Sunday, September 25, 2011

Meriam 120 mm, Coastal Guard Andalan Belanda di Front Tarakan.


(salah satu meriam legendaris pertahanan pantai Belanda di Tarakan)

King Of Bettle, begitulah julukan yang pas untuk diberikan oleh militer dari berbagai bangsa untuk persenjataan arteleri yang memiliki hikayat panjang panjang dalam berbagai pertempuran yang menentukan sejarah sebuah bangsa. Mulai dari Onager, Kanon, Howitzer, Mortir, Roket hingga Rudal merupakan empunya arteleri yang wajib dalam setiap kancah pertempuran, tak terkecuali di Front Tarakan.

Jauh sebelumnya, istana Kesultanan Bulungan juga memiliki arteleri legendaris yang dinamakan Si Benua, pun demikian juga terdapat tiga Rentaka bernama Melati, Rindu dan Dendam yang selalu stan by di depan istana menghadap sungai Kayan. Dalam pertempuran modern seperti di front Tarakan,- khususnya pada awal-awal invasi Jepang-, Meriam Pantai alias Coastal Guard 120 mm merupakan “dewanya” meriam.

Kiprah Coastal Guard Belanda di Front Tarakan


Pertahanan Belanda di Tarakan, menurut sejarahnya sejujurnya merupakan salah satu yang cukup kuat masa itu, ini tak lepas dari keberadaan kilang-kilang minyak strategis, bahkan sebelum perang pasifik pecah, pangkalan militer Belanda di Tarakan pernah disinggahi kapal perang besar, dan semasa invasi militer Jepang terdapat Kapal selam jenis K, kapal penebar ranjau Prince Van Oranje dan sejumlah empat pesawat tempur jenis Brewester Bufallo dan tiga buah pengebom (bomber) Glenn Martin.

Pihak kolonial Belanda juga sadar betul perbentengan di Tarakan perlu di upgread kemampuannya sejak 1939, walaupun tergesa-gesa mereka mampu membangun steling, philbok dan bungker di hampir seluruh wilayah pulau, khususnya dikawasan pantai sebelah berat tak ketinggalan meriam legendaris 120 mm pabrikan Fried Krupp Essen Jerman tahun 1901.

Arteleri pertahanan pantai atau Coastal Guard dirancang sebagai senjata penghancur bagi armada militer musuh yang mendarat maupun mendekati pantai, menurut skenario pertahanan Belanda di Tarakan, Jepang diperkirakan akan mendarat kawasan sebelah barat yang merupakan daerah industri minyak serta hunian milik sipil dan militer, itulah sebabnya pertahanan paling kuat diletakan disebelah barat.

Menurut catatan sejarah militer Belanda menempatkan satuan artileri pantai (kustartillerie) ukuran 120 mm dan 75 mm di kawasan pantai barat di Tanjung Juata, Lingkas, Karungan dan Peningki Lama, di Karunganlah meriam 120 mm ditempatkan.

Belanda boleh bangga dengan Meriam pertahanan pantai 120 mm miliknya, dengan bobot mati 2. 485 Kg, panjang laras 4, 75 meter dan tinggi 1,9 meter serta diameter kaliber lubang peluru meriam 120 mm senjata ini memang mematikan. Jumlahnya sendiri memang sedikit, cuma ada empat buah dijejer berderet, namun keperkasaannya patut diperhitungkan.

Untuk memperkuat Tarakan, satuan kompi arteleri ketiga di tugaskan di Tarakan di bawah pimpinan Kapten M. J. Bakker membagi satuan arteleri dalam sejumlah baterai yang di pimpin Letnan Satu Van der Zijde, asal Afrika selatan, Letnan Satu J. W. Storm van Leeuwen, Letnan Satu J. P. A.Van Adrichem, asal Afrika Selatan, dan Letnan satu J. Verdam. Sementara itu, satuan arteleri ringan (luchtdoelartillerie) dipimpin Letnan Dua T. Nijenhuis, Asal Afrika Selatan. Satuan ini mengandalkan empat pucuk meriam 40 milimeter bikinan Bofors (swedia), empat pucuk arteleri pertahanan udara 20 milimeter dan selusin mitraliur 12,7 milimeter.

Lagi-lagi kehebatan persiapan tentara Jepang tidak main-main, Intelejen Jepang rupanya telah menandai kawasan pertahan militer Belanda disebalah barat Tarakan, paham dengan kekuatan pertahanan Belanda yang sangat kuat dan dikonsentrasikan di kawasan barat, Jepang mana mau pasang badan hanya untuk dibobol meriam pertahanan pantai, mereka memutar turun di kawasan sebelah timur yang terdiri hutan lebat dan dianggap memiliki partahanan paling lemah. Maksud hati menghindar jejeran meriam pertahanan pantai, kapal penyapu ranjau justru masuk perangkap di daerah Karungan. Disinilah armada Jepang berhadapan dengan meriam pantai legendaris belanda di Tarakan.

Sama seperti Inggris yang masih berpikir konvensional bahwa Jepang tak mungkin berhasil masuk Malaya lewat pantai karena kuatnya pertahanan, Jepang justru masuk lewat hutan lebat bahkan menggunakan tank, maka jangan heran bila jatuhnya Tarakan hanya dalam dua hari itu memang sudah di perhitungkan oleh Takeo Kurita, Laksamana tentara Kekaisaran Jepang yang mashur namanya menggunakan taktik gurita.

Walaupun tak sesesuai keinginan, batrei pertahanan pantai Belanda di Karungan sempat merengguh manisnya kemenangan, bagaimana tidak, begitu Coastal Guard 120 mm menyalak, dua buah kapal penyapu ranjau milik Jepang khatam riwayatnya, dari serangan ini Jepang mengalami kerugian 8 orang Rikugun (Angkatan Laut) dan Kaigun (Angkatan Darat) 200 orang tewas di laut.

Tentu saja serdadu Jepang berang dibuatnya, sebagai hadiah 84 awak batrei Coastal Guard Belanda di Karungan, di lempar hidup-hidup dalam keadaan terikat, dalam satu ikatan ada 3 orang. Demikianlah sisa perlawanan terakhir awak meriam pertahanan Belanda di Tarakan.

Epilog

Pertahanan pantai alias Coastal Guard, mutlak dimiliki oleh negara dengan garis pantai terpanjang di Asia tenggara ini, kita tentu harus memikirkan konsep pertahanan laut kita, dengan memiliki Coastal Guard yang mumpuni, maka Marinir dan Angkatan Laut akan semakin perkasa dan disegani, semoga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu kita.

Jalesveva Jayamahe.

Daftar Pustaka

Laporan Penelitian Arkeologi, “Penelitian Aspek Keruangan Pola Tata Kota Kolonial Di Tarakan, Provinsi Kalimantan Timur”, disusun oleh Nugroho Nur Susanto, Balai Arkeologi Banjarmasin tahun 2007.

Santoso, Iwan. 2004. Tarakan “Pearl Harbor” Indonesia (1942-1945). PT Gramedia Pustaka Jakarta

Torism Guide Book of Tarakan City, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tarakan, tahun 2009.

Wikipedia; Pertempuran Tarakan 1942-1945.
Load disqus comments

1 comments: