Wednesday, December 28, 2011

Warung Kopi Ria, Secangkir kisah kecil warung kopi di Bulungan.

(Warung Kopi Ria terlihat dari depan)

Beberapa saat yang lalu saya sempat menulis mengenai sejarah kopi di Bulungan, dengan tajuk “Orang Arab dan Hikayat segelas kopi di Bulungan”, sebuah hikayat yang mengisahkan bagimana kopi tumbuh dan berkembang selaras dengan kehidupan dikota pelabuhan kecil seperti Tanjung Selor ini.

Ketertarikan saya menulis mengenai warung kopi di Tanjung selor, tak lain karena sadar atau tidak warung kopi ternyata menjadi bagian dari fenomena budaya kaum Tionghoa di Bulungan, walaupun kopi dalam sejarahnya diperkenalkan oleh para pelayar Arab saat mereka menetap di Tanjung Selor awal abad ke-18 M, namun pada kenyataannya hampir semua pengelola warung kopi yang ada di Bulungan, khususnya lagi di Tanjung Selor adalah pedagang Tionghoa, hal yang terlewatkan oleh banyak orang ini, justru menjadi bagian yang menarik bagi saya.

Perburuan saya mengenai sejarah warung kopi, membawa saya menelusuri sebuah kisah menarik salah satu keluarga Tionghoa, orang Kek (Hakka) yang telah menjalankan bisnis keluarga ini tak kurang tiga generasi lamanya.

Warung Kopi Tiga Generasi di Tanjung Selor.


Warung kopi Ria begitulah namanya, warung kopi yang satu ini terbilang salah satu warung kopi tua di Bulungan, saya cukup beruntung dapat menggali sedikit lebih dalam sejarah mengenai warung kopi ini dari pemiliknya sekarang Ngo Chung Liong atau Leonardi Winarwardhana, generasi ketiga yang menjalankan bisnis warung kopi ini.

(menyeduh secangkir kopi susu)

terletak tak jauh dari Klenteng Ta Pek Kong, warung kopi menyajikan sejarah kecil mengenai perjungan hidup perantauan Tionghoa di Tanjung selor, sebuah kota pelabuhan kecil yang masa itu hanya memberi ruang bagi mereka yang punya nyali dan tekad yang besar untuk bertahan hidup.

Menurut kisah yang diceritakan turun-temurun dalam keluarga, pemilik pertama warung kopi dari keluarga ini adalah Ngo Tak Keng, yang tak lain adalah Akong atau datuk dari pemiliknya saat ini. Pada tahun 1914, paruh pertama abad ke-20, Ngo Tak Keng datang dan bermukim di tanjung Selor, tepatnya di toko lama orang Tionghoa, toko ini digambarkan cukup besar pada masa itu, orang-orang tua zaman itu menyebut nama toko itu dengan nama Yong Ci Lip, dulu letaknya ada disekitar perumahan Kodim di kampung Arab saat ini.

Ngo Tak Keng merintis usaha warung kopi ini cukup lama, pada tahun 1964 diusia 74 tahun Ngo Tak Keng meninggal dunia, usaha keluarga ini kemudian dilanjutkan oleh anaknya Ngo Miau Tjong atau Amio Winarwardhana. Dari sinilah nama warung Kopi Ria itu muncul di sekitar tahun 1970-an, sebelumnya warung kopi itu memang tidak ada namanya.

Menurut keterangan pak Liong, warung kopi ini telah berpindah tempat beberapa kali sebelum menetap ditempatnya yang saat ini, diantaranya di kampung pasar, disekitar Toko batu dan bengkel motor yang tak jauh dari Pujasera saat ini, sempat pula sebelum dipindahkan dimasa Bupati Kol. Soetadji warung kopi ini bermukim disebarang bangunan yang ada sekarang.

Cita rasa kopi yang berkelas.

Warung kopi dengan arsitektur klasik jaman bahari Bulungan ini, harus saya akui memiliki cita rasa dan suasana yang khas membuat saya betah berlama-lama ditempat ini.

Klasik? Yah itulah suasana awal saya rasakan ketika kaki saya menginjak tempat ini pertama kalinya, ada bangku-bangku lama jaman ‘kungfu’ –sebutan saya untuk bangku-bangku kayu mirip properti yang sering muncul dalam film-film mandarin lama, biasanya Jacky Chan sering menggunakannya- dari kayu lembasung tertata apik disudut dinding dekat jendela, lukisan-lukisan lama dengan suasana Tiongkok kuno, sebuah Simpoa tua yang tak lagi digunakan pemilikinya tergantung rapi disalah satu sudut dinding, serta peralatan penyeduh kopi dan teh yang umurnya sudah cukup tua, bagi saya itu menambah daya tarik tempat ini.

