-olah Dua Kesultanan yang dijadikan satu.

Saya sendiri pernah mengulas bagaimana Hubungan Berau Bulungan dan latar belakang terpecahnya Kerajaan Berau Kuno menjadi beberapa kesultanan, sila baca link ini :http://muhzarkasy-bulungan.blogspot.com/2020/01/seperti-apa-catatan-sejarah-hubungan.html

Sebagai penyegar ingatan pasca Kerajaan Berau kuno terpecah, wilayanya secara geografi dipisahkan oleh Sungai Segah, dengan rincian:

Sebelah Utara Sungai Berau (Kuran) serta tanah kiri kanan sungai Segah menjadi Kerajaan Gunung Tabur diperintah oleh Sultan Gazi Mahyudin (Sultan Aji Kuning II). Sebelah Selatan Sungai Berau (Kuran) dan tanah kiri kanan sungai Kelay menjadi Kerjaan Sambaliung di perintah oleh raja Alam (Sultan Alimuddin). Kedudukan Pemerintahan di Muara Bangun dipindahkan. Sultan Aji Kuning memilih Gunung Tabur yang terletak di sebelah kanan muara cabang sungai Segah sebagai pusat pemerintahannya dan Sultan Alimuddin Raja Alam memindahkan pusat pemerintahannya di kampong Gayam sebelah kanan masuk sungai Kelay, disebut TanjoengDari sini saja sudah jelas seharusnya ada dua entitas berbeda yang digambarkan dalam peta tersebut.

Ketiga, yaitu gambar pada wilayah Kesultanan Bulungan atau dikemudian hari nanti disebut Kabupaten Bulungan (sebelum dipecah menjadi beberapa Kabupaten dan Kota di Kaltara). Apa yang menarik dalam gambar tersebut, sudah kawan perhatikan? Ya, ada nama Tidoeng disana. Mengapa ini menjadi menarik, menurut catatan sejarah, Kesultanan Bulungan adalah penguasa yang wilayahnya cukup luas hingga keperbatasan wilayah Koloni Inggris di utara. Bagi yang memperhatikan peta lama Kabupaten Bulungan, nama wilayah yang menjadi Kawasan Tidoeng Landens boleh dikata hampir tidak ditemukan lagi pada peta modern tersebut, justru nama tersebut ada pada peta lama yang dibuat hampir seratus tahun sebelumnya. Mengapa bisa seperti itu?

Sebenarnya apa bila dilacak, nama tanah Tidung sebenarnya buka wilayah yang benar-benar baru, dan tentu saja wilayahnya lebih luas dari wilayah Kabupaten Tanah Tidung itu sendiri, catatan sejarah Bulungan sendiri menyebutkan yang dimaknai Tanah tidung adalah sebuah wilayah yang letaknya di Timur Laut dari wilayah inti Kesultanan Bulungan. Dalam catatan sejarah tersebut yang ditulis oleh Dt. Pedana  Ibn Dt Mansyur, Tanah Tidung menjadi bagian dari taklukan Kesultanan Bulungan.


Dalam catatan pemerintahan Belanda, pada tanggal 2 Februari 1877 diterbitkan Ordonantie berupa Staatsblad (surat keputusan) nomor 31 tentang kekuasaan mengatur kerajaan Bulungan yang membawahi Tanah Tidung, Pulau Tarakan, Nunukan, Pulau Sebatik, dan Beberapa pulau kecil di sekitar. Bahkan, Surat Keputusan itu di kukuhkan kembali pada 15 maret 1884 oleh Sekretaris kerajaan Belanda di Bogor. Setahun kemudian pada bulan Juni 1878 disepakati perjanjian kerjasama (Konteverklaring de tweede II) antara Bulungan-Belanda dengan pokok perjanjianya yaitu: Belanda dapat menentukan kebijakan sultan Bulungan termasuk urusan pajak dan Sultan Kaharuddin II terjamin keamanannya.  

Kembali ke pembahasan sebelumnya, mengapa dalam seratus tahun setelah peta tersebut dibuat, Tanah Tidoeng hilang dari peta, bisa jadi hal ini nampaknya akibat warisan administrasi Belanda, baik Kesultanan Bulungan dan Tidung pada awalnya adalah wilayah yang memilki pemerintahan sendiri, memiliki budaya masing-masing walau keduanya adalah kerabat. Belanda menggabungnya menjadi satu dibawah admistrasi dibawah Kesultanan Bulungan. Bagaimana proses penggabungan itu sendiri dan apa implikasinya bagi keduanya, penulis tak dapat menuliskannya pada tulisan ini, mungkin lain waktu. By. Muh. Zarkasyi

Monday, May 18, 2020

Seperti apa Kota Tanjung Selor semasa kecil dahulu?

Lapangan pesawat perintis Tanjung Harapan zaman dulu

Dimulai dari pertanyaan sederhana, tulisan kecil ini sebenarnya bukanlah dikategorikan sejarah, jauh dari itu, lebih tepatnya kenangan atau ingatan baik tentang apa yang saya lihat sendiri, maupun kisah atau cerita yang saya ingat pernah saya dapatkan sewaktu kecil dahulu. 

Pernah Punya Lapangan Golf dan Kolam Buaya
Anak Tanjung pasti ingat momen ini, ya dulu sekali saya sempat melihat pejabat memainkan golf dilapangan yang dikemudian hari terbengkalai dan dijadikan lahan perluasan bandara Tanjung Harapan saat ini, tidak banyak sebenarnya orang yang main golf di kota kecil kami ini, jadi sebenarnya olah raga itu buat siapa?, yang lebih menarik adalah ketika Crocodile Park, semacam tempat hiburan berupa sebuah kolam yang masih berada dilokasi yang sama untuk menampung beberapa ekor buaya didirikan ditempat itu, saya akui kami ini butuh hiburan dan kami tidak punya semacam kebun binatang, jadi buaya-buaya tersebut hiburan yang menarik buat saya pada masa itu, sayangnya tidak bertahan lama, lokasi kolamnya sekarang tidak lagi digunakan dan konon buaya-buaya tersebut sudah dikirim ke Balikpapan. 
Mesjid Istiqomah dengan satu menara
Bila saya ingat-ingat masa kecil saya, salah satu tempat yang sangat familiar adalah Mesjid Raya Tanjung Selor atau Mesjid Istiqomah ini, dulu sebelum ada beton dan perluasan masjid, lokasi ini sangat asri karena padang rumput yang hijau tempat kami biasa bermain pulang sekolah, menara tunggal yang ada dihalaman masjid biasa jadi markas 'rahasia' tempat berkumpul kalau lagi menunggu jemputan pulang, menara itu menarik sebenarnya, karena ada tangga berbentuk spiral sampai keruang atas tempat muadzin bila ingin azan, dimasa saya masjid tersebut bila azan sudah menggunakan mik, jadilah tempat muazin tersebut tersebut lokasi yang paling sering didatangi bila waktu senggang, lagipula pemandangan yang lumayan indah bisa tersaji disana, karena bentuk ruangan itu, seingat saya dilingkari kaca tembus pandang. Oya area lingkungan masjid juga terdapat dua buah pohon beringin kembar disana tak jauh dari jalan besar, gak ada seram-seramnya, malahan jadi tempat mojok kawan kalau sudah menunggu taxi langganan datang.

Banana Bis
Bis Sekolah kami itu, warnanya kuning kaya kulit pisang dan kalau mau naik kami bayar karcis, benar sekali karcis yang dibeli di sekolah, saya lupa 500 atau 1000 rupiah perlembarnya. Keberadaan bis situ, sama seperti hari ini, penting buat kami, karena selain jauh dari sekolah, jarang sekali taxi yang mau mengangkut anak sekolah yang bayarannya sekali naik mungkin sekitar 300 rupiah. 

Sebelum ada Bis, Biasanya buat yang orang tua cukup mampu, disewakan taxi yang melayani antar jemput, kami biasa menyebutnya “langganan’, kebanyakan para supir taxi itu orang baik, kalau saya tidak salah saya sempat naik taxinya Om Kuang warnanya hijau, sempat juga gonta ganti ‘Langganan’ itu, karena bandel, anak-anak kecil seusia kami paling suka buka tutup kaca jendela dan duduk didekat situ, supaya dapat ‘angin’, sialnya dalam beberapa kasus kaca jendela banyak yang rusak jadinya ada juga supir taxi yang enggan menjemput anak-anak sekolah karena terlalu kreatif dalam melakukan aksi ‘betukang’ property taxi.

