Rabu, 27 April 2011

Hikayat Sumpah dalam Tradisi Kenyah di Bulungan.


(Ilustrasi Lelaki Kenyah)

Berbicara mengenai tradisi unik dalam masyrakat asli atau tempatan di Bulungan, ada yang kurang rasanya jika kita tidak membahas salah satu dari sekian banyak tradisi unik masyarakat Kenyah.

Ya orang Kenyah merupakan salah satu penduduk asli Kabupaten Bulungan yang mayoritas banyak berdiam di wilayah Kayan Hulu, ada banyak puak-puak Kenyah yang telah lama berdiam dan mengembangkan budaya mereka disana.

Dalam catatan statistik yang dibuat oleh kantor urusan agama Kabupaten Bulungan pada tahun 1951, diketahui bahwa di daerah Kajan Hulu atau Kayan Hulu, melingkupi Apo Kayan dan Pujungan terdapat beberapa puak-puak atau sub suku Kenyah yang berdiam dikawasan tersebut antara lain: Leppo’ Teppu, Bakung, Leppo Tau, Badeng, Ma’ Jalan, Leppo’ Tukung, Ma’ Lasan, Ma’ Lung, Leppo’ Ma’ut, Leppo’ Ke, Ma’ Alim, Nyibun, dan Ma’ Kulit.

Datuk Perdana yang telah meninggalkan catatan Etnografi yang penting sekaligus karya Orisinil yang merupakan buah tangan anak pribumi mengenai masyarakat dayak di bulungan, khususnya yang menyoroti tentang tradisi Sumpah dalam masyarakat Kenyah yang demikian Sakral dan magis tersebut.

Dari Taring Macan Dahan hingga Bato Sungai Kayan.

Dalam catatan Etnografi Datuk Perdana, beliau menulis bahwa penduduk suku Dayak khususnya disepanjang sungai Kayan hingga ke Long Nawang dan seterusnya, demikian juga dikawasan Sungai Bahau , Pudjungan dan seterusnya dalam bersumpah kerap kali menggunakan taring harimau atau Macan Dahan Kalimantan serta kulit kijang sebagai media sumpah.

Sumpah bagi masyarakat Dayak, tidak dapat sembarangan di ucapkannya, ada dua cara yang umumnya digunakan, namun yang paling ditakuti mereka dimasa lampau adalah sumpah dengan taring macan.


(Tarian Hudoq pada masyarakat Kenyah)

Biasanya dalam suatu perselisihan yang tidak dapat lagi diselesaikan untuk dalam jangka waktu yang lama, pihak yang berselisih akan disumpah oleh yang dituakan di kampong tersebut.

Caranya sepotong taring macan dan kulit kijang, kudua benda tersebut di rendam di dalam air lalu diangkat dan ditunjukan pada matahari, sambil menyeru atau memanggil Bale’ atau roh, seperti roh Matahari kemudian pada pohon dan bumi sambil mengucapkan perkataan pada roh tersebut agar menyuruh Harimau atau Macan Dahan untuk memakan hati, meminum darah hingga ke tulang sum-sum si bersalah, kedua pihak kemudian diminumkan benda tersebut.

Sumpah seperti ini sangat dihargai dan ditakuti oleh orang Dayak pada umumnya dimasa itu, biasanya sumpah ini hanya dilakukan juga bila dalam suatu perselisihan belum ada pihak yang mengakui kesalahannya.

Salah satu sumpah yang berat adalah jika ia berhubungan dengan pantangan memasuki areal atau kawasan tertentu. Dendanya terkadang bisa binatang seperti babi peliharaan.


(Macan Dahan Kalimantan, dahulu taringnya digunakan untuk sumpah yang sakral)

Sumpah lain yang juga dihargai adalah sumpah secara lisan, biasanya orang yang mengatakan sumpah tersebut menyandarkan sumpahnya pada sesuatu yang dihargainya, misalnya ada perkataan “Demi Allah” atau Dengan Nama Tuhan”, pada sama lampau dikawasan tersebut mereka menyandarkan sumpah lisan mereka pada “Batu Sungai Kayan” atau “Batu Kenda Kayan”, yang secara harpiah berarti Batu dibawah Kayan.

Menurut penuturan Datu Perdana dalam tulisannya, saat ia menjabat sebagai Onderdistric pada tahun 1930 hingga 1937 dikawasan tersebut, beliau mengatakan bahwa Orang Kenyah sangat tidak suka bila mereka disebut berkata bohong, atau – Baka’- dalam istilah mereka.

Karena itu untuk memelihara janji, mereka bersumpah dengan cata tersebut, hal yang ditakutkan oleh orang Kenyah pada masa itu adalah berkata dusta lebih-lebih dikatakan mereka pendusta. Itulah sebabnya sebisa mungkin mereka menepati janjinya, kecuali ada halangan seperti kematian anggota keluarga, atau membaca tanda-tanda alam seperti lewat lintasan burung yang mereka pahami pertanda buruk sehingga mereka menghindari tempat yang dituju tersebut.

