Sunday, March 13, 2011

Catatan Ringan Arkelogi Bawah Air di Bulungan.


(Kapal Warmound yang tenggelam di Sungai Kayan).

Arkeologi bawah air biasanya dipakai untuk meneliti sumur-sumur kuno, pelabuhan (seperti di kota Iskandariyah, mesir), dan kota-kota yang tenggelam (seperti yang terjadi dilaut mati, daerah sekitar yordania), serta kapal-kapal karam (seperti pada tahun 1982, kapal perang tudor , The Mary Rose, diangkat kepermukaan air setelah berada di dasar laut sejak tahun 1545. atau pun kapal perang Romawi di laut mediterania, maupun kapal-kapal dagang yang tenggelam di perairan Bangka-belitung Dan kapal yang men jadi legenda, Titanic).

Dalam melakukan penelitian bawah Air para Arkeolog memiliki beberapa peralatan pendukung yang bisa bekerja dibawah air dan kapal selam yang membantu para Arkeolog memeriksa suatu situs. Segera setelah suatu situs terdeteksi, para penyelam memakai alat pernapasan untuk menyelidiki. Sebelum penggalian dimulai, pembatas tiga dimensii dipasang disekitar rongsokan. Lembing –lembing bawah air dan pipa-pipa penyedot dipakai untuk menyingkirkan puing-puing dan endapan. Temuan-temuan dipetakan memakai pembatas. Teknik khusus juga dipakai untuk memindahkan Artefak . Balon bawah air digunakaan untuk mengangkat benda-benda berat ke permukaan. Ada beberapa catatan penting tentang penelitian bawah air yaitu: Waktu melakukan menyelidiki lokasi dan rongsokan dibawah air, para Arkeolog membawa berbagai alat deteksi Geofisika. Magnetometer proton dipakai mendeteksi benda-benda dari besi dan baja (seperti peluru meriam dan lambung kapal). Sedangkan Side-scan sonar dapat manghasilkan gambar grafis benda-benda didasar laut. Arkeolog juga dapat memakai suara untuk mencari artefak. Sub-bottom profiler memancarkan bunyi akustik yang dapat mendeteksi benda-benda didasar laut.

Untuk indonesia, Arkeologi bawah air merupakan termasuk hal yang baru, karena itu untuk menangani hal-hal yang berhubungan dengan itu maka diciptakanlah Direktorat Arkeologi bawah air yang disingkat ARBAWA.

Lembaga ini merupakan lembaga baru hasil pemekaran dari Direktorat Purbakala yang khusus menangani pelestarian sumberdaya arkeologi bawah air.

Di wilayah Bulungan dan Tarakan, terutama pada saat Invasi (peyerangan) jepang ke Tarakan Januari 1942 maupun kedatangan kembali tentara sekutu (Australia) di Tarakan dan Bulungan tahun 1945. tercatat dalam pertempuran itu, ada beberapa kapal yang ditenggelamkan di wilayah perairan Tarakan maupun diwilayah Bulungan, tentu data-data ini sangat penting untuk dikaji. Terutama untuk bahan kajian para Arkeolog dalam perang Modern, Khususnya para Arkeolog bawah air yang berminat meneliti maupun mengangkat bangkai-bangkai kapal yang terpendam dibawah perairan maupun Sungai-sungai besar Di wilayah Bulungan dan Tarakan sebagai bahan kajian studi sejarah perang Pasifik (1942-1945).

Data-data di perairan tarakan:
1). Tgl 12 Januari 1942 satuan baterai pertahanan pantai Belanda didaerah Karungan, pantai selatan pulau Tarakan (Kustartillerie) yang dilenggkapi meriam ukuran 75 mm buatan Krupp und Essen Jerman, berhasil menenggelam kan dua kapal penyapu ranjau milik Angkatan laut jepang saat memasuki teluk tersebut, kapal penyapu ranjau W13 dan W14 di gempur dengan granat berukuran 4,7 inci sehingga semua awak kapalnya tewas.

2). Tgl 6 Juni 1944 sebuah kapal perusak (destroyer) milik jepang ditenggelam kan diperairan tarakan oleh kapal selam milik Amerika Serikat USS Harder, dibawah kendali Letnan komandan D. Deally.

3). Di penghujung tahun 1944, sebuah kapal palang merah jepang Awa Maru, yang mengangkut pulang ratusan teknisi perminyakan (Nampo Nen Rioso Butai) ditenggelamkan torpedo sekutu, dalam insiden tersebut sekurang-kurangnya menewaskan 450 teknisi perminyakan. Tragedi ini terjadi diantara perairan Tarakan dan Filifina Selatan.