Gengster di sekolah
Yang namanya Buly membuli sudah ada jauh dimasa saya dahulu, munculnya Kelompok-kelompok siswa yang berasal dari kampung atau kawasan kota tertentu masa saya SMP dahulu tumbuh bak jamur dimusim hujan, anak Kampung Arab dan Buluh Perindu, anak Tanjung Palas dengan jiwa Korsanya sendiri, anak PMD dan kelompoknya sendiri, anak Sabanar dan Selimau yang senasip dan sepenanggungan, dan banyak lagi. 

Palak memalak subur sekali waktu itu, kelompok-kelompok semacam gangster munculah disekolah kami, pemicunya diantaranya sering terjadi keributan antar oknum siswa dalam menegakan harga diri dan nama baik kelompok, rivalitas antara kelompok dalam satu sekolah atau antar sekolah memang saya rasakan cukup kuat sekali waktu itu. 

Rivalitas sekolah paling tua adalah antara SMU dan SMEA (SMK dikemudian hari) yang berlangsung cukup lama, dari mana saya tau? Ibu saya lulusan SPG, beliau bercerita dulu anak SPG selalu ada ditengah-tengah barisan antara sekolah ini bila ada apel dilapangan Ahmad Yani atau Lapangan Bola Andi Tjajuk saat ini supaya tidak berantem, dua sekolah ini sudah lama bersaing baik dilapangan prestasi maupun aksi, maklum dulu  sekitar tahun 80an SMU sekolahnya dekat lapangan Ahmad Yani sebelum pindah ke jalan Kolonel Sutadji jadi cukup dekat dengan sekolah SMEA atau SMK saat ini, rivalitas bertambah seru ketika MAN juga ikut menyusul setelah itu. Saya masih ingat salah seorang senior saya berantem di sekitar lampu merah, sebelum Anak-anak MAN dipindah lokasi sekolah di jalan sengkawit dekat Unikal saat ini. Tentu saja itu, dulu sekali. 

Lapangan terbang dan kisah horornya
Kisah mengenai lapangan terbang dan cerita urban legend-nya menjadi cerita tersendiri buat kami semasa kecil dulu, rumah saya sebelumnya ada di kawasan Tanjung Harapan, orang banyak tidak kenal tempat ini, dan jarang juga waktu kecil taxi mau naik ke rute itu karena cukup sunyi, dikenal juga dengan istilah ‘Gunung”. Dulu lapangan terbang menjadi tempat yang favorit bila sore untuk jogging, bayangkan saja Tanjung Selor dimasa itu, kekurangan ruang public sehingga lapangan terbang jadi pilihan yang paling disukai untuk olah raga sekedar lari-lari, cerita mengenai bandara kecil, dulu bandara perintis, sering dilingkupi kisah mistis. 

Saya jadi teringat cerita abah saya sewaktu muda dulu, sebelum jalur melewati Polres Bulungan dibuat untuk sampai ke ‘Gunung’, ada jalur sepeda sekitar tahun 80an yang memotong jalur dibandara tersebut untuk sampai ke Gunung, jalur itu masih ada tapi sudah tidak aktif lagi. Abah saya sering melihat penampakan api terbang dilokasi tersebut, Ada juga kisah lain yang diceritakan kepada saya waktu kecil dulu, suatu malam seorang ibu pejabat Kodim sempat melewati jalur yang melewati depan kantor polisi menuju kediaman beliau di Gunung, ditengah jalan melihat seorang perempuan butuh tumpangan naik ke gunung, beliau memberikan tumpangan, anehnya setelah melewati Mesjid Almunawarah, perempuan itu menghilang dan tidak tampak lagi dijok mobil belakang, padahal mobil tersebut belum berhenti, ada banyak kisah lainnya yang enggan saya ceritakan pada tulisan ini.

Cerita kecil dilapangan tenis
Ada semacam anekdot atau cerita ketika saya kecil dulu yang mengatakan bahwa bila ada Pegawai yang pandai bermain tenis beliau biasanya akan cepat naik jabatan. Dulu sekali Bupati dikabupaten saya ini pernah memiliki sebuah masa dimana beliau ini dapat bertindak seperti penguasa lokal dan sangat dihormati masyarakat. Ada kisah beliau ini kesukaannya bermain tenis, oleh karenanya dulu tenis merupakan olah raga favorit pejabat, konon deal-deal politik dan jabatan tersaji dilapangan tenis tersebut, tentu saja sekali lagi ini konon, karena cerita itu saya dapat dimasa kecil dulu. Sampai hari ini lokasi lapangan tenis itu masih ada, dan masih terawat dilapangan Ahmad Yani. 

Ke Tarakan Naik Kapal Kayu 
Ini kejadian yang pernah saya rasakan sewaktu kecil sekali dulu, saya sempat merasakan berangkat ke Tarakan naik kapal kayu dari pelabuhan Tanjung Selor, tidak seperti naik Spead yang hanya dua jam, naik kapal kayu durasi lama, kalau ke Tarakan kami singgah di hotel Mesir dan sempat mencicipi Tolaram, tempat permainan yang ngetop dizamannya.

Banjir jadi hiburan
Kalau banjir, orang Tanjung suka sekali, sampai kami yang digunung sengaja turun buat Mandi-mandi banjir. Itu adalah sebuah periode dimana saking senangnya banjir, anak-anak sengaja bawa pelampung buat menikmati suasana banjir. Kami dapat hiburan gratis dari sungai yang meluap itu. masa itu memang menyenangkan.

“Sarang Brimob” dulunya tempat mangkal bis
Bicara soal transportasi antar daerah via darat, biasanya jalur Bulungan-Berau biasanya kami lewat Bis, jangan bandingkan bagaimana mulusnya jalan aspal hari ini dengan periode itu, jalan banyak agregat tanah. Saya masih ingat nama-nama Bis yang saya tumpangi bila hendak ke Samarinda via Berau, dulu ada namanya Bis ‘Bone Indah Jaya’, itu bis perintis, orang-orangnya saya akui berani menjalankan jalur darat yang ekstrim itu, bayangkan saya bila mogok dijalan, para penumpang harus turun mendorong atau menarik bis dari kubangan lumpur, luar bisa. 

Dulu pertama kali saya berangkat menggunakan Bis, pangkalannya ada disekitar jalan Katamso dekat pinggir sungai, sangat sederhana sekali, kemudian pemerintah daerah sempat membangun terminal bis di Kilo 2, sayang sekali sudah tidak beroprasi, selain karena masyarakat memilih naik travel, ada suatu dan lain hal yang membuat lokasi terminal tersebut tidak terlalu didatangi orang, lama terbengkalai dan akhirnya difungsikan sebagai Markas Pasukan Brimob Detasemen “A“ di Tanjung Selor.

Pasar di Jalan Pahlawan
Kalau mau melihat “Tanah Abang van Tanjung Selor”, dulunya ada dijalan Pahlawan. Waktu saya sekolah dulu tempat itu memang ramai karena ada pasar disana, juga Lapakan, tempat berjualan yang elit dimasa itu, kawasan itu memang ramai, semacam distrik perdagangan masa masanya. Tentu saja pasar tersebut pasti sangat ramai, agak kontras dengan lokasinya yang bersebrangan dengan SMK Tanjung Selor, jadi bisa dibilang bila ada yang bolos, tak perlu jauh-jauh mencari para siswa tersebut, cukup cari mereka dipasar itu. Oya kenapa namanya jalan Pahlawan, kerena lokasi itu dulunya makam pahlawan Dwikora yang kemudian lokasinya dipindahkan didekat Lapangan Udara Tanjung Selor hari ini. 

Birau yang Khidmat dilapangan Agatis
Dari kecil saya selalu bertanya dalam hati, kenapa ya kalau ada pameran atau pawai lokasi startnya pasti dari lapangan Ahmad Yani menuju Lapangan Agatis? Ternyata dulu dilapangan Ahmad Yani pernah berdiri Kantor Bupati Bulungan Pertama (sekarang jadi kantor bank BRI) dan ketika dipindahkan ke jalan Kolonel Sutadji, pemerintah daerah juga meneruskan tradisi yang sama yakni memilki halaman yang luas digunakan untuk acara-acara seremonial Kabupaten seperti Birau, makanya lapangan Agatis dibangun bersebrangan dengan kantor bupati lama yang sekarang jadi lokasi kantor Gubernur itu.

Lapangan Ahmad Yani menjadi bagian dari kisah masa muda orang Tua saya, tapi Lapangan Agatis adalah bagian dari kisah masa kecil saya. Saya suka dengan lapangan ini karena acara-acara hiburan selalu dilakukan ditempat tersebut seperti pawai pembangunan dan Birau atau HUT Kabupaten Bulungan dan Kota Tanjung Selor, tempat itu menjadi sesuatu yang sangat fameliar dimasa kecil saya, disana saya melihat bagaiamana sakralnya acara Birau itu, ada tari-tarian kolosal, hiburan rakyat, pameran-pameran pembangunan, lomba-lomba, pasar malam, sampai warung makan. Sayangnya saat saya menyadari ketika kembali kelapangan yang sama itu, mengingat memori masa kecil saya, rasanya ada yang hilang. Lapangan Agatis tidak lagi sesakral yang dulu, saya bahkan tidak bisa melihat Birau lagi ditempat itu, hawa tempat itu sudah terasa berbeda.

By. M. Zarkasyi

Friday, March 13, 2020

Berladang, Simbol Perlawanan Kesultanan Bulungan di zaman Jepang.



Ditangkapanya sejumlah peladang karena sangkaan melakukan kejahatan Karhutla atau kebakaran hutan dan ladang berbuntut panjang, orang-orang turun menuntut dilepaskannya peladang yang ditangkap oleh aparat berwajib.

Kasus kebakaran hutan memang menjadi momok tersendiri setidaknya dibeberapa Provinsi yang terletak di Kalimantan dan Sumatra, walaupun demikian menyalahkan peladang sebagai sumber terjadinya Karhutla, menurut saya tidaklah bijak. Kegiatan berladang, khususnya dikalimantan sudah menjadi kegiatan turun temurun sejak masa lalu, dan tidak pernah terjadi kebakaran massive yang terjadi seperti dizaman ini.

Berbicara mengenai kegiatan berladang, apabila kita menengok sejarah Kesultanan Bulungan, ternyata pernah menjadi semacam symbol perlawanan terhadap pemerintahan Jepang di Bulungan.

Bagaimana bisa? Ketika Jepang berhasil menduduki Tarakan pada bulan Januari tahun 1942, pasukan Jepang dikirim ke daratan Kalimantan untuk memasuki Ibu Kota Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas dan membuat sejumlah pos di Tanjung Selor pada tanggal 05 Februarai 1942 jam 03.00. Kedatangan Jepang disambut baik oleh Sultan Djalaluddin, walaupun baginda sendiri sudah mendengar kabar kekejaman tentara Jepang di Tarakan.

Maulana Muhammad Djalaluddin, Sultan Bulungan yang Ke sepuluh ini tipikal orang yang tidak pernah menunjukan emosinya dihadapan orang lain, sehingga orang tidak pernah dapat benar-benar menebak jalan pikirannya. Menurut penulis sikapnya yang menerima kedatangan Jepang masuk kewilayah Kesultanan Bulungan adalah bentuk pemikiran yang lebih realistis mengingat kondisi pada masa itu.

Pasukan KNIL yang bermarkas di Tanjung Selor, sudah tidak nampak batang hidungnya dihari pertama pasukan Jepang menginjakan kakinya di Tanjung Selor, melawan pasukan Jepang tanpa persiapan matang hanya membawa maut yang sia-sia, demikian nampaknya jalan pikir Sultan Djalaluddin.

Melawan Jepang tentu saja bukan hanya dengan otot semata, jalan lain pun dapat ditempuh agar Survive. Sudah menjadi rahasia umum kekejaman Jepang selama penjajahan, Sikap Jepang tehadap Kesultanan yang ada khususnya di Kalimantan berbeda-beda tak selalu sama, mereka bahkan bisa lebih keji dari penjajah sebelumnya, peristiwa Mandor Berdarah dan penyerangan dan penangkapan pasukan Jepang terhadap petinggi Kesultanan Gunung Tabur dan Sembaliung adalah contoh yang menegaskan hal tersebut.

lalu bagaimana cara meringankan beban pada masa itu, jawabnya ternyata cukup sederhana. Berladang.

Sultan membawa rakyatnya pergi meninggalkan ibu kota dan melakukan usaha membuka lahan untuk menanami tanaman pangan, sehingga membuat suasana kota Tanjung Selor dan Tanjung Palas menjadi agak sepi. Mata-mata Jepang juga tidak menangkap maksud dari Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin sebagai bentuk pembangkangan, sehingga pemerintahan Jepang hanya terpaku di Tanjung Selor.

Peristiwa ini sendiri digambarkan oleh M. Said Karim dalam bukunya, halaman 41

“…Sultan dan para menterinya yang diiringi rakyatnya mengungsi sambil berladang disungai Pimping, Sungai Sebanar, Sungai Selor [ilur kapal], Sungai Sebuda, Sungai Kapuk sambil berpindah-pindah. Berarti pemerintahan hanya dilaksanakan oleh Jepang saja”.

Dimasa tersebut, untuk mengelabui pihak Jepang, para gadis sengaja menggunakan pupur dingin tebal dan mengunyah sirih sehingga tentara Jepang enggan mendekati para gadis tersebut, hal ini dibenarkan oleh seorang penduduk Tanjung Selor, Pak Makarno yang tinggal di PMD sekarang ini, beliau juga menceritakan ketika pasukan Jepang datang mereka menangkapi ayam-ayam penduduk yang tinggal di daerah Jl. Semangka dilokasi asrama yang akan dibangun Kantor Korem sekarang ini, beliau juga mengisahkan bahwa sebuah pos jaga lengkap dengan cermin besar dibuat disekitar Boom atau pelabuhan Tanjung Selor, tiap orang yang melewati pos tersembut harus membungkukkan badan. di Tanjung Selor, Jepang juga membawa kebiasaan untuk melakukan Taiso atau membungkukkan badan kearah matahari terbit, karena mereka percaya dengan keberadaan Dewa Matahari.

Nasib pasukan Jepang di Tanjung Selor dan sekitarnya mengalami kondisi yang buruk ketika pasukan sekutu memburu mereka selepas Tarakan jatuh ke tangan Pasukan Australia, mereka sempat bersembunyi di gua-gua dan yang cukup kuat melanjutkan jalan kearah Apo Kayan dan Long iram, termasuk Kumatsu petinggi Jepang yang menyerahkan bendera merah putih sebelum pamit meninggalkan Tanjung Selor, ditengah jalan banyak dari mereka yang dihabisi oleh orang-orang Dayak, Bulungan dan Tidung dihulu sungai, ada yang apes nasibnya dimakan buaya. 

Demikianlah sekilas bagaimana kegiatan berladang menjadi salah satu jalan bertahan hidup masyarakat penduduk Kesultanan Bulungan di era Jepang. []

Sumber:
Wawancara dengan Pak Muhammad Makarno, Th. 2019
M. Said. Karim, “ Mutiara Abadi [Restruksi Historis Pejuang-pejuang Kemerdekaan Bulungan], Tanjung Selor 2011

Monday, March 9, 2020

Menghidupkan sejarah Bulungan lewat gambar berwarna

Koleksi Foto-foto sejarah Kesultanan Bulungan banyak kita temui di Istana Kesultanan Bulungan. koleksi-koleksi tersebut membawa kenangan tersendiri akan kejayaan dan eksistensi mengenai sejarah Kesultanan Bulungan.

Kebanyak dari foto tersebut merupakan koleksi pribadi atau keluarga yang disimpan disana sebagai aset Museum Kesultanan Bulungan, banyak darinya berwarna hitam putih khas pada masanya, lalu ada usaha untuk "menghidupkan" sejarah dengan membuat Foto-foto tersebut lebih berwarna, penulis telah mendapatkan beberapa koleksi foto hasil bantuan dari komunitas pencinta sejarah yang telah sudi menyisihkan waktunya membantu "mengelir" warna pada beberapa foto-foto tua Kesultanan Bulungan yang bahkan banyak dari generasi muda saat ini jarang menyaksikan keneradaannya di Museum Kesultanan Bulungan yang kita cintai ini. semoga beberapa foto yang penulis lampirkan ini bermanfaat bagi kita, khususnya para pelajar dan penggemar Sejarah secara umumnya.

Suasana persiapan pengibaran Bendera Merah Putih pada 17 Agustus 1949, Tugu putih didepan Istana masih berdiri hingga saat ini, walaupun komplek Istana Kesultanan Bulungan telah hancur ditahun 1964.
Suasana Istana Kesultanan Bulungan yang pernah digunakan sebagai Kantor Pemerintahan Daerah Istimewa Bulungan tahun 1951-1959.
Peristiwa penganugrahan gelar Kolonel Tituler kepada Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin II dihalaman Istana Kesultanan Bulungan.
Foto udara tahun 1947, memperlihatkan bagaian depan halaman komplek Istana Kesultanan beserta jalan besar atau Strat Besar (Strat Kali Kayan).
Suasana keramaian Birau ditahun 1949 di halaman Istana Kesultanan Bulungan, tampak tiang bendera yang dikemudian hari digunakan untuk mengibarkan bendera Merah Putih.
Komplek Istana Kesultanan Bulungan terlihat dari depan Sungai Kayan, yakni dimulai dari Istana Sultan Akhmad Sulaiman, Istana Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, Rumah Betanduk dan Rumah Datuk Bendahara Paduka Radja.
Sebuah pesawat Amphibi yang digunakan untuk memotret lokasi Kompleks Istana Kesultanan Bulungan pada tahun 1947.
Salah satu foto bagian depan kompleks Istana Kesultanan Bulungan, Nampak terlihat patung Singa yang menjadi ciri khas pada masa itu.
Gambar Perahu Naga yang menjadi usungan dalam acara pernikahan Sultan Achmad Sulaiman dan Teuku Lailan Syafinah di Istana Langkat, gambar tersebut telah dikelir ulang dari model gambar aslinya yang masih disimpan di Museum Kesultanan Bulungan.
Boom atau Pelabuhan Tanjung Selor, gambar tersebut diambil sekitar tahun 1949.

Sumber Istimewa.

Tuesday, February 18, 2020

Apakah Sultan Bulungan pernah menganugrahkan gelar kebangsawanan yang apabila pertama kali kamu mengetahuinya membuat kening mu berkerut?



Apabila kita menggali sejarah Bulungan, banyak hal baru yang mungkin saja membuatmu berfikir agak aneh pada awalnya, sayapun demikian, diantaranya ketika saya menjumpai salinan ketikan “Nama Orang Jang Bergelar”, disalin oleh A. Abdurrahim pada Surat keputusan yang ditulis buat oleh Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin bertarikh 21 Januari 1948, yang menarik adalah tulisan dibawah surat tersebut yang menegaskan bahwa gelaran tersebut diberikan kepada sejumlah orang yang wajib “hoekoemnja” digunakan oleh yang bersangkutan dan apabila tidak digunakan oleh individu yang diberi gelar maka ia akan dihukum sesuai adat istiadat Kesultanan Bulungan.

Seperti yang tertulis dalam salinan tersebut, “Apabila Orang2 jang telah mengetahoei hal ini tidak menjeboet gelaran itoe, maka akan dihoekoem denda menoeroet adat istiadat Keradjaan Boelongan”.

Apabila ditafsirkan, nampaknya Sultan memilki maksud agar mereka yang dianugrahkan gelar dapat dikenal luas oleh masyarakat Kesultanan, pun demikian secara tersirat menyampaikan bahwa individu istimewa yang diberikan gelar tersebut selayaknya menjadi pribadi yang menjadi suri tauladan dalam masyarakat adat Kesultanan Bulungan.

Kepada kepada daftar gelar tersebut, apa bila kita inventaris maka akan ditemukan beberapa gelaran yang umum diketahui digunakan oleh para bangsawan atau kerabat Kesultanan Bulungan, paling banyak adalah gelaran Datoe, kemudian ada juga Radja Moeda (ini hanya disandang oleh Putra Mahkota), Adji, Pengiran, Pengian, Dayang dan Andin. Ada juga yang secara khusus seperti Temenggong, Panglima dan Punggawa yang bila ditelisik diberikan oleh Baginda Sultan Sultan Djaluddin kepada orang-orang terkemuka dari kalangan Beroesoe (Berusu).

Dalam tulisan yang dibuat oleh Martinus Nanang dengan judul” Sejarah Penyebaran dan Kebudayaan Suku Bulungan di Malinau”. Hal. 11, memberikan kepada kita sedikit gambaran mengenai gelar kebangsawan Bulungan ini.

“Garis strata sosial Bulungan terdiri dari tingkat-tingkat sebagai berikut: Tertinggi di bawah sultan adalah “Datu”. Hanya keturunan sultan yang bisa menjadi Datu. Jadi status sosial datu adalah adalah “ascribed status” atau status yang diperoleh karena kelahirannya atau hubungan darah dengan orangtuanya. Selanjutnya hanya keturunan Datu yang bisa menjadi Datu dan Sultan. Seorang perempuan keturunan Datu disebut “Aji.” Jika seorang perempuan bangsawan (Aji) menikah dengan lelaki dari golongan non-bangsawan, maka keturunannya bukan bangsawan dan tentu saja tidak bisa menjadi Datu atau Aji. 

Di bawah Datu ada “Pangeran” yang merupakan penasihat atau staf inti sultan. Status Pangeran adalah “assigned status” atau status yang diperoleh karena penganugerahan dan pengangkatan oleh sultan. Jadi anak seorang pangeran belum tentu bergelar pangeran juga. Hanya sultan, melalui perdana menteri, yang memiliki wewenang untuk mengangkat seorang pangeran. Selanjutnya pada tingkat sosial di bawah pangeran ada “Aji” dan “Andin”. Aji juga sebutan untuk keturunan pangeran (laki-laki atau perempuan). Sedangkan Andin sebenarnya diadopsi dari gelar bangsawan Tidung dari Sembakung”. 

Terakhir satu gelaran yang menarik perhatian saya adalah gelar Kimas atau Ki Mas yang merupakan gelaran umum yang digunakan oleh Orang-orang dari Kesultanan Palembang. Tentunya yang menjadi menarik adalah mengapa baginda menganugrahkan gelar yang terdengar asing ditelinga sebagian orang tersebut,  setidaknya terdapat lima orang yang dianugrahkan gelar Kimas, yaitu:

  • 1.     Kimas Arif gelar kepada Enci Mohammad Tanjung Selor
  • 2.     Kimas Moeda gelar kepada Toswao Salimbatu
  • 3.     Kimas (Aji) Kertasono gelar kepada Tardi Pembakal Karang Anyar
  • 4.     Kimas Agoeng gelar kepada Oesoep Sekatak
  • 5.     Kimas Praboe gelar kepada Seman Pembakal Pengian.

Dari kelima daftar gelar Kimas ada dua yang sangat dikenal, yaitu Kimas Arif atau H. Encik Mohammad Hasan dan Kimas (Aji) Kertasono. Sebelum lebih jauh membahas kedua tokoh ini ada baiknya kita mengetahui sedikit mengenai istilah Kimas dan Encik yang akan kita temui dalam tulisan ini.

Gelar Kimas atau Kyai Mas, seperti yang sudah penulis sebutkan sebelumnya merupakan gelar yang digunakan di Kesultanan Palembang yang mendapat pengaruh jawa khususnya  berasal dari pendatang Demak  Ki Gede Ing Suro bin Pangeran Sedo Ing Lautan yang datang ke tanah tersebut yang kemudian hari berpengaruh besar dalam pembentukan Kesultanan Palembang. Lalu bagaimana kisahnya Sultan Djalaluddin menambahkan gelar Kimas dalam daftar Orang yang bergelar dalam Kesultanan Bulungan? Sayangnya bagi penulis masih menjadi misteri, namun yang pasti kelima orang orang bergelar tersebut bisa jadi adalah tokoh yang disegani dimasyarakat namun tidak memilki garis keturunan langsung dengan Kesultanan Bulungan.

Kemudian adalah gelar Encik, gelar ini umumnya dibawa oleh orang melayu perantauan. Di kota Tanjung Selor tidak banyak yang menggunakan gelar Encik ini, dalam sebutulisan yang berjudul “Susur Galur Melayu Bugis”, terdapat keterangan mengenai asal mula gelar Encik Ini.

“Salah satu sumbangan utama orang-orang Melayu di kawasan yang kini disebut Indonesia Timur, khususnya di Sulawesi, ialah upayanya dalam menyebarkan agama Islam dan penyebaran kebudayaan Melayu. Pada 1632, rombongan migran Melayu dari Patani tiba di Makassar. Rombongan besar ini dipimpin oleh seorang bangsawan Melayu dari Patani bernama Datuk Maharajalela. Turut serta dengannya kemanakannya suami istri yang bergelar Datuk Paduka Raja bersama istrinya yang bergelar Putri Senapati. Raja Gowa memberinya tempat di sebelah selatan Somba Opu, ibukota Kerajaan Gowa, karena di sana telah berdiri perkampungan Melayu asal Patani. Sejak saat itu, Salajo diganti menjadi kampung Patani, hingga sekarang.

Tidak dapat diketahui tahunnya secara pasti kapan orang-orang Melayu Patani dan Minangkabau bermukim di Salajo, satu daerah pesisiran Negeri Makassar. Dari beberapa sumber lokal diketahui bahwa orang-orang Melayu mungkin sudah bermukim di Salajo sekitar tahun 1512, tak lama setelah keruntuhan Malaka di tahun 1511.

Datuk Leang Abdul Kadir bersama istrinya, Tuan Fatimah, dikenal sebagai cikal bakal keluarga Melayu asal Patani di Salajo. Sedang Datuk Makkota bersama istrinya, Tuan Sitti, adalah cikal bakal keluarga Melayu Minangkabau dari Pagaruyung di Salajo. Merekalah generasi pertama migran Melayu di Salajo, sebuah perkampungan di Kerajaan Sanrobone, daerah bawahan Kerajaan Gowa.

Pada generasi ke–II Masyarakat Melayu di Salanjo lahir dari perkawinan antara orang-orang Melayu Minangkabau. Ikatan ini ditandai dengan perkawinan Tuan Aminah, Putri Datuk Leang Abdul Kadir dengan Tuan Rajja Putra Datuk Makotta, Generasi ke–III masyarakat Melayu Salajo ditandai dengan penggunaan titulatur “Incek” Ali, “Incek” Talli, “Incek” Hasan, dan sebagainya. Dan sejak saat itulah titulatur “Incek” digunakan oleh orang-orang keturunan Melayu terpandang….”.

Gelar Encik dalam keterangan tulisan tersebut merupakan perpaduan unsur Melayu dan Bugis, dalam sejarah keberadaan orang-orang Melayu yang tinggal menetap sebagai pedagang di Makassar, banyak dari mereka yang bergelar Encik, nampaknya dari sanalah sedikit gambaran asal usul nama Encik ini.

Kembali kepada kedua tokoh bergelar Kimas tadi. Yang pertama adalah Encik Mohammad Tanjung Selor, nama ini nampaknya merujuk kepada Enci Mohammad Hasan yang tinggal tak jauh disekitar kampong Tanah Seribu Tanjung Selor, dekat Langgar Al Inayah. Beliau merupakan tokoh agama yang disegani, pernah pula menyusun Makalah mengenai Sejarah Masuknya Islam di Bulungan sekitar tahun 1981.

Yang kedua adalah Kimas Kertasono, dalam salinan surat yang dibuat oleh Baginda Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, nama yang memegang Gelar tersebut adalah Tardi Pembakal Karang Anyar. Sayangnya tidak banyak sejarah mengenai tokoh bernama Tardi tersebut yang dapat penulis gali lebih jauh dan mengapa ia dianugrahi gelaran penting ini. Yang pasti nama Kimas Kertasono dewasa ini sudah digunakan secara resmi di sekitar kawasan Karang Anyar Tanjung Palas sebagai nama jalan untuk menghormati beliau, hanya saja ada tambahan gelar Aji, sehingga dikenal dengan nama jalan Kimas Aji Kertosono.

Jika kita mau mengupas lagi sedikit ada informasi tersirat yang menarik tentang Kimas Aji Kertosono ini, kata “Pembakal” pada gelar tersebut merujuk kepada istilah jabatan Kepala Kampung, seperti misalnya Datoe Meradjadinda gelar kepada Datoek Kemat Pembakal (Tanjung) Palas Ilir dan Datoe Saboedin gelar kepada Datoe Abai Pembakal (Tanjung) Palas Tengah, begitu pula Kimas Praboe gelar kepada Seman Pembakal Pengian. Pertanyaan tentunya menarik adalah apakah kampung Karang Anyar yang terdapat di Tanjung Palas sudah berdiri sejak era Kesultanan Bulungan? Mengapa hal ini` menarik? Karena mayoritas penduduk Kampung Karang Anyar adalah Orang Jawa dan nama Tardi pun demikian kental dengan Jawa itu. sedangkan seperti diketahui transmigran yang Jawa yang datang ke Tanjung Palas sekitar era Presiden Soeharto pada decade 70 atau 80-an. Jika benar Karang Anyar sudah memiliki Kepala Kampung sendiri, apakah dapat dikatakan sudah terdapat migran jawa sebelum era kemerdekaan atau tepatnya sudah ada diera Kesultanan Bulungan? Saya kira perlu ada kajian sejarah tersendiri mengenai hal tersebut. Jika benar tentu akan jadi temuan yang menarik mengingat sejarah Migran Jawa sedikit sekali yang diketahui tentang mereka khususnya pada era Kesultanan Bulungan. (pen)

Daftar Pustaka

“Nama Orang Jang Bergelar”, disalin oleh A. Abdurrahim pada Surat keputusan yang ditulis buat oleh Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin bertarikh 21 Januari 1948, Museum Kesultanan Bulungan.

Martinus Nanang, “Sejarah Penyebaran dan Kebudayaan Suku Bulungan di Malinau” sebanyak 20 halaman.

Susur Galur Melayu Bugis Lentera Timur : rchive.lenteratimur.com/2012/10/susur-galur-melayu-bugis/.

Monday, January 13, 2020

Revisi: Seperti apa catatan sejarah hubungan Bulungan-Berau, dilihat dari versi sejarah yang ditulis dari sudut pandang pihak penulis Belanda?

Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin II, Sultam Bulungan Ke-X
Baiklah, tulisan ini dapat dianggap sebagai tulisan “pembuka” saja, mengingat tidak banyak studi sejarah mengenai hubungan Bulungan-Berau dimasa lalu. Mendapatkan catatan atau sumber sejarah mengenai isu tersebut tidaklah mudah. Namun saya terbantu oleh oleh sebuah naskah “Tjabutan” yang merupakan terjemahan dari “Kroeniek Der Zuider En Oosterafdeling Van Borneo”, sayangnya naskah ketikan tersebut, yang penulis jumpai hanya mengisahkan periodesasi dari tahun 1800 – 1874. Catatan ini disusun oleh J.Eisenberger pada tahun 1939.

Dalam catatan periodesasi sejarah tersebut terjalin catatan peristiwa yang disusun oleh penulisnya mengenai hubungan Berau dan Bulungan, dalam hal ini penulis hanya mencoba mengambil poin-poin penting dalam tulisan tersebut yang bersentuhan dengan Kesultanan Bulungan saja.

Mari kita mencoba membandingkan antara catatan periodesasi tersebut dengan sejarah versi Bulungan. Ada beberapa poin yang nampaknya dapat kita diskusikan.

1800, “Asal Kerajaan Beraoe terdiri dari Goenoeng Taboer, Sembalioong, demikian joega Batoe Poetih dan Daerah Tidoeng. Pada masa Itoe Boelongan dapat membentuk Kerajaan dan berdiri Sultan sendiri sehingga terlepas dari kerajaan Beraoe”.


Apa bila kita jeli membaca buku-buku tentang sejarah Berau atau yang bersinggungan dengannya, hampir selalu penulis mendapati pembukaan kalimat dimana pada tulisan itu selalu menyebutkan Bulungan adalah wilayah Berau yang melepaskan diri dan membentuk pemerintahan sendiri, artinya dalam versi sejarah Berau secara umum, Bulungan dapat dianggap telah melakukan semacam pemberontakan atau upaya melepaskan diri dari pengaruh Berau. Jika demikian maka ada semacam claim sejarah yang secara tak langsung menyebutkan bahwa Bulungan pernah bagian dari Kerajaan Berau kuno.

