Thursday, March 14, 2013

Dokumentasi Foto Sejarah, Harus Kah?


(Salah satu foto bersejarah tentang KNIL di Bulungan yang saya abadikan beberapa tahun lalu, foto ini sekarang dalam keadaan memprihatinkan karena tempias hujan, harus segera diperbaiki)

Saya ingat ketika berbicara dengan seseorang keturunan Tionghoa Bulungan yang sukses mengurus toko miliknya, kebetulan saya senang datang ke tokonya untuk melihat koleksi foto-foto lawas miliknya yang tergantung apik disudut dinding, kebetulan ia memang punya studio foto, dan koleksi foto tersebut merupakan peninggalan mendiang ayahnya yang juga merupakan seorang fotografer yang berjasa besar mendokumentasikan sudut-sudut lawas kota Tanjung Selor.

Suatu ketika ia pernah “kelepasan” berujar pada saya bahwa ia pernah menawarkan keseluruhan copy koleksi foto berharga tersebut pada instansi yang berwenang mengenai Budaya dan Pariwisata Bulungan, tak banyak katanya hanya sekitar 20 hingga 25 juta rupiah saja, namun apa yang ia dengar dari salah seorang dari mereka mengatakan, “aduh maaf koh kami saat ini tidak butuh itu”, mendengar ucapan itu beliau Cuma tersenyum dan mempersilahkan mereka untuk mengabadikan foto yang tergantung berukuran besar disisi dinding dalam tokonya itu.

Mendengar hal itu, perih rasa hati saya, mengapa? Untuk koleksi berharga yang memuat mozaik sejarah Bulungan terdokumentasi dalam foto hitam putih, mereka tak mampu mengeluarkan dana yang sebenarnya tak banyak itu, sedih karena pada akhirnya sang empu tak pernah lagi berniat untuk membicarakan hal itu sehingga mungkin memutuskan untuk menyimpan koleksi itu dalam lemari tuanya, sudah dapat ditebak, misteri akan potongan sejarah itu mungkin akan beliau bawa hingga sampai masa hidupnya. Sebuah kerugian yang teramat besar dan pantas untuk diratapi. Saya seolah tak percaya dengan realitas tersebut, tak percaya bahwa ada peran dan kesempatan besar untuk mengabadikan sejarah justru terlewat begitu saja.

Mengabadikan sejarah yang hilang.

Faktanya sampai hari ini sejarah lokal belum menemukan tempat sejatinya di Bulungan, padahal sejak terbakarnya istana Bulungan puluhan tahun silam, sejarah Bulungan paling banyak dapat diabadikan dan diresapi keberadaannya oleh generasi muda kita melalui benda-benda tinggalan sejarah seperti foto-foto tersebut.

Tentu saja bukan hanya sekedar memajangnya dalam museum, namun juga merawat keberlangsungannya, dalam hal ini semua elemen masyarakat haruslah terlibat, kita tentunya tak bisa hanya memberikan tugas “suci” tersebut hanya pada Yayasan Museum Kesultanan Bulungan semata, namun peran pemerintah daerah, khususnya melalui instansi terkait yang berhubungan dengan dunia budaya dan pariwisata yang nampaknya cukup pulas tidurnya. Harus ada inisiatif untuk mengabadikan setiap momen bersejarah agar generasi muda tak lupa sejarahnya sendiri.

Contoh paling sederhana adalah beberapa foto yang pernah saya lihat beberapa saat yang lalu di Museum Kesultanan Bulungan, maaf sebelumnya, saya melihat beberapa foto yang rusak karena terkena tempias hujan di beberapa sudut dinding, miris sekali rasanya karena bila tak direstorasi, sejarah yang menyertainya akan hilang begitu saja. Harus ada upaya serius untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah ini jangan sampai menyesal kita kelak dikemudian hari dan mengacungkan telunjuk disana-sini untuk mencari kambing hitam.

Tanpa kita, generasi muda serta pihak-pihak yang berwenang untuk menyelamatkan dan mengumpulkan aset bersejarah ini, niscaya “dosa-dosa sejarah” yang tak kecil akan ditanggung oleh pihak-pihak yang mampu berbuat banyak namun hanya mendiamkan diri saja. Saya berharap penyelamatkan dan pengumpulan foto-foto bersejarah tersebut dapat direalisasikan dan pemerintah harus gesit dan cepat untuk bertindak. 

Selembar foto yang tak ternilai harganya itu masih lebih baik untuk mengingatkan kita pada sejarah, dari pada dana yang besar tersebut digunakan untuk hal yang tak terlalu berdampak besar bagi penyelamatan sejarah dan budaya Bulungan. Semoga tulisan kecil ini bisa membuka hasrat kita menyelamatkan kepingan sejarah Bulungan yang luar biasa itu. (zee)
Load disqus comments

0 comments