Friday, September 10, 2010

Sultan Datu Alam Muhammad Adil (1873-1875)

Dalam sejarah bulungan, ada salah seorang Sultan yang menurut penulis pantas untuk dibicarakan di pentas sejarah, ia tidak lain adalah Sultan Datuk Alam Muhammad Adil. Ia adalah Sultan pertama yang terang-terangan menantang kolonial Belanda di Bulungan. begini hikayatnya.

Datuk Alam gelar Sultan Muhammad Adil, begitulah ia dikenal, naik tahta sebagai Sultan Bulungan pada tahun 1873. Ia adalah putra pangeran Maulana, seorang anak yang lahir dari pernikahan Sultan Alimuddin dengan Aji Aisyah dari Tanah Tidung.

Sebelum Sultan Datuk Alam Muhammad Adil naik tahta, Kesultanan Bulungan sempat memasuki kondisi politik yang kurang stabil, ini dipicu adanya kubu-kubu politik yang mulai muncul kepermukaan, istana pada saat itu terpecah menjadi dua kubu yaitu kubu Sultan Muhammad Kaharuddin (sultan yang sebelumnya berkuasa) dan kubu Datu Alam. dimasa Sultan Kaharudiin inilah Belanda sempat mencoba menanamkan pengaruhnya kepada Kesultanan Bulungan yang kemudian di tandai sebuah perjanjian kontrak politik atau Korte Verklering pada 12 November 1850.

Para sejarawan berpendapat perjanjian tersebut mengakhiri kedaulatan Kesultanan Bulungan, baik secara de fakto maupun de jure secara hukum Kesultanan Bulungan berada dibawah pengaruh Belanda.

Memang jika mengacu pada informasi tentang poin-poin kontrak politik atau Korte Verklering secara umum, Kesultanan Bulungan berada dalam posisi sulit, poin-poin dari Korte Verklering secara umum adalah sebagai berikut:
1) Raja mengakui dan tunduk pada Pemerintah Belanda sebagai penguasa tertinggi.
2) Raja mengakui dan mentaati semua peraturan yang di keluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.
3) Raja tidak mengikat perjanjian dengan Negara-negara lain.

Perjanjian Korte Verklering inilah yang dianggap tidak berlaku oleh beliau, ini dikarenakan sifat dari Korte Verklering tidak mengikat lagi pada Sultan selanjutnya, itulah sebabnya terkadang perjanjian yang dibuat antara Sultan yang sebelumnya berkuasa dengan Sultan penggantinya tidak sama bentuknya, itu artinya perjanjian dengan raja yang digantikan tidak secara otomatis berlaku pada raja yang menggantikannya.

Karena itu sikap Sultan Datu Muhammad Adil yang tidak mengakui perjanjian antara Kesultanan Bulungan dengan Belanda tahun 1850 itu, dapat dikatakan gugur pula demi hukum, karena pada dasarnya tidak satupun ada perjanjian yang sah sifatnya jika hanya di akui oleh satu pihak, apalagi jika menyangkut hubungan diplomatik antar kedua negara.

Sultan bahkan merealisasikan sikap tersebut dengan membangun istana baru dan terbesar dalam sejarah Kesultanan Bulungan yang kemudian hari dikenal dengan nama Darul-Aman di sebelah hilir istana lama, seolah menegaskan kembali bahwa perjanjian 12 November 1850 atas Bulungan tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya.

Dimasa pemerintahannya Sultan dikenal dekat dengan rakyat dan ulama, dalam menjalankan pemerintahannya, beliau lebih banyak menggunakan pendekatan keagamaan, karena memang beliau juga seorang ulama, sikap yang diambil Datu Alam yang tidak mau bekerja sama (Non-Kooperatif) dengan Belanda merupakan sikap umum yang hampir dimbil oleh para ulama dimasa itu, beliau juga sempat merenovasi masjid lama, Mesjid Jami’ Tanjung Palas sehingga dapat menampung lebih banyak jamaah shalat disana.