Lalu bagaimana dari sisi Bulungan, apakah ada catatan yang  menyebutkan bahwa dari awal Bulungan merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Berau Kuno, sejauh yang penulis ketahui dari buku-buku maupun naskah sejarah yang ditulis oleh penulis dari pihak Kesultanan Bulungan, baik dalam tulisan Datuk Perdana Ibn Datuk Mansyur, H.S. Ali Amin Bilfaqih, HE. Mohd. Hassan, dll hampir tidak pernah menyinggung hal tersebut.

Karya yang cukup berani mengisahkan bagaimana Bulungan pernah “memisahkan diri” dari Berau justru dapat dilihat karya dari H. Dachlan Syahrani, menyebutkan bahwa Bulungan diera Sultan Amiril Mukminin (1731-1777) pernah membangun hubungan diplomatic dengan wakil Kerajaan Berau di Tanah Kuning, selebihnya hubungan Bulungan-Berau hanya diceritakan mengenai pernikahan antara Sultan Alimuddin dengan Istri keduanya Pengian Intan. Pada masa Sultan Alimuddin inilah, Bulungan memisahkan diri dari Berau.

Dalam catatannya H. Dachlansyahrani menulis, hal. 11-12

“…Terjadilah kericuhan di kerajaaan Berau, yakni pertentangan antara kedua Kesultanan berkenaan masalah siapa yang berhak menjadi Raja Berau sesuai dengan perjanjian semula – yaitu secara bergantian memerintah. Pada masa itu yang memerintah Sultan Mohammad Zainal Abidin (1779-1800) dari Kesultanan Gunung Tabur, yang menjadi Raja Berau ke-14. Beliau digugat oleh Sultan Alimuddin Raja Alam (tahun 1810-1852) bahwa Raja Berau ke-15 adalah gilirannya, bukan putra Sultan Mohammad Zainal Abidin, yang bernama Badaruddin seperti yang di Isyukan.

Perpecahan terus memuncak, apalagi penjajah Belanda membantu Gunung Tabur sedangkan Sembaliung di bantu oleh Orang-orang Bugis dan Solok. Didalam kekacauan Kerajaan Bulongan mengambil kesempatan memisahkan diri, terlepas dari Kerajaan Berau, yang diumumkan oleh Sultan Muhammad Alimuddin pada tahun 1800”.

Dalam tulisan tersebut, H. Dachlan Syahrani, memuat gambaran singkat tentang bagaimana Bulungan menjadi Kesultanan mandiri lepas dari pengaruh Kerajaan Berau Kuno yang nasibnya diambang senja akibat konflik saudara tersebut.

Lalu apakah dari pihak Berau terdapat penjelasan yang sama mengenai hal itu?

Menariknya dalam sebuah tulisan yang berjudul, “Tinjauan Historis mengenai Kerajaan Berau (Kuran), gambaran mengenainya ternyata kurang lebih sama.*  

(“…. Pada permulaan abad ke XVII pergantian raja secara teratur dari ayah kepada anak seperti yang terjadi 9 generasi terdahulu tidak terbagi lagi. Masalahnya Aji Dilayas raja ke IX berputera dua orang Pangeran yang berlainan ibu yaitu Pangeran Tua dan Pangeran Dipati. Sesudah Aji Dilayas mangkat kedua pangeran ini, masing-masing didukung keluarga ibunya bersikeras mau menjadi raja.

Akhirnya keputusan musyawarah kerajaan kedua pangeran dan seterusnya, keturunannya berganti-ganti menjadi raja. Pergantian raja secara bergiliran itu adalah sebagai berikut : Oleh penulis sejarah tradisional tidak pernah dicantumkan masa tahun pemerintahan raja-raja itu.

Giliran Pertama ialah Pangeran Tua

Giliran Kedua saudaranya Pangeran Dipati

Giliran Ketiga Sultan Aji Kuning anak Pangeran Dipati

Giliran Keempat Sultan Hasanuddin Marhum di Kuran anak dari Pangeran Tua.

Giliran Kelima Sultan Zainal Abidin kemenakan Sultan Aji Kuning turunan Pangeran Dipati. Menurut Kontler J.S. Krom dalam memorinya, kira-kira tahun 1720 pada pemerintahannya Sultan Zainal Abidin, menerapkan syariat islam di kerajaan Berau. Semasa hidupnya sangat dihormati rakyat. Makamnya dianggap keramat.

Giliran Keenam Sultan Badaruddin menjadi raja pihak keturunan Pangeran Tua melakukan protes, karena turunan Dipati sudah ingkar perjanjian. Mereka sudah empat kali mendapat giliran menjadi raja, sedang turunan Pangeran Tua baru dua kali. Insiden dapat diatasi, pihak keluarga Pangeran Dipati memberikan kompensasi, sesudah habis masa pemerintahan Sultan Badaruddin turunan Pangeran Tua memperoleh giliran 2 kali berturut-turut menjadi raja.

Giliran Ketujuh Sultan Salehuddin turunan Pangeran Tua.
Sultan Amirilmukminin bin Sultan Hasanuddin turunan Pangeran Tua Si Taddan Raja Tua atau Sultan Zainal Abidin II Putera tertua dari Sultan Badaruddin turunan dari Pangeran Dipati. Beberapa tahun ia memerintah, raja ini ditimpa penyakit cacar yang sangat parah. Ketika sembuh dari penyakitnya itu, ia berbicara seperti orang bisu sehingga perkataannya tidak dapat dipaham. Hasil kesepakatan orang tua-tua kerajaan, raja harus diganti. Pada waktu menentukan giliran siapa diantara turunan kedua pengeran itu akan menggantikan Si Taddan Raja Tua, terjadi kericuhan.

Bulungan dan Tidung Memisahkan Diri Membentuk Kesultanan Sendiri. Karena terjadinya kericuan dan insiden pada waktu menetapkan giliran siapa yang harus menjadi raja dari kedua keturunan pangeran itu, kekuasaan pusat pemerintahan yang berkedudukan di Muara Bangun hampir tiada berfungsi lagi. Dalam situasi yang tidak menentu itu, daerah Bulungan dan Tidung berkesempatan melepaskan diri dari kesatuan wilayah kekuasaan Berau dan membentuk kesultanan sendiri pada tahun 1800.

Wilayah Inti Kerajaan Berau Terpecah Dua Pemerintahan kerajaan Berau terpaksa harus pasrah kasus Bulungan dan Tidung, karena segala tenaga dan pikiran mereka dipusatkan untuk mengatasi kekacauan perebutan kekuasaan antara turunan Pangeran Tua dan Turunan Pangeran Dipati. Gazi Mahyudin adik Sultan Zainal Abidin II bersikeras menggantikan kakaknya yang sakit-sakitan itu alasannya kakaknya baru beberapa tahun menjadi raja. Raja Alam Putera Sultan Amiril Mukminin turunan Pangeran Tua, merasa lebih berhak mendapat giliran menjadi raja, alasannya turunan Pangeran Tua baru empat kali. Suasana semakin tegang, yang mengakibatkan terjadinya insiden di beberapa tempat. Musyawarah kerajaan dan kedua keluarga Pangeran, karena hampir setiap giliran yang akan menjadi raja, timbul persengketaan yang berbahaya bagi kelangsungan hidup kedua keluarga itu, dapat memutuskan lebih akan bermanfaat wilayah itu dibagi atas kesultanan.

Pertama : Sebelah Utara Sungai Berau (Kuran) serta tanah kiri kanan sungai Segah menjadi Kerajaan Gunung Tabur diperintah oleh Sultan Gazi Mahyudin (Sultan Aji Kuning II). Kedua : Sebelah Selatan Sungai Berau (Kuran) dan tanah kiri kanan sungai Kelay menjadi Kerjaan Sambaliung di perintah oleh raja Alam (Sultan Alimuddin). Kedudukan Pemerintahan di Muara Bangun dipindahkan. Sultan Aji Kuning memilih Gunung Tabur yang terletak di sebelah kanan muara cabang sungai Segah sebagai pusat pemerintahannya dan Sultan Alimuddin Raja Alam memindahkan pusat pemerintahannya di kampong Gayam sebelah kanan masuk sungai Kelay, disebut Tanjoeng. Sesuai dengan keputusan Seminar Hari Jadi Kota Tanjung Redeb tahun 1992 peristiwa itu terjadi pada tahun 1810, sepuluh tahun sesudah Bulungan dan Tidung memisahkan diri.