Demikianlah sekapur sirih dari hikayat Sumpah pada masyarakat suku Dayak khususnya orang Kenyah yang sacral dan magis tersebut.

Sumber: Copy naskah ketikan Datuk Mohammad Saleh gelar Datuk Perdana, “Risalah Riwayat Kesultanan Bulungan th 1503 M atau th 919 H”, t.th. hal. 14.

Rabu, 20 April 2011

Selayang Pandang Hikayat Orang Kayan.


(lelaki Kayan dengan pakaian khas mereka).

Orang Kayan, begitulah nama yang disematkan pada diri mereka, Orang Kayan merupakan salah satu dari suku bangsa yang berdiam di kabupaten Bulungan ini, namun sayang pengetahuan kita tentang merekapun bisa dikatakan minim, ini terlihat dari sedikitnya literatur mengenai sejarah hidup mereka yang ditulis oleh kita.

Untuk menambah perbendaharaan pengetahuan kita mengenai orang Kayan yang telah ada, Penulis mengutip sebagian besar dari salah karya yang berjudul ‘Syair Lawe’, yang tak lain merupakan karya sastra lisan terbesar dan paling penting dalam peradaban orang Kayan yang ditulis dan dikumpulkan oleh “dua serangkai" yakni S. Lii’ Long dan Pastor Ding Ngo ditambah sumber-sumber lain yang mendukung.

Sedikit catatan, S. Lii’ Long merupakan sesepuh dan kepala desa Kayan di Tanjung Karang di hulu sungai Kapuas yang terjun secara penuh membantu Pastor Ding Ngo menulis beribu-ribu stanza Syair Lawe’ yang juga kemudian menyunting dan menterjemahkannya dari bahasa Kayan kedalam bahasa Indonesia selanjutnya diterbitkan oleh Gadjah Mada University Press pada tahun 1984.

Buku mengenai ‘Syair Lawe’ secara tidak sengaja penulis temukan di Perpustakaan Pusat IAIN Antasari bagian Sastra, saat penulis masih menempuh pendidikan tingkat sarjana dulu, sayangnya beberapa data copy mengenai buku tersebut tidak sempat penulis bawa kembali ke Bulungan.

Karya ilmiah mengenai sastra lisan orang Kayan ini sebenarnya berjumlah lima jilid, hanya saja yang penulis temukan hanya tiga jilid saja, salah satunya membahas selayang pandang mengenai orang Kayan pada jilid pertama yang akan kita bahas ini, lengkap dengan beberapa ilustrasi penting mengenai sejarah dan kebudayaan orang Kayan.

Sejarah Migrasi Orang Kayan.


Menurut penuturan sejarah, Orang kayan berasal dari kawasan selatan tanah Cina, orang-orang tua dikalangan mereka sudah mengetahui hal tersebut. Dari sana mereka berpindah (melalui Indocina) sampai di Indonesia dan menetap dikawasan Apo Kayan, ditepi Sungai Kayan Kalimantan Timur. Lama kemudian kerena beberapa sebab, mereka berpisah.


(ilustrasi persebaran migrasi orang Kayan ke kawasan Mandalam, Beram, Apokayan dan Mahakam)

Deskripsi mengenai migrasi tersebut telah pula dikaji oleh para ilmuan, sebut saja diantaranya Mikhail Coomans (1997:3) :

“…Semua suku bangsa Daya termasuk kelompok yang bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia. Suku bangsa Daya merupakan keturunan dari pada imigran yang berasal dari wilayah yang kini disebut Yunnan di Cina Selatan. Dari tempat itulah sekelompok kecil mengembara melaui Indo Cina ke Jazirah Malaysia yang menjadi batu loncatan untuk memasuki pulau-pulau di Indonesia. Selain itu, mungkin ada kelompok yang memilih batu loncatan lain, yakni melalui Hainan, Taiwan dan Filipina. Perpindahan itu tidak begitu sulit karena zaman glacial (zaman es) permukaan laut sangat turun (surut), sehingga dengan perahu-perahu kecil sekalipun mereka dapat menyebrangi perairan yang memisahkan pulau-pulau itu. Kelompok-kelompok pertama yang masuk wilayah Kalimantan adalah kelompok Negrid dan Weddid, yang sekarang sudah tidak ada lagi. Kemudian disusul oleh kelompok yang lebih besar disebut Proto-Melayu. Perpindahan ini berlangsung lagi selama 1000 tahun dan berlangsung antara 3000-1500 sebelum Masehi. Sekitar lima ratus sebelum masehi berlangsung lagi suatu perpindahan besar dari daratan Asia ke pulau-pulau Indonesia. Kelompok-Kelompok ini disebut dengan Deutro-Melayu”.

Menurut sebuah cerita di Mendalam, konon dalam perjalanan menuju Mendalam, orang kayan sempat 17 belas kali berkampung, barulah kemudian mereka sampai dan menetap dikawasan Mandalam. Jadi keberangkatan mereka dari Apokayan ke Mendalam lebih beberapa ratus tahun yang lampau.

Sekarang dapatlah kita ketahui, dalam kurun migrasi tersebut, orang Kayan banyak berpindah keluar Apokayan. Cerita mengenai migrasi orang Kayan baik yang berada di Indonesia maupun di Serawak Malaysia memiliki banyak varian cerita yang terkadang antara satu dan lainnya agak berlainan.

Menurut cerita dari Mandalam, mereka berjalan dari Apo Kayan sampai ke Batang Rajang (Serawak) dibagian hulu Sungai Jengayan (Balen) dan dari sana mereka berangkat pula sampai dihulu sungai Sibau (Indonesia). Sesudah menetap beberapa di hulu Sungai Sibau, mereka melakukan migrasi dari hulu sungai Sibau menuju beberapa tempat:

Separuh kembali ke Batang Rajang: Kayan Bali (Balui) di Serawak, sekarang kurang lebih 2.700 orang;
Separuh ke Beram: Kayan Beram (Kayan Telaang Usaan). Serawak; kurang lebih 7.000 orang;
Separuh ke Mahakam: Kayan Mahakam; sekarang kurang lebih 25 buah kampung dengan penduduk lebih kurang 15. 000 orang;
Separuh milir sungai Sibau, nenetap beberapa lama dibagian tengah (masih nampak beberapa tembawang kayan), kemudian ke Sungai Kapuas, lalu akhirnya sampai ke Sungai Mendalam: Kayan Mendalam; sekarang terdapat 3 kompleks perkampungan dengan jumlah penduduk lebih kurang 550 orang.


(ilustrasi cabang-cabang sungai dan lokasi yang terdapat dalam "Syair Lawe", yang dibuat oleh Pastor A. J. Ding Ngo)

Kayan Tubau di sungai Tubau, Serawak tidak banyak disebutkan baik dalam cerita Kayan Mendalam maupun dalam cerita Kayan Balui, mungkin karena sebagain dari mereka adalah Kayan Balui karena bahasa yang digunakan memiliki kesamaan dengan bahasa Kayan Balui. Sekarang terdapat 4 buah kampung dengan populasi penduduk kurang lebih 7 hingga 800 orang.

Kayan Apokayan sekarang, terdapat dua buah kampung penting Datah Dian dengan penghuni kurang lebih 889 orang, kemudian Datah Purah (Kayan Purah), dengan penghuni 397.

Kayan dibagian Hilir Sungai Kayan, sesudah pindah dari Apokayan, terbagi dalam beberapa kampung dan berjumlah kira-kira 2600. Jadi jumlah orang Kayan kurang lebih 31186.

Catatan, menurut Jerome Roesseau, salah seorang ilmuan yang mendapat gelar Ph. D., karena Desertasinya “The Social Organization of the Baluy Kayan”, di Universitas Cambridge di tahun 1974. Pada awal tahun 1970-an, ia memperkirakan bahwa orang Kayan berjumlah lebih dari tiga belas ribu jiwa, namun dalam kata pengantar ‘Syair Lawe’, para pengarangnya memperkirakan hampir dua kali lipat dari jumlah tersebut.

Struktur Politik

Orang Kayan dimasa lampau memiliki struktur politik. Raja atau Hipi (Hipuy) menduduki tingkat teratas dalam srata social dan politik, dalam menjalankan pemerintahan desa ia dibantu oleh dua atau lebih orang.


(peta Apokayan dalam pandangan orang Kayan, perhatikan beberapa nama seperti ubut langit, pako langit, pusmi usaan dan sebagainya mencerminkan konsepsi orang Kayan lama tentang keberadaan alam roh dan manusia)

Orang-orang yang berada dalam lingkaran atas tersebut berstatus setingkat Menteri. Mereka memimpin atau mengurus menurut adat istiadat yang berlaku, yang dikatakan berasal dari Ine Aya’ (Ibu besar) dari Apolagan.

Adat keagamaan di urus oleh Dayung (Imam) yang hampir selalu dipegang oleh wanita. Dayung Aya’ atau Imam Besar adalah istri dari Hipi dan dibantu seorang atau lebih dari kalangan rakyat biasa. Para penasehat biasanya dari para sesepuh desa.Tidak ada tentara yang secara khusus di bentuk, karena semua lelaki Kayan pada dasarnya dididik dan dilatih menjadi Ksatria perang untuk melindungi desa mereka, tradisi ini tidak beda jauh dengan kaum militer Sparta dalam masyarakat Yunani Kuno, mereka hanya dikerahkan jika memang diperlukan.

Ekonomi orang Kayan

Orang kayan dimasa lampau hidup terutama dari hasil berladang. Menurut sejaraah dan penuturan para penulis Eropa, orang Kayan telah lama berladang padi dan mereka juga disebut-sebut mengajarkan pengetahuan mereka tersebut pada suku-suku lain disekitar mereka.

