Wednesday, April 20, 2011

Selayang Pandang Hikayat Orang Kayan.


(lelaki Kayan dengan pakaian khas mereka).

Orang Kayan, begitulah nama yang disematkan pada diri mereka, Orang Kayan merupakan salah satu dari suku bangsa yang berdiam di kabupaten Bulungan ini, namun sayang pengetahuan kita tentang merekapun bisa dikatakan minim, ini terlihat dari sedikitnya literatur mengenai sejarah hidup mereka yang ditulis oleh kita.

Untuk menambah perbendaharaan pengetahuan kita mengenai orang Kayan yang telah ada, Penulis mengutip sebagian besar dari salah karya yang berjudul ‘Syair Lawe’, yang tak lain merupakan karya sastra lisan terbesar dan paling penting dalam peradaban orang Kayan yang ditulis dan dikumpulkan oleh “dua serangkai" yakni S. Lii’ Long dan Pastor Ding Ngo ditambah sumber-sumber lain yang mendukung.

Sedikit catatan, S. Lii’ Long merupakan sesepuh dan kepala desa Kayan di Tanjung Karang di hulu sungai Kapuas yang terjun secara penuh membantu Pastor Ding Ngo menulis beribu-ribu stanza Syair Lawe’ yang juga kemudian menyunting dan menterjemahkannya dari bahasa Kayan kedalam bahasa Indonesia selanjutnya diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press pada tahun 1984.

Buku mengenai ‘Syair Lawe’ secara tidak sengaja penulis temukan di Perpustakaan Pusat IAIN Antasari bagian Sastra, saat penulis masih menempuh pendidikan tingkat sarjana dulu, sayangnya beberapa data copy mengenai buku tersebut tidak sempat penulis bawa kembali ke Bulungan.

Karya ilmiah mengenai sastra lisan orang Kayan ini sebenarnya berjumlah lima jilid, hanya saja yang penulis temukan hanya tiga jilid saja, salah satunya membahas selayang pandang mengenai orang Kayan pada jilid pertama yang akan kita bahas ini, lengkap dengan beberapa ilustrasi penting mengenai sejarah dan kebudayaan orang Kayan.

Sejarah Migrasi Orang Kayan.


Menurut penuturan sejarah, Orang kayan berasal dari kawasan selatan tanah Cina, orang-orang tua dikalangan mereka sudah mengetahui hal tersebut. Dari sana mereka berpindah (melalui Indocina) sampai di Indonesia dan menetap dikawasan Apo Kayan, ditepi Sungai Kayan Kalimantan Timur. Lama kemudian kerena beberapa sebab, mereka berpisah.


(ilustrasi persebaran migrasi orang Kayan ke kawasan Mandalam, Beram, Apokayan dan Mahakam)

Deskripsi mengenai migrasi tersebut telah pula dikaji oleh para ilmuan, sebut saja diantaranya Mikhail Coomans (1997:3) :

“…Semua suku bangsa Daya termasuk kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan dari pada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah sekelompok kecil mengembara melaui Indo Cina ke Jazirah Malaysia yang menjadi batu loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia. Selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit karena zaman glacial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyebrangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu. Kelompok-kelompok pertama yang masuk wilayah Kalimantan adalah kelompok Negrid dan Weddid, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Kemudian disusul oleh kelompok yang lebih besar disebut Proto-Melayu. Perpindahan ini berlangsung lagi selama 1000 tahun dan berlangsung antara 3000-1500 sebelum Masehi. Sekitar lima ratus sebelum masehi berlangsung lagi suatu perpindahan besar dari daratan Asia ke pulau-pulau Indonesia. Kelompok-Kelompok ini disebut dengan Deutro-Melayu”.

Menurut sebuah cerita di Mendalam, konon dalam perjalanan menuju Mendalam, orang kayan sempat 17 belas kali berkampung, barulah kemudian mereka sampai dan menetap dikawasan Mandalam. Jadi keberangkatan mereka dari Apokayan ke Mendalam lebih beberapa ratus tahun yang lampau.

Sekarang dapatlah kita ketahui, dalam kurun migrasi tersebut, orang Kayan banyak berpindah keluar Apokayan. Cerita mengenai migrasi orang Kayan baik yang berada di Indonesia maupun di Serawak Malaysia memiliki banyak varian cerita yang terkadang antara satu dan lainnya agak berlainan.

Menurut cerita dari Mandalam, mereka berjalan dari Apo Kayan sampai ke Batang Rajang (Serawak) dibagian hulu Sungai Jengayan (Balen) dan dari sana mereka berangkat pula sampai dihulu sungai Sibau (Indonesia). Sesudah menetap beberapa di hulu Sungai Sibau, mereka melakukan migrasi dari hulu sungai Sibau menuju beberapa tempat:

Separuh kembali ke Batang Rajang: Kayan Bali (Balui) di Serawak, sekarang kurang lebih 2.700 orang;
Separuh ke Beram: Kayan Beram (Kayan Telaang Usaan). Serawak; kurang lebih 7.000 orang;
Separuh ke Mahakam: Kayan Mahakam; sekarang kurang lebih 25 buah kampung dengan penduduk lebih kurang 15. 000 orang;
Separuh milir sungai Sibau, nenetap beberapa lama dibagian tengah (masih nampak beberapa tembawang kayan), kemudian ke Sungai Kapuas, lalu akhirnya sampai ke Sungai Mendalam: Kayan Mendalam; sekarang terdapat 3 kompleks perkampungan dengan jumlah penduduk lebih kurang 550 orang.


(ilustrasi cabang-cabang sungai dan lokasi yang terdapat dalam "Syair Lawe", yang dibuat oleh Pastor A. J. Ding Ngo)

Kayan Tubau di sungai Tubau, Serawak tidak banyak disebutkan baik dalam cerita Kayan Mendalam maupun dalam cerita Kayan Balui, mungkin karena sebagain dari mereka adalah Kayan Balui karena bahasa yang digunakan memiliki kesamaan dengan bahasa Kayan Balui. Sekarang terdapat 4 buah kampung dengan populasi penduduk kurang lebih 7 hingga 800 orang.

Kayan Apokayan sekarang, terdapat dua buah kampung penting Datah Dian dengan penghuni kurang lebih 889 orang, kemudian Datah Purah (Kayan Purah), dengan penghuni 397.

Kayan dibagian Hilir Sungai Kayan, sesudah pindah dari Apokayan, terbagi dalam beberapa kampung dan berjumlah kira-kira 2600. Jadi jumlah orang Kayan kurang lebih 31186.

Catatan, menurut Jerome Roesseau, salah seorang ilmuan yang mendapat gelar Ph. D., karena Desertasinya “The Social Organization of the Baluy Kayan”, di Universitas Cambridge di tahun 1974. Pada awal tahun 1970-an, ia memperkirakan bahwa orang Kayan berjumlah lebih dari tiga belas ribu jiwa, namun dalam kata pengantar ‘Syair Lawe’, para pengarangnya memperkirakan hampir dua kali lipat dari jumlah tersebut.

Struktur Politik

Orang Kayan dimasa lampau memiliki struktur politik. Raja atau Hipi (Hipuy) menduduki tingkat teratas dalam srata social dan politik, dalam menjalankan pemerintahan desa ia dibantu oleh dua atau lebih orang.


(peta Apokayan dalam pandangan orang Kayan, perhatikan beberapa nama seperti ubut langit, pako langit, pusmi usaan dan sebagainya mencerminkan konsepsi orang Kayan lama tentang keberadaan alam roh dan manusia)

Orang-orang yang berada dalam lingkaran atas tersebut berstatus setingkat Menteri. Mereka memimpin atau mengurus menurut adat istiadat yang berlaku, yang dikatakan berasal dari Ine Aya’ (Ibu besar) dari Apolagan.