4). Tgl 2 Mei 1945 sebuah kapal penyapu ranjau AS terkena tembakan pihak jepang yang menggunakan senjata pantai 75mm milik belanda yang dirampas di Tanjung juata.

Selama persiapan dan menjelang P-day / Operasi Borneo ( oprasi sekutu yang dirancang oleh Douglas MacActhur untuk merebut pulau tarakan dengan sandi operasi bernama Obeo One ), angkatan laut AS mengalamii kerugian enam kapal motor penyapu ranjau. Kapal penyapu ranjau YMS-329, YMS-51, YMS-363 tenggelam oleh ranjau. Sementara YMS-481 dan YMS-364, ditambah satu kapal lainya tenggelam oleh tembakan senjata pertahanan pantai jepang. Kebanyakan kapal ranjau itu tenggelam pada koordinat 03d.26’N, dan 117d.32’E, dan hanya satu kapal yang tenggelam di koordinat 03.d.14’N, 117d.42’ E.

Data-data didaerah Bulungan:

1). Pada masa Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin (1931-1958), tentara sekutu yang dimotori Nica dan Australia, kembali memasuki bulungan dengan senjata lengkap pada tahun (1945) pada masa itu kapal pesiar milik sultan rusak berat di bom tentara sekutu yang menyangka itu adalah kapal angkatan laut jepang di sungai kayan.

Kapal itu kemudian di dok dipinggir sungai kayan, namun saat di tarik menuju tanjung selor, kapal mewah yang badannya dilapisi besi anti karat itu tenggelam ditengah sungai akibat tali kawat yang menariknya putus.

Agar kapal yang melintas di sungai tidak menabrak lokasi bangkai kapal ditengah sungai itu, maka sultan memasang rambu pengamanan, namun rambu pengaman itu hanyut dihantam kapal yang membawa kayu pada era kejayaan kayu log sekitar tahun 1980-an.

Pada masa pemerintahan bupati Alm. R.A. Besing, pemerintah kabupaten Bulungan berencana mengapungkan kembali bangkai kapal itu dengan tujuan di jadikan objek wisata budaya, sampai beliau meninggal dipertengahan masa jabatannya, hal itu belum terealisasikan.

Catatan :
Satu hal yang sampai saat ini masih mengganjal pikiran penulis, terutama tentang kasus tenggelamnya kapal pesiar milik Sultan Djalaluddin di tengah sungai Khayan. sebagai serdadu perang Para Digger (serdadu Australia) pastinya dapat membedakan jenis kapal perang maupun pesiar, mereka pasti sangat dapat membedakan apakah kapal itu berjenis Penabur Ranjau (mine layer), Kapal perusak (destroyer) maupun kapal penjelajah ringan (Light Cruiser) atau kapal pesiar. Pertanyaannya apakah bentuk kapal itu di desain mirip kapal perang atau memang sengaja di tenggelamkan? Apalagi kita tau saat itu NICA pun ada dalam operasi itu. Kalau memang kapal itu di pergunakan untuk membantu pasukan Angkatan Laut Jepang, tentu saja bagi saja itu sangat kecil kemungkinannya karena sejak tahun akhir tahun 1943 hingga 1944 dan tentunya 1945, tentara jepang sudah terisolasi dari dunia luar, dan tentara Australia menyerang Tarakan tanggal 1 Mei 1945, itu artinya kedatangan serdadu Australia dan Belanda setelah pasukan Jepang di taklukan diTarakan. Kemungkinan pasukan Jepang untuk melarikan diri juga sangat kecil, memang ada sisa Prajurit Jepang yang berusaha melarikan diri ke pulau Kalimantan yang hanya berjarak satu mil dari pantai sebelah barat laut Tarakan dengan tujuan daerah Sesanip hingga daerah Sesayap, tapi pada saat Operasi Bornoe berlangsung pasukan sekutu telah mengadakaan patroli menjelajahi garis pantai untuk mencegah tindakan pasukan Jepang menyebrangi Pulau Tarakan dengan menggunakan kapal pendarat Amerika. Kapal AS dari Resimen Teknis Kapal dan Pantai ke-593 bersama pasukan Batalion Perintis 2/3, dan Batalion Infanteri 2/48 ikut juga dalam patroli laut. Patroli ini membunuh 78 tentara dan menangkap 54 prajurid jepang lainnya selama enam minggu.

DAFTAR PUSTAKA.

(Kharisma Bulungan, fotografi: Saptono, penyunting naskah: Iskandar Zulkarnaen dan zarkoni Maksum. Cet 1, Jakarta: LKBN Antara, 2004).

IWAN SENTOSA, Tarakan “Pearl Harbor” indonesia (1942-1945).

PAUL DEVEREUX, Arkeologi ilmu tentang kehidupan masa lalu (Arkeologi bawah air).
Load disqus comments

2 comments