Monday, March 7, 2011

Sejarah Mesjid Said Ahmad Al-Kaff Tanjung Selor.


(Mesjid Al-Kaff tempo doeloe)

Kalau kawan biasa ke kampong Arab, kawan akan menemui sebuah mesjid yang cukup luas dengan arsiteknya yang sangat indah, orang-orang biasa menyebutnya mesjid kampong arab atau Mesjid Al-Kaff, tahu kah anda sebelum mengalami beberapa kali renovasi, mesjid ini merupakan salah satu asset sejarah penting umat Islam di Bulungan terkhusus lagi mengenai sejarah keberadaan orang-orang Arab keturunan Yaman di Bulungan, beginilah hikayatnya.

Kampong Arab Tempoe Doeleo.

Dahulu, kota Tanjung Selor yang kita kenal sekarang adalah perkampungan-perkampungan masyarakat pendatang, umumnya mereka kebanyakan adalah orang-orang muslim selain orang Cina dan orang Belanda yang datang dikemudian hari. Perkampungan pertama diperkirakan didirikan di sekitar kawasan di ujung tanjung, yang kenal kampong dagang atau kampong arab saat ini kurang lebih pada paruh pertama abad ke 19 M.

Bukti keberadaan sejarah orang-orang Arab dapat kawan temukan pada inkripsi nisan-nisan yang sudah tidak utuh lagi kuburnya, jika kawan-kawan lebih jeli, nisan-nisan tersebut merupakan serangkaian kunci-kunci penting untuk memahami sejarah kedatangan orang Arab di Bulungan. seperti yang kita ketahui, dulu di kawasan ujung tanjung tersebut terdapat makam-makam kuno komunitas Arab sebelum di pindahkan untuk dipagari siring, beberapa nisan yang selamat di tempatkan disekitar gerbang pemakaman umum di PMD, ada dua yang dapat terbaca oleh penulis, khususnya pada angka tahun hijriyah yang digunakan, masing-masing berangka 1241 H dan 1302 H, masing-masing jika dikonfersi menghasilkan angka tahun kurang lebih 1825 M dan 1884 M. Ini menandakan komunitas Arab di Bulungan muncul sekitar awal tahun 1800-an, bahkan jika ditarik garis lurus, sudah ada pendakwah berdarah Arab di Bulungan, khususnya di awal paruh abad ke-18 M seperti Sayyid Abduraman Bilfaqih yang makamnya berada di kawasan Baratan saat ini.


(nisan-nisan pada makam kuno keturunan Arab di bulungan)

Hal tersebut sejalan dengan versi sejarah Bulungan sendiri yang menyebutkan sekitar tahun 1817, setelah Sultan Alimuddin digantikan oleh putranya Adji Muhammad gelar Sultan Muhammad Amiril Kaharuddin, wilayah Tanjung Selor saat itu mulai didiami para pedagang seperti orang Banjar, Bugis, Melayu, orang Arab, dan Cina.

Pola perkampungan komunitas Arab di Bulungan pada dasarnya mirip dengan yang ada dikota Pelembang, dimana mereka biasa membentuk komunitas khususnya antar keluarga yang biasa dipimpin oleh seorang kepala keluarga besar yang dihormati dikalangan mereka, biasanya sesuai fam atau nama keluarga yang mereka sandang, di Bulungan sendiri tercatat beberapa nama keluarga Arab yang bisa ditemukan baik yang berasal dari kalangan Alawiyin seperti Bilfaqih, ada pula fam Al-Idrus, As-Seggaf, Al-Jufri, Al-Kaff, Al-Habsyi, Al-Ba’bud dan Bin Syihab. Di luar keluarga Alawi, ada pula beberapa keluarga Arab yang cukup dikenal pula seperti keluarga Bansyir, Sebe’, Godal, Amri, dan Bin Send.

L. W. C. van den Berg, dalam bukunya yang legendaris Le Hadhramoth et Les Colonies Arabes Dans L’ Archipel Indiens atau dalam versi Indonesianya Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, memberikan gambaran statistik mengenai jumlah masyarakat Arab Hadramaut di Keresidenan Pantai Selatan dan Timur Borneo. Pada tahun 1885 telah dilakukan sensus penduduk pada Keresidenan tersebut diketahui bahwa: di Banjarmasin orang Arab yang lahir di Arab; laki-laki sebanyak 100 orang dan Anak-anak 8 orang, sedangkan orang Arab yang lahir di Nusantara; laki-laki 95 orang, wanita 104 orang dan anak-anak 375 orang dengan jumlah keseluruhan 682. Di Pantai Selatan; orang Arab yang lahir di Nusantara; laki-laki 15 orang, wanita 7 orang dan anak-anak 19 dengan jumlah keseluruhan 41 orang. Sedangkan di Pantai Timur; orang Arab yang lahir di Arab sebanyak 5 orang laki-laki, dan orang Arab yang lahir di Nusantara; laki-laki sebanyak 45 orang, wanita 18 orang, anak-anak 36 orang maka jumlah keseluruhan sebanyak 104 orang. Jadi jumlah total masyarakat Arab di Kerisidenan Pantai Selatan dan Timur Borneo pada tahun 1885 sebanyak 827 orang. Sayangnya L. W. C. van den Berg tidak mendapatkan data yang cukup memadai mengenai jumlah orang Arab di Bulungan, hanya saja besar menurut keyakinan beliau saat itu jumlah orang Arab di Bulungan kurang lebih sebanyak 150 orang.