Adat keagamaan di urus oleh Dayung (Imam) yang hampir selalu dipegang oleh wanita. Dayung Aya’ atau Imam Besar adalah istri dari Hipi dan dibantu seorang atau lebih dari kalangan rakyat biasa. Para penasehat biasanya dari para sesepuh desa.Tidak ada tentara yang secara khusus di bentuk, karena semua lelaki Kayan pada dasarnya dididik dan dilatih menjadi Ksatria perang untuk melindungi desa mereka, tradisi ini tidak beda jauh dengan kaum militer Sparta dalam masyarakat Yunani Kuno, mereka hanya dikerahkan jika memang diperlukan.

Ekonomi orang Kayan

Orang kayan dimasa lampau hidup terutama dari hasil berladang. Menurut sejaraah dan penuturan para penulis Eropa, orang Kayan telah lama berladang padi dan mereka juga disebut-sebut mengajarkan pengetahuan mereka tersebut pada suku-suku lain disekitar mereka.

Keperluan yng lainnya ditunjang pula dengan berburu dan mengumpulkan hasil hutan seperti rotan, dammar, gaharu dan kayu yang selanjutnya dijual pada pengumpul, sebelum adanya uang sebagai nilai tukar, barter merupakan cara jual beli yang diakui, dimana mereka mendapatkan barang-barang seperti garam, Tajau (guji), tembakau dan lain sebagainya.

Tajau atau guci merupakan barang yang sangat dihargai dan dikeramatkan oleh masyarakat Kayan atau orang Dayak pada umumnya, Tajau dapat pula digunakan sebagai mahar dalam perkawinan.

Dimasa lampau memelihara ternak biasanya tidak untuk dijual, namun hanya untuk keperluan persembahan adat dan pesta saja, binatang seperti ayam dan babi merupakan hewan ternak yang utama.

Struktur Sosial.

Masyarakat Kayan terdiri dari 3 golongan yakni: Hipi (raja), Panyin (rakyat) dan Dipan (pelayan). Sebagai perbandingan struktur social ini agak sedikit berbeda dengan kerabat mereka orang Kenyah.


(lamin atau rumah panjang orang Kayan)

Masyarakat Kenyah membagi empat kelas sosial mereka sebagai berikut: Paren (Bangsawan tinggi), Pengawa (Bangsawan Rendah), Panyen (orang kebanyakan). Kemudian ada pula yang disebut Kula atau pelayan yang dibagai dua golongan pula yaitu: Salut, anak lelaki yang diampas dari musuh selama peperangan dan menjadi tawanan perang, statusnya kemudian dirubah menjadi Kula oleh Paren yang menawannya, dan yang tekhir ada Kula, anak lelaki dari kaum Panyen yang tak mampu atau yatim piatu, yang kemudian diambil oleh Paren untuk dibesarkan atau dipelihara sebagai pelayan.

Sejak abad 20, status hamba baik itu Dipan, Kula maupun Salut dilebur menjadi Panyin atau Panyen dan mendapat kebebasan dan status yang diakui oleh masyarakat mereka.

Orang Kayan hidup berdekatan antar satu dan lainnya, rumah mereka bersambung-sambung, sehingga menjadi rumah panjang atau Lamin. Rumah Raja biasanya terletak ditengah-tengah, ukurannya biasa lebih besar dan lebih indah. Satu Lamin dapat terdiri dari 80 bilik untuk 80 kepala keluarga, bahkan lebih.

Jarak antara lamin dan tanah yang disangga banyak tiang-tiang tinggi bisa berkisar hingga dua meter bahkan lebih, bukan hanya dimaksud menghindari binatang buas, namun kolong lamin dapat juga digunakan sebagai tempat menyimpan ternak bila diperlukan.

Demikianlah selayang pandang mengenai sejarah orang Kayan, semoga informasi kecil dan singkat ini dapat menambah khazanah pengetahuan kita mengenai orang Kayan. Terima kasih.

Sumber Pustaka:
S. Lii’ Long dan Pastor A. J Ding Ngo. “Syair Lawe”, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1984.

Berita Penelitaian Arkeologi, No. 16 Edisi Khusus, Etno Arkeologi Religi Dayak Di Kalimantan, Banjar Baru, Balai Arkeologi Banjarmasin, November 2006.

Sumber Foto: putrakayan.blogspot.com
Load disqus comments

3 comments