Keperluan yng lainnya ditunjang pula dengan berburu dan mengumpulkan hasil hutan seperti rotan, dammar, gaharu dan kayu yang selanjutnya dijual pada pengumpul, sebelum adanya uang sebagai nilai tukar, barter merupakan cara jual beli yang diakui, dimana mereka mendapatkan barang-barang seperti garam, Tajau (guji), tembakau dan lain sebagainya.

Tajau atau guci merupakan barang yang sangat dihargai dan dikeramatkan oleh masyarakat Kayan atau orang Dayak pada umumnya, Tajau dapat pula digunakan sebagai mahar dalam perkawinan.

Dimasa lampau memelihara ternak biasanya tidak untuk dijual, namun hanya untuk keperluan persembahan adat dan pesta saja, binatang seperti ayam dan babi merupakan hewan ternak yang utama.

Struktur Sosial.

Masyarakat Kayan terdiri dari 3 golongan yakni: Hipi (raja), Panyin (rakyat) dan Dipan (pelayan). Sebagai perbandingan struktur social ini agak sedikit berbeda dengan kerabat mereka orang Kenyah.


(lamin atau rumah panjang orang Kayan)

Masyarakat Kenyah membagi empat kelas sosial mereka sebagai berikut: Paren (Bangsawan tinggi), Pengawa (Bangsawan Rendah), Panyen (orang kebanyakan). Kemudian ada pula yang disebut Kula atau pelayan yang dibagai dua golongan pula yaitu: Salut, anak lelaki yang diampas dari musuh selama peperangan dan menjadi tawanan perang, statusnya kemudian dirubah menjadi Kula oleh Paren yang menawannya, dan yang tekhir ada Kula, anak lelaki dari kaum Panyen yang tak mampu atau yatim piatu, yang kemudian diambil oleh Paren untuk dibesarkan atau dipelihara sebagai pelayan.

Sejak abad 20, status hamba baik itu Dipan, Kula maupun Salut dilebur menjadi Panyin atau Panyen dan mendapat kebebasan dan status yang diakui oleh masyarakat mereka.

Orang Kayan hidup berdekatan antar satu dan lainnya, rumah mereka bersambung-sambung, sehingga menjadi rumah panjang atau Lamin. Rumah Raja biasanya terletak ditengah-tengah, ukurannya biasa lebih besar dan lebih indah. Satu Lamin dapat terdiri dari 80 bilik untuk 80 kepala keluarga, bahkan lebih.

Jarak antara lamin dan tanah yang disangga banyak tiang-tiang tinggi bisa berkisar hingga dua meter bahkan lebih, bukan hanya dimaksud menghindari binatang buas, namun kolong lamin dapat juga digunakan sebagai tempat menyimpan ternak bila diperlukan.

Demikianlah selayang pandang mengenai sejarah orang Kayan, semoga informasi kecil dan singkat ini dapat menambah khazanah pengetahuan kita mengenai orang Kayan. Terima kasih.

Sumber Pustaka:
S. Lii’ Long dan Pastor A. J Ding Ngo. “Syair Lawe”, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1984.

Berita Penelitaian Arkeologi, No. 16 Edisi Khusus, Etno Arkeologi Religi Dayak Di Kalimantan, Banjar Baru, Balai Arkeologi Banjarmasin, November 2006.

Sumber Foto: putrakayan.blogspot.com

Rabu, 13 April 2011

Selayang Pandang Sejarah Mesjid Sultan Kasimuddin.


(Mesjid Sultan Kasimuddin diwaktu senja)

Salah satu harta kekayaan sejarah Bulungan adalah Mesjid Sultan Kasimuddin atau dikenal dengan nama Mesjid Kasimuddin, nama itu sudah sangat dikenal sebagian besar masyarakat Bulungan, namun sejarah yang melikupinya, ternyata tidak setenar namanya. saya akan mengajak kawan-kawan merefres ingatan kita mengenai mesjid bersejarah ini.

Riwayat Singkat Mesjid Kasimuddin.

Mesjid Jami’ Kasimuddin merupakan sebuah masjid bersejarah yang dibangun Peninggalan Sultan kasimuddin(1901-1925), seorang Sultan yang sangat dicintai oleh rakyatnya dan dikenal sangat dekat dengan para ulama, beliau amat gigih melawan pengaruh Belanda di Bulungan, Hal itu tergambar dari ucapannya yang sangat terkenal saat ia menghentikan kebiasaan protokoler yang mengharuskan Sultan menjemput di dermaga ketika pejabat Belanda hendak berkunjung ke isana raja;

“kalau kami sendiri harus menjemput tuan Belanda dari kapal untuk menghadap raja, maka raja mana lagi yang harus dikunjungi, karena saya adalah raja !,“


(teras luar mesjid Kasimuddin, ditempat inilah anak-anak biasanya mengaji Al-Qur'an)

Menurut H. E. Mohd Hasan, dkk, Mesjid Kasimuddin di Bangun sekitar tahun 1900-an, letaknya tak begiru jauh dari bekas mesjid pertama yang dibangun oleh Sultan Datu Alam Muhammad Adil yang berada di dekat tepi sungai Kayan.

Konon pengerjaan mesjid ini langsung diawasi oleh sultan sendiri. asal lokasi tempat mendirikan mesjid kasimuddin, menurut sumber tertulis letaknya kurang lebih 150 meter ke arah darat dari lokasi mesjid pertama, ini artinya dahulu mesjid tua sebelum mesjid Kasimuddin di bangun, lokasinya sangat dekat sekali dari pinggir sungai, sehingga mungkin di khawatirkan pondasinya bisa rubuh dan membahayakan jemaah. kondisi tanah agak becek karena berupa tanah rawa sehingga masyarakat bergotong royong membersihkan dan menimbunnya. uniknya waktu penimbunan tanah pada siang hari untuk kaum laki-laki sedangkan pada malam hari dikerjakan oleh kaum wanita. tidak hanya masyarakat biasa, Sultan Kasimuddin, beserta staf istana dan pegawai mesjid juga turut terlibat penuh dalam pembangunan mesjid bersejarah ini.


(suasana hening dan tenang didalam mesjid Kasimuddin)

Mesjid Kasimuddin memiliki luas 21 X 21 meter dengan model bangunan lama mempunyai tiang penyangga langsung ditengah berjumlah 16 buah yang panjangnya kurang lebih 20 meter dengan besar 25 X 25 centi meter. Mesjid Kasimuddin memiliki 12 buah daun pintu yaitu: 3 buah daun pintu di depan, 3 buah daun pintu di kiri dan 3 buah di kanan masjid, dan 2 dua buah daun pintu lagi di belakang dekat mimbar menghadap ke kompleks kuburan Sultan Bulungan dan keluarga. Pada awalnya lantainya hanya dilapisi oleh tikar, kemudian dengan biaya Sultan Kasimuddin sendiri lantai tersebut dipercantik dengan tehel (marmer) sampai sekarang. Sumber lain menyebutkan marmer dimesjid Kasimuddin diperindah ulang dimasa Sultan Djalaluddin. Juga tak kalah menariknya seni kaligrafi Islam, Khat yang sangat indah bisa dijumpai disetiap sisi dalam mesjid bersejarah ini.

Relasi Mesjid dan Istana.


Dimasa lampau, mesjid Kasimuddin memiliki relasi yang kuat dengan istana Bulungan. pada awalnya para imam mesjid dipilih beradasarkan garis darah turun temurun alias garis keturunan yang terpilih. ini artinya jabatan imam dimasa lampau merupakan jabatan penting yang bersifat otonom, dimana istana tidak ikut campur namun tetap mengakui eksistenisi dan kepemimpinan Imam mesjid tersebut.


(tiga belas pejabat keagamaan yang di lantik oleh Sultan Djalaluddin di Istanan Bulungan pada tahun 1933, penujukan dan penetapan Mufti, Qadi dan para Imam ini, merupakan kelangsungan dari tradisi yang dijalankan dimasa Sultan Kasimuddin. Penulis mencoba menelusuri sejarah para Qadi dimasa tersebut berdasarkan sumber lokaL, kemungkinan besar Qadi yang dilantik adalah Hadji Baha'Uddin, ulama asal Minangkabau, sedangkan Mufti kemungkinan besar adalah Hadji Syahabuddin Ambo' Tuwo, ulama asal Wajo yang juga guru mengaji di Istana Bulungan tempo dulu.)

Hal ini dapat dipahami, bahwa ada semacam pandangan bahwa jabatan seorang imam akan lebih baik jika diturunkan pada generasi keluarganya, tentu bukan hanya soal asal usul keluarga namun juga karena pemahaman tentang agama islam mereka yang mumpuni diatas rata-rata masyarakat biasa. Hal ini setidaknya terjadi sebelum reformasi total yang dilakukan oleh Sultan Kasimuddin.

Dimasa Sultan Kasimuddin berkuasa, ia melakukan langkah-langkah penting melakukan islamisasi politik di dalam istana, jabatan keagamaan disatukan dalam satu jawatan dimana Mufti Negeri, Qadi dan Imam Besar memiliki peran dan pengaruh yang semakin besar untuk melakukan pembinaan terhadap umat, namun disisi lain jabatan ini,-Khususnya Imam Besar- tidak lagi otonom karena istana akhirnya masuk lebih jauh lagi.

Dizaman kesultanan, khususnya pada bulan-bulan hijriyah yang penting, ada semacam tradisi berkumpulnya para pemuka agama dan masyarakat serta kerabat kesultanan di istana Bulungan, biasanya diawali dengan tembakan salvo "Meriam Sebenua", khususnya pada awal dan akhir Ramadhan serta malam 1 Syawal.


(ukiran khat yang indah pada langit-langit mesjid Kasimuddin, disinilah agama dan seni menemukan kata sepakat)

Sehari menjelang awal Ramadhan, semua pengawai mesjid termasuk khususnya yang termasuk dalam jawatan agama islam, berkumpul bersama di istana untuk mengadakan tahlilan menyambut ramadhan. selesai acara Sultan biasanya memberikan uang panjar kepada pegawai mesjid atau jawatan keagamaan dimana Qadi dan juga Mufti 35 gulden para Imam 25 gulden, khatib 15 gulden dan Santri 10 gulden. selama Ramadhan seluruh pegawai mesjid dan staf istana tidak ada yang meninggalkan tempat khususelaksanakan tugasnya. sepanjang malam biasanya mesjid ramai dengan acara Tadarus Al-Qur'an baik di Mesjid Kasimuddin maupun istana raja, bahkan makan untuk yang mengaji atau tadarus alquran langsung ditanggung oleh istana, sepanjang Ramdhan Kesultanan juga menyediakan buka puasa dimesjid dan istana Bulungan.

Pada pertengahan Ramadhan, oleh pegawai mesjid besar diadakan acara khataman Al-Qur'an di istana, biasanya mereka kemudian akan diberi hadiah uang panjar, kataman juga dilakukan diakhir bulan ramadhan sekaligus pembagian zakat fitrah oleh pegawai mesjid.

Setiap tanggal 27 ramadhan Sultan mengeluarkan Zakat Maal (harta) dimesjid, tempat sembahyang Tarwih juga disediakan tidak hanya di dalam, namun juga diluar mesjid.

Benda-benda peninggalan di dalam Mesjid Kasimuddin.


peninggalan-peninggalan bersejarah dapat pula kita temui dimesjid ini, diantaranya adalah Beduk dan Mimbar mesjid yang usianya sudah ratusan tahun.


(tampak dari depan tabuh keramat mesjid Kasimuddin)

Beduk di mesjid ini merupakan salah satu peninggalan Islam di Bulungan. Beduk tersebut sekarang ini tersimpan di teras Mesjid Sultan Kasimuddin, usianya diperkirakan lebih dari 200 tahun namun sampai hari ini kayunya masih bagus, menurut kisah yang beredar, beduk tersebut merupakan potongan kayu tabuh (beduk) di mesjid tua yang berada di Baratan.

Konon kayu ini hanyut dari hulu dan terdampar didalam parit dekat lokasi mesjid kasimuddin saat ini, kayu tersebut sudah berbentuk beduk dari awalnya. Maka oleh ketua-ketua kampunga, potongan kayu beduk yang mereka sebut "nenek kayu" tersebut mereka jadikan tabuh mesjid agung tersebut.

Riwayat lain menceritakan ada satu masa orang-orang yang tinggal di hilir kampung Penisir, dihulunya kampung Baratan sekarang, pada malam tanggal 15 bulan Hijriyah yang bertepatan dengan malam jumat, pada tengah malam sering terdengar suara pukulan tabuh atau beduk berirama panjang dan bertalu-talu, kesaksian lain dari masyarakat bahwa disungai pernah dilihat oleh masyarakat berupa dahan-dahan kayu yang masih hidup timbul dan mudik melawan arus air, kemudian tenggelam lagi ke lokasi asalnya, potongan kayu tersebut dipercayai berasal dari lokasi yang sama dimana terlihat fenomena potongan kayu yang melawan arus tersebut.


(ukuran panjang keseluruhan beduk Mesjid Kasimuddin)

Penulis telah melakukan pengukuran terhadap beduk tersebut pada tanggal 13 Januari 2009 jam 04.20 Wita, hasilnya diketahui beduk tersebut memiliki panjang 274 cm, dengan diameter garis tengah 47 cm, dan memiliki ketebalan kayu sekitar 1 inci atau 2,4 cm.

Selain tabuh atau beduk, benda bersejarah lainnya adalah Mimbar yang saat ini terdapat didalam Mesjid Sultan Kasimuddin, merupakan mimbar yang cukup tua umurnya, keistimewaan dari mimbar ini adalah ia sepenuhnya merupakan representasi dari seni ukir Bulungan yang begitu indah.

Pola hias berupa dedaunan sangat menonjol dihampir semua bagian mimbar terutama pada tangga mimbar, kepala mimbar, bagian dalam mimbar yang semuanya diukir dengan sangat teliti serta dilapisi cat berwarna keemasan, mimbar Mesjid Sultan Kasimuddin merupakan salah masterpiech yang sampai sat ini masih dapat dinikmati keindahan dan keberadaannya. Menurut penuturan sumber lokal, mimbar tersebut dibuat dan dihadiahkan oleh seorang kerabat Kesultanan yang sangat ahli dalam seni ukir Bulungan.


(keindahan ukiran pada mimbar mesjid Kasimuddin, salah satu mahakarya Bulungan yang masih bisa kita saksikan hari ini)

demikianlah selayang pandang sejarah mesjid Kasimuddin, semoga kita, generasi mudah bisa lebih menghargai nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh orang-orang sebelum kita.

