Sunday, December 30, 2012

Mas Sugeng Arianto: Sejarawan Tulen Dari Bulungan.


Bicara tentang penulis sejarah kontemporer dari Bulungan, boleh di bilang ada beberapa nama  layak disebutkan diantaranya adalah Said Ali Amin Bilfaqih, kemudian M. Said Karim yang birau 2012 kemarin menelurkan buku sejarah bulungan dan secara brilian mampu “menyastrakan” kisah sejarah paling populer di bulungan dengan judul “Reinkarnasi Putri Lemlai Suri” dan tentu saja ada satu lagi yang tak bisa dipisahkan dari dunia kesejarahan di Bulungan yaitu Pak Sugeng Arianto. 

Berbeda dengan saya yang hanya pencinta sejarah dan belajar secara otodidak, Mas Sugeng -sapaan akrab saya pada beliau-, boleh dibilang salah satu sejarawan tulen Bulungan, mengapa? itu karena menurut hikayat beliau secara langsung mengambil ilmu kesejarahannya di Universitas Gajah Mada di kota Malang hingga mendapat gelar sarjana. Tema yang diangkat oleh beliau dalam skripsi tersebut termaktub keterangan bertulis Arianto, Sugeng. Agustus 2003.“Kerajaan Bulungan 1555-1959”. Malang : Skripsi Sarjana Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra UGM. Hebatnya lagi, boleh dibilang inilah karya pertama mengenai bulungan yang diuji oleh para akademisi, jadi setelah sekian lama Bulungan tak muncul dalam pusaran sejarah, nyaris terlupa oleh waktu, mas Sugeng mengangkatnya kembali dalam bentuk karya ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan kevalidannya. 

Beliau adalah salah satu mentor yang berpengaruh dalam hidup saya,  -selain keluarga dan orang tua saya ada juga Pak Wadjidi Amberi sejarawan akademis asal Kalsel  yang banyak menelurkan karya juga adapula Pak Said Ali Amin yang meluangkan waktunya untuk menulis sejarah Bulungan, saya berterimaksih atas nasehat dan buku yang telah beliau berikan pada saya.-  Mas Sugeng yang saya kenal orangnya bersahaja dan tak pelit ilmu. Saya ingat betul saat masih kuliah, kala itu saya hanya mengenal beliau dari nomor Handpone yang disematkan pada blog sejarah Bulungan generasi pertama miliknya. Tak saya sangka, beliau justru mengapresiasi kegemaran saya mengeksplor sejarah Bulungan, padahal saya saat itu masih terbilang “anak bawang” dalam hal ini. saya masih menyimpan tulisan apresiasi beliau terhadap saya walau saat ini blog pertama beliau itu sudah tak aktif, namun jika boleh jujur itulah bentuk dukungan dan pengakuan orang lain terhadap keberadaan saya, dan saya tak melupakan itu ...

Zarkash
Seorang putra daerah yang kini sedang kuliah jurusan muamalat di salah satu perguruan tinggi di Banjarmasin telah membaca sejarah kesultanan Bulungan pada situs ini. Tampaknya termotifasi untuk "menulis" khasanah lokal Bulungan. Semoga saja aktifitasnya dalam menulis tidak mengganggu kuliahnya. Mungkin tulisan-tulisanya yang lain telah diposting pada web yang dibuatnya yaitu http://zarkasy-muamalat05.blogspot.com. Informasi ini disampaikan melalui sms kepada redaksi. Selamat ya buat Zarkash, mudah-mudahan kuliahnya lancar, dengan demikian akan membuat bangga kedua orang tua di Tanjung Selor.

Di posting  Minggu, 2008 Maret 02 pukul 11:57

Masa Sugeng dan Dunia Maya 

Mas Sugeng bagi saya bukan hanya sekedar guru sejarah yang mencatatkan hasil pengamatan yang ia miliki, bukan hanya sekedar mempromosikan sejarah Bulungan dari blog-blognya, namun lebih dari itu, beliau adalah orang mampu membuka jalan bagi pemahaman kesejarahan dan Bulungan secara luas. 