(ilustrasi kapal dagang jaman bahari, koleksi sharifah Fatimah Syed Zubir)

Pemukiman-pemukiman yang tumbuh di Tanjung Selor -selain Kampong Dagang atau Kampong Arab ada pula macam Kampong Pasar, Kampong Melayu, Pemukiman Chna disekitar Tempekong,- inilah yang kemudian menjadikan kawasan ini sebagai Bandar dagang resmi milik kesultanan Bulungan, sebelum di ambil alih oleh Belanda menjadi kawasan Vierkante Pall. hal ini dibenarkan oleh seorang pakar sejarah maritime Indonesia, Adrian B. Lapian dalam bukunya berjudul Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, menurut beliau :

(“…Sungai kayan atau Sungai Bulungan memiliki peran penting dalam sejarah lokal Kalimantan Timur. Sungai kayan atau Sungai Bulungan yang mulai bercabang di sekitar Tanjung Palas menumpahkan airnya ke laut melalui muara yang banyak sekali jumlahnya. Namun hanya ada dua yang penting bagi pelayaran yaitu Muara Makaban dan Muara Salimbatu. Alur utama adalah Muara Makaban yang menjadi pintu masuk ke Tanjung selor, Ibu kota kabupaten sekaligus pusat perdagangan daerah Bulungan. Muara Salimbatu adalah jalan terdekat untuk berlayar dari Tanjung selor ke pulau Tarakan. Berhadapan dengan Muara Salimbatu adalah Lingkas, pelabuhan penting di pulau Tarakan.

Saat ini Tarakan termasuk kota terbesar diwilayah ini, namun pada Abad XIX ketika sumber minyak disini belum ditemukan dan belum menjadi bahan bakar penting, pusat kegiatan ekonomi adalah Tanjung Selor ditepi sungai Bulungan (sungai kayan) yang terletak diseberang Tanjung Palas, tempat kedudukan Sultan Bulungan”).

Surat Wasiat Sang Saudagar.

saya merasa beruntung karena diperbolehkan oleh salah seorang sesepuh masyarakat keturunan arab untuk mendokumentasikan beberapa koleksi sejarah dokumen-dokumen penting mengenai sejarah mesjid Al-kaff di Bulungan ini.

Sejarah Mesjid Al-Kaff saat yang ada saat ini tidak lepas dari kisah wakaf saudagar berketurunan Arab yang bernama Sayyid Akhmad Bin Mukhsin Al-Kaff, berawal dari keperhatinan beliau terhadap kondisi mesjid yang sudah tidak muat lagi menampung banyak jemaah shalat fardu, selain itu dimasa beliau hidup, shalat Jum’at hanya dilangsungkan di mesjid Ibu kota kesultanan di Tanjung Palas, sehingga agak merepotkan jemaah yang ada diperkampungan Tanjung Selor.


(pembaringan terakhir Sayyid Akhmad Bin Mukhsin Al-Kaff)

Atas dasar inilah Sayyid Akhmad bin Mukhsin Al-Kaff menghadap Sultan Kaharuddin II meminta izin mendrikan mesjid baru di luar kota raja, Sultan kemudian memberi izin yang dilampirkan secara resmi dalam surat yang langsung ditanda tangani oleh beliau:

(“…Bahwa oleh kita Seri Paduka Tuan Sultan Muhammad Kaharuddin jang mempunjai tachta keradjaan didalam kandang daerah negeri Bulongan dan Tidung memberi surat keterangan ini izin dan permisi pada Sd. Achmad bin Mohsin Alkaff akan mendirikan satu mesdjid diseberang di-Tanjung Selor dikampung dagang akan di buat wagaf mendirikan sembahjang djumat dan sembahjang Hari Raja diatas tanah watasan Sd. Achmad bin Mohsin Alkaff tiada tersangkut satu apa2 kepadanja itulah adanja.
di-Bulongan kepada hari Bulan Muharram 1302.

d.t.t. Sultan Muhammad Kaharuddin.)

Mesjid Ahmad Al-kaff, begitulah dulu orang menyebutnya. Dibangun pada masa pemerintahan Sultan kaharuddin tahun 1886 M / 1304 H. Mesjid ini dihibah oleh Said Ahmad Al-kaff, “karena Allah ta’ala dan karena Rasulullah” begitulah ucapan beliau, pada tanggal 1 bulan Rabiul Akhir 1304 Hijriyah bersamaan dengan tanggal 27 bulan Desember Tahun 1886, selang beberapa tahun setelah izin resmi diberikan Sultan Kaharuddin II. Setidaknya itulah yang diketahui pada surat wakaf yang ditulis oleh Said Ahmad bin Muchsin Al-Kaff sebelum berpulangnya kerahmatullah. Surat keterangan berupa pendirian mesjid yang ada pada kita saat ini hanya duplikatnya saja, sedangkan tulisan yang asli dalam aksara arab melayu sudah tidak ditemukan lagi.

Dalam surat wakaf tersebut itu tertulis sebagai berikut:

(“...Di-Bulongan pada 1 hari bulan Rabiul akhir, tahun 1304. bahwa saja Sd. Achamad bin Mohsen Alkaff telah mengaku serta saja lafadzkan dengan saja punja lidah jang saja mewakafkan satu mesdjid serta tanahnja dan apa2 jang ada diatas itu tanah telah mengaku saja Sd. Achmad bin Mohsin Alkaff jang saja sempurna akal dan baik badan dan tiada terpaksa satu mesdjid djami’ jang telah mashur di-Tandjung Selor jang saja dirikan diatas tanah jang dibeli pada Hadji Abdulkarim bin Hasanuddin orang Bandjar jang tersebut dalam ini surat jang saja telah wakafkan jaitu dari tepi djalan sebelah darat terus membawa kedarat Pandjangnja 1000 kaki dan lebarnja dilaut 66 kaki dan lebarnja didarat 72 kaki dan disebelah ilir itu tanah wakaf, tanah Sjech Ali Bakeran dan disebelah ulunja tanah Abu Jamin dan apa2 jang terkandung diatas itu tanah dari rumah dan pohon2 dan mesdjid dan apa jang terlekat dari tiang2 dan pintu2 dan djendela2 dan perkakas2 seperti tikar dan lampu2 dan tempat2 air jaitu semuanja apa jang tersebut telah saja wakafkan karena Allah Taala dan Rasulullah dan karena sekalian islam wakaf jang kekal sampai hari kiamat tiada boleh di djual dan digadaikan dan tiada boleh mendjadi pusaka sekali2 dan jang kuasa diatas itu saja sendiri tempo saja ada didalam hajat dunia nanti dibelakang saja siapa sadja jang dipilih orang banjak jang patut memelihara itu mesdjid dari pada orang islam.
Maka waktu saja mengeluarkan perkataan wakaf dari saja punja lisan saja dalam sehat badan sempurna akal dan tiada terpaksa sekali2 dengan suka hati saja sendiri dimuka saksi2 jang tersebut dibawah ini

WAKAFA BILLAHI WALLIJAN WAKAFA BILLAHI SJAHIDAN.

Sd. Achmad bin Mohsin Alkaff .

Saksi2.
No. 1. Sd. ‘Umar bin Al ‘Idrus.
2. Sd. Abdullah bin Alwier Alkaff.
3. S. Salim bin Said Bamahsun.

Bovenstande handtoekeningen zijn gesteld
Zegeninvoordigneid van mij.
Contreleur. Te Bulongan
d.t.t
tidak terbatja.)

Sayyid Akhmad Bin Mukhsin Al-Kaff memang sudah tiada, tapi sejarah yang tulisnya masih bisa kita kenang sampai hari ini, begitulah riyawat singkat sejarah mesjid Al-kaff dan pendirinya dalam satu epiisode, semoga Allah SWT menempatkan beliau dalam tidur panjangnya yang damai.

Sumber:
Copy Salinan Surat Wakaf Said Ahmad bin Mohsen Al-kaff tentang Wakaf Mesjid Tandjung Selor / Al-Kaff (Al-Hidayah Tanjung Selor) 1 Rabiul Akhir 1304 H (27 Desember 1886). Disalin dari surat aslinya yang bertuliskan huruf arab melayu dan berbahasa melayu kedalam tulisan latin bahasa indonesia oleh Ustadz Mahfud Ghodal pada 15 Agustus 1951. Dokumen koleksi pribadi Said Mohammad Al-Jufri.

Copy Salinan Surat izin mendirikan mesdjid di-Tandjung selor dari Sultan Muhammad Kaharuddin, Bulan Muharam tahun 1302 H (Oktober 1884). Disalin dari surat aslinya yang bertuliskan huruf arab melayu dan berbahasa melayu kedalam tulisan latin bahasa indonesia oleh Ustadz Mahfud Ghodal pada 15 Agustus 1951. Dokumen koleksi pribadi Said Mohammad Al-Jufri.

L. W. C. Van den Berg. Le Hadhramoth et Les Colonies Arabes Dans L’ Archipel Indiens, diterjemahkan oleh Rahayu Hidayat dengan judul Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara (Jakarta: INIS 1989. Seri INIS Jilid 3, 156 Halaman; 24,5 cm) hal. 70.

Ali Amin Bilfaqih, H. Said. 2006. “Sekilas Sejarah Kesultanan Bulungan dari Masa ke Masa”. Tarakan : CV. Eka Jaya Mandiri.

Adrian B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX, Jakarta, Komunitas Bambu, Agustus 2009.

Hasil wawancara dengan tokoh masyarakat Arab di Bulungan, Said Muhammad Al-Jufri tgl 26 November 2008).

Hijri Gregorian Konventer. By Adel A. Al-Rumaih, 1996-1997.
Load disqus comments

2 comments