Friday, December 10, 2010

Jejak Sejarah Pelaut-Pelaut Tidung.


(ilustrasi: Orang Sulu salah satu sekutu dekat orang Tidung).

Bila berbicara mengenai orang Tidung, satu hal yang ada dibenak saya, setidaknya yang saya kenal, mereka orang-orang bersahaja, cendrung pendiam dan tidak suka cari masalah. Siapa yang menyangka mereka ternyata punya sejarah yang cukup mengagumkan dimasa lampau. Pelaut-pelaut mereka cukup dikenal dari kawasan Laut Sulawesi hingga diperairan Laut Sulu.

Melacak sejarah orang-orang Tidung memang tidaklah mudah, selain karena sulitnya bahan literature tertulis sezaman atau sesudahnya yang dimiliki, factor lain yang juga tak kalah menentukannya adalah karena mereka adalah bangsa penutur, sehingga peristiwa sejarah dituturkan dari generasi ke generasi (oral tradition).

Namun kita cukup beruntung kisah-kisah bersejarah orang Tidung ternyata dapat juga kita temui dalam catatan-catatan sejarah Kesultanan Sulu, bagaimana hikayatnya bisa seperti itu? saya pernah membaca beberapa tulisan tentang sejarah kaum Sulu, ada beberapa dari mereka yang khusus menulis tentang orang Tidung, nampaknya para sejarawan Filipina Selatan tersebut menaruh hormat terhadap peran yang pernah di torehkan dalam sejarah mereka setidaknya diantaranya adalah sejarawan klasik Filipina Prof. Caesar Adib Majul maupun sejarawan kontemporer macam Zull Asreemoro.

Orang Tidung

Menurut penuturan sejarah orang Tidung berasal dari dataran tinggi itulah sebabnya beberapa dari mereka mengatakan asal usul kata Tidung yaitu “Tideng” artinya Gunung, lama kelamaan mereka kemudian menyebar ke dataran rendah dikawasan pesisir pantai dan membangun masyarakat disana, ada pula yang menyebut nama lain orang Tidung dikawasan pantai adalah “Tengkayu” yang secara harpiah adalah Orang Pesisir.

Sebagai bagian dari masyarakat pantai, orang Tidung kemudian mengembangkan kebudayaan pesisir atau maritim sesuai dengan lingkungannya, mereka melayari sungai besar di delta yang dibentuk oleh sekian banyak sungai. Mereka juga mengadakan perjalanan ke pulau-pulau yang terdapat dilepas pantai.


(salah satu jenis kapal yang digunakan pada masa itu)

Menurut data yang dikumpulkan oleh Nootebom, nama jenis perahu yang dikenal di daerah ini adalah Jukung, Lumbung dan Gubang. Perahu Jukung dikabarkan ada yang berukuran kurang lebih 20 Meter dibuat dari satu batang kayu. Bagian lunasnya sangat tepal supaya dapat melewati riam sungai yang sangat banyak terdapat dikawasan pedalaman.

Perahu Lumbung yaitu sebuah perahu yang dibuat dari batang kayu yang dikeruk, ada yang mengatakan panjangnya bisa 26 meter dengan lebar sekitar satu meter, perahu ini diberi tambahan dinding keatas yang dikat dengan rotan pada bagian dasarnya. Spanjang perahu dibuat lantai dari belahan bambu, sedangkan dibagian tengahnya diberi dinding tambahan lagi yang kemudian ditutup dengan atap. Bagian haluannya dan buritannya dihiasi dengan ukiran dalam bentuk kepala dan ekor naga. Dan yang terakhir adalah perahu Gubang, perahu ini lebih sederhana lagi, inipun mempunyai lantai dari bambu tapi ukurannya lebih kecil umumnya sampai 8, 75 meter panjangnya dan lebantanya 0, 80 meter.

Pelaut-Pelaut Tidung dan Pejuang Sulu

Sejarah hubungan antara orang Tidung dengan beberapa kaum di luar mereka, salah satunya yang cukup erat khususnya pada abad 17 Masehi adalah dengan orang-orang Sulu. Orang Sulu atau Tausug biasa menggelari mereka dengan nama Tirun. hubungan antar keduanya bisa dikatakan semakin rapat setelah Sultan Salahuddin Keramat atau Pengiran Bakhtiar (1649-1680) menikahi salah seorang putri pembesar suku Tidung, kebijakan yang sama juga diambil oleh salah seorang Sultan Sulu yang lainnya yaitu Sultan Badaruddin-I (1718-1732) yang kemudian menurunkan juriat keluarga Maharaja Adinda Aranan atau dikenal dengan nama Aranan Puyo.

Dalam waktu yang tidak cukup lama orang Tidung bergaul dengan orang-orang sulu sehingga sedikit demi sedikit banyak dari mereka yang memeluk agama Islam, atas dasar persaudaraan inilah yang kemudian hari kelak melibatkan banyak pelaut-pelaut Tidung ikut terlibat dalam beberapa pertempuran besar semasa perang Sulu-Spanyol.


(Ilustrasi: pelaut-pelaut Tidung dan Pejuang Sulu dalam persiapan menuju peperangan melawan Spanyol)

Seperti yang diketahui semenjak kedatangan Ferdinan Mageland mengklaim wilayah Kesultanan-kesultanan yang berada di kepulauan Filipina sebagai wilayah Spanyol, sejak itu peperangan Sulu dan Spanyol tidak bisa dielakkan lagi. Menariknya jika orang Sulu digelari Pirata atau Corsario yang tidak lain adalah Bajak Laut maka untuk orang Tidung, Spanyol memanggil mereka dengan nama Comucones, menandakan kemarahan mereka terhadap kaum yang satu ini, bagi Spanyol keterlibatan pelaut-pelaut Tidung dalam beberapa peperangan sangat merepotkan mereka. Karena itu tidak heran orang-orang Sulu menaruh hormat terhadap sekutu mereka yang satu ini, dipihak Spanyol tentu saja hal itu berlaku sebaliknya.

Tidak sedikit memang pelaut-pelaut Tidung yang bahu membahu bersama pejuang Sulu melakukan serangan-serangan terhadap kapal-kapal dagang maupun marinir Spanyol diperairan Sulu hingga Visaya yang terletak justru dikawasan kantong-kantong perkampungan angkatan laut dan meriam-meriam besar Spayol ditempatkan.

Salah satu peristiwa penting serangan pelaut-pelaut Tidung adalah Insiden tahun 1602 yang dicatat oleh H de la Costa, saat itu terjadi serangan besar-besaran Mangindanou yang dipimpin oleh Datu Silongan dan Datu Buisan, tiba-tiba Spanyol dikejutkan dengan kedatangan kapal-kapal pelaut Tidung yang langsung melakukan serangan ke wilayah perkampungan-perkampungan Spanyol sehingga menimbulkan kekacauan yang tidak akan dilupakan oleh penjajah Spanyol kala itu.


(Ilustrasi: Kapal-kapal Spanyol terbakar dalam suatu pertempuran)

Pergaulan yang cukup rapat nampaknya membuat beberapa orang dikalangan pelaut-pelaut Tidung tersebut mendapatkan informasi mengenai cara-cara mencetak meriam-meriam berukuran sedang seperti Lentaka dan Lila yang digunakan dalam beberapa pertempuran dan ditempatkan dihaluan kapal, hal ini bukan mustahil mengingat orang Sulu memang cukup handal dalam mencetak dan menggunakan peralatan perang seperti itu.


Apakah orang Tidung juga Pirata?

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah apakah orang Tidung sebenarnya pun terlibat dalam kegiatan bajak laut seperti khususnya dalam era perang Sulu-Spanyol? kendati sejarawan macam Zull Assreemoro mengatakan mereka mungkin terlibat, setidak-tidaknya dalam penyerangan kapal-kapal dagang Spanyol, namun para ahli bersilang pendapat mengenai keterlibatan pelaut-pelaut Tidung dalam kegiatan bajak laut, menurut mereka terlalu dini menyebut motif kertelibatan pelaut-pelaut Tidung sebagai bagian dari bajak laut mengingat pihak Spanyol sendiri tidak pernah menyebut mereka dengan istlah Pirata maupun Korsario, karena itu bisa jadi motif utamanya adalah membalas serangan kapal-kapal mariner Spanyol yang juga menenggamkan kapal-kapal perdagangan Kesultanan Sulu.

Sumber:
B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, Jakarta, Komunitas Bambu, Agustus 2009.

http://tausug-global.blogspot.com/
Load disqus comments

4 comments