Fakta yang tak dapat kita lupakan adalah, dimasa-masa sebelumnya, sejarah Bulungan nyaris tak tersentuh dunia maya, nyaris dilupakan dalam kepingan waktu. Jikapun ada catatan itupun banyak dari Copy Paste yang kadang hanya sedikit yang menyentuh pada kajian kesejarahan itu sendiri. Jadi dapat dipahami Blog Sejarah Bulungan yang secara intens beliau tulis didunia maya adalah pelopor dari jalinan silaturahmi intelektual dan memori kolektif yang dimiliki oleh orang Bulungan tak hanya di Indonesia, melainkan juga di Malaysia, Filipina, Singapura, Brunai bahkan Belanda.

 (Mas Sugeng saat mengunjungi Museum Berau)

Menulis sejarah Bulungan yang terlupakan oleh waktu kala itu, menjadi motivasi penting bagi beliau, -apalagi saya kadang mendengar ada beberapa orang yang berkisah pada saya, selama masih menuntut ilmu di Malang, beliau termasuk orang yang sangat bersemangat bila mempresentasikan sejarah Bulungan baik dari kala pertemuan di ruangan maupun sekedar obrolan santai-, Seperti pepatah mengatakan “Takkan hilang Melayu didunia, Takkan hilang Bulungan dipukul waktu”, jadi dapat dipahami ada kebanggan yang dirasakan oleh orang-orang di Bulungan khususnya pada saat blog-blog awal yang ditulis oleh mengupas mengenai kesejarah Bulungan yang lama tak terdengar itu. Sama ketika saya rasakan membaca blog beliau yang begitu memotifasi diri saya untuk menulis.

Menariknya beliau juga adalah orang yang pertama kali melakukan “telaah” terhadap karya kontroversi pak Said Ali Amin Bilfaqih, karya yang saya maksud ada “Sejarah Bulungan dari Masa Ke Masa”, jujur buku ini menarik bagi saya karena memang cukup berani mengetengahkan isu penting mengenai sejarah insiden 1964. 

Di tangan Mas Sugeng referensi ini semakin hidup dan dapat diakses jutaan pembaca di dunia maya, efeknya sungguh dramatis, study mulai bermunculan mengenai insiden dibakarnya istana Bulungan tersebut, puncaknya Metro TV kemudian melakukan telusur mengenai sejarah di Bulungan dengan judul “ Merah di langit Bulungan”, yang sempat ditayangkan saat itu. Sejauh yang saya tau selain berasal dari buku Pak Said Ali Amin, para kerabat istana dan masyarakat bulungan pada umumnya, refrensi juga dimbil oleh para kru yang meliput berasal dari blog beliau tersebut.

Lain pada itu, beliau juga aktif mensosialisasikan bukti-bukti kesejarahan serta memiliki minat besar dalam upaya mendokumntasikannya tak hanya saat beliau aktif masih sebagai pengajar maupun disela kesibukannya saat ini, sejauh yang saya tau beliau bahkan berupaya melakukan pemetaan terhadap posisi makam-makam Sultan Bulungan dengan GPS sehingga dapat diakses di dunia maya, begitu pula terhadap dokumentai acara-acara kesultanan bulungan, bagi beliau dokumentasi berupa foto dan video adalah harta karun sejarah yang tak ternilai harganya serta dapat bercerita banyak bagi generasi muda bulungan nantinya.

Minat besar lain yang saya perhatikan dalam blog kajian beliau adalah “Hubungan kesejarahan antara Bulungan-Berau” khususnya pada Abad 18 dan 19 M, hal itu dapat dipahami karena dinamika Hubungan Kesultanan Bulungan dan berau akan mempenguhi kawasan utara kaltim ini tak hanya dimasa lalu namun juga dimasa kini. Studi tersebut nampaknya lahir karena banyaknya makam-makam milik bangsawan berau yang letaknya tak jauh dari tapal Bulungan berau khusunya dikawasan Tanah Kuning. 

Mas Sugeng dan karyanya 

Tentu saja dalam hal ini karya penting milik beliau yang tertulis selain di dunia maya, sejauh yang saya ketahui adalah skripsinya itu sendiri yang bertajuk “Kerajaan Bulungan 1555-1959”, saya bersyukur dan berterimaksih sebesar-besarnya pada beliau karena mau meminjamkan hasil skripsi beliau agar dapat saya gandakan.

Sejauh yang saya amati, skripsi tersebut setidaknya bercerita rentang waktu masa-masa pra dan pasca kesultanan bulungan yang secara umum dapat diketahui, kedatangan belanda di bulungan pasca perjanjian 1850, penetrasi pengaruh belanda dalam struktur politik kesultanan Bulungan pasca Datuk Alam Muhammad Adil dengan perubahan-perubahan pembagian distrik kesultanan bulungan dimasa kolonial serta penempatan kontroleur di Bulungan, adapula mengisahkan masa-masa singkat pandudukan Jepang yang kemudian ditutup dengan peristiwa bersejarah bergabungnya kesultanan Bulungan ke dalam pangkuan NKRI. 

 (Dua buah karya tertulis beliau yang masih saya simpan dengan baik)

Skripsi beliau memang hanya membatasi hingga tahun 1959 saja, nampaknya beliau memberikan “PR” lain untuk meneruskan kajian sejarah bulungan setelah tahun 1959, sebagian besar data beliau gunakan merupakan data yang tersimpan di arsip negara, selain buku-buku yang berasal dari bulungan, sehingga validitasnya dapat dipertanggungjawabkan.

Karya lain adalah beberapa buah buku poket diantaranya berjudul “Raja Raja Islam Kerajaan Bulungan”, istimewanya buku tersebut karena terdapat beberapa susunan para sultan bulungan yang dikumpulkan dari beberapa sumber, -saya beruntung mendapatkan buku kecil yang sarat informasi tersebut, walaupun memang dicetak secara sederhana dalam jumlah terbatas dan hanya untuk pegangan beliau saja-, setidaknya dalam buku saku tersebut terdapat enam buah sumber diantaranya berasal dari: Riwayat Kesultanan Bulungan tahun 1503 M atau 919 H oleh alm. Dt. Mohd. Saleh gelar Dt. Ferdana ibni Alm. Dt. Mansyur, Pesona dan Tantangan Bulungan terbitas LBKN Antara jakarta, Masa pemerintahan Kesultanan Bulungan yang dimuseum kesultanan Bulungan, kemudian adapula dari catatan Dt. Noerbeck Bin Dt. Bayal Bin Dt. Asang, Tarakan 9 Juli 1999, dan ada juga yang berasal dari Monografi Daerah Kesultanan Bulungan pada tahun 1976. Terakhir berasal dari keterangan Panitia Hari Jadi Kota Tanjung Selor ke 206 Tahun dan Hari Jadi Kabupaten Bulungan ke 36 tahun. 12 Oktober 1970 -12 Oktober 1996.

Selain sejumlah informasi diatas buku mungil ini juga  berisi informasi makam yang disadur dari copy laporan Balai Arkeologi Banjarmasin Kalsel tanggal 2-15 Agustus 2000. Beliau memberikan penembahan informasi maupun koreksi dari laporan tersebut. Buku ini kemudian ditutup dengan Silsilah Raja-Raja di Kesultanan Bulungan.

Kemudian ada juga yang tak langsung berhubungan tentang kesultanan yaitu “Menentukan Arah Kiblat”, buku saku setebal 23 halaman tersebut memuat informasi yang cukup rinci mengenai bagaimana menentukan arah kiblat dengan berbagai perlengkapan baik manual ataupun yang sudah menggunakan GPS, keahlian ini juga beliau gunakan untuk melakukan pemetaan terhadap posisi makam-makam bersejarah khususnya makam kesultanan di Bulungan.

Penutup.

Dalam usia yang tak lagi muda beliau masih memiliki semangat muda untuk mengkaji dan menyampaikan informasi kesejarah mengenai kesultanan bulungan, semangat itu tentunya juga memberi andil bagi kami generasi muda bulungan yang melek sejarah lokal.

Saya berharap beliau dan keluarga tetap diberi limpahan kesehatan oleh Allah SWT, agar terus dapat berkarya dan menyemangati para pencinta sejarah bulungan dimanapun mereka berada. Akhirul kalam saya ucapkan terimaksih pada beliau sebesar-besarnya begitupula kepada para guru dan mentor saya yang lain, meraka bagi saya adalah orang-orang yang berjasa besar membuka jalan bagi saya mencintai sejarah bulungan ini. semoga mereka selalu dilimpahkan rahmat dan kesehatan selalu. Amin.

Load disqus comments

2 comments