Monday, April 4, 2011

Haji Muhammad Ali Husen; Saudagar India dari Bulungan.

(Haji Muhammad Ali Husen, Saudagar India dari Bulungan)
Haji Muhammad Ali Husen, begitulah orang menyebut namanya, ia memang bukan satu-satunya orang India di bulungan, namun beliau merupakan salah satu lelulur keluarga India di Bulungan yang paling berpengaruh semasa hidupnya. Tak banyak catatan sejarah yang ditinggalkan, hanya kisah-kisah turun temurun saja yang sampai pada kita dari kerabat dan keturunannnya.

Memahami hikayat sejarah Haji Muhammad Ali Husen, pada dasarnya bukan hanya sekedar memahami riwayat hidupnya saja, namun lebih besar lagi yaitu berupaya memahami arus migrasi besar ras India di Indonesia khususnya di Abad ke 19.

Dari Bombay ke Tanjung Selor.

Kisah turun temurun yang sampai ditelinga penulis, menyebutkan bahwa ia berasal dari kota Bombay, sebuah wilayah yang terletak di pantai barat India. Bombay di akhir abad 19, semasa hidup almarhum Haji Muhammad Ali Husen merupakan salah satu kota pelabuhan tersibuk di India bahkan sampai hari ini, dahulu kota ini berasal dari nama Marathi.

Kota ini berkembang pesat dimasa Inggris berkuasa, mereka membangun kota Bombay dengan standar Eropa- sama dengan kolonial Belanda yang membangun Batavia dan Bandung di Indonesia-, jalan-jalan yang mulus merentang dari ujung ke ujung seperti Appolo Street. Bangunan-bangunan besar sebut saja: Bombay Watson Hotel, Bombay Byculla Hotel, Victoria Rail Terminus, Governor's Palace, Clock Tower, Crawford Market dan Alexandra Dock hingga Bombay Harbor merupakan bagian dari supremasi Inggris kala itu.

Sisi lain dari kota Bombay yang megah itu juga menyisakan jurang yang lebar antara colonial dan pribumi, khususnya orang-orang Mohammaden, sebutan colonial Inggris bagi kaum muslim, di kota inilah Haji Muhammad Ali Husen berasal.

(Pelabuhan Bombai dalam lukisan)
Menurut catatan Alwi Shahab, selain orang Madras dari kawasan selatan india ada juga orang Sind dan Punjab dari kawasan utara yang paling banyak melakukan hijrah ke Indonesia. Orang-orang India khususnya yang berasal dari utara, biasanya memilki modal yang cukup besar menyambung hidup diperantauan, sebagian besar dari mereka menjadi pedagang. Mudahnya transportasi antara india dan Indonesia memberikan jaminan kemudahan bagi para perantau india memulai hidup di Indonesia. Sama seperti pengusaha Arab, orang-orang india yang memiliki modal lebih biasanya berinfestasi properti.

Sayang kita tidak mengetahui pasti kapan lebih tepatnya Haji Muhammad Ali Husen datang ke Indonesia hingga menetap di bulungan, namun diperkirakan ia telah menetap di Bulungan pada paruh akhir abad ke 19. Kedatangan Haji Muhammad Ali Husen sendiri mungkin tidak lepas dari informasi pedagang arab di Singapura. Seperti yang kita ketahui beberapa pedagang Arab di Bulungan, ada yang berdagang hingga ke Singapura, ini diperkuat dari penuturan beberapa tokoh Arab di Bulungan yang mengatakan sebagian dari orang-orang Arab di Bulungan berasal dari Singapura, Pontianak dan sebagian kecil dari kota Palu.

Dikota Tanjung Selor, Haji Muhammad Ali Husen membuka toko yang bernama Bombay Shop, awalnya ia menjual alas kaki seperti sepatu dan sandal, usahanya kemudian diperlebar lagi dengan menjual lampu hias, tekstil dan emas. Barang-barang yang diperjual belikan didatangkan langsung dari para perajin india di Bombay, seperti sepatu, kain, emas merupakan bagian dari komoditi penting yang dibuat tangan dengan peralatan yang sederhana.

Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara haji Muhammad Ali Husen dan para perajin merupakan salah satu bagian penting yang patut dicermati, para perajin menyediakan pasokan barang dan Haji Muhammad Ali Husen menyediakan modal usaha dan pasar bagi mereka. Hal seperti ini tentunya akan sulit diwujudkan jika tidak memiliki kemampuan menejerial yang baik.

Haji Muhammad Ali Husen kemudian merekrut adiknya sendiri Haji Peda Husen Ali, sebagai pedagang perantara yang menjadi orang yang dipercainya mengurus relasi bisnisnya di Bombay, ketersedian pasokan barang yang lancar dan kuatnya relasi bisnis membuat usaha Haji Muhammad Ali berkembang sangat pesat, ia menjadi salah satu orang terkaya di Bulungan ketika itu. konon, beliau bahkan sempat dikabarkan memiliki property Sembilan buah rumah di kampong arab.

Keturunan Haji Muhammad Ali Husen di Bulungan.

Haji Muhammad Ali Husen adalah seorang perantau sekaligus pedagang ulung, ia datang ke Bulungan tidak memiliki keluarga, sampai akhirnya ia menikah dengan salah seorang gadis bulungan bernama Sofiah atau Supiah dalam dialek Bulungan.

Pernikahan antara Haji Muhammad Ali Husen dan Sofiah memiliki keturunan yaitu: Zainal Abidin, khatijah, Maryam, Zahara, Sakinah, Fatimah dan Syaifuddin. 

(Haji Muhammad Ali Husen dan Haji Peda Husen Ali berfoto bersama didepan toko Bombay Shop sebelum H. Peda Husen Ali kembali ke Bombay dalam sebuah urusan bisnis).
Satu hal yang amat menarik, walaupun ia beristri pribumi Bulungan, namun ia mampu mengembangkan budaya india di lingkungan keluarga besarnya, setidaknya satu hingga dua generasi dibawahnya, jadi walaupun anak-anaknya terlahir dari ibu berdarah Bulungan, namun karakteristik India yang mereka miliki lebih kental, bukan hanya dalam segi kemampuan berbahasa urdu namun juga dari segi fisik sehingga orang lain mungkin akan mengira ibu mereka adalah orang India.

Haji Muhammad Ali Husen kemudian meninggal dan dimakamkan di Bulungan.- Berbeda dengan adiknya Haji Peda Husen Ali yang dimakamkan di India-, saat ini keturunan Haji Muhammad Ali Husen dan Haji Peda Husein Ali banyak terdapat di Bulungan dan dikota Tarakan, malahan konon ada juga yang menetap hingga Sulawesi, Sabah dan Singapura.

Sumber:

Wawancara dengan H. Hanif dan Hj. Aminah 20 Maret 2011

Alwi Shahab, “Kampung koja dan komunitas India”, REPUBLIKA – Minggu, 08 September 2002.

Natalie Mobini Kesheh; “Hadrami Awakening: Kebangkitan Hadrami di Indonesia”, Jakarta: Akbar Media Eka Sarana. Rajab 1428 H / Agustus 2007.

Wikipedia Malaysia; Mumbai.
Load disqus comments

2 comments