Sultan Raja Alam Alimuddin inilah sultan pertama dari Tanjung yang kemudian bernama kerajaan Sambaliung, sedang ayahnya Sultan Amiril Mukminin atau marhum di Rijang (sungai kecil dekat kampong Gurimbang) adalah raja giliran ke IX kerajaan Berau. Gazi Mahyudin atau Sultan Aji Kuning II, sultan pertama dari kerajaan Gunung Tabur sedang kakaknya Raja Tua Si Taddan (Sultan Zainal Abidin II adalah Raja Berau giliran ke X….”)

Demikian versi mengenai sejarah awal Kesultanan Bulungan dari sudut pandang sejarah Berau yang ternyata oleh penulis Belanda diyakini kebenarannya, komentar mengenai hal tersebut terlontar dari tulisan seorang ilmuan Belanda bernama H. J. Grizen seperti berikut :

“Pada zaman dahulu beberapa Kepala Pemerintahan di daerah Kalimantan Utara Berasal dari Berau sebelum Berau terpecah menjadi dua kerajaan, Bulungan dan Tidung termasuk wilayahnya. Bahkan kerajaan Alas dan Tungku yang sekarang diduduki Inggris, termasuk kawasan Berau.
____________________________________________________________________
1839, “Sedjak Boelongan beradja dengan sendirinja, perhoeboengan dengan Goenoeng Taboer, ja’ni radja jang asal memberi hak kepadanja, selaloe baik sahadja, tetapi berhoeboeng dengan pertjek tjokan yang disebabkan oeroesan perkawinan dalam tahoen 1839 maka perhoeboengan jang baik ini menjadi perselisihan”.

1866, “Perselisihan antara Goenoeng Taboer dengan Boelongan jang sejak beberapa tahoen lamanja, dengan perantaraan Assisten Residen dari Samarinda dapat didamaikan”.


Pada kedua poin catatan laporan mengenai Bulungan pada tahun 1839, menarik untuk di perhatikan, disebutkan bahwa hubungan antara Bulungan dan Gunung Tabur baik-baik saja sebelum sebuah masalah yang berkaitan dengan perkawinan mejadi penyulut masalah antara kedua Kesultanan tersebut.

Apabila kita melakukan pengecekan ditahun tersebut, bertepatan pada tahun memerintahnya Aji Muhammad atau Sultan Kaharuddin I, pada masa kepemimpinannya diperiode pertama, sejauh yang penulis tahu tidak ada catatan pasca Sultan Alimuddin, tentang perkawinan antara kedua kerajaan seperti yang ditulis dalam laporan tersebut, apakah ada bagian dari catatan sejarah Bulungan yang tidak menyebutkan peristiwa tersebut? Saya kurang tahu pasti. Namun satu hal yang pasti, dalam catatan yang dibuat oleh Adrian B. Lapian dalam bukunya berjudul Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX Hal. 214, (Kol. Archief, 30 Oktober 1863, no. 31 NA) beliau menuliskan tentang peristiwa perang antara Kesultanan Bulungan dan Gunung Tabur, Penulis menyusun informasinya sebagai berikut.

Pemerintah Kolonial Belanda sendiri dikejutkan dengan keberadaan berita yang mengisahkan tentang konflik antara Bulungan-Gunung Tabur, berita tersebut berasal dari Surat Asisten Residen Kutai bertanggal 15 Oktober 1862)

(…” Saat terjadinya hubungan yang sempat memanas antara Kesultanan Bulungan dan Gunung Tabur pada tahun 1862, petualang Inggris juga melibatkan diri dalam hal ini, kapten kapal niaga berbendera Inggris Swan, William Lingard berpihak pada Gunung Tabur atas permintaan Sultan dari kerajaan tersebut. William Lingard dikenal sebagai seorang nakhoda yang berpengalaman dan sering berlayar antara Singapura, Bali, Lombok dan pantai timur Kalimantan. Atas jasa-jasanya tersebut ia diberi gelar Raja Laut, menurut laporan 4 Maret 1863, gelarnya adalah ‘Pengeran Laut, Kapitan Berau’. Peristiwa ini disertai pula dengan tembakan kehormatan dan pemberian sebuah Mandau beserta tombak yang bertahtakan emas sebagai ‘Barang Kerajaan’. Belanda dibuat cemas karena ada berita yang menyebutkan bahwa Sultan menyerahkan sebidang tanah pada William Lingard tempat ia mendirikan rumah dan gudangnya. William Lingard nampaknya ingin mengikuti jejak James Brook, namun Belanda dengan cepat mengirim utusannya untuk mengadakan penyelidikan, disamping itu kunjungan kapal perang Belanda secara berkala didaerah tersebut membuat William Lingard tidak mungkin melanjutkan rencananya”).  

Pada laporan tersebut disampaikan bahwa terjadi konflik dimulai pada tahun 1839 , sempat terjadi konflik terakhir yang dimulai pada tahun 1862 dan baru Selesai 1866, memberikan pemahaman menarik mengenai konflik perbatasan yang berawal dari masalah perkawinan yang terjadi hampir 27 tahun lamanya, dan konflik terakhir Kesultanan Gunung Tabur bahkan sampai harus meminta bantuan seorang petualang Inggris, seorang Kapten Kapal bernama William Linggard untuk memimpin Angkatan Laut Gunung Tabur. Lamanya 27 tahun bukan waktu yang pendek, ia juga dapat digambarkan bagaimana tangguhnya Armada Kesultanan Bulungan yang baru berdiri menghadapi Kesultanan Gunung Tabur waktu itu. Jika kita menoleh kebelakang, Armada kesultanan Bulungan di bangun di era Sultan Alimuddin, armada tersebut pernah dikerahkan untuk memukul posisi bajak Laut di Tawau dibawah pimpinan Laksaman Muda Nik, putra lain dari Sultan Alimuddin, siapa sangka armada yang sama dikemudian hari digunakan pula dalam konflik beberapa kali yang berhadapan dengan kekuatan luar seperti Gunung Tabur yang ingin meluaskan wilayahnya.  

Sayangnya pasca perdamaian ditahun 1866, tidak pernah lagi terdengar mengenai Armada Laut Kesultanan Bulungan tersebut, disinyalir Armada Kesultanan dibubarkan pada akhir konflik tersebut sebagai bagian dari konpensasi perjanjian bersejarah antara Bulungan dan Belanda yang salah satu poinnya menyebutkan bahwa “Belanda mengusai Sungai-Sungai, muara dan laut yang berada diwilayah Kesultanan Bulungan dan sebagai gantinya menjamin keamanan bagi Kesultanan Bulungan”

Masih banyak pertanyaan belum terjawab, misalnya seberapa banyak Kapal-kapal dan perahu milik Angkatan Laut Bulungan yang dihasilkan dan berdinas pada periode itu? Bagaimana struktur Komandonya? Siapakah Laksama terakhir yang memimpin pertempuran pada konflik panjang tesebut? Bagaimana mereka mendapatkan mesiu dan persenjataan pada periode tersebut? Dimana gudang senjatanya? Bagaimana komposisi awak kapalnya?, Apakah meriam-meriam kecil yang disimpan di Museum Kesultanan Bulungan tersebut pernah digunakan dalam konflik laut tersebut? dan banyak lagi yang menjadi misteri yang belum terpecahkan. Yang pasti, bahwa Kesultanan Bulungan pernah memilki pasukan yang berorientasi laut dapat dirasakan pada penyematan gelar pada salah menteri di era Sultan Maulana Mohammad Djalaluddin yaitu Menteri Ketiga, Yakni Gelar Laksamana Setia Diradja. Tentu saja dimasa Sultan Terakhir itu Sultan tidak memiliki pasukan Laut, hanya Opas saja, namun gelar itu secara simbolik mengingatkan pada masa jayanya Kesultanan Bulungan memang pernah memilki Armada Laut yang tangguh.
__________________________________________________________________
1873, “Dalam Tahoen 1873 Sultan dari Boelongan telah mangkat dan diganti oleh toeroenan jang berhak”.