Sumber:

H.E. Mohd. Hassan, ddk.“Sejarah Masuknya Islam di Kabupaten Bulungan”,Tanjung Selor 26 November 1981.

Catatan hasil ukuran beduk mesjid kasimuddin, 13 Januari 2009 jam 04.20 Wita, oleh Muhammad Zarkasy. lokasi Mesjid Sultan Kasimuddin Tanjung Palas.

Foto:

Koleksi pribadi Muhammad Zarkasy.

Koleksi Siti Harna Hamad.

Kamis, 07 April 2011

Satu bangsa dua negera; generasi muda Bulungan di tapal batas.

Satu bangsa dua negara, yah itulah gambaran generasi muda bulungan saat ini. bagi orang bulungan di indonesia. Bulungan bukan hanya tanah nenek moyang tapi juga tanah tumpah darah, dan bagi kawan-kawan yang kebetulan beretnis Bulungan di malaysia, khususnya di sabah, "Bulungan adalah tanah nenek moyang, tapi di sini (sabah) adalah tanah tumpah darah kami", itulah realitas sejarah yang membagi generasi muda bulungan ditapal batas.


Beberapa puluh tahun kedua generasi ini tumbuh dan berkembang sesuai pola pikir dan pendidikan masing2 negara yang menjadi induknya, jadilah kedua generasi satu darah namun berbeda cara pandang, berbeda bahasa dan sebagainya. tak salah memang. karena sejarah sudah terjadi seperti itu.


1964, merupakan titik balik yang penting, beberapa keluarga bulungan terpisah, jauh dari belaian lembut tanah lembab di tanjung palas, jauh dari gemericik merdu sungai kayan yang dahulu sering mereka rasakan, bahkan beberapa dari mereka tak lagi pernah melihat gunung putih hingga ajal menutup mata mereka.


Rindu ... mungkin itu yang ada dalam benak mereka... sampai akhirnya satu per satu anak-anak mereka lahir disana, dan tak pernah tau bagaimana rasanya mendekap tanah lelehur mereka. beberapa dari mereka bahkan ada yang memiliki hati dingin, sedingin es beku, karena hanya tahu mendengar kisah pilu.


Saya sendiri sempat terharu waktu beberapa kawan disini bertukar link di Facebook dengan kawan2 komunitas bulungan di tawau. masing-masing berkisah tentang orang Bulungan di indonesia dan Tawau, saya memang tidak tau bahasa bulungan, tapi saya sangat senang, mungkin ada sedikit jalan merekatkan silaturahmi yang sempat terputus berpuluh tahun silam, mungkin lewat jalan seperti ini bisa mencairkan sedikit hati yang beku. mengobati sedikit rasa rindu, walaupun saya tau, sejak saat itu, sejarah membuat kita telah mengambil haluan yang berbeda.

Senin, 04 April 2011

Haji Muhammad Ali Husen; Saudagar India dari Bulungan.


(Haji Muhammad Ali Husen, Saudagar India dari Bulungan.

Haji Muhammad Ali Husen, begitulah orang menyebut namanya, ia memang bukan satu-satunya orang India di bulungan, namun beliau merupakan salah satu lelulur keluarga India di Bulungan yang paling berpengaruh semasa hidupnya. Tak banyak catatan sejarah yang ditinggalkan, hanya kisah-kisah turun temurun saja yang sampai pada kita dari kerabat dan keturunannnya.

Memahami hikayat sejarah Haji Muhammad Ali Husen, pada dasarnya bukan hanya sekedar memahami riwayat hidupnya saja, namun lebih besar lagi yaitu berupaya memahami arus migrasi besar ras India di Indonesia khususnya di Abad ke 19.

Dari Bombay ke Tanjung Selor.

Kisah turun temurun yang sampai ditelinga penulis, menyebutkan bahwa ia berasal dari kota Bombay, sebuah wilayah yang terletak di pantai barat India. Bombay di akhir abad 19, semasa hidup almarhum Haji Muhammad Ali Husen merupakan salah satu kota pelabuhan tersibuk di India bahkan sampai hari ini, dahulu kota ini berasal dari nama Marathi.

Kota ini berkembang pesat dimasa Inggris berkuasa, mereka membangun kota Bombay dengan standar Eropa- sama dengan kolonial Belanda yang membangun Batavia dan Bandung di Indonesia-, jalan-jalan yang mulus merentang dari ujung ke ujung seperti Appolo Street. Bangunan-bangunan besar sebut saja: Bombay Watson Hotel, Bombay Byculla Hotel, Victoria Rail Terminus, Governor's Palace, Clock Tower, Crawford Market dan Alexandra Dock hingga Bombay Harbor merupakan bagian dari supremasi Inggris kala itu.

Sisi lain dari kota Bombay yang megah itu juga menyisakan jurang yang lebar antara colonial dan pribumi, khususnya orang-orang Mohammaden, sebutan colonial Inggris bagi kaum muslim, di kota inilah Haji Muhammad Ali Husen berasal.


(pelabuhan Bombai dalam lukisan)

Menurut catatan Alwi Shahab, selain orang Madras dari kawasan selatan india ada juga orang Sind dan Punjab dari kawasan utara yang paling banyak melakukan hijrah ke Indonesia. Orang-orang India khususnya yang berasal dari utara, biasanya memilki modal yang cukup besar menyambung hidup diperantauan, sebagian besar dari mereka menjadi pedagang. Mudahnya transportasi antara india dan Indonesia memberikan jaminan kemudahan bagi para perantau india memulai hidup di Indonesia. Sama seperti pengusaha Arab, orang-orang india yang memiliki modal lebih biasanya berinfestasi properti.

Sayang kita tidak mengetahui pasti kapan lebih tepatnya Haji Muhammad Ali Husen datang ke Indonesia hingga menetap di bulungan, namun diperkirakan ia telah menetap di Bulungan pada paruh akhir abad ke 19. Kedatangan Haji Muhammad Ali Husen sendiri mungkin tidak lepas dari informasi pedagang arab di Singapura. Seperti yang kita ketahui beberapa pedagang Arab di Bulungan, ada yang berdagang hingga ke Singapura, ini diperkuat dari penuturan beberapa tokoh Arab di Bulungan yang mengatakan sebagian dari orang-orang Arab di Bulungan berasal dari Singapura, Pontianak dan sebagian kecil dari kota Palu.

Dikota Tanjung Selor, Haji Muhammad Ali Husen membuka toko yang bernama Bombay Shoes, awalnya ia menjual alas kaki seperti sepatu dan sandal, usahanya kemudian diperlebar lagi dengan menjual lampu hias, tekstil dan emas. Barang-barang yang diperjual belikan didatangkan langsung dari para perajin india di Bombay, seperti sepatu, kain, emas merupakan bagian dari komoditi penting yang dibuat tangan dengan peralatan yang sederhana.

Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara haji Muhammad Ali Husen dan para perajin merupakan salah satu bagian penting yang patut dicermati, para perajin menyediakan pasokan barang dan Haji Muhammad Ali Husen menyediakan modal usaha dan pasar bagi mereka. Hal seperti ini tentunya akan sulit diwujudkan jika tidak memiliki kemampuan menejerial yang baik.

Haji Muhammad Ali Husen kemudian merekrut adiknya sendiri Haji Peda Husen Ali, sebagai pedagang perantara yang menjadi orang yang dipercainya mengurus relasi bisnisnya di Bombay, ketersedian pasokan barang yang lancar dan kuatnya relasi bisnis membuat usaha Haji Muhammad Ali berkembang sangat pesat, ia menjadi salah satu orang terkaya di Bulungan ketika itu. konon, beliau bahkan sempat dikabarkan memiliki property Sembilan buah rumah di kampong arab.

Keturunan Haji Muhammad Ali Husen di Bulungan.

Haji Muhammad Ali Husen adalah seorang perantau sekaligus pedagang ulung, ia datang ke Bulungan tidak memiliki keluarga, sampai akhirnya ia menikah dengan salah seorang gadis bulungan bernama Sofiah atau Supiah dalam dialek Bulungan.

Pernikahan antara Haji Muhammad Ali Husen dan Sofiah memiliki keturunan yaitu: Zainal Abidin, khatijah, Maryam, Zahara, Sakinah, Fatimah dan Syaifuddin. 



(Haji Muhammad Ali Husen dan Haji Peda Husen Ali berfoto bersama didepan toko Bombay Shoes sebelum H. Peda husen Ali kembali ke Bombay dalam sebuah urusan bisnis).

Satu hal yang amat menarik, walaupun ia beristri pribumi Bulungan, namun ia mampu mengembangkan budaya india di lingkungan keluarga besarnya, setidaknya satu hingga dua generasi dibawahnya, jadi walaupun anak-anaknya terlahir dari ibu berdarah Bulungan, namun karakteristik India yang mereka miliki lebih kental, bukan hanya dalam segi kemampuan berbahasa urdu namun juga dari segi fisik sehingga orang lain mungkin akan mengira ibu mereka adalah orang India.

Haji Muhammad Ali Husen kemudian meninggal dan dimakamkan di Bulungan.- Berbeda dengan adiknya Haji Peda Husen Ali yang dimakamkan di India-, saat ini keturunan Haji Muhammad Ali Husen banyak terdapat di Bulungan dan dikota Tarakan, malahan konon ada juga yang menetap hingga Sulawesi, Sabah dan Singapura.

Sumber:

Wawancara dengan H. Hanif dan Hj. Aminah 20 Maret 2011

Alwi Shahab, “Kampung koja dan komunitas India”, REPUBLIKA – Minggu, 08 September 2002.

Natalie Mobini Kesheh; “Hadrami Awakening: Kebangkitan Hadrami di Indonesia”, Jakarta: Akbar Media Eka Sarana. Rajab 1428 H / Agustus 2007.

Wikipedia Malaysia; Mumbai.