Dilain pihak Belandapun nampaknya paham bahwa Inggris tidak akan menarik diri dari kawasan Kalimantan bagian utara. Bagi Inggris Kalimantan utara sangat penting mengingat posisinya yang strategis di Laut Cina Selatan. karena itu perjanjian yang dibuat nampaknya dimaksudkan oleh belanda agar dapat digunakan sebagai landasan hukum untuk mengusir para pedagang Inggris atau yang dikenal dengan nama County Traider.

Keberadaan para Country Trader di perairan Nusantara ternyata menyadarkan pemerintah Hindia Belanda akan ancaman pemerintahan Kolonial Inggris, wilayah-wilayah yang bebas dari pengawasan pemerintah Hindia Belanda tidak sedikit yang menjalin hubungan dengan para pedagang Inggris dari Singapura, mereka menukarkan hasil bumi negeri mereka dengan berbagai jenis senjata api dan meriam, terutama meriam putar milik Inggris, para pedagang Inggris dengan senang hati memasarkan barang produksi persenjataan mereka serta megajarkan pada kerajaan-kerajaan pribumi yang menjalin hubungan dengan mereka cara menggunakan dan merawat senjata api itu. kepemilikan senjata-senjata api oleh kerajaan-kerajaan yang berdaulat semakin menegaskan kekuasaan dan kedaulatan kerajaan-kerajaan tersebut, dilain pihak kemajuan teknologi persenjataan kerajaan-kerajaan tersebut akan semakin mengancam kedudukan pemerintah Kolonial Hindia Belanda di kawasan Nusantara.

Belanda dibuat gelisah setelah James Brook, seorang petualang Inggris yang mengunjungi Kesultanan Brunei 1840 dan memberikan ganti rugi untuk menguasai Bandar niaganya, sikap James Brook mendapat rekasi protes dari pemerintah Kolonial Belanda, namun Inggris beralasan bahwa negaranya belum berniat menjadikan Brunei sebagai koloninya, walaupun sejarah akhirnya membuktikan Inggris akhirnya berhasil menjadikan kawasan Kalimantan utara (Nort Borneo) sebagai wilayah koloninya. Inggris memang cukup lunak dengan Belanda berhungan dengan masalah Bengkulu, mereka setuju menukar Bengkulu dengan Malaka pada 1824 sesuai dengan ketentuan Traktat London 17 maret 1824, Namun dalam hal Kalimantan, khususnya Serawak dan tentunya juga Sabah, Inggris tidak memberi tanggapan yang tegas terhadap protes Belanda, Inggris berkilah bahwa kegiatan James Brook tidak ada hubungan dengan pemerintah Inggris. Tetapi sejarah pula mencatat, dari Serawak Inggris mampu melebarkan pengaruhnya bahkan mulai bergerak mendekati kawasan Teluk Sebuku, pintu gerbang di utara Kesultanan Bulungan. Labuan yang dijadikan sebagai pangkalan Angkatan Lautnya pada tahun 1846 diperoleh berdasarkan perjanjian Sultan Brunei dengan James Brook, kecemasan pemerintah kolonial Belanda makin besar.

Sukses yang didapatkan oleh James Brook ternyata juga mengilhami para Country Trader lainnya, J. Erskine Murray salah satunya, ia mencoba mengadu untung mengikuti jejek James Brook, ia bermaksud membangun pengaruhnya di Kalimantan Timur, itulah sebabnya pada bulan February 1844, J. E. Murray membawa armada dagangnya yang dilengkapi dengan meriam-meriam besar, armada tersebut adalah kapal skunar bertiang tiga, The Young Queen dan The Anna, setibanya di Kutai J. E. Murray justru bukan hanya ingin berdagang, ia bahkan meminta pada Sultan Salehuddin untuk memberikan sebidang tanah untuk mendirikan Faktorij dengan alasan untuk melindungi para pedagang Inggris, dan mengancam akan menembaki Tenggarong jika permintaan itu tidak dipenuhi, Sultan tidak menerima sikap permusuhan tersebut, maka pecahlah perang antara Kesultanan Kutai dengan petualang inggris tersebut, J. E. Murray terbunuh dan armadanya diusir oleh Armada militer Kutai dibawah komando Sinopati Awang Long, perang ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Perang Tambak Maris.