1874, ”Setahoen kemoedian dalam boelan April 1874 di Boelongan berhoeboeng dengan tida ada pengganti Sultan djang sah, maka banjak candidaat2 mengemoekakan dirinja, sehingga hampir terdjadi perang saudara oentoenglah toean Assisten Resident dari Samarinda (boleh djadi- G.G Villenneuve) dapat segera menjelesaikan dan sebagai penggantinja diangkat Datoe Maulana dan dalam boelan April 1875 diakui sjah oleh Gouvernement”.


Pada poin laporan tarakhir yakni pada tahun 1873 dan 1874, disebutkan bahwa Sultan Bulungan telah mangkat dan penganggantinya yang sah telah siap diangkat menjadi Sultan Bulungan.

Tahun 1873, merupakan tahun kemangkatan bagi baginda Sultan Kaharuddin I Bin Sultan Alimuddin. Peristiwa bersejarah ini menjadi peristiwa penting bagi Bulungan, karena kehilangan pemimpin yang mampu bertahan dari usaha agresi pihak luar. Dan seperti yang digambarkan pula dari poin tersebut, ternyata putra mahkota yang akan disiapkan naik tahta tidak cukup umur. Sehingga diangkatlah Sultan Datu Alam Muhammad Adil atau Muhammad Khalifatul adil Bin Maoelana selama tiga tahun dan mangkat di tahun 1875 kemudian digantikan oleh Sultan Muhammad Kaharuddin II Bin Maharaja Lela hingga tahun 1889.**

Pada laporan yang ditulis pada poin diatas, disebutkan Datoe Maoelana disyah oleh Gubernur Belanda pada April 1875, laporan ini agak ganjil bagi penulis karena tidak dijelaskan siapa Datoe Maoelana tersebut. Selain itu laporan itu memberikan gambaran bahwa terjadi kekosongan kekuasaan di kesultanan Bulungan pada akhir periode setelah Mangkatnya Baginda Sultan Kaharuddin I di tahun 1873 hingga bulan April 1875, apabila kita kembali melihat versi sejarah Bulungan kekosongan kekuasaan tidak terjadi dimasa tersebut. Karena hal tersebut penulis belum dapat memahami laporan yang mengisahkan hampir terjadinya perang saudara antara Kesultanan Bulungan pada periode tersebut.

Penutup.
Demikian tulisan ringan yang penulis buat sebagai analisis awal mengenai hubungan sejarah Bulungan-Berau berdasarkan poin-poin laporan yang ditulis dalam “ Naskah Tjabutan” yang merupakan terjemahan dari “Kroeniek Der Zuider En Oosterafdeling Van Borneo”, tentu saja sebagai tulisan “ringan” jauh dari kesempurnaan, semoga akan ada informasi tambahan atau analisis lainnya, yang bisa menyempurnakan dan menambah khazanah dari tulisan ini. Terimakasih.

Note:
* Pertanyaan yang tak kalah menarik untuk disodorkan adalah,  bagaimana awalnya Bulungan dalam konteks sejarah Berau dianggap sebagai wilayah yang pernah menjadi satu naungan dibawah pengarah Kerajaan Berau? Ternyata salah satu pejabat Belanda pada waktu itu bernama J.S. Krom pernah meminta bantuan pihak Kesultanan Gunung Tabur dan Sembaliung untuk menyusun sejarah Berau, maka disusunlah tim kecil yang terdiri dari kedua pihak yakni: Klerk Lauw. Aji Berni Masuarno juru tulis kelas 1 Datu Ullang putera dari Sultan Amiruddin Sambaliung, Aji Raden Ayub putera dari Sultan H. Siranuddin Gunung Tabur dibantu beberapa magang seperti Abdul Wahab, Adam, Khirul Arip.

Berdasarkan data-data otentik yang dapat dihimpun dari kedua kerajaan itu serta naskah-naskah tradisional milik perorangan, berhasil disusun sejarah Berau.

Secara ringkas dalam tulisan tersebut, tim penulis menyebutkan bahwa wilayah inti yang membentuk kerajaan Berau kuno (Kuran) terdiri dari lima Nagari atau Benua dan 2 kampung. Saya tidak membahas mengenai kesemua nagari atau benua penyusun wilayah inti kerajaan tersebut, perhatian saya berfokus pada informasi mengenai salah satu Banua tersebut, yaitu Nagari Marancang yang disebut paling pertama dari wilayah tersebut, dengan ulasannya yaitu:

Nagri Marancang. Kepala Nagri atau Orang tuanya bernama Rangga Si Kannik Saludai. Pengarappan atau Punggawanya Bernama Harimau Jantan, Lambu Tunggal dan Kuda Sambarani. Wilayah kekuasaannya dari Bulalung Karantigau, Kubuan Pindda, Mangkapadi, Bulungan Selimbatu, Sekatak Buji, Sekata Jelanjang, Betayu, Sesayap, Simangarris, Tawau, Segarung, Talluk Silam dan Kinabatangan berbatasan dengan Brunei.

Perhatikan nama-nama wilayah yang saya garis bawahi, cukup familiar bukan? Beberapa nama tersebut masih bisa kita temukan sampai hari ini. Hubungan sejarah Bulungan-Berau layak dikaji lebih dalam lagi.

**Posisi Sultan yang diisi oleh Sultan Datuk Alam Muhammad Adil dari tahun 1873 dan mangkat di tahun 1875, merupakan Bulungan pertama yang berasal dari Wangsa / Keturunan Maulana. Maulana adalah nama bagi putra Sultan Alimuddin dari pernikahannya yang pertama dengan seorang bangsawan Tidung Aji Aisyah / Aji Isa. Maulana kemudian menjadi Penguasa Lokal di Salimbatu, bekas Ibu Kota Kesultanan Bulungan yang dibangun diera Sultan Bulunga yang pertama, Sultan Amiril Mukminin 1731-1777.

Ketika ibu kota dipindah ke Tanjung Palas, setelah mangkatnya Sultan Alimuddin, Sultan Kaharuddin I menjadi penguasa dan diteruskan oleh anak cucu beliau yang kemudian menjadi bagian dari Wangsa Kaharuddin I atau Aji Muhammad (Simad). Sultan kaharuddin sendiri merupakan penerus tahta yang berasal dari pernikahan Sultan Alimuddin dengan bangsawan Berau yakni Pengian Intan yang berkedudukan di Tanjung Palas. Jadi baik Maulana maupun Sultan Kaharuddin I merupakan saudara lain ibu, yang kemudian hari memiliki pengaruh yang menentukan dalam perjalanan sejarah Bulungan.

Pasca Datuk Alam Muhammad Adil, kepemimpinan Setelah itu diteruskan oleh kemenakan beliau, Sultan Kaharuddin II yakni putra dari Maharaja Lela hingga tahun kemangkatan beliau pada tahun 1889. Jadi ada dua Sultan dari Wangsa Maulana yang menduduki jabatan Sultan dari periode 1873-1889, Maharaja Lela memilki hubungan saudara dengan Sultan Datu Alam Muhammad Adil. Pasca tahun 1889, Wangsa Kaharuddin I memegang kembali tahta Kesultanan Bulungan, sejak saat itu Wangsa Maulana hampir tidak pernah lagi menduduki jabatan Sultan setelah itu.

Sumber Pustaka
“Naskah Tjabutan” yang merupakan terjemahan dari “Kroeniek Der Zuider En Oosterafdeling Van Borneo”.

Copy naskah ketikan Datuk Perdana, “Risalah Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H”, t.th

Ali Amin Bilfaqih, H. Said. 2006. “Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa”. Tarakan : CV. Eka Jaya Mandiri.

Dachlansjahrani, H. 1991. “Beberapa Usaha Menemukan Hari Jadi Kota Tanjung Selor”.

Adrian B. Lapian, Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Th. 2009.

Mika Okushima “Latar Belakang Etnis Tidung: Penyelidikan terhadap kerajaan-kerajaan kuno di pesisir Kalimantan timur laut. Th. 2002

Sejarah Berau, Tinjuan Historis Tentang Kerajaan Berau Kuran, diposting 31 May 2008, jam 20:53, By. www.betalphi.com/index.php/library/7-bks.