(cemilan ringan, teman segelas kopi)

Saya paling senang duduk dekat jendela, suasananya cukup nyaman, semakin hangat rasanya bila ditemani segelas kopi susu, biasanya saya juga memesan dua buah Bakpao yang masih terasa hangat baru keluar dari loyang tua yang mungkin lebih dari setengah abad umurnya.

Zaman dulu, kopi-kopi yang datang di Tanjung Selor ini didatangkan dari Makassar dan juga dari pelabuhan Samarinda selain ditanam oleh penduduk asli Bulungan. Tidak seperti saat ini bubuk kopi tinggal sedia, dulu orang hanya menjual biji-biji kopinya dan warung-warung kopilah yang memasak dan menghaluskannya, itu bukan sebuah pekerjaan yang gampang. Namun kopi-kopi hasil racikan ala warung kopi ini tak kalah dengan kopi-kopi bermerk saat ini, aroma yang khas dan sedikit rasa pahit yang segar rupanya menjadi daya tarik bagi banyak orang sehingga melahirkan budaya warung kopi yang kita kenal saat ini. Selain kebiasaan ngopi, ngeteh juga jadi bagian favorit di warung ini, teh yang paling dikenal di zaman itu adalah teh cap Zeplin, teh ini masih digunakan diwarung ini.

Bakpao di warung kopi ini juga sudah lama dikenal luas, cita rasanya yang khas warisan dari generasi terdahulu terjaga baik hingga saat ini. Makan satu rasanya tak cukup. saya juga tidak perlu khawatir, sebab sejak lama empunya warung menyadari betul sebagian besar pelanggannya adalah orang-orang muslim, itulah sebabnya daging ayam yang digunakan hanya dibeli dan dipotong oleh orang muslim.

(Pak Liong (berdiri) sedang asyik melayani beberapa pengunjung warung kopinya)

Tidak seperti saat ini daging ayam banyak dijual dipasar dalam keadaan sudah dibersihkan, zaman dulu daging-daging ayam sebelum diolah, biasanya akan dipotong oleh orang muslim yang sudah lama mereka kenal, salah satunya adalah Julak Ketek nama asli beliau adalah Abdullah, konon almarhum mendapat julukan tersebut karena semasa hidup, jika bersantai, ia senang duduk dengan menyilangkan salah satu kakinya dalam bahasa penduduk setempat disebut duduk mengetek. Cerita ini memang sudah lama saya dengar, itu tak lain karena keluarga dari ibu saya sebagaian besar adalah keturunan Banjar yang lama menetap dikawasan kampung pasar atau sepanjang jalan P. Tandean saat ini.

Dahulu harga segelas kopi dan teh hanya berkisar 2 sen saja, Bakpao kurang lebih 3 sen dan biji-biji kopi yang belum diolah harganya hanya mencapai 6 sen per karung. Saat ini harga segelas Kopi atau teh sekitar Rp. 3000, namun jika tambah dengan susu Rp. 4000. Bakpao dagingnya Rp 4000 dan kue Cakui yang juga banyak dicari orang seharga Rp. 1.500, dengan harga yang miring seperti ini, lidah saya sudah cukup dimanjakan.

Sambil meneguk kopi yang mulai dingin, terlintas dari pikiran saya tentang nasib warung-warung kopi lama Tionghoa di Tanjung Selor ini, generasi muda Tionghoa nampaknya sudah jarang terlihat ada yang mau menjalankan bisnis keluarga ini, akankah bagian kecil budaya Tionghoa Bulungan ini akan surut suatu hari nanti atau justru sebaliknya? Biarlah sejarah yang berbicara.

Segelas kopi ini mengajarkan sekali lagi saya bagaimana sejarah orang-orang yang mau bekerja keras dan memiliki komitmen pada apa yang digelutinya, mereka telah menjadi Maestro dibidangnya masing-masing. Saya beruntung bisa mengetahui hal itu walaupun itu hanya seteguk kisah kecil.

Sumber:

Wawancara dengan Ngo Chung Liong, tanggal 23 Desember 2011
Load disqus comments

3 comments