Tidak hanya disitu, saat terjadinya hubungan yang sempat memanas antara Kesultanan Bulungan dan Gunung Tabur pada tahun 1862, petualang Inggris juga melibatkan diri dalam hal ini, kapten kapal niaga berbendera Inggris Swan, William Lingard berpihak pada Gunung Tabur atas permintaan Sultan dari kerajaan tersebut. William Lingard dikenal sebagai seorang nakhoda yang berpengalaman dan sering berlayar antara Singapura, Bali, Lombok dan pantai timur Kalimantan. Atas jasa-jasanya tersebut ia diberi gelar Raja Laut, menurut laporan 4 Maret 1863, gelarnya adalah ‘Pengeran Laut, Kapitan Berau’. Peristiwa ini disertai pula dengan tembakan kehormatan dan pemberian sebuah Mandau beserta tombak yang bertahtakan emas sebagai ‘Barang Kerajaan’. Belanda dibuat cemas karena ada berita yang menyebutkan bahwa Sultan menyerahkan sebidang tanah pada William Lingard tempat ia mendirikan rumah dan gudangnya. William Lingard nampaknya ingin mengikuti jejak James Brook namun Belanda dengan cepat mengirim utusannya untuk mengadakan penyelidikan, disamping itu kunjungan kapal perang Belanda secara berkala didaerah tersebut membuat William Lingard tidak mungkin melanjutkan rencananya. keberadaan para pedagang Inggris tersebut di perairan kalimantan merupakan bukti bahwa perjanjian itu hanya terjadi di atas kertas saja.

Bagi belanda, menghentikan laju kekuatan inggris di utara di mulai dari Bulungan, Belanda berupaya mendapatkan hak atas wilayah kesultanan Bulungan, selanjutnya dijadikan kawasan penyangga untuk memblokade pengaruh Inggris khususnya dari wilayah Sabah. Siasat ini sejalan dengan politik pembulatan wilayah (Afronding Politiek) untuk mewujudkan apa yang mereka sebut dengan nama Pax Nederlandica (wilayah aman dan tertib dibawah naungan Belanda). Namun sikap tidak bersahabat yang ditunjukan oleh Sultan Datu Alam muhammad Adil, bagi Belanda akan menjadi duri yang besar bagi terciptanya keinginan tersebut, menariknya pihak kolonial Belanda ternyata enggan menggunakan kekuatan militer terhadap Sultan Bulungan ini.

Sikap Sultan Datu Alam Muhammad adil yang keras tersebut, akhirnya membuat beliau terhempas, pada sebuah jamuan yang dilakukan oleh Sultan dan di hadiri oleh pihak kolonial Belanda di Istananya, Darul Aman, Sultan tiba-tiba mendadak sakit dan akhirnya meninggal dunia, beliau diduga di racun saat perjamuan tersebut, Belanda dituding berada dibalik rencana konspirasi tersebut mengingat sikap permusuhan yang tujukan oleh Sultan terhadap pemerintah Kolonial Belanda selama ini. Pada tahun 1875 M / 1292 H, Sultan yang dicintai rakyatnya itupun akhirnya meninggal dunia.

Dan pada tahun yang sama pula, tidak beberapa lama Sultan Datuk Alam Muhammad Adil berpulang, armada Belanda dan Inggris bentrok di utara bulungan, dikawasan teluk sebuku (santa Lucia; dalam lidah orang spanyol) yang merupakan tapal batas kesultanan bulungan di utara menjadi rebutan kedua negara kolonial.

Belanda menyerbu Batu Tinagat 1879 dan menempatkan Controleur di tawau, Inggris membalasnya dengan menyerbu wilayah selatan teluk sebuku dan mendirikan protektorat tahun 1888, insiden inilah yang kemudian baru dapat diselesaikan pada tahun 1912, setelah perundingan panjang pada tahun 1891. Tawau akhirnya jatuh ke tangan Inggris sedangkan wilayah selatan di ambil Belanda, maka dapatlah kita mengerti mengapa alayarham Sultan Datuk Alam Muhammad Adil semasa hidupnya bersikeras menolak kehadiran Belanda dan inggris di bulungan.
Load disqus comments

5 comments