Sunday, October 14, 2012

Sayid Ali Amin Bilfaqih, Membuka Kembali Sejarah Yang Terpendam.


Sudah lama sekali saya ingin mengulas sebuah buku yang cukup berani dalam pandangan saya, buku yang saya maksud taklain adalah “Kesultanan Bulungan Dari Masa Kemasa”, karya Sayid Ali Amin Bilfaqih.

Saya cukup mengenal beliau dan karyanya, kebetulan hasil tulisan itu saya simpan rapi di perpustakaan pribadi di rumah. Apa sebab saya anggap buku itu cukup berani, itu karena bahasan pada bab terakhir menjurus pada peristiwa insiden tahun 1964, sebuah insiden yang sesungguhnya menentukan jalannya sejarah kabupaten Bulungan dimasa lalu, kini maupun mendatang.

Insiden 1964 dimata Sayid Ali Amin Bilfaqih.

Tak banyak memang yang menulis sejarah bulungan, khususnya yang membuka wawasan kita mengenai peristiwa 64, yaitu peristiwa di bakarnya Istana Kesultanan Bulungan oleh oknum masayarakat di bawah tekanan oknum Angkatan Darat yang terorganisir karena terpengaruh oleh gerakan Merah di Bulungan. Peristiwa bersejarah ini menjadi kejadian pilu karena tak hanya berdampak pada masayarakat bulungan tapi juga pada nilai-nilai adat dan budaya yang telah lama berabad-abad dijalankan. Resam budaya Bulungan sampai pada titik nadir seiring runtuhannya istana bulungan rata menjadi abu.

Bertahun-tahun lamanya peristiwa menyayat hati itu baru dapat terungkap dipublik melalui dunia maya, diantaranya ditulis oleh seorang wartawan ibukota yang lahir di bulungan, kemudin berturut-turut muncul tuntutan untuk menuntaskan kasus tersebut.

Faktor lain yang juga menentukan adalah tak adanya versi sejarah yang memihak masyarakat bulungan, inilah yang memperihatinkan bagi pak Sayid Ali Amin Bilfaqih sehingga membuka jalan bagi beliau untuk menulis sejarah insiden 64 tersebut dari kaca mata Bulungan.

Munculnya buku berjudul Sejarah Kesultanan Bulungan Dari Masa Kemasa, ini mau tak mau membuat penafsiran ulang dalam merekonstruksi sejarah yang selama ini berkembang. Banyak generasi muda bulungan khususnya yang melek sejarah di buat terkejut, inilah yang juga sempat saya rasakan di masa-masa SMA. Bagaimana tidak selama ini kami hanya tau bahwa pelaku pembakaran dan penculikan adalah massa PKI, namun buku ini seolah menggebrak sejarah dari versi yang telah solid sekian lama itu.

Generasi kami dibuat terkejut dengan diketahuinya keterlibatan oknum tentara yang terogarnisir menuntut masyarakat bulungan dibawah todongan senjata untuk membakar istana bulungan yang tak lain pusat kebudayaan bulungan yang telah mapan berabad lamanya. Sebuah perasaan yang amat sulit bagi kami gambarkan.

Penulisnya sendiri mengatakan pada saya tak ada maksud lain dalam penulisan buku tersebut kecuali menulis sejarah bulungan khususnya mengenai peristiwa 64 yang memihak terhadap masyarakat. Tak ada keinginan untuk membuka luka lama apa lagi menyudutkan tentara, hanya ingin berkisah apa adanya sesuai apa yang dirasakan dan terjadi dimasa-masa itu.

  (Said Ali Amin Bilfaqih di tengah-tengah keluarga besarnya)

Saya pernah bertanya kepada beliau, -pertanyaan yang sama juga terbesit dipikiran orang-orang setelah kemunculan buku tersebut- Yaitu sejauh mana kredibilitas dan sumber sejarah yang menjadi pijakannya dapat dipertanggung jawabkan. Terlebih mengenai daftara nama korban yang mencapai puluhan orang itu.

Beliau tersenyum -walaupun cukup jelas mata saya menangkap sekilas kesenduan yang terlihat di mata beliau-, dan mengatakan pada saya, “ mereka yang tak pernah pulang karena di culik adalah orang yang saya kenal baik, saya catat namanya sebagai penghormatan untuk mengenang mereka, bagaimana saya bisa lupa, Raja Muda yang juga tak pernah saya tau lagi nasibnya adalah mertua saya, saya menyaksikan sendiri apa yang terjadi sebab saat itu saya sudah dewasa dan bekerja, apa yang saya tulis murni yang saya rasakan dan saya saksikan”
.
Bagi pak Saiyd Ali Amin dirinya bisa memahami jika ada pihak-pihak yang meragukan dan tak suka jika peristiwa bersejarah itu di buka kembali, kalau memang sekian peristiwa tersebut tidak terekspose ke publik bukan berarti tidak terarsip dengan baik. Apa lagi peristiwa itu menjadi memory kolektif yang tak mudah dingkari keberadaannya. Wajar memang tak ada naskah yang memuat tulisan itu muncul dimasa-masa sebelumnya, wajar karena dimasa orde baru hal seperti sangat sensitif.

Saya menulis buku itu agar generasi muda bulungan tau sejarah mereka, tidak ada niatan lain selain melestarikan sejarah. Sejarah yang kita pahami agar kita tidak lupa siapa kita sebenarnya, begitulah pungkas beliau mengakhiri percakapan saya dengan beliau siang itu. (Zee).  
Load disqus comments

0 comments