Tuesday, May 21, 2013

Hikayat Pasta gigi dalam selipan sejarah Bulungan.


(Sebuah sikat gigi yang diabadikan dalam museum Kesultanan Bulungan)

Zaman sekarang yang namanya pasta gigi bukanlah hal yang yang asing, sejak kecil kita sudah dikenalkan dengan sahabat dekat sikat gigi itu, namun tentu saja adakalanya terselip tanya dalam diri saya, kapan sebenarnya mula-mula mahluk bernama pasta gigi itu sampai ke Bulungan, terlebih beberapa tahun yang lampau saya pernah menulis sebuah artikel mengenai beberapa buah benda peninggalan sejarah Bulungan di museum yang salah satunya memajang sebuah sikat gigi mahal berganggang perak. 

Zaman Hindia Belanda hingga sekarang, Odol tak lekang di gosok waktu.

Hikayat pasta gigi dan alat gosoknya memang elok bila dibicarakan sebagai bagaian dari selipan kecil sejarah Bulungan, bukan apa, pasta gigi dan segala perangkatnya memang menjadi bagian dari pengaruh Eropa lawas di zaman dahulu, apakah orang di Bulungan tak tahu gosok gigi?, eith jangan salah sebelum sikat gigi muncul dalam tiap toilet dan dibawa ke jamban-jamban milik masyarakat sungai di Bulungan. Kayu Siwak sudah lama digunakan orang untuk membersihkan gigi dan mulut ketika itu, memang jumlahnya terbatas dimiliki oleh segelintir orang khususnya orang-orang berpunya. Kayu siwak di bawa oleh orang Arab ketika mendirikan pemukiman di Bulungan. Bersiwak sendiri menjadi bagian dari kebudayan yang mereka bawa dari tanah leluhurnya Hadramaut yang kemudian ditularkan di Bulungan. Lebih jauh bersiwak sendiri menjadi bagian dari Sunnah Rasulullah SAW. 

Sayang karena kayu Siwak tak tumbuh di Kalimantan, kisaran harganya kala itu cukup mahal dan tak selalu dapat dengan mudah. Orang dahulu ada yang mengatakan untuk menguatkan gigi mereka atau paling tidak memutihkan gigi, konon ada yang menggunakan arang hitam. Tentu saja cerita tersebut masih harus di dalami lagi, ada juga yang konon menggunakan buah pinang sebagai usaha untuk menguatkan gigi. Terlepas dari itu berbicara mengenai pasta gigi, ia juga mempunyai hikayat tersendiri yang patut di kisahkan keberadaanya.

Penulis menduga pasta gigi sendiri muncul di Bulungan berkat pengaruh interaksi pejabat kolonial dan tentara KNIL dengan  masyarakat kesultanan Bulungan khusunya dengan para bangsawan. Masyarakat Bulungan tipikal masyarakat yang terbuka dengan hal-hal baru maka masuknya sikat gigi beserta pasta giginya bukanlah yang aneh lagi dikemudian hari. 

Diperkirakan paling tidak pasta gigi sendiri muncul di Bulungan dimasa awal-awal Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, kenapa bisa begitu, ini karena di Hindia Belanda iklan pasta gigi deras muncul di khalayak ramai tahun 1940-an, dan faktanya keberadaan perangkat alat cukur rambut, kumis dan jenggot serta pasta gigi yang di tempatkan dimuseum Bulungan adalah peninggalan pada masa tersebut.

Sampai saat ini orang di Bulungan hampir selalu menyebut pasta gigi dengan nama Odol, dalam hikayat nama odol sendiri mengacu kepada merk sebuah pasta gigi yang masyhur namanya di zaman Hindia Belanda, -memang saat ini merk dagang tersebut sudah lama tak lagi beredar di indonesia-, umumnya orang Indonesia agak kesulitan menyebut pasta gigi dalam bahasa Belanda yang bila di ujarkan bernama “tandpasta”, karena itu lidah orang bahari lebih nyaman menyebutnya dengan sebutan odol, maka tabiat ini berlaku pula di Bulungan hingga saat ini. 

Itulah sebab walaupun selepas Belanda angkat dari Indonesia dan pasta gigi mulai di banjiri dengan beragam merk pasta gigi seperti Pepsodent misalnya ditahun 50-an, tetap saja saya menemukan orang menggunakan nama odol untuk menyebut pasta gigi apapun merknya, setidaknya saya masih menemukan hal itu di Bulungan. (zee)
Load disqus comments